Seni Seviyorum Aisyah
Kejujuran Yang Menyakitkan
Mobil pun melaju meninggalkan kediaman rumah Aisyah, udara pagi masih sangat segar selama perjalanan Aisyah mendengarkan cerita zaman dulu yang begitu menginsprirasinya untuk terus bersyukur dan seru karena pergaulan tidak mengkhawatirkan seperti sekarang ini.
"Makanya kenapa Bapak suka marah kalau mengetahui Non Aisyah pergi sendiri dan jalan dengan teman-temannya," ujar Pak Ujang.
Aisyah mengerti apa yang diinginkan Ayahnya tapi baginya itu adalah hal yang berlebihan berbeda dengan Bundanya yang memang memberikannya sedikit kebebasan untuk pergi ke mana pun dan dengan siapa pun.
Mobil pun akhirnya telah sampai di depan gerbang sekolah, Aisyah langsung turun dan masuk ke dalam sekolahnya yang terlihat masih agak sepi membuatnya berharap tidak akan bertemu dengan Raka dia masih sangat malu untuk melihat cowok itu.
"Aisyah!"
Panggilan seseorang itu berhasil membuat Aisyah menoleh menatap siapa yang telah menyebut namanya.
'Raka?' desis Aisyah melihat cowok itu yang kini sedang berjalan menghampirinya dia pun menundukan pandangannya ingin sekali kembali berjalan tapi itu tidaklah mungkin dia lakukan.
"Syah, maaf menggangumu sebentar aku mau ngomong boleh?" ujar Raka yang kini kepalanya harus menunduk menatap wajah Aisyah.
Melihat sikap Raka yang seperti itu akhirnya dia pun mau memandang ke depan bukan melihat ke Raka tapi dia alihkan pandangannya ke arah lain dan mengizinkan Raka untuk berbicara.
"Ada apa katakan saja."
Raka tersenyum, 'Ah Aisyah haruskan aku minta maaf atas kejadian kemarin yang telah lancang menyentuhmu' batin Raka yang merasa bingung harus berbicara apa sedangkan Aisyah sendiri masih mengingat kejadian kemarin dan fakta yang dia dengar dari Fatimah. 'Apa yang akan kamu bicarakan Raka? apakah kamu mau bilang kalau kamu pergi bersama Hawa kemarin sore atau apakah kamu mau meminta maaf atas kejadian kemarin?' gumam Aisyah yang berharap cowok itu tidak akan membahas kejadian kemarin.
"Hemm, aku mau minta maaf Syah sama kamu," ujar Raka dengan tegas karena itu ucapan dari hatinya langsung.
"Maaf untuk apa?" Aisyah memancing Raka untuk terus berbicara.
"Soal yang kemarin itu Syah aku tahu kamu marah kan? sebab aku telah memegang tanganmu tapi itu kan kejadian yang tidak disengaja jadi aku mohon jangan salah paham ya!" jelas Raka dengan tangan yang dia lipat di depan dada.
"Iya aku mengerti kok, ya sudah aku mau ke kelas dulu ya assalamualaikum."
Aisyah pun berlalu pergi meninggalkan Raka setelah mendengarkan permintaan maaf dari cowok itu yang menyadari atas kesalahannya tapi tetap saja Aisyah masih butuh penjelasan dari Hawa tentang kepergian mereka ke bioskop, 'Ah kenapa hal ini begitu menyakitkan sih bagiku?' gerutu Aisyah.
Raka terpaku menatap kepergian Aisyah ingin sekali dia mendekati wanita itu tapi rasanya susah banget dia bukan tipe cewek yang mudah untuk bergaul dengan laki-laki berbeda dengan sahabat-sahabatnya yang pandai bergaul dengan siapa pun.
Karena kelas masih sepi Aisyah pun akhirnya pergi ke taman sekolah untuk membaca buku yang dibelinya kemarin di gudang buku, dia meletakan tasnya di bangku panjang lalu mulai membaca bukunya sembari mendengarkan musik di telinganya ya pastinya itu musik korea yang sangat dia sukai apalagi lagunya Exo dan blackpink.
"Aisyah!" teriak seseorang.
Mendengar ada yang memanggil namanya lantas Aisyah langsung menoleh mencari sumber suara tersebut yang ternyata seseorang itu adalah sahabatnya sendiri yang sedang dia rindukan.
"Raya!!!" seru Aisyah dengan terkejut melihat kehadiran Raya di sekolah ini.
Raya pun menghampiri Aisyah dan memeluknya dengan sangat erat, dia sangat merindukan para sahabat-sahabatnya dan suasana sekolahnya bahkan dia senang bisa menghirup udara segar lagi.
