Rahasia Starla Bayi Tertinggal di Teras Kos
Izinkan Aku Ya Allah
Eliza kembali ke kamar rawat inap membawa dua bungkus nasi dari kantin rumah sakit. Tangannya pegal, langkahnya melambat begitu melihat Starla terbaring dengan infus terpasang, dada kecilnya naik turun teratur.
Bu Gendhis duduk di bangku di samping ranjang, kain jariknya masih menutup sebagian kaki.
“Makan dulu, Bu,” kata Eliza pelan sambil menyerahkan satu bungkus.
Bu Gendhis menerima, tersenyum lemah. “Matur nuwun, Mbak El.”
Mereka makan perlahan. Bukan karena tidak lapar, tapi karena tenggorokan rasanya sempit. Suara-suara kamar—batuk pasien lain, langkah suster, bunyi alat medis—mengisi di sela-sela makan.
Bu Gendhis melirik Starla, lalu berdehem kecil.
“Mbak El…” suaranya diturunkan. “Sakjane aku kepikiran terus.”
Eliza menoleh. “Kenapa, Bu?”
“Kemarin … sebelum panase naik lagi,” Bu Gendhis mengusap ujung jarik di pangkuannya, “Starla ngigau. Nyebut-nyebut ibu itu lagi.”
Sendok Eliza berhenti di udara. Ia memaksa menelan suapan yang terasa kering.
“Apa… kena sawan ya, Mbak El?” tanya Bu Gendhis ragu.
“Mana ada,” jawab Eliza cepat, meski suaranya serak. “Ngigau aja itu.” Ia tahu jawabannya terdengar seperti menenangkan diri sendiri.
Bu Gendhis mengangguk, tapi rautnya belum sepenuhnya yakin.
“Sampeyan tidur aja, Mbak,” lanjut Bu Gendhis kemudian. “Dari kemarin siang kerja, terus begadang. Aku sing jaga. Wong aku neng omah yo ora ngopo-ngopo.”
Eliza hendak menolak, tapi matanya terasa perih, kepalanya berat. Tubuhnya benar-benar minta rebah.
“Kita kan bareng-bareng di sini,” sambung Bu Gendhis, melirik brankar lain. “Ramean. Aman.”
Eliza akhirnya mengangguk. Setelah makan, ia naik ke tepi ranjang Starla, meringkuk di ujung.
Sebelum matanya benar-benar terpejam, bibir Eliza bergerak lirih. Bukan ke Bu Gendhis. Bukan pula ke siapa pun yang ada di kamar ini.
“Kalau kamu merasa sayang Starla…” bisiknya hampir tak terdengar, “jangan ganggu. Jangan melampaui batasmu.”
Napasnya tertahan sejenak.
“Pulanglah,” lanjutnya pelan. “Biarkan Starla denganku. Aku ibu sambungnya di dunia ini. Aku pastikan dia nggak kekurangan kasih sayang. Dari aku. Dari neneknya juga.”
Ia memejamkan mata. Tubuhnya meringkuk lebih rapat, pipinya hampir menyentuh kaki Starla. Beberapa menit berlalu. Kamar terasa tenang.
*
Siangnya Eliza kerja. Dan baru pulang jam 11 malam. Dia baru saja tiba ketika tubuh Starla mendadak menegang.
Kakinya bergetar. Tangannya mengepal. Napasnya tersentak-sentak.
“Starla!” Bu Gendhis bangkit panik. “Mbak El! Mbak El!”
Eliza terlonjak, gegas lari ke suster section. Kakinya masih berat, tapi pemandangan di depannya membuat dadanya seketika dingin.
“Dokter!” teriak Eliza. “Tolong!”
Starla kejang. Tubuh kecilnya bergetar keras. Monitor berbunyi cepat. Suster berlarian masuk. “Mbak, mohon menepi dulu.”
Eliza terpaku. Kakinya terasa tak berpijak. “Dok… itu anak saya—” suaranya pecah.
“Bu, ke sini dulu,” suster memegang lengannya, menariknya menjauh.
Eliza menurut, tubuhnya gemetar hebat. Kepalanya pusing. Dunia seperti berputar terlalu cepat.
Dokter masuk. Tirai ditutup setengah. Beberapa menit terasa seperti berjam-jam.
Bu Gendhis berdiri tak jauh, menangis tertahan, kedua tangannya menutup mulut.
Akhirnya, tirai dibuka. Dokter keluar.
Eliza langsung melangkah, tapi lututnya goyah. Hampir saja ia jatuh kalau suster tidak sigap menahan.
“Dok?” suaranya nyaris tak keluar.
Dokter menatapnya, ekspresinya serius. “Kejangnya sudah berhenti. Tapi kami harus observasi ketat. Kalau perlu, pindah ke ruang pengawasan lebih intensif.”
Eliza mengangguk cepat. Air matanya jatuh satu-satu, tanpa isak.
Saat dokter pergi, tubuh Eliza akhirnya menyerah. Ia terduduk di kursi, wajahnya ditutup kedua tangan.
Hampir saja.
Hampir saja ia kehilangan Starla.
Eliza menempelkan wajahnya ke dada Bu Gendhis. Napasnya tersengal, seperti baru selesai berlari jauh. Tangisnya tidak langsung pecah—tertahan di tenggorokan, menumpuk di dada, lalu tumpah tanpa aba-aba.
