RAHASIA DI BALIK PESONA CANTIK USTADZAH VIRAL
9. SEMANGAT PAGI PARA PENGAIS REJEKI
Farah terbangun dini hari itu karena mendengar suara yang cukup ramai. Dia pun bangkit dan keluar untuk mengambil air wudhu. Gadis itu terdiam heran melihat semua penghuni rumah tampak sudah rapi dan bersiap untuk keluar. Dia melirik ke arah jam dinding yang cukup berdebu dan terbelalak melihat angka yang ditunjuk oleh jarum pendek di sana.
“Jam setengah tiga?” gumamnya sambil menahan diri untuk tidak menguap.
“Kalian mau ke mana?” tanyanya sambil menatap ketiga gadis yang sibuk dengan masing-masing urusannya itu.
“Kerja,” jawab Aci singkat tanpa menoleh ke arah Farah.
“Kerja? Kerja apa? Di mana?” tanya Farah lagi dengan antusias. Tentu saja gadis itu bingung sekaligus heran.
Jupe yang telah selesai bersiap pun menatap Farah dan tersenyum tipis ke arah gadis itu.
“Kami menawarkan jasa membawa barang belanjaan orang-orang yang berbelanja di pasar,” kata Jupe menjelaskan.
“Lumayan lho taripnya,” timpal Aci yang telah selesai memasang celemek di badannya itu sementara yang lain tidak. Farah memandangnya dengan heran.
“Kenapa? Ini?” tanya Aci sambil menunjuk celemeknya. Farah tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
“Aku biasa stand by di pedagang ikan. Jadi perlu pake celemek plastik ini biar nggak basah badanku,” jelasnya sambil mengedipkan sebelah mata.
“Oh, begitu,” gumam Farah lirih sambil tersenyum. Dia bertambah salut kepada mereka semua.
“Harus jam segini berangkat? Nggak nunggu subuhan dulu?” tanya Farah heran. Mereka pun tertawa mendengarnya.
“Keburu dipatok ayam ntar rejekinya, Rah,” sahut Wiwik yang berjalan menuju ke arah pintu.
“Kami jalan dulu. Lo lanjut aja tidurnya. Ntar pas sarapan biasanya kita balik kok,” kata Jupe. Farah menganggukkan kepalanya dan mengantar kepergian mereka.
“Lho Jo dan Dedi mana?” tanya Farah yang tidak melihat keberadaan mereka berdua.
“Udah duluan mereka, Rah. Tukang parkir dan angkut barang turun dari pemasok tuh kalau telat dikit udah diserobot yang lainnya. Ilang deh rejekinya,” jawab Aci. Farah semakin salut kepada semangat mereka.
“Kalian hati-hati ya, semoga hari ini banyak dapat rejeki,” doa Farah tulus. Jupe dan kedua temannya pun saling melambaikan tangannya kepada Farah dan bergegas pergi meninggalkan rumah mereka.
“Ya Allah, ternyata masih banyak saudariku yang harus berjuang seperti ini. Lindungilah mereka, ya Allah,” ucapnya dengan niat yang ikhlas.
Farah kembali masuk ke dalam rumah. Dia mencoba berbaring, tetapi matanya tidak bisa terpejam kembali. Setelah tergolek beberapa saat, Farah pun akhirnya bangkit dari kasur tipis yang digelar di atas lantai semen yang dingin.
“Lebih baik aku bersih-bersih saja agar mereka merasa nyaman saat datang nanti,” gumamnya sambil berjalan keluar kamar.
Saat di dapur Farah melihat ada beberapa sayuran dan tempe serta telur. Farah pun segera memasaknya. Semalam dia teringat cerita Wiwik kalau mereka biasanya pulang untuk memasak sarapan dan kembali bekerja lagi setelahnya.
“Semoga mereka suka dengan masakanku yang ala kadarnya ini,” batin Farah sambil menyiapkan masakannya di dapur.
Semburat awan memerah membelah langit di angkasa. Sang mentari mengintip malu dari peraduannya. Hawa dingin pun perlahan menghilang seiring surya yang tak lagi malu untuk menunjukkan dirinya.
Farah menemukan kain yang cukup lebar dan bisa dipakai sebagai pengganti hijabnya yang kotor. Dia telah mencuci bersih semua pakaian kotor bahkan milik ketiga gadis itu. Farah pun duduk bersandar di bale-bale yang ada di belakang rumah sambil memperhatikan cucian yang melambai ditiup angin. Perutnya telah berbunyi dari tadi, tetapi dia memilih untuk menunggu teman-temannya datang.
