RAHASIA DI BALIK PESONA CANTIK USTADZAH VIRAL
8. TERPAKSA BERBOHONG
Farah beringsut dari duduknya. Dia merapat ke dinding musholla. Dua orang lelaki dan tiga orang gadis yang usianya terpaut tak jauh dari Farah merangsek ke arahnya.
“Siapa lo?” tanya seorang gadis yang terlihat seperti pemimpin mereka.
“Kamu anak baru?” tanya yang lain.
“Kamu jangan berani-beraninya ikut nyari cuan di sini, ya,” ancam seorang lelaki muda berambut keriting dengan mata menatap Farah tajam. Gadis itu tentu saja bingung dengan semua pertanyaan itu. Dia hanya menggelengkan kepalanya. Hijab putih yang dikenakan ternyata kotor terkena terpal berdebu dan basah karena dipakai untuk menutupi tubuhnya tadi.
“Ya Allah, penampilanku pasti tak jauh berbeda dengan mereka,” batin Farah yang melihat kondisi kumuh dan lusuh orang-orang di depannya itu.
“Hei, kalau ditanya tuh dijawab. Jangan bengong saja seperti itu,” bentak lelaki lain yang bertubuh paling tinggi.
“E-eh, iya. Maaf. Aku em. Anu. Aduh gimana ya ngomongnya,” ujar Farah lirih sambil menggaruk kepalanya yang kali ini benar-benar terasa gatal.
Mereka tampak saling sikut dan berbicara dengan kode mata. Sesaat mereka tampak memunggungi Farah. Sepertinya mereka sedang berembuk. Farah memperhatikan saja dalam diamnya. Kepalanya tetap menoleh ke segala penjuru arah, berharap melihat mobil bak terbuka yang tadi ditumpanginya. Tetapi mobil itu benar-benar telah pergi. Farah pun menghela nafas dalam. Kepasrahan terlihat di wajahnya.
Kelima remaja itu membalikkan badannya. Gadis yang menjadi pimpinannya pun maju ke depan. Sekali lagi dia memperhatikan Farah dari ujung hijab hingga ke sepatu hitam yang tampak kumal karena terkena kotoran tanah di atas bak mobil tadi. Seulas senyum menyeringai pun terlihat di bibirnya.
“Lo benar-benar payah,” ujarnya sambil menatap tas cangklong yang dipegang dengan erat oleh Farah.
“Aku Jupe,” katanya tiba-tiba sambil mengulurkan tangan. Farah terperanjat kaget melihat tingkahnya.
"Berkenalan?” batinnya heran, tetapi dia pun menyambut uluran tangan gadis itu.
“Farah,” ujar Farah sambil tersenyum tulus.
“Ini Wiwik, Aci, Jo dan Dedi,” katanya lagi sambil menunjuk satu per satu teman-temannya. Farah mengangguk ke arah mereka.
“Alhamdulillah ya Allah. Kau kirimkan mereka sebagai temanku. Semoga mereka adalah anak-anak yang baik. Aamiin,” ucap syukur Farah dalam hati.
“Ayo kita pergi dari sini keburu orang-orang Om Joni datang,” ajaknya sambil memberi isyarat dengan dagunya.
“Benar, sebentar lagi pasar akan dikuasai oleh Om Joni. Kita nggak boleh kelihatan berkeliaran di sini,” timpal gadis bernama Wiwik. Farah hanya mengangguk dan berjalan mengikuti mereka.
Ada jalan setapak di belakang pasar. Mereka terus berjalan melewati rumah-rumah sempit yang saling berhimpitan. Akhirnya mereka tiba di sebuah tanah yang cukup lapang. Jupe menunjuk ke sebuah arah. Farah melihatnya dengan seksama.
“Apa itu?” tanyanya sambil menatap Jupe.
“Rumah kami,” jawabnya dengan bangga. Farah mengangguk sambil kembali mengikuti langkah mereka menyusuri pinggiran lapangan. Hingga sampailah mereka di sebuah bangunan yang mereka sebut rumah tadi.
