Rencana Tuhan itu Pasti, Aruni!

10. PERJALANAN BISNIS

“Jangan banyak alasan.  Dua puluh menit lagi saya jemput kamu.  Siapkan diri dan bawa pakaian seperlunya.  Kita harus ke Denpasar sekarang. Minta jadwal ke Pak Kris”, kata Tara yang langsung menutup teleponnya tanpa menunggu jawaban Arunika.

“Ada apa, Runi?  Lo kena marah apa lagi kali ini?”, tanya Arum was-was saat melihat wajah sahabatnya yang memberengut kesal.

“Hadeehh gagal deh jadwal gue molor, Rum.  Delapan belas menit lagi si Bos kesini, kita harus segera ke Bali”, kata Arunika lemas namun tetap saja mengirim pesan ke Pak Kris untuk meminta jadwal seperti yang disuruh Tara.

“Wiiddiiiwwww… asyik tuh, lo bisa romantis-romantisan sama Pak Bos disana. Hahahaaa”, kelakar Arum sambil berlari keluar kamar menghindari cubitan pinggang yang sudah siap diberikan Arunika.

 

Tara datang tepat dua puluh menit sejak dia menutup teleponnya.  Arunika yang sudah menunggu dengan sekotak koper kecil di teras rumah kos bersama Arum segera berdiri menyambutnya.

“Pagi Pak”, sapa mereka berdua serempak ketika Tara keluar dari mobilnya.

“Pagi”, jawab Tara dan langsung memberi isyarat Arunika untuk segera masuk.  Tara hanya mengangguk kecil kepada Arum sambil masuk ke mobilnya dan langsung mengemudikannya menuju bandara.  Arum hanya tersenyum kecil melihat tingkah laku Tara tadi.  Bisa dibayangkannya apa yang akan dilalui oleh sahabatnya bersama si bos arogan itu nanti.

Lagu “Please Forgive Me”, milik Bryan Adams mengalun lembut di sepanjang perjalanan.  Suaranya yang seksi sangat nyaman didengarkan.  Arunika menikmati lirik demi lirik yang dilantunkan dengan penuh penghayatan itu.  Tak sadar ikut menyanyikannya perlahan.

Tiba-tiba Arunika berhenti berdendang menyadari arti dari lirik itu.  Perlahan matanya melirik ke Tara.  Tara diam saja, tetapi jari jemarinya mengetuk-ketuk setir mengikuti nada.

“Kamu tau lagu ini?”, tanya Tara tanpa melepaskan pandangannya dari kemudi.

“Ya tau lah, Pak.  Siapa sih yang nggak kenal Bryan Adams.  Suara seraknya yang seksi pasti digilai semua perempuan pada masanya, bahkan sampai sekarang”, jawab Arunika sambil tersenyum teringat tumpukan CD lagu-lagu nostalgia yang dikumpulkan oleh ibunya. 

“Orang tua kamu salah satu penggemarnya?”, tebak Tara.

“Iya, ibu saya punya koleksi CD lengkap para penyanyi slowrock jadul seangkatan dia.   Jadi terbiasalah denger lagu-lagu seperti ini”, jawab Arunika.

Lagu Bryan Adams kemudian berganti dengan lagu Always nya Bon Jovi.  Terlihat beberapa adegan mesra di video clipnya yang membuat Arunika menjadi malu sendiri.  Segera dipalingkan wajahnya melihat pemandangan diluar mobil.  Tara melirik sambil tersenyum. 

“Kamu nggak lupa tiket pesawatnya, kan?”, tanya Tara.

“Sudah saya print, kok.  Tapi hotelnya belum sempet booking.  Pak Kris bilang biasanya Pak Tara sudah punya langganan hotel di Kuta”, jawab Arunika. Tara mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Aku sudah info orangku di Kuta. Tenang saja, nanti kita langsung ke tempat pertemuan dulu.  Mungkin malam baru kita ke hotel”, jelasnya lagi.

“O ya.  Satu lagi, Aruni.  Sebelum kita terbang, kamu ganti dulu baju kamu.  Asisten pak Kris telah menyiapkan semua keperluan kamu untuk semua pertemuan nanti”, perintah Tara.

Arunika memandang tak mengerti ke  arah Tara.

“Buat  apa aku membawa baju ganti kalau semua sudah disiapkan”, batin Arunika.

”Dan siapa asisten Pak Kris, darimana dia tahu ukuran dan selera berpakaianku?”, tanya Arunika dalam hati.