"Raya, aku sangat merindukanmu," ungkap Aisyah setelah melepaskan pelukannya.
Aisyah memang sangat merindukan sahabatnya ini baginya tidak seru jika sedang berkumpul tanpa kehadiran Raya yang super cerewet dan suka mengajaknya makan bakso di jam istirahat.
Raya tersenyum bahagia mendengar ada seseorang yang merindukannya namun dia berharap bahwa ada orang lain yang juga merindukannya dan menunggu kehadirannya untuk kembali ke sekolah ini.
"Sama Syah aku juga rindu banget, eh Aisyah selama aku absen sekolah apakah Rian mencariku?" ujar Raya dengan ke dua alis yang terangkat dia memang ingin tahu itu.
Aisyah tertawa melihat sikap Raya. "Hehehe Raya Raya ternyata kamu tidak berubah ya! hemm kemarin sih memang benar Rian menanyakan keadaanmu," ungkap Aisyah.
"Rian tuh aneh banget tahu Syah, masa nyuruh Hawa buat ngasih aku es dan bakso katanya pasti langsung sembuh wkwkwk."
Mendengar itu Aisyah percaya dan yakin bahwa sahabatnya ini sudah benar-benar sembuh apalagi sudah melihatnya tertawa seperti itu hanya saja Raya terlihat nambah kurus sebab sering jatuh sakit.
"Aneh-aneh tapi kamu suka kan sama dia?" ejek Aisyah dengan menggoda Raya.
"Hehehe, kamu nih Syah jangan seperti itu kan kamu sendiri yang bilang kalau kita gak boleh pacaran dulu sebelum masuk kuliyah," ujar Raya yang masih mengingat perkataan Aisyah kepada sahabat-sahabatnya.
Ya Aisyah juga masih mengingat akan hal itu, begitu senangnya dia ternyata Raya masih memegang penuh perkataannya itu dalam agama islam pun tidak ada larangan untuk saling suka dan mencintai dengan lawan jenis.
"Raya makasih udah mengingat perkataanku waktu itu," ujar Aisyah dengan tersenyum lebar.
Raya pun mengangguk lalu pandangannya tertuju pada buku yang Aisyah baca, "Syah itu novel punya kamu?" tanya Raya sembari menujuk novel yang dipegang Aisyah.
Lantas Aisyah langsung memandang buku yang berada dalam genggamannya, "Owh ini? iya baru beli kemarin itu Ray yang sama Fatimah."
"Ahh Aisyah judulnya kok bikin aku mau baca juga ya," rengek Raya yang terpesona dengan judul novel tersebut 'Dear Imamku' karya Mellyana.
"Aku juga baru baca Syah, entahlah waktu lihat judulnya aku juga tertarik untuk langsung beli dan ingin tahu bagaimana ceritanya dan pas lihat siapa penulisnya aku langsung beli karena aku juga pernah baca karya ka Mellyana dan ceritanya memang seru-seru dan tentu saja bergengre religi banyak pelajaran yang aku ambil dari membaca novel-novelnya," jelas Aisyah dengan mata yang berbinar-binar.
"Wahh, aku belum pernah Syah baca buku karya ka Mellyana kan kamu tahu sendiri kalau ceritanya gak seru aku malas buat bacanya tapi kalau seru sehari pun bisa aku selesaikan," ungkap Raya sembari tersenyum.
Jika berbicara tentang buku Aisyah sangat begitu antusias dan heboh apalagi tahu penulisnya siapa, Aisyah jadi ingat bahwa Raka juga suka membaca novel tapi novel apakah yang cowok itu baca ya? Aisyah jadi penasaran dan ingin tahu akan hal itu.
"Syah, itu dia Fatimah!" seru Raya saat matanya menangkap sosok Fatimah yang sedang berjalan dengan Reyhan.
Tanpa menunggu balasan dari Aisyah dia pun langsung memanggil Fatimah dengan suaranya yang super cerewet hingga Fatimah pun langsung menoleh ke arah mereka.
"Fatimah!" sapa Aisyah sembari melambaikan tangannya ke arah Fatimah yang berada di sebrang sana sepertinya Fatimah baru datang ke sekolah.
Melihat ke dua sahabatnya memanggilnya Fatimah pun langsung pamit kepada Reyhan untuk menghampiri sahabat-sahabatnya, Fatimah berlari kecil untuk segera sampai kepada Raya dan Aisyah.
"Baru datang kamu Fat?" tanya Aisyah saat Fatimah berada di hadapannya.
"Iya aku baru saja sampai, ah Raya kamu sudah sembuh?" Mata Fatimah langsung tertuju pada Raya yang duduk di samping Aisyah.
