Rahasia Starla Bayi Tertinggal di Teras Kos

Papasan

Eliza menarik napas. Lidahnya kelu. Pandangannya sekilas ke arah pintu IGD, tempat Starla dibaringkan.

“Saya yang tanggung jawab,” ucap Eliza akhirnya. “Sementara begitu.”

“Sementara ... maksudnya…?”

Eliza membuka mulut, lalu menutupnya lagi. Kata-kata itu terasa berat. Terlalu banyak yang harus dijelaskan, sementara waktu dan tenaganya hampir habis.

Di sampingnya, pria yang sejak tadi berdiri diam—Saba—melirik sekilas. Ia menimbang sebentar, lalu berdehem kecil.

“Maaf,” katanya sopan, menoleh ke Eliza lebih dulu, memastikan ia tidak keberatan. “Kalau boleh saran.”

Eliza melihat ke arahnya. Wajahnya lelah, matanya sembab, tapi ia mengangguk kecil.

Saba lalu beralih ke suster. “Bilang saja anak adopsi dulu, Sus. Atau wali sah sementara. Biar administrasinya jelas.”

Suster tampak lega mendengar istilah yang familiar. “Oh, anak adopsi ya?”

Eliza refleks ingin menyangkal, tapi kalimat itu terhenti di tenggorokannya.

Saba melanjutkan, suaranya tetap tenang. “Data detailnya bisa menyusul. KK lama, surat keterangan, atau konfirmasi dari Capil. Biasanya rumah sakit nerima, asal ada penanggung jawab jelas.”

Eliza menatapnya sesaat. Ada rasa asing bercampur syukur. Orang ini tidak banyak tanya, tidak menghakimi. Tapi paham semua yang terasa berat untuk dijelaskan Eliza.

Eliza mengangguk pelan. “Iya,” katanya akhirnya. “Anak saya. Proses adopsi… masih berjalan.”

Suster langsung mengetik. “Baik, Mbak. Jadi penanggung jawab atas nama Mbak Eliza.”

“Iya,” jawab Eliza lirih, tapi tegas.

Saba melangkah mundur setengah langkah, memberi ruang. “Semoga cepat membaik anaknya,” katanya singkat.

Eliza menunduk sedikit. “Terima kasih.”

Saba mengangguk, lalu pergi ke arah lain lorong, kembali pada urusannya sendiri—tanpa tahu bahwa kalimat sederhana barusan akan jadi pengakuan terberat dalam hidup Eliza.

Lorong kembali ramai setelah Saba pergi. Suara roda brankar, langkah kaki tergesa, dan panggilan perawat bersahut-sahutan. Tapi Eliza berdiri kaku di depan meja administrasi.

Anak saya.

Kata itu masih bergetar di dadanya. Suster menyerahkan gelang identitas dan selembar kertas. “Mbak bisa tunggu di depan IGD dulu ya. Kami siapkan kamar.”

Eliza mengangguk, menerima kertas itu dengan tangan yang sedikit gemetar. Begitu menjauh dari loket, lututnya terasa lemas. Ia menempelkan punggung ke dinding sebentar, menarik napas dalam-dalam, lalu menghembuskannya perlahan.

Bu Gendhis sudah menunggu di dekat pintu. Wajah perempuan tua itu lelah dan ngantuk.

“Piye, Mbak El?” tanyanya cemas.

Eliza mengangguk. “Lagi disiapkan kamar, Bu.”

Bu Gendhis menghela napas panjang, lalu memegang lengan Eliza erat-erat. Seolah takut gadis itu ikut sakit. “Mbak El… sing penting Starla slamet.”

Eliza menatap wajah keriput itu. Ada rasa bersalah yang menusuk—karena ia tahu, kalau keadaan memaksa, Bu Gendhis akan melepas apa pun yang ia punya demi Starla.

“Bu,” kata Eliza pelan, “tadi… aku bilang ke suster… Starla anakku.”

Bu Gendhis terdiam. Matanya melebar sesaat, lalu berkaca-kaca. Ia mengangguk pelan, berulang-ulang.

“Yo wis,” gumamnya lirih. “Memang anakmu, Mbak. Soko awal.”

Eliza menunduk. Dadanya bergetar. Tak sabar menunggu Akte itu jadi. Anakku.

Pintu IGD terbuka. Seorang suster memanggil nama Starla. Eliza dan Bu Gendhis langsung mendekat.

Starla terbaring dengan selang oksigen kecil di hidungnya. Wajahnya pucat, tapi napasnya mulai teratur. Begitu matanya terbuka sedikit dan melihat Eliza, bibirnya bergerak lemah.

“Ibu…”

Eliza segera mendekat, menggenggam tangan kecil itu. “Iya, Nak. Ibu di sini.”

Jari Starla mencengkeram jemarinya, lemah tapi yakin. Seolah takut dilepas.