“Starla kuat gak ya, Bu…” Suaranya patah. Kalimatnya berhenti di tengah, sisanya hilang bersama isakan yang tak sempat ia sembunyikan.
Bu Gendhis memeluknya erat. Telapak tangannya menepuk-nepuk punggung Eliza pelan, berulang, sabar.
“Kuat, Mbak El,” jawabnya mantap.
Eliza menggeleng kecil. Air matanya jatuh ke baju Bu Gendhis, membasahi kainnya. Hidungnya tersumbat, napasnya berbunyi.
“Tapi…” Ia mengusap hidung dengan punggung tangan, gagal. Ingusnya tetap mengalir.
“Dia makan nasi, Bu. Bukan semen…” suaranya serak, hampir tak keluar. “Gak akan… sekokoh tiga roda…”
Kata-kata itu terdengar konyol, bahkan bagi dirinya sendiri. Eliza terkekeh. Tawa pendek, aneh, yang langsung berubah jadi isak. Dadanya naik turun tak beraturan. Ia tertawa sambil menangis, wajahnya kusut, matanya merah dan bengkak.
Bu Gendhis ikut tersenyum, matanya ikut basah. Ia menepuk punggung Eliza sedikit lebih keras.
“Setres tenan kamu, Mbak El.” Ia menghela napas kecil. “Kesian. Gak minum obat sih, ya?”
Eliza tertawa lagi. Kali ini lebih keras, lalu langsung tercekik oleh tangisnya sendiri.
“Obatnya habis, Bu… belum ngutang lagi,” katanya terbata.
Mereka tertawa bersamaan. Tawa yang terdengar salah tempat, salah waktu. Tapi justru itu—di tengah malam rumah sakit, di antara bau antiseptik dan bunyi infus—tawa itu jadi satu-satunya pegangan agar mereka tidak ambruk sepenuhnya.
Eliza menyeka wajahnya berkali-kali, tapi air matanya terus keluar.
“Aku ke mushola sebentar ya, Bu,” katanya lirih.
“Yo wis,” jawab Bu Gendhis lembut. “Aku neng kene wae, bareng Starla.”
Eliza mengangguk. Ia menatap Starla sebentar. Anak itu terlelap, dadanya naik turun pelan. Eliza menggigit bibirnya, lalu berbalik cepat—takut kalau ia melihat lebih lama, kakinya tak akan sanggup melangkah pergi.
Mushola rumah sakit lengang. Beberapa orang duduk bersila, doa mereka lirih, hampir tak terdengar.
Eliza memilih sudut paling ujung. Ia menggelar sajadah, berdiri untuk salat isya. Gerakannya lambat, berat, tubuhnya sudah terlalu lelah.
Usai salam, ia tak langsung bangkit. Tangannya terangkat.
“Ya Allah…” Suaranya nyaris tak terdengar. Serak, tenggorokannya kering.
Ia menarik napas, tapi dadanya bergetar. Kalimat berikutnya keluar terpotong-potong. “Kalau… jodohku dengan Starla panjang ... Berkahi pertemuan kami ini…”
Air mata jatuh ke telapak tangannya. Satu. Lalu dua. Lalu tak terhitung.
“Mudahkan… segala urusan kami… biar kami… tetap bersama…”
Hidungnya tersumbat. Eliza mengusapnya cepat dengan lengan mukena. Nafasnya ngik-ngik, malu, tapi tak bisa dicegah.
“Aku sama Starla… Kami berdua gak punya keluarga, Ya Allah…”
Bahunya mulai berguncang.
“Biarkan kami…” Suaranya makin lirih, hampir hilang.
“Melengkapi kekurangan ini…”
“Cukupkan rezekiku…”
“Dan buatlah Starla selalu bersyukur…”
Ia terdiam lama, menelan isak.
“Lembutkan hati Starla… Putriku…" Kata itu membuatnya runtuh. “Meski dia… gak lahir dariku…”
Tangisnya pecah. Bukan lagi isak tertahan, tapi tangis orang yang kehabisan tenaga untuk kuat. Bahunya berguncang hebat, napasnya putus-putus, suara tangisnya tenggelam di mushola yang lengang.
“Ya Allah…”
“Aku gak pernah minta, kan…”
Ia menunduk dalam-dalam, dahinya hampir menyentuh sajadah.
“Izinkan doaku kali ini…”
“Menembus Arsy-Mu…”
“Untuk Starla…”
“Anak yang Engkau antarkan ke pintu kosku…”
Eliza terisak, suaranya hancur.
“Bukankah Engkau janji…”
“Menjamin rezeki setiap makhluk-Mu…”
Air matanya bercucuran. Tangis itu berlangsung lama. Sampai matanya perih dan tubuhnya gemetar karena lelah.
Hanya bunyi kipas angin di atas yang setia menemani.
Beberapa menit kemudian, Eliza menyeka wajahnya pelan. Matanya sembab, hidungnya merah. Ia menarik napas dalam-dalam, melipat mukena, lalu berdiri.
Eliza tidak tahu—bahwa doanya tadi di dengar seksama oleh seseorang.
.
.