 

Arunika keluar dari toilet bandara dengan mengenakan rok span panjang berbelah tengah di bagian belakang rok.  Dipadukan dengan atasan casual berupa blouse tanpa kerah dengan leher yang agak rendah.  Feminin casual. 

Tara suka dengan penampilan Arunika, meskipun tertutup tapi masih bisa menyegarkan matanya.  Tara tidak suka jika Arunika mengenakan rok span yang bisa mempertontonkan kaki jenjangnya ke semua orang yang memandang.  Tara lebih suka melihat Arunika apa adanya.  Rambutnya yang lebat dibiarkan terurai dengan bando kawat kecil untuk menahan poninya agar tidak menutupi matanya.  Taktik yang bagus untuk menutupi sedikit punggungnya yang terbuka karena model leher rendah blousenya.

“Kupikir rambutnya akan tetap dijepit keatas”, batin Tara sedikit kecewa karena tidak bisa memandang leher jenjang yang indah milik Arunika.

Segera mereka berjalan masuk saat mendengar nomor penerbangan mereka terdengar disebut.

Pesawat Garuda GA0404 mendarat dengan mulus di bandara Ngurah Rai, Denpasar, Bali tepat pukul 12.45 WITA.  Seseorang melambaikan tangan kepada Tara begitu mereka berjalan di koridor luar bandara.

“Selamat siang, Pak Tara. Silakan”, sambut orang itu sambil menunjukkan jalan ke tempat mobinya diparkir.  Mereka mengikutinya dan sopir pun membawa mereka menuju tempat pertemuan.

Di area Nusa Dua, mobil memasuki sebuah Resort & Restaurant Italia yang cukup megah.  Mereka disambut oleh seorang pegawai restoran dan segera memandu jalan menuju tempat yang sudah direservasi.  Ternyata tamu yang ditunggu belum datang. 

“Syukurlah kita lebih dulu sampai”, kata Arunika lega.  Tara mengiyakan saja karena dia telah mengenal Arunika sebelumnya jadi tahu kalau Arunika selalu datang terlebih dahulu dari pada tamu atau klien nya jika ada rapat di luar, beda dengan rapat yang diadakan di kantor, selalu saja yang terakhir, ups!

“Ehem… Aruni. Jadi  begini.  Selain meeting resmi yang kita adakan, untuk level-level proyek tertentu kita juga sering mengadakan meeting non formal seperti ini sebelum meeting yang resmi diadakan.  Paham?”, tanya Tara serius.

“Paham, Pak”, jawab Arunika sambil mangut-mangut.

 “Jadi apa maksud pertemuan ini,menurut kamu?”, tanya Tara.

“Saling mengenal lebih dekat, Pak”, jawab Arunika sambil tersenyum lebar.

“Hah,maksud kamu?”, tanya Tara bingung dengan jawaban simple Arunika.

“Yaa saling kenal lebih dekat secara akrab, tak kenal maka tak sayang kan? Kalau sayang pasti ada kepercayaan lebih. Nah, karena kita secara akrab bisa dekat dengan mereka, maka mereka pun pasti akan lebih percaya dengan kita, dengan perusahaan kita, dengan semua proyek kita. Begitu menurut saya, Pak”, jelas Arunika panjang lebar.

“Bisa juga kamu”, kata Tara dengan tatapan kagum atas jawaban diplomatis Arunika.

“Oke, jadi di pertemuan seperti ini, semua akan berjalan secara santai, tidak ada hal-hal resmi yang dilakukan.  Kita seperti bertemu dengan teman, mengobrol dan yaa seperti itulah. Sambil menekankan tentang pentingnya proyek kita”, jelas Tara.

“Jadi, saya nggak perlu bicara formal dengan mereka?”, tanya Arunika meyakinkan diri yang dibalas dengan anggukan kepala Tara.

“Sama aku juga. Nggak perlu formal-formalan.  Biasa aja ngomongnya”, kata Tara namun dilihatnya Arunika masih ragu-ragu.

“Susah kali ya?.  Eemmm oke, kamu panggil aku Uman aja gimana? Lebih nyaman ?”, tawar Tara yang disambut anggukan kepala dan senyum lebar Arunika.

“Yups, kalo sama Uman kayaknya saya bisa lebih rileks deh”, kata Arunika sambil bernapas lega meski tetep saja nggak akan serileks bicara dengan Uman yang dulu.

 

 

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!