RAHASIA DI BALIK PESONA CANTIK USTADZAH VIRAL

10. SATU TUJUAN YANG SAMA

“Kalau dalam kondisi seperti ini, emangnya Allah bisa kasih kita uang? Bisa kasih kita kekuasaan di pasar?” tanya Jupe dengan kasar. Kedua temannya mengangguk membenarkan pertanyaan itu.  Farah tertegun sejenak kemudian tersenyum.

“Aku sholat dulu ya, keburu habis waktunya,” ujar Farah tanpa menjawab pertanyaan dari Jupe. Ketiga gadis itu menatapnya nanar tetapi membiarkan saja Farah berlalu dari hadapan mereka.

Tak berapa lama, Farah kembali duduk bersama mereka.  Suasana mendadak terasa tak nyaman.  Wiwik dan Aci saling menatap tanpa berani berbicara. Farah pun tersenyum melihatnya.

“Allah memang tidak mungkin tiba-tiba memberi kita uang, mak bruk, gitu,” ujar Farah sambil menatap ketiga temannya itu dengan lembut.

“Tetapi Allah akan mendatangkan itu semua melalui orang lain atau sesuatu yang mungkin tidak kita sangka-sangka,” lanjutnya.  Melihat ketiga gadis itu masih terdiam, Farah pun melanjutkan bicaranya.

“Tapi bagaimana mereka bisa sampai kepada kita?” tanya Farah. Aci menggelengkan kepalanya. Farah menoleh ke arah Wiwik. Setali tiga uang, gadis itupun menggelengkan kepalanya. Sementara Jupe sama sekali tak menolehkan wajahnya ke arah Farah.

“Jika kita dekat dengan Allah, insyaalloh Dia juga akan berada di dekat kita. Insyaalloh doa yang kita panjatkan juga akan lebih terdengar oleh-Nya.”

“Aku dulu sering berdoa, tetapi jarang terkabul,” sela Aci sambil mencibirkan bibirnya. Farah tersenyum mendengarnya.

“Apa yang paling baik menurut kita, belum tentu yang terbaik menurut Allah, Ci,” sahut Farah diplomatis.

“Kadang kita ingin sesuatu yang menurut kita itu yang terbaik. Jika memiliki itu, maka hidup kita akan lebih baik. Tetapi Allah tidak kasih. Ya udah, berarti itu bukan yang terbaik.  Allah punya banyak alasan untuk itu yang wallahu ‘alam bi showab, kita pun sering tak tahu alasannya apa.”

“Aduh njlimet lo, Rah,” sergah Jupe kesal. Farah tersenyum saja mendengarnya.

“Inilah dakwah yang sesungguhnya. Aku langsung bersentuhan dengan mereka  yang memang memerlukan pencerahan,” batin Farah.

“Bismillah, lunakkan hati teman-teman hamba ini, ya Allah,” doanya.

Keheningan mereka terpecahkan saat melihat kedatangan Dedi dan Jo di kejauhan.  Farah pun segera beranjak ke dapur untuk mempersiapkan makan malam.

Selesai makan malam, mereka pun berkumpul. Masing-masing menyetorkan uang kepada Jupe.  Farah melihat mereka menghitung uang dan menyimpannya disela-sela buku tabungan.

“Ini tabungan kami, Rah. Untuk keperluan penting seperti bayar sewa rumah ini,” kata Jo memberitahu. Farah mengangguk paham dan semakin salut kepada mereka.

"Jupe, bolehkah aku ikut bekerja besok?" pinta Farah. Tak hanya Jupe, tetapi keempat temannya yang lain pun sontak menatap Farah dengan heran.

“Kamu mau ikut kerja?” tanya Wiwik memastikan.  Farah menganggukkan kepalanya dengan yakin.

“Aku nggak mau sekedar menumpang di sini. Aku juga ingin menabung seperti kalian,” jawab Farah dengan yakin.  Mereka mengangguk dengan sangat senang, tetapi berbeda dengan Jupe. Dia memandang remeh ke arah Farah.

“Lo yakin? Tangan halus lo bakal kasar seperti kita nanti,” ucap Jupe yang kontan diiyakan oleh Wiwik dan Aci. Mereka pun meremas jemarinya masing-masing.

“Juga lo harus kuat memikul, memanggul ataupun menggendong barang belanjaan orang,” lanjut Jupe.

“Jangan lo bayangin kalau belanjaannya cuman satu dua tas gendong, Rah. Belanjaan yang kita bawa tuh seukuran keranjang sayur yang besar. Kita juga harus keliling mengikuti mereka belanja,” jelasnya panjang lebar.  Farah hanya menunduk mendengarnya. Sungguh bukan kalimat yang membuat semangat luntur seperti ini yang ingin dia dengar.

“Biarin aja dia coba dulu, nanti kalau memang nggak kuat pasti juga akan berhenti sendiri,” kata Jo menengahi. Semua orang menganggukkan kepalanya.

"Iya. Bener kata Jo.  Nggak ada salahnya kalau Farah ikut kerja. Kalau rejeki ‘kan nggak kemana, to,” sahut Wiwik sambil tersenyum.

“Yap. Aku setuju,” ujar Aci sambil mengangkat tangannya.  Dedi pun menganggukkan kepalanya. Jupe terlihat agak kesal dengan keputusan teman-temannya itu. Farah juga menatapnya penuh harap.  Jupe menghela nafas dalam dan akhirnya dia pun mengangguk diiringi seulas tipis senyum di bibirnya.

“Hore!” teriak Farah bersama Wiwik dan Aci.  Mereka saling bergandengan tangan dan melompat berputar.