Sedari tadi Raya tersenyum melihat Fatimah berlari ke arahnya, "Alhamdulillah Fat, aku sudah sembuh tanya saja sama Aisyah kalau tidak percaya!" katanya dengan melirik jail ke arah Aisyah.
Dilirik oleh Raya membuat Fatimah mengangguk dan terkekeh, "Iya Fat dia sudah sembuh kamu gak usah khawatir aku percaya kok kalau Raya itu strong."
Fatimah pun memilih duduk di tengah bersama ke dua sahabatnya yang langsung menggeser ke samping hal yang biasa Fatimah lakukan dia ingin berada di tempat yang paling nyaman yaitu di tengah.
"Untung saja aku kecil wkwkw," tukas Fatimah dengan menyengir.
"Hawa belum datang juga? biasanya kamu berangkat bareng dia Fat?" Raya menyadari akan keanehan yang terjadi dengan sahabatnya.
Mendengar nama Hawa langsung membuat Fatimah menoleh ke arah Aisyah, "Hemm, tadi aku ke sekolah naik angkot tidak bareng dengan Pak Hendri jadi aku tidak tahu apakah Hawa sudah berangkat atau belum."
"Terus kok tadi kamu bareng Reyhan?" sergah Aisyah dengan kening yang mengkerut heran.
"Iya Fat, kok kamu jadi bareng dia?" timpal Raya dengan menatap Fatimah menunggu penjelasan darinya.
"Tadi tuh aku bertemu dengan Reyhan di gerbang dia menanyakan tugas sekolah terus kalian manggil aku," jelas Fatimah dengan tersenyum.
Mendengar penjelasannya Aisyah dan Raya hanya mengangguk lalu kembali berpikir ke mana perginya Hawa.
"Coba aja Ray kamu telepon dia tanyain hari ini dia sekolah gak gitu," cetus Aisyah dengan memandang Raya.
Akhirnya Raya pun mencoba menghubungi Hawa sedangkan yang lainnya menunggu panggilan itu diangkat karena bagaimana pun mereka harus tahu keadaan Hawa, meski Fatimah dan Aisyah tahu keadaan Hawa yang pastinya akan baik-baik saja apalagi setelah pergi berdua dengan Raka tapi tetap saja mereka mengkhawatirkan sahabatnya itu.
"Syah, itu buku yang kemarin kita beli?" Fatimah salfok melihat buku yang sedang Aisyah genggam yang terlihat hanya cover belakangnya saja.
Pandangan Aisyah kemudian beralih kepada bukunya lalu menunjukannya kepada Fatimah. "Iya Fat, kayanya seru banget deh ceritanya seorang mahasiswi yang bertunangan dengan seorang Dokter tampan dan sepertinya aku gak akan nyesel beli buku ini." Aisyah tersenyum menceritakan kisah percintaan dalam novel tersebut dia jadi membayangkan bisa mempunyai suami seorang Dokter.
Pembicaraan Aisyah dan Fatimah pun terputus saat panggilan Raya telah tersambung dengan Hawa yang entah sedang berada di mana.
"Assalamualaikum Hawa," ujar Raya dengan lembut.
"Waalaikumsalam Ray, bagaimana kabar kamu?" Terdengar suara Hawa yang begitu riang sama halnya dengan sahabatnya yang lain.
Raya pun memberikan ponselnya kepada Fatimah agar sahabatnya itu bisa ikut berbicara, "Kamu sudah berangkat sekolah Hawa?" seru Fatimah.
"Hem, aku sedang di jalan nih kalian sudah sampai di sekolah ya?"
"Ya sudah kita tunggu di kelas ya Hawa, hati-hati di jalan!" Aisyah menyahut setelah mendengar bahwa Hawa sedang di jalan sebab sebentar lagi bel masuk kelas akan berbunyi.
"Kita tunggu di kelas ya Hawa, assalamualaikum." Raya pun mengakhiri sambungannya.
Akhirnya mereka pun berjalan ke kelas dengan bersamaan ya tangan mereka saling bertautan satu sama lain di belakang tasnya ada gantungan yang bergambar sama tanda persahabat mereka yang sengaja di taruh di resleting tasnya agar orang-orang di luar sana tahu bahwa mereka adalah sahabat yang tidak mudah untuk dipisahkan.
Di perjalanan menuju tangga Aisyah melihat Aqila yang sedang berjalan sendiri membuat Aisyah ingin menghampirinya, "Eh, kalian duluan aja ya aku mau ke sana dulu sebentar."
Melihat kepergian Aisyah yang mendadak Fatimah dan Raya pun menoleh dengan rasa penasaran siapa yang akan ditemui Aisyah sehingga terburu-buru seperti itu yang ternyata mereka melihat Aqila yang berjalan di lorong sebrang sana membuat mereka akhirnya kembali berjalan menuju kelasnya dan membiarkan Aisyah pergi.