Farah mendengar suara ramai di depan. Dia pun bergegas masuk ke dalam rumah. Benar saja, kelima remaja itu baru saja tiba. Celoteh renyah mereka membuat Farah tersenyum senang. Sungguh sangat seru mendengar cerita mereka pagi itu.
“Lho eh, udah ada sarapan nih?” ujar Jo yang ternyata telah lebih dahulu ke dapur. Keempat temannya pun berlarian ke arahnya.
“Wah, makan besar kita,” seru Dedi senang. Mereka pun menoleh ke arah Farah.
“Lo yang masakin ini semua, Rah?” tanya Jupe. Farah mengangguk.
“Kamu ada duit buat belanja?” tanya Wiwik heran. Farah menggelengkan kepalanya.
“Trus, kok ada lauk pauk enak gini?” tanya Jo sambil menyomot sebuah gorengan yang dari tadi membuat liurnya hampir menetes.
“Enyak,” gumamnya sambil mengambil nasi.
“Aku masak aja yang ada di dapur tadi. Maaf kalau lancang,” ujar Farah sambil menatap Jupe dan teman-temannya itu dengan pandangan bersalah. Bukannya marah, mereka justru tertawa melihatnya.
"Siapa juga yang marah kalau pulang kerja bisa langsung makan seperti ini, Rah," sahut Aci yang sudah mengambil tempe dan sambal terasi yang terlihat sangat menggoda seleranya itu. Farah tersenyum lega mendengarnya.
Pagi itu mereka merasa sangat senang karena keberadaan Farah membuat rumah mereka menjadi lebih bersih dan menyenangkan.
Hampir seminggu Farah tinggal di sana. Aci dan Wiwik membawakannya beberapa hijab yang dibeli di pasar dengan harga sangat murah. Beberapa bahkan diberi secara cuma-cuma oleh penjual di pasar.
“Kalau kata anak kota, ini namanya nge-thrift, Rah,” kata Wiwik memberitahu.
“Oh itu. Bagus-bagus ya,” kata Farah senang.
“Tapi itu lho dikasih sama yang jual. Saking nggak laku-laku yang model gitu,” timpal Aci.
“Nggak apa-apa. Ini sudah sangat bagus untukku. Terima kasih, Wik, Ci,” ucap Farah sambil tersenyum senang menatap kedua sahabat barunya itu.
Sore itu tumben mereka bertiga berkumpul di rumah, biasanya menjelang maghrib pulang bareng sama Jo dan Dedi.
“Beberapa hari ini kalian pulang lebih awal. Ada apa?” tanya Farah sambil membawa ceret plastik berisi teh hangat. Mereka bertiga saling menatap.
“Kerjaan lagi seret, Rah,” jawab Jupe mewakili. Farah menatap mereka bertiga dengan rasa tak nyaman.
“Yang belanja sedikit?” tanya Farah lagi. Mereka serentak menggelengkan kepalanya. Farah pun memandang mereka dengan bingung.
“Ada grup lain yang menguasai pasar. Mereka sama seperti kita, tetapi menjilat Om Joni,” ujar Aci dengan geram. Farah memandangnya tak mengerti. Semburat rasa penasaran terlihat jelas di wajahnya.
“Mereka menggunakan cara-cara kotor untuk bisa menguasai pasar, Rah. Salah satunya dengan menyediakan diri untuk melayani Om Joni dan pasukannya,” jelas Wiwik.
“Oh, begitu. Astaghfirulloh,” gumam Farah yang mulai paham dengan maksud mereka sekaligus lega karena mereka ternyata masih belum melenceng jauh dari norma agama.
Adzan maghrib terdengar sayup-sayup berkumandang dari musholla yang berada di pasar. Farah segera beranjak dari duduknya untuk bersiap mengambil wudhu.
“Kalian tidak sholat?” tanyanya perlahan. Pertanyaan yang selama ini sangat ingin dia lontarkan kepada mereka. Dia tahu kalau mereka mempunyai keyakinan yang sama dengan dirinya, tetapi mereka belum menjalankan semua kewajiban sebagai seorang muslimah dengan baik.
Ketiga gadis di depannya saling memandang kemudian menatap Farah. Sebuah jawaban yang tak disangka pun terdengar di telinga Farah. Dia tertegun menatap ketiganya dengan bibir terbuka tetapi lidahnya terasa kelu.