Seni Seviyorum Aisyah

Lemah Karena Pujian

"Ya alhamdulillah," ujar Aisyah merasa bersyukur mempunyai banyak orang yang sayang dan peduli dengan dirinya memang tidak ada yang membencinya sekarang namun tidak ada yang tahu bukan? sepertinya setiap orang sudah pasti ada yang menyukainya dan membencinya begitu pun dengan dirinya.

 

"Lagian juga kamu kan anak OSIS mana berani mereka dekatin kamu," celetuk Ilham dengan tersenyum tipis.

 

Ya itu memang benar nyatanya, bukan hanya anak OSIS saja yang lainnya pun dilarang untuk berpacaran di sekolah itulah aturan yang anak OSIS laksanakan apalagi anak OSISnya sendiri, tidak salah Raka tadi bertemu dengan Hawa di dekat kamar mandi yang memang nampak sepi dan tidak terlihat anak-anak yang lainnya.

 

"Tuh tahu kenapa nanya? makasih sudah perhatian kepadaku, aku pergi ke kelas dulu ya!" pamit Aisyah yang tanpa menunggu jawaban dari Ilham dia pun langsung berlalu begitu saja meninggalkan Ilham.

 

"Makasih juga Syah," teriak Ilham yang masih didengar oleh telinga Aisyah.

 

Sesampai di kelas Aisyah merasa senang sebab keadaan kelas nampak sepi ada beberapa orang saja yang berada di kelas di jam istirahat yang lainnya pada di kantin dan entah di mana, Aisyah merasa beruntung tidak melihat Raka di kelas dia menduga bahwa cowok itu sedang berada di perpustakaan.

 

Karena dia bingung mau ngapain di kelas yang dia rasakan hanyalah rasa lelah akhirnya dia merebahkan kepalanya di atas meja dan tidak terasa matanya pun sudah terpejam, Aisyah tertidur di jam istirahat.

 

Ya hal itu memang tidak biasanya Aisyah lakukan sebab dia selalu murojaah di kelas bila bingung tidak ada yang harus dia kerjakan lagi, tatapan teman-teman kelas penuh prihatin melihat mata Aisyah terpejam di atas meja dengan tas yang dijadikannya bantal.

 

"Sejak kapan dia tertidur?" tanya Raka kepada teman-teman kelasnya.

 

Raka begitu terkejut melihat Aisyah tertidur di kelas sepertinya ini kali pertama cewek itu tertidur biasa kan dia selalu menghabiskan waktu untuk murajaah atau baca buku dan ke kantin bersama sahabat-sahabatnya, Raka duduk di bangkunya sambil melihat Aisyah yang masih tertidur pulas.

 

"Subhanullah banget sih kamu Syah," gumam Raka yang tanpa sengaja telah memandangi wanita di sampingnya itu.

 

Dia begitu senang karena pulang sekolah akan ada rapat yang mana Aisyah akan ikut di dalamnya, ya setidaknya dia bisa mengenal lebih dekat lagi dengan sosok Aisyah yang terkadang cuek kepadanya.

 

Bel masuk pun berbunyi mengagetkan Aisyah dari tidurnya dan yang lebih kagetnya lagi matanya langsung bertemu dengan bola mata Raka yang sedang memperhatikannya.

 

"Aahh, kenapa kamu memandangku!" pekik Aisyah kaget dan langsung menutup wajahnya menahan rasa malu yang amat sangat.

 

Raka tersenyum tipis melihat tingkah Aisyah, "Biasa aja kali Syah, tapi lucu banget tahu wajah kamu pas tidur hahaha."

 

Mendengar gelak tawa Raka membuat Aisyah emosi lalu pergi ke kamar mandi untuk membasuh wajahnya bersamaan dengan Guru datang membuat Aisyah kaget.

 

"Mau ke mana kamu Aisyah?" tanya Pak Bagas dengan tatapamannya yang tajam.

 

Aisyah garuk-garuk kepala sahabat-sahabatnya yang baru masuk langsung menoleh menatap Aisyah dengan tatapan tanda tanya dan saling berpandangan sedangkan Raka memandang Aisyah dengan senyum-senyum.

 

"Hemm, aku izin ke kamar mandi sebentar ya Pak," katanya dengan tersenyum kikuk.

 

"Ya sudah jangan lama-lama ya!" kata Pak Bagas dengan tegas wajahnya terlihat datar tanpa ekspresi.

 

Setelah mendapat izin Aisyah langsung tersenyum, "Baik Pak saya akan segera kembali."

 

Aisyah pun pergi dengan terburu-buru dia merasa deg-degan dan malu sebab Raka mengejeknya ketahuan tertidur di kelas 'ah kenapa sih cowok itu selalu membuatnya berada dalam kesulitan' pekik Aisyah sembari memantulkan dirinya di cermin setelah membasuh wajahnya dengan air yang menyegarkan.

 

"Istigfar Syah, kamu gak boleh marah sama dia udah mulai sekarang kamu harus bersikap biasa saja sama dia bahkan kalau bisa lupain dia."

 

Janji Aisyah dalam dirinya dia merasa bahwa itu memang perlu dilakukan apalagi setelah melihat kedekatan Raka dengan Hawa jika dirinya masih mempunyai rasa kepada Raka itu akan sangat membahayakan persahabatannya lagipula perasaan itu hadir sebab Raka selalu datang dalam mimpinya membuatnya bingung akan hal tersebut.

 

Pelajaran pun sudah dimulai Fatimah terus-menerus berbisik kepada Aisyah jika Raka dan Ilham tersenyum memandang Aisyah hal itu membuat Aisyah berpikir bahwa Raka sudah menceritakan kejadian tadi saat dia tertidur di kelas.

 

Fatimah kembali menyenggol lengan Aisyah, "Syah kamu kenapa sih biasanya kalau Raka ngelihatin kamu merasa senang tapi sekarang kok malah sering diam dan cuek gitu ya?"

 

"Fat, kamu tahu Raka tuh sedang mengejekku karena aku ketahuan tertidur di kelas," jelas Aisyah dengan nelangsa.

 

"Hah kamu seriusan jadi tadi itu kamu tertidur di kelas tidak biasanya." Ya begitu banyak perubahan dalam diri Aisyah yang belum pernah sahabatnya ceritakan.

 

"Iyah, tadi tuh aku ngantuk banget Fat terus kepala aku juga pusing jadi aku putusin untuk istirahat sebentar," jelas Aisyah lirih.

 

Fatimah merangkul bahu Aisyah sembari memberikannya senyuman, "Hemm, kayanya ada yang kamu sembunyikan dari aku ya hari ini? jadi pulang sekolah aku maksa kamu buat cerita okey!"

 

Mendengar itu Aisyah hanya menganggukan kepalanya dia rasa Fatimah memang harus tahu karena jika tidak Fatimah akan terus menganggap dirinya masih memiliki rasa dengan Raka karena mulai hari ini dia akan mencoba untuk melupakan Raka.

 

"Adrian, Jaka, Fasya bediri kalian bertiga!" teriak Pak Bagas melihat anak muridnya tertidur di kelas.

 

Di pelajaran Pak Bagas Raya tertidur dan untung saja Guru itu tidak melihatnya karena jika sampai Raya ketahuan tertidur dia akan terkena hukuman sama dengan cowok-cowok itu.

 

"Raya, Raya untung saja kamu segera bangun jika tidak kamu pasti bakal dibedirikan seperti mereka!" celetuk Hawa dengan terkekeh.

 

"Iya, iya makasih ya sudah membangunkanku." Raya masih mengantuk namun dia terpaksa harus bangun jika tidak ingin bernasib seperti teman-teman cowoknya itu.

 

Setelah Pak Bagas memberikan tugas akhirnya bel jam berikutnya berbunyi membuat yang sudah menahan rasa kantuk langsung merebahkan kepalanya di atas meja dengan menenggelamkan kepalanya di atas lipatan tangan.

 

"Huhf akhirnya bisa tidur juga," ujar Fatimah yang ikut merebahkan di atas meja sembari menatap Aisyah yang sedang membereskan buku pelajarannya. "Syah, berarti pulang sekolah kamu gak jadi ikut kita dong ya?"

 

Tidak sengaja mendengar itu Hawa menoleh ke belakang menatap Aisyah dan Fatimah, "Lah memangnya kenapa Syah kok tidak ikut?" tanyanya.

 

Aisyah tidak langsung menjawab pertanyan Hawa dia masih sibuk mengambil buku pelajaran untuk pelajaran berikutnya, "Iya pulang sekolah aku ada rapat bersama anak OSIS."

 

"Owh iya kan tadi Raka juga sempat bilang kalau pulang sekolah bakal ada rapat OSIS, aku lupa Syah kalau kamu anggota OSIS juga," kata Hawa dengan tersenyum simpul.

 

Mendengar itu Fatimah langsung melirik ke arah Aisyah yang terlihat biasa saja sepertinya telah terjadi sesuatu kepada Hawa dengan Raka sehingga Aisyah telihat begitu.

 

"Memangnya Raka bilang bagaimana Hawa?" Fatimah sengaja memancingnya untuk terus bercerita agar dirinya dan Aisyah tahu kebenarannya.

 

Dengan senang hati Hawa pun menceritakannya, "Bagaimana ya, tadi sih waktu aku bertemu dengan Raka di lorong kamar mandi dia sempat bilang kalau pulang sekolah dia tidak bisa mengantarkanku pulang karena ada rapat bersama anak OSIS apalagi dia kan ketuanya ya?" jelasnya.

 

Dengan senang hati Hawa pun menceritakannya, "Bagaimana ya, tadi sih waktu aku bertemu dengan Raka di lorong kamar mandi dia sempat bilang kalau pulang sekolah dia tidak bisa mengantarkanku pulang karena ada rapat bersama anak OSIS apalagi dia kan ketuanya ya?" jelasnya.

 

Mengantar pulang? betapa terkejutnya sahabat-sahabatnya mendengar cerita Hawa, bagi sebagian yang tidak tahu jika ada hati seseorang yang terluka mendengarnya merasa kaget dan tidak merasa kecewa tapi untuk Fatimah yang tahu bagaimana perasaan sahabat di sampingnya itu dia sangat kecewa dan seharusnya Hawa tidak menceritakan itu di depan Aisyah.

 

"Iya Hawa dia memang ketua OSIS, tapi kok dia mau nganterin kamu pulang memangnya ada acara apa?" sahut Raya dengan heran.

 

Sebelum Hawa menjawab pertanyaan Raya Guru pun telah masuk ke dalam kelas dengan begitu cepat sehingga anak-anak yang tertidur langsung terbangun untuk kembali belajar.

 

"Ya Allah mengapa ini semua terjadi? mengapa Hawa? jika seperti ini dia sangat takut akan menyakiti perasaannya jika dia tahu yang sebenarnya, andai saja Raka mencintai wanita lain dan bukan sahabatnya sendiri itu pasti akan lebih baik dari sekarang," gumam Aisyah pada hati kecilnya dengan nelangsa.

 

Raya dan Hawa sudah kembali menghadap ke depan untuk pokus mendengarkan Guru yang sedang menjelaskan sedangkan Fatimah dia sesekali melirik ke arah Aisyah yang melamun.

 

Ditepuknya tangan Aisyah oleh Fatimah, "Syah, kamu tidak apa-apa kan?" ujarnya memastikan.

 

Aisyah menoleh menatap Fatimah dan tersenyum, "Kamu jangan khawatir Fat, aku baik-baik saja kok lagipula dia berhak kok buat mencintai wanita manapun."

 

"Ingat Syah, jodoh itu tidak akan ke mana aku yakin Reyhan itu adalah cowok yang ditakdirkan untukku buktinya dia mampu menahan diri untuk tidak berpacaran karena prinsif kita sama yaitu pacaran untuk menikah bukan untuk putus," ungkap Fatimah dengan tersenyum senang.

 

Ya Fatimah memang mempunyai rasa kepada Reyhan sama seperti Aisyah yang merahasiakannya secara diam-diam tapi bedanya kalau Fatimah itu sudah jelas Reyhannya juga mempunyai rasa yang sama dengan Fatimah sedangkan Aisyah sendiri?

 

"Selamat ya Fat, semoga hubungan kalian baik-baik saja dan tidak akan terpisahkan sampai takdir menyatukan hubungan kalian," ujar Aisyah dengan tersenyum lalu kembali pokus belajar.

 

"Aisyah kamu seriusan gak ikut makan bareng kita?" tanya Raya saat bel pulang sudah berbunyi.

 

"Iya maaf ya gays, aku gak bisa ikut bareng kalian." Dengan berat hati Aisyah harus memilih untuk tidak ikut bersama dengan sahabat-sahabatnya meski sebetulnya dia ingin sekali makan bersama-sama.

 

Fatimah tersenyum sembari menepuk bahu Aisyah, "Its okey Syah, tidak masalah kok kita pergi bertiga saja kamu pulangnya hati-hati ya Syah!"

 

"Iya Syah gak apa-apa kok, owh iya pulangnya kamu naik apa Syah?" tanya Raya dengan begitu khawatir.

 

"Gampang nanti aku minta jemput saja sama Pak Ujang," kata Aisyah dengan tersenyum tenang.

 

Raya pun meraih tasnya di diletakan di atas meja, "Ya sudah yuk!" ajakanya.

 

Melihat Aisyah dan sahabat-sahabatnya membuat Raka langsung bergegas menyamai langkahnya, "Aisyah, ikut saya ke ruangan!" pintanya dengan tegas.

 

Mendengar ucapan Raka semuanya pun menoleh sebab merasa kaget sedangkan Aisyah langsung menyusul cowok itu yang berjalan menuju ruangan OSIS yang dekat dengan ruang Guru.