Pagi yang cerah tapi tidak secerah perasaan Aqila saat ini dia terlihat lesu dan berjalan lemah seperti tidak mempunya tenaga hal itu tentu saja sangat berbeda dipandangan Aisyah yang mengenal sosok Aqila yang periang dan kuat.
"Pagi La," sapa Aisyah menghadang jalan cewek itu yang terlihat kaget melihat kehadirannya.
"Astagfirullah Syah kamu ngapain sih menghalangi jalanku?" ujarnya pelan wajahnya menampakkan kekesalan sebab merasa terusik.
Aisyah terkekeh lalu berjalan di samping Aqila, "Kamu berangkat bareng Ilham atau sendiri?"
"Sendiri."
"Ada apa kok wajahnya ditekuk gitu? apa terjadi masalah di rumah?" Aisyah sangat mengerti keadaan Aqila meski sebenarnya dia juga bingung kenapa Papahnya Aqila sangat berbeda dengan Ayahnya.
Aqila berhenti sebentar karena terpancing oleh pertanyaan Aisyah, "Nanti aku akan bercerita tapi tidak untuk di sekolah aku takut konsentrasiku akan terganggu," katanya lalu pergi begitu saja meninggalkan Aisyah.
'Aku mengerti La bagaimana perasaanmu meski aku tidak berada di posisimu' gumam Aisyah dalam hatinya lalu berjalan menuju kelasnya yang berada di lantai atas sebelum masuk ke kelas dia berniat ingin memberikan buku kepada Ilham.
*Aisyah
"Ilham, kamu di mana? ini tugasnya sudah aku bawa."
Setelah itu dia masuk ke kelas dan melihat keadaan kelas yang ramai seperti biasanya ada yang sedang ngerumpi pagi ada juga yang sedang bernyayi bersama dan yang lainnya tidur pagi.
"Aisyah!" panggil Hawa saat melihat Aisyah masuk kelas dia melambaikan tangannya dan tersenyum manis.
Aisyah akui Hawa memang memiliki poster tubuh yang indah dan dia juga pintar tidak kalah jauh dari Fatimah hal itu membuat Aisyah terus mensyukuri apapun yang memang Tuhan takdirkan untuk kita karena semua orang pasti memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing begitu pun dirinya sendiri.
Dengan penuh percaya diri Aisyah tersenyum kepada Hawa meski rasanya dia ingin terus bertanya akan kejadian kemarin yang mana sebelumnya dia sempat dibuat terbang oleh Raka yang tidak sengaja menyentuhnya karena telah menyelamatkannya namun saat mendengar kabar itu dia kembali dijatuhkan oleh kenyataan bahwa Raka memang tidak bisa digapai dengan mudah.
"Syah, pulang sekolah kita diajak makan bakso di tempat biasa gratis," seru Raya dengan antusias.
Selain Ramyan mereka juga sering makan bakso di Muliska yang mana penjualnya sudah sangat kenal dengan mereka yang menjadi pembeli langganan di sana nama penjualnya tidak jauh berbeda dengan nama Baksonya yaitu Paman Muklis.
"Gratis? siapa yang mau tratir memangnya?" Aisyah menarik bangkunya lalu duduk mendengar gratisan dia jadi mengernyit heran tidak ada acara apapun tapi ada yang mau meneraktir makan bakso.
Raya terkekeh dan melirik ke arah Hawa yang tersenyum sedangkan Fatimah sedang sibuk dengan ponselnya meski dia mendengar apa yang sedang dibicarakan oleh sahabat-sahabatnya.
"Hawa?" tebak Aisyah dengan tersenyum simpul.
"Hehehe, heran ya Syah? tidak ada acara apapun kok tapi aku sedang senang karena kemarin aku berhasil jalan berdua dengan Raka dan aku rasa aku harus rayakan kebahagian ini dengan kalian," jelas Hawa dengan tersenyum bahagia matanya menyorotkan kebahagian yang hakiki.
Deg, Aisyah diam dan langsung mengatupkan bibirnya rapat-rapat dia tidak percaya bahwa Hawa akan sampai melakukan ini dia kira Hawa akan merahasian kepergiannya itu bersama Raka secara diam-diam tapi nyatanya dia sangat berani sampai berkata jujur di depan sahabat-sahabatnya dan didengar oleh sebagian murid, tidakkah dia memikirkan bagaimana perasaan Aisyah mendengar berita itu? 'Ah Hawa sikapmu tidak pernah berubah' pekik Fatimah mendengar perkataan Hawa.