“Aku… sama ibu aja,” bisiknya.

Deg.

Eliza membungkuk, menempelkan dahinya ke tangan Starla, membiarkan air matanya jatuh tanpa suara. “Iya,” bisiknya. “Sama ibu.”

Di luar IGD, Saba berdiri di depan ruang observasi. Ia menatap pintu tertutup tempat Hasnawati dibawa masuk tadi.

Entah kenapa, wajah perempuan muda di loket administrasi itu kembali terlintas di kepalanya.

Dan kalimat yang diucapkannya—pelan, tapi teguh. Anak saya.

Saba mengusap wajahnya, menarik napas panjang, tanpa tahu bahwa hidup mereka baru saja bersinggungan. 

*

Pintu IGD kembali tertutup setelah Starla dipindahkan ke ruang perawatan. Eliza berjalan di belakang brankar, langkahnya gontai, kepalanya kosong kecuali satu doa yang diulang-ulang tanpa suara.

Bu Gendhis merangkulnya, seolah sama mencari sandaran agar tak rubuh.

Seorang dokter muda datang membawa map tipis saat mereka masuk ke kamar perawatan. “Mbak Eliza?”

Eliza menoleh cepat. “Iya, Dok.”

“Demamnya tinggi dan dehidrasi ringan, plus indikasi infeksi. Kami curiga ada faktor stres pada anak, ini bisa memperparah kondisi.” Dokter itu berhenti sejenak, memastikan Eliza menyimak.

“Rawat inap minimal dua hari. Infus, observasi ketat.”

Eliza mengangguk cepat. Tenggorokannya tercekat. “Tolong… asal Starla sehat, Dok.”

Dokter itu menatapnya singkat, lalu mengangguk. “Kami usahakan sebaik mungkin.”

Begitu dokter pergi, lutut Eliza terasa lemas. Ia menempel ke dinding sebentar, mengatur napas.

“Bu,” katanya ke Bu Gendhis, “saya beli makan sebentar ya. Biar nanti bisa jaga gantian.”

Bu Gendhis mengangguk. “Iyo, Mbak. Aku neng kene wae.”

Eliza melangkah menuju lorong depan. Rumah sakit mulai ramai—bau antiseptik bercampur kopi sachet dari kantin kecil. Matanya sembab, jaketnya masih belum dilepas. Ia berjalan cepat, ingin segera kembali.

Dan di tikungan lorong itu—Langkahnya terhenti.

Hasnawati didorong perlahan di atas brankar, hendak dipindahkan ke ruang rawat inap. Wajahnya pucat, matanya setengah terbuka. Di sampingnya, pria tadi berjalan, wajahnya tegang, rahangnya mengeras menahan sesuatu.

Waktu seperti melambat.

Hasnawati menoleh sedikit. Entah karena sosok familiar, atau naluri yang tak bisa dijelaskan.

Pandangan mereka bertemu. Eliza membeku. Tidak ada tegur sapa. Hanya sepasang mata lelah yang saling mengenali.

Hasnawati menatap Eliza lama. Tatapannya kosong tapi tajam, seperti sedang menyusun ulang potongan puzzle yang semalaman membuatnya nyaris gila.

"Dia…" Napas Hasnawati tersendat. Tangannya bergerak sedikit di atas selimut rumah sakit.

Eliza refleks ingin mundur. Tapi kakinya terasa menancap di lantai.

Saba menyadari perubahan itu. “Ma?” katanya pelan, menunduk. “Mama kenapa?”

Hasnawati tidak menjawab. Matanya tak lepas dari Eliza.

Di dada Eliza, jantungnya menghantam keras. Wanita penabrak Starla sakit.

Suster mendorong brankar pelan. “Nyonya, kita pindah ke kamar ya.”

Brankar bergerak lagi.

Hasnawati masih menatap Eliza sampai jarak itu memutuskan pandangan mereka. Sebelum benar-benar berlalu, bibir Hasnawati bergerak. Tidak jelas terdengar, tapi Eliza menangkap satu kata.

“Eliza…”

Saba menoleh ke arah yang ditatap ibunya. Ia melihat ~wanita anak adopsi, berdiri kaku di lorong. Mata mereka bertemu.

Ada sesuatu yang mengendap di dada Saba. Sesuatu yang tak ia pahami, tapi terasa berat.

Brankar menghilang di balik pintu.

Eliza berdiri beberapa detik lebih lama, lalu memutar badan. Tangannya gemetar saat mengambil uang dari dompet. Makanannya jadi tak penting—yang penting ia tetap berdiri.

Karena di ruang lain, seorang anak sedang bertarung dengan panas dan ketakutan.

Dan di ruang lain lagi, seorang wanita sedang terbaring dengan kebenaran yang pelan-pelan bangun dari tidur panjangnya.

.

.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!