“Masuklah. Ini rumah kami,” ajak Jupe sambil membuka pagarnya. Farah menurut saja. Entah bagaimana, tetapi gadis itu merasa teman-teman barunya ini bukan orang jahat. Dia merasa aman dan nyaman bersama mereka meskipun belum mengenalnya.
Farah masuk ke dalam rumah itu. Dia pun tertegun melihat isi rumah mereka. Sebuah tikar terhampar di ruang tamu yang tidak cukup luas. Terlihat sebuah kamar dengan pintu tertutup dan sebuah lorong menuju ke belakang.
“Itu kamar kita, cewek-cewek. Trus di belakang ada dapur dan kamar mandi,” jelas Aci yang dari tadi tak terdengar suaranya. Farah mengangguk dan tersenyum kepada mereka semua.
“Terima kasih atas penerimaan ini,” ujarnya tulus.
“Sudahlah, kamu kelihatan capek. Mandi dulu gih sana,” sahut Jupe sambil tersenyum. Farah mengangguk dan berjalan masuk ke kamar bersama mereka bertiga.
Selesai mandi, Farah segera menunaikan sholat Maghrib yang kumandang adzannya telah lewat beberapa waktu lalu. Untung saja Farah terbiasa membawa mukena travel di tasnya. Dua gadis remaja yang ada di kamar memperhatikannya dengan heran. Bahkan mereka mencibirkan bibirnya saat melihat kekhusyukkan Farah.
“Assalamu’alaikum warohmatulloh,” ucap Farah menutup sholatnya. Dia tersenyum kepada kedua gadis yang masih saja memandangnya tak percaya.
“Ayo ke depan. Jupe udah nunggu tuh,” kata Aci seraya berdiri. Farah mengangguk dan bergegas mengikuti langkah kedua gadis itu.
“Ngapain nggak dilepas aja tuh kerudung?” tanya Jupe sambil menunjuk hijab Farah yang kotor.
“Oh, enggak pa pa. Aku nggak bawa gantinya,” jawab Farah sambil tersenyum.
“Nggak gerah, tuh?” tanya Dedi yang berambut keriting sambil menyibakkan rambutnya yang basah.
“Aish, Ded. Kalau handukan mbok yang bener to. Tuh lihat airnya nyiprat kemana-mana,” sergah Wiwik dengan kesal. Dedi hanya nyengir saja mendengarnya.
“Udah. Lo pada ribut mulu kerjaannya,” tukas Jupe sambil menyuruh Farah untuk ikut duduk bersama mereka di ruang tamu. Farah pun duduk dengan sopan. Ruangan beralaskan tikar yang sudah terurai pinggirannya itu terasa sangat nyaman untuk Farah.
“Nah, sambil nunggu nasinya matang, lo cerita gih dulu siapa lo sebenarnya,” kata Jupe sambil menatap tajam ke arah Farah.
“Benar. Kami perlu tahu dulu, kamu ini orang yang bisa tinggal di sini atau tidak,” sahut Wiwik dengan pandangan tak kalah curiganya. Keempat yang lainnya setuju dengan menganggukkan kepalanya. Farah memandang mereka satu per satu dengan hangat dan tersenyum tipis.
“Sebelumnya aku ucapkan terima kasih banyak karena telah mau menerimaku hingga sekarang ini,” ujar Farah mengawali. Dia diam sejenak berusaha merangkai kalimat yang mudah dipahami oleh teman-teman barunya itu.
“Trus?” tanya Dedi penasaran.
“Aku lari dari rumah sakit. Kata mereka, aku amnesia. Aku benar-benar lupa apa yang telah terjadi denganku hingga tadi aku bertemu orang-orang yang mengejarku,” jawab Farah perlahan. Ingatannya saat berlarian sehari tadi benar-benar membuatnya tiba-tiba merasa letih.
“Aku terus berlari dari satu tempat ke tempat lain. Saat sudah merasa aman, ternyata ada orang lain lagi yang mengenaliku dan mengejarku.”
“Akhirnya aku melihat sebuah mobil bak terbuka dan bersembunyi di sana. Mobil itulah yang membawaku sampai di sini,” pungkasnya.
“Sopir dan kernetnya tadi turun untuk makan, karena lapar aku juga cari makanan. Kebetