Rencana Tuhan itu Pasti, Aruni!

9. KERJA KERAS UNTUK PAK BOS

“Seharusnya dia sudah datang”, batin Arunika sedikit jengkel.  Dia paling tidak suka dengan orang yang  ngaret.

“Lebih baik aku ke ruanganku saja dulu sambil menunggu kedatangannya”, kata Arunika dalam hati sambil berdiri dari duduknya. 

 

Namun bersamaan dengan itu, pintu ruangan terbuka dan Tara melangkah masuk diikuti oleh Pak Kris.  Arunika segera memberi salam dan kembali duduk seperti sedia kala.  Sedangkan Tara hanya melirik sekilas ke arah Arunika tanpa ekspresi apa-apa.

 

“Oke Pak Kris, tolong berikan semua data dan berkas mega proyek kita kepada Saudari Arunika biar dia bisa mulai mempelajarinya”, kata Tara sambil menunjuk Arunika.

“Baik Pak”, jawab Pak Kris dan mengambil setumpuk berkas dari meja Tara.

“Arunika, silahkan.  Ini meja kerja kamu mulai sekarang”, kata Pak Kris sambil berjalan ke meja bercorak pastel natural yang berada di seberang meja Tara.

“Baik Pak”, jawab Arunika sambil berjalan mengikuti Pak Kris.

“Nah, ini semua berkas yang harus kamu pelajari. Mulai sekarang, kamu adalah asisten Pak Tara. Kamu harus tahu semua yang beliau tahu dan kamu harus berada dimana beliau ada. Oke?”, jelas Pak Kris singkat dan padat.

“Baik Pak”, jawab Arunika sesaat sebelum akhirnya Pak Kris meninggalkannya berdua saja dengan Tara.

 

Tanpa basa basi, Arunika segera menggulung lengan bajunya dan mulai membaca dan memeriksa setiap lembar berkas yang ada dimejanya.  Meskipun ruangan ini ber-AC dengan suhu yang cukup dingin, namun Arunika terbiasa bekerja dengan rambut yang dijepit keatas. 

 

Dengan santai diambilnya jepit rambut besar yang biasa dia bawa di dalam tasnya.  Digulungnya rambutnya keatas dan dijepit menjadi satu.  Lehernya yang jenjang terlihat menawan dengan bulu-bulu rambut pendek yang sedikit terurai. 

 

Tara hanya memperhatikan semua itu sambil diam.  Dia tak mau mengganggu apa yang sedang dikerjakan Arunika.  Sambil menunggu Arunika selesai memeriksa berkas itu, diam-diam Tara memotret Arunika yang sedang bekerja menggunakan kamera laptopnya.

 

Hampir dua jam Arunika tenggelam dalam kesibukannya hingga akhirnya lima lembar rangkuman berkas berhasil disusunnya.  Dilihatnya Tara yang sedang sibuk dengan laptopnya.  Ragu-ragu Arunika untuk berdiri menghampiri Tara, tetapi disaat yang bersamaan Tara mengangkat wajahnya dan memberi isyarat kepada Arunika untuk duduk di depannya.  Arunika pun duduk sambil menyerahkan hasil rangkumannya.

 

“Apa ini?”, tanya Tara datar.

“Ini rangkuman mega proyek gabungan tiga negara pembangunan Resort dan Wisata Air di Bali, Pak”, jawab Arunika tenang.

Tara tersenyum tipis sambil berkata,”Perlu dua jam hanya untuk rangkuman seperti ini?”

“Saya tidak perlu ini”, katanya lagi sambil melempar kertas rangkuman itu ke arah Arunika.

 

Arunika kaget dan spontan amarahnya tersulut.  Namun dia berusaha menahannya.  Mau dilawan juga dia yang bos.

 

“Maaf Pak.  Terus apa yang Bapak mau saya lakukan?”, tanya Arunika tanpa ekspresi.

“Next saya mau kamu harus bisa menguasai berkas maksimal satu jam saja.  Tak perlu presentasi di depan saya.  Tapi kamu lah yang nanti harus presentasi di hadapan klien dan rekanan kita. Mengerti!?”, kata Tara tegas.

“Sekarang siapkan berkas perencanaan RAB nya. After lunch, sudah harus ada di meja saya”, kata Tara sambil meninggalkan ruangan. Sementara Arunika hanya melongo terduduk di kursi dengan dada sesak menahan jengkelnya.

“Baru sekali ini kujumpai bos yang sangat arogan seperti ini”, batin Arunika kesal.  Ingin rasanya dia kembali ke ruangannya yang lama. Namun apalah  dayanya.

 

Tara selalu bersikap dingin dan arogan terhadap Arunika berkaitan dengan pekerjaannya.  Namun terkadang bertingkah sangat lembut dan penuh perhatian saat mereka kebetulan hanya berdua.  Perubahan yang cukup bertolak belakang ini sangat membingungkan Arunika.  Apa yang dikerjakannya sering dikritik oleh Tara meskipun toh akhirnya diakui juga apa yang dikerjakan Arunika selesai dengan sempurna. 

Namun tak pernah sekalipun Tara memuji hasil kerja Arunika. Arunika pun tak mempermasalahkan.  Dia bukan tipe orang yang mabuk pujian.  Selesai dengan hasil sempurna, itu adalah mottonya menghadapi tekanan pekerjaan selama ini.  Sebenarnya Tara sangat terkesan dengan cara kerja Arunika, hanya saja memang dia tak mau mengungkapkannya selama ini. 

***

"Toookk  toookkkk toookkk," terdengar ketukan di pintu kamar Arunika.

“Ruunniiiii…. Bangguuuuunn!”, teriak Arum sambil terus mengetuk pintu kamar Arunika.

Arunika membuka mata dan menggeliatkan badannya.

“Ruuniiii!!!”, teriak Arum lagi.

“Yaa… yaaa… tunggu”, jawab Arunika sambil turun dari tempat tidurnya.

Ceklek.

“Ngapain sih teriak-teriak.  Gangguin orang tidur aja”, kata Arunika bersungut kesal sambil membantingkan kembali tubuhnya ke kasur yang empuk.  Matanya pun mulai terpejam lagi.

“Lo tu ya.  Hari Minggu gini mustinya dipake olah raga.  Jabo getooo”,kata Arum bawel.

“Gak usah jaga body juga body gue segini-gini aja”, timpal Arunika masih dengan mata tertutupnya.

Arum tersenyum mendengar tanggapan Arunika. Sahabatnya ini memang beruntung memiliki bentuk badan yang bagus dan seksi.  Dengan tinggi badan hampir seratus tujuh puluh senti, bagian atas penuh berisi dan bagian bawah pun padat menggoda.  Semua pasang mata bahkan berdecak kagum ketika menyadari keelokan tubuh Arunika saat dia mengenakan rok.  Tapi ya hanya sehari itu saja Arunika mengenakannya karena keesokan harinya dia kembali tampil dengan dandanan sporty femininnya.

“Lo gak ada jadwal kemana-mana hari ini, Runi?”, tanya Arum

“Ada. Jadwal gue cuman satu aja hari ini”, jawab Arunika.

“What?”, tanya Arum lagi.

“Tiduuurrr. Capek gue.  Dua minggu ini full kerja sama si bos bikin tenaga dan pikiran gue terkuras habis”, jawab Arunika dengan ekspresi sebelnya.

“Tapi lo sukaa kaaann?”, goda Arum.

“Apaan sih lo, Rum.  Kok ada ya orang yang arogan seperti itu”, kata Arunika lagi.

“Yaa, kalo menurut gue sih, dia cuma bersikap professional aja sih”, kata Arum memberikan penilaiannya.  Gadis itu tersenyum lebar sambil menatap Arunika.

“Kalo profensional itu harusnya kalo bagus dibilang bagus, kalau benar dibilang benar.  Bukan semua dinilai biasa saja bahkan menjurus disalahkan”, cetus Arunika dengan kedongkolannya.

“Ya udah giih sono bilang sendiri sama pak Bos”, timpal Arum sambil terkekeh melihat ekspresi sahabatnya itu.

"Ddrrrtt  dddrrttt dddrrrttt". Tiba-tiba ponsel Arunika bergetar tanda panggilan masuk.  Dilihatnya nama Bos Arogan di layar.

“Waduh, umur panjang nih. Baru juga diomongin udah nongol”, kelakar Arum sambil tertawa lepas.

“Cepetan angkat, kali ada yang penting”, kata Arum menyadarkan Arunika yang hanya bengong saja memandang ponselnya yang bordering.

“Halo pagi Pak”, jawab Arunika.

“Lama banget ngangkatnya. Baru bangun tidur ya?”, ujar Tara di seberang sana.

“Busyet tau juga dia”, batin Arunika kaget.

“Enggak juga, lagi santai di luar jadi nggak kedengaran tadi, Pak”, jawab Arunika sambil memberi tanda Arum untuk berhenti tertawa.

Sesaat kemudian Arunika terdiam mendengar sebuah instruksi mendadak yang diberikan oleh Tara.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!