Rahasia Starla Bayi Tertinggal di Teras Kos

Tak sengaja

Di tempat lainnya.

Malam itu, Hasnawati tidak bisa tidur. Padahal besok dia akan kembali ke Panti. Harus. Kebenaran ini harus lekas dituntaskan. 

Lampu kamar telah lama dimatikan, tapi matanya tetap terbuka. Langit-langit kamar tampak buram, seperti layar tancap tempat memutar potongan adegan dari kepalanya. 

Pikiran Hasnawati berisi penolakan demi penolakan berulang bagai film yang diputar paksa.

Saba yang melengos pergi, rahangnya mengeras, menolak semua alasan.

Eliza yang kabur dengan Starla. Dia dituduh jahat oleh orang-orang terdekatnya. Julia yang merengek, suaranya pecah, meminta satu hal yang tak pernah bisa ia berikan, anak.

Dan suara suaminya. Marah. Keras. Menyalahkan Saba karena membangkang, seolah tubuh dan hidup anak itu miliknya sepenuhnya.

Hasnawati menutup mata. Tapi adegan itu justru makin jelas.

Ia menarik selimut sampai ke dada, tapi dingin tetap merambat. Dadanya sesak. Napasnya pendek-pendek. Kepalanya berdenyut pelan, seperti dipukul dari dalam.

Subuh lewat tanpa ia sadari. Fajar datang tanpa menunggunya, padahal kantuknya baru tiba.

Pagi ini, Hasnawati terlihat lesu. Wajahnya pucat, bibirnya kering. Badannya sedikit meriang, tapi ia menolak mengakuinya.

Ia bangun lebih cepat dari biasanya.

Tidak ada riasan berlebihan. Tidak ada perhiasan mencolok. Hanya pakaian sederhana—nyaris seperti tamu biasa. Rambutnya disisir rapi, tapi tangannya gemetar halus saat mengancingkan baju. Langkahnya terdengar pelan di kamar yang memang sunyi.

Tak lama kemudian, pintu kamar terbuka.

Saba muncul, sudah rapi, siap berangkat kerja. Begitu melihat ibunya berdiri di depan cermin, langkahnya terhenti.

“Maa… pagi,” katanya pelan. Alisnya langsung mengernyit. “Kok pucat, Ma?”

Hasnawati menoleh. Senyum kecil terbit, seperti kebiasaan kecil yang dipaksa tidak boleh berubah.

Ia merentangkan lengan. Saba mendekat refleks.

“Nggak apa-apa,” jawab Hasnawati cepat. Suaranya lebih tipis dari biasanya. “Mama baik-baik aja.”

Ia meraih putranya, memeluk lebih erat dari biasanya. Seolah tak ingin melepaskan. “Sini… cium dulu,” pintanya.

Saba menurut, dan tangannya spontan merangkul punggung ibunya. “Mama demam?” tanyanya, cemas. “Badannya panas."

“Nggak,” sahut Hasnawati. Merengkuh Saba, mencium pipinya lalu memejam di pelukannya.

Dan tepat setelah itu—Tubuhnya melemas.

“Ma—!”

Hasnawati terkulai di pelukan Saba.

Saba refleks menyanggah tubuh ibunya, nyaris terjatuh bersama. Panik. Nafasnya memburu.

“Ma! Mama!” suaranya meninggi.

Ia mengangkat tubuh Hasnawati ke ranjang, membaringkannya dengan tangan gemetar. Wajah ibunya pucat keabu-abuan, matanya terpejam, bibirnya hampir tak bergerak.

“Pak!” teriak Saba ke arah luar kamar. “Pak! Mbak!”

Ia berlutut di samping ranjang, menggenggam tangan ibunya. Dingin.

Saba menoleh ke tangan ibunya. Cepat-cepat mengecek denyut nadi Hasnawati. 

“Hah… kooook,” gumamnya panik. 

Matanya mulai mengembun. Dadanya naik turun cepat. “Ma…” suaranya bergetar. “Mama jangan gini…”

Langkah kaki tergesa terdengar dari luar. Suara ART dan sopir saling tumpang tindih bertanya ada apa dengan sang majikan.

“Pak! Ayo!” teriak Saba, nyaris menangis. “Cepat!”

Tangannya menggenggam jemari Hasnawati erat, seolah takut jika dilepas—ibunya akan benar-benar pergi.

***

“Tolooooong!”

Suara tangis perempuan memecah udara IGD. Di pintu masuk, Eliza berdiri dengan wajah berlinang air mata. Suaranya serak. Di belakangnya, Bu Gendhis terhuyung, mendekap tubuh kecil yang terkulai lemas di dadanya.

“Anakku panas tinggi!” serunya lagi.

"Sini, Bu!" Suster gegas menarik Bu Gendhis.

Starla segera dibaringkan di brankar. Eliza berjalan di sisi, menggenggam tangan kecil itu erat-erat, seolah jika dilepas sedetik saja—Starla akan pergi.