“Makasih, Jupe. Aku akan belajar dari kalian dengan sebaik-baiknya,” ucap Farah sungguh-sungguh.

Jadilah keesokan harinya Farah ikut bangun dini hari dan berangkat ke pasar. Gadis itu sangat bersemangat.  Tiba di pasar, dia pun memperhatikan cara kerja Wiwik dan Jupe.  Kedua gadis itu sangat cekatan dan dengan mudah memikat orang untuk dibawakan belanjaannya.

Farah pun mulai mengerti bagaimana pekerjaan itu dilakukan. Jupe telah memberinya tanda.  Seorang wanita yang baru masuk ke pasar tampak bingung menoleh ke kanan dan ke kiri.  Farah pun paham dan segera mendekatinya.  Mereka tampak berbincang sesaat, kemudian terlihat Farah berjalan mengikuti wanita itu. Jupe memperhatikan mereka dan tersenyum senang.

“Benar juga, kalau Farah bisa ikut menabung maka uang kami akan lebih cepat terisi,” gumamnya dalam hati dengan senang.

Seminggu lebih berlalu.  Meskipun pada awalnya Farah sangat kesulitan, tetapi lambat laun dia mulai bisa mengikuti ritme yang terjadi di pasar.  Meski terlihat sangat kepayahan setiap membawa belanjaan berat, tetapi Farah masih bisa tersenyum.  Sesekali dia memberikan dakwahnya kepada kelima temannya itu. 

Meskipun belum bisa memahami apa yang dia sampaikan, setidaknya Wiwik dan Aci mulai mengikuti dirinya untuk mendirikan sholat.  Farah tentu saja sangat bahagia. 

“Dulu aku selalu pergi ke mesjid sama almarhumah nenekku.  Beliau yang sering mengingatkanku. Tapi sejak beliau meninggal, aku jadi hidup terlunta-lunta hingga melupakan semua ajaran yang pernah dia berikan,” kata Aci dengan pandangan muram.

“Sudahlah. Setidaknya kamu sudah mendapat hidayah untuk kembali ke ajaran yang lebih benar.  Kamu sudah mau mulai sholat saja insyaalloh nenek juga akan bahagia. Itu pahala buatnya, karena kamu masih ingat ajaran yang pernah beliau sampaikan,” ujar Farah menenangkan. Aci pun mengaminkan perkataan Farah.

“Udah deh, kamu mending pernah ngenal agama, Ci. Lha aku? Blas. Nggak ngerti apa-apa,” sahut Wiwik sambil tersenyum getir. Farah berpaling ke arahnya. Rasa kasihan pun tergambar di pelupuk matanya.

“Dari kecil bapakku juga nggak jelas. Ibuku bilang kalau Bapak sudah mati. Tapi kata nenekku, Bapak masih hidup,” gumamnya lirih.

“Meski njawab begitu, tiap kali kutanya di mana Bapak, Nenek selalu saja bungkam,” lanjutnya. Farah memandangnya dengan perasaan nelangsa.  Wiwik bangkit dari duduknya dan berjalan meninggalkan dua gadis di depannya dengan rasa kesal yang terlukis nyata di wajahnya.  Farah menatap Aci dengan rasa bersalah.

“Bapaknya dipenjara dan bersiap menjalani hukuman mati karena membunuh orang,” kata Aci tanpa ditanya.

“Astaghfirulloh,” pekik Farah lirih saat mendengarnya.  Aci tersenyum saja melihat kekagetan Farah.

“Sudah, jangan terlalu dipikirkan. Wiwik sekarang sudah jauh lebih baik daripada saat aku pertama bertemu dengannya dulu,” hibur Aci. Farah tersenyum dan menganggukkan kepalanya.

Genap sebulan bersama mereka, Farah pun mengetahui sedikit latar belakang mereka.  Semua berasal dari daerah yang berbeda dengan latar belakang keluarga dan permasalahan yang berbeda pula.  Pun demikian dengan Farah.  Satu yang menjadi pemersatu mereka, yaitu kesamaan tujuan untuk bisa hidup dan saling melengkapi di antara mereka. 

Pagi itu seperti biasanya, mereka berenam berangkat bersama ke pasar.  Ternyata ada gadis-gadis lain yang berusaha mengambil alih area mereka.  Penampilan mereka sangat berbeda dengan Jupe dan teman-temannya.  Farah menghela nafas dalam melihat kaos dan celana selutut yang membungkus tubuh mereka dengan ketat.  Belum lagi cara berjalan yang sengaja dibuat-buat saat melewati kerumunan preman pasar, terutama para anak buah Om Joni.

Melihat Jupe dan rombongannya datang, mereka pun segera menyingkir.  Jupe tersenyum sinis ke arah mereka.

“Farah, hati-hati lo. Jangan sampe lo masuk ke wilayah mereka,” kata Jupe mengingatkan.

“Kamu masih ingat ‘kan, mana saja daerah kita?” tanya Wiwik.  Farah menganggukkan kepalanya. Mereka pun berpencar.

Farah terlalu asyik berjalan. Dapat satu orang pelanggan kemudian menyambung ke pelanggan lainnya. Dia tersenyum senang, setidaknya ada hasil yang cukup baik hari ini untuk ditabung.

Farah melenggang santai kembali dari parkiran yang jaraknya cukup jauh. Dia pun berhenti untuk istirahat sejenak. Belum juga lama duduk, tiba-tiba pundaknya ditepuk oleh seseorang dari belakang.  Farah tersentak kaget dan segera menoleh ke belakang. Kedua netranya membelalak saat menyadari siapa orang yang berada di balik punggungnya itu.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!