 

"Dah Aisyah," teriak Fatimah dengan kencang membuat Aisyah menoleh dan tersenyum.

 

Hawa pun dengan sangat senang masih memandang kepergian Raka yang terlihat begitu keren meski dilihat dari belakang, melihat pandangan Hawa membuat Raya dan Fatimah langsung mengagetkannya.

 

"Darr!" teriak ke duanya sambil memegangi bahu Hawa.

 

"Ciee yang lagi jatuh cinta, ingat dosa loh Hawa!" ujar Fatimah dengan tersenyum jail kepada Hawa.

 

"Iya jangan terlalu lama mandangin cowok nanti dosa loh Wa, ya sudah yuk aku sudah lapar banget nih," rilih Raya dengan menyeret ke dua sahabatnya untuk kembali berjalan ke tempat tujuan.

 

Aisyah berjalan mengikuti Raka ke ruang OSIS, kali ini dia berjalan dengan tegap menatap ruang kelas yang dilaluinya sudah kosong dia merasa bahwa semua anak OSIS sudah berada di sana.

 

Karena yang lain sudah berkumpul di ruangan Raka memilih untuk berbicara sebentar dengan cewek di belakangnya itu, "Syah, jangan terburu-buru jalannya," kata Raka sambil tersenyum.

 

"Hah, kenapa memangnya bukannya yang lain sudah menunggu kita." Aisyah mengernyit bingung mendengar perkataan Raka yang sepertinya ada yang ingin cowok itu bicarakan kepadanya. "Ada apa Rak?"

 

"Aku mau nanya sebentar sama kamu Syah, setelah ultah sekolah kan pasti ada libur ya apakah kamu ada rencana untuk ke gudang buku lagi?" ujar Raka dengan tersenyum ramah.

 

Melihat senyuman Raka membuat hati Aisyah tersentuh, sepertinya Raka sedang baik deh hari ini sehingga aura yang terpancar di wajahnya terlihat berbeda. 'Ah Raka aku suka jika melihat dirimu seperti ini dan aku juga sangat suka berada di dekatmu seperti ini' gumam Aisyah.

 

Setelah pikirannya berlabuh entah ke mana dia pun akhirnya kembali tersadar saat Raka menegurnya, "Eh iya Rak, asal kamu tahu ya aku selalu ke sana loh setiap hari libur sekolah tapi kayanya baru kemarin aku lihat kamu di sana," ungkap Aisyah.

 

"Owh berarti kamu pasti ke sana ya jika hari libur? aku memang sering ke sana tapi menetap di ruang baca aku sendiri pun kaget waktu lihat kamu di sana hehehe," jelas Raka dengan terkekeh.

 

Aisyah pun ikut tertawa mendengar Raka tertawa, "Aku ke sana hanya beli buku jadi tidak lama, eh tapi aku kan masih marah sama kamu Raka kok bisa-bisanya ya aku berbicara dengan kamu."

 

Raka kembali tertawa melihat kepolosan Aisyah, "Hahaha kamu masih marah gara-gara tadi di kelas, ya ampun Syah maafin aku lagian juga bukan salah aku dong suruh siapa tidur di kelas," ejek Raka sembari membela dirinya.

 

"Aku malu Raka, sudah lah lupakan saja!" pekik Aisyah dan kembali berjalan mendahului Raka.

 

"Eh Aisyah tunggu!" Raka langsung buru-buru menyusul cewek itu yang terkesan menggemaskan, "Jangan malu kamu tetap cantik meski saat tertidur."

 

Deg, langkah Aisyah berhenti tiba-tiba saat mendengar Raka menyucapkan pujian untuknya sedangkan Raka hanya tersenyum dan pergi meninggalkan cewek itu begitu saja setelah mengatakan kalimat yang menggetarkan hatinya.

 

"Sialan, apa coba maksud cowok itu mengujiku? Astagfirullah Aisyah gak boleh begitu tapi ... ah perkataannya membuatku terasa di skakmat oleh pujiannya apa jangan-jangan cowok itu tahu ya perasaanku?" pekik Aisyah dengan sedikit kesal. Baginya ucapan Raka sama seperti buaya-buaya yang ada di luar sana tapi ucapan itu terdengar beda di telinga Aisyah karena cowok itu adalah pujaan hatinya.

 

Dengan bergegas Aisyah pun langsung menyusul Raka yang sudah berjalan jauh, terlihat Pak Bambang yang sedang berjalan dengan membawa buku ditangannya membuat Aisyah berjalan dengan terburu-buru.

 

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!