Bu Gendhis masih menangis. Sesenggukan. Tangannya gemetar. Angin malam yang menerpa sepanjang jalan tak lagi ia hiraukan. Yang ada di kepalanya cuma satu : Starla harus selamat. Soal uang, nanti saja.

Selang oksigen dipasang. Suster menepuk pipi Starla pelan. “Nak… buka mata ya…”

Waktu berjalan lambat. Beberapa menit penuh ketegangan menyelimuti mereka. Lalu, kelopak mata Starla bergetar. Terbuka sedikit.

“Ibu…”

Tangis kecil itu pecah. Matanya yang berair langsung mencari satu wajah.

Eliza.

“Ibu di sini. Ibu di sini, Nak,” Eliza menjawab cepat, suaranya bergetar, air matanya jatuh ke punggung tangan Starla.

“Aku mau… sama ibu aja…” isak Starla lemah, tapi jelas.

Bu Gendhis melongo. Tubuhnya membeku. Hantu itu… masih mengikuti Starla kah?

Tangannya refleks mengusap mata dengan kain jarik yang tadi dipakai menggendong Starla. Dadanya berdebar tak karuan.

Suster meminta mereka tenang. “Anaknya kami tangani dulu. Tunggu di luar dulu, ya. Nanti sekalian ngurus administrasinya.”

Eliza mengangguk. Ia tahu dirinya masih punya sisa gaji. Uang makan tiga pekan. Dan uang Starla di tabungan lain. Harus cukup.

Ketika ia ingin mengurus tapi suster menahannya. "Nanti sekalian aja Mbak, sama obatnya."

Eliza pun urung pergi. Tertunduk lesu, duduk di kursi tunggu IGD. 

Tiba-tiba Bu Gendhis mendekat. Tangannya gemetar saat mengulurkan sesuatu ke tangan Eliza.

“Mbak El… pake iki tambahan e. Kui tiga gram… sekitar lima juta lebih…”

Eliza menggeleng langsung mengembalikannya ke tangan Bu Gendhis.

“Jangan, Bu. Starla punya uang sendiri,” katanya tegas tapi lembut. “Semoga cukup.”

Keduanya lalu diam. Mencoba memejamkan mata sebab ini nyaris tengah malam.

Eliza gantian jaga di dalam sementara Bu Gendhis di luar, mengobrol dengan keluarga pasien lain yang baru datang. 

Setelah subuh. Mata Eliza berat, ingin tidur sebentar. Tapi Bu Gendhis menepuk lengannya.

“Mbak El.”

“Iya?”

“Starla sejak pagi demamnya itu… aneh.”

Eliza menegang. “Aneh gimana, Bu?”

Bu Gendhis ragu. Bibirnya bergetar. “Dia selalu bilang… ehm…”

“Apa, Bu?”

Bu Gendhis menelan ludah. Menatap ke arah brankar.

“Selalu manggil ibu… tapi kayak bukan njenengan yang dia cari."

"Hah?" Eliza melongo. Belum juga menanggapi Bu Gendhis, tiba-tiba suara gaduh terdengar dari luar. 

Seorang pria menggendong tubuh wanita masuk ke IGD. Perawat sigap menghampiri. Brankar didorong cepat. Tirai ditarik. Wanita itu langsung mendapat penanganan.

“Maaa…,” gumam sang pria tertahan, sebelum akhirnya dipaksa mundur oleh suster.

Eliza melihatnya, dari celah tirai brangkar, nyaris seperti dirinya semalam. 

Bu Gendhis mulai menguap. Tepat saat suster menyodorkan salinan resep dan ruangan rawat inap buat Starla.

Eliza mengangguk. Dia bangun ke bagian pelayanan. Meninggalkan Bu Gendhis, juga obrolan menggantung tadi.

Lorong IGD belum ramai. Lampu putih masih menyala, bau antiseptik menempel di udara.

Saba berdiri di depan nurse station, jas masih dikenakan. Matanya merah, tapi ia berusaha tampak tenang.

Di sisi lain lorong, Eliza berjalan pelan, rambutnya sedikit berantakan. Jaket tipis disampirkan asal. Tangannya menggenggam kertas, tapi pandangannya kosong.

Saba sempat menoleh. Eliza juga. Pandangan mereka bertemu sebentar Tak ada sapaan. Beberapa menit kemudian, suster memanggil nama Saba.

Di saat yang sama, Eliza mendekat, menyerahkan kertas itu. Langkah mereka berpapasan.

Suster itu mengangguk-angguk kecil, masih tampak ragu. Jarinya berhenti di atas keyboard.

“Jadi… statusnya gimana ya, Mbak?” tanyanya lagi, lebih pelan. “Anak kandung, adopsi, atau wali?”

"Ehm...." Eliza terdiam, bingung.

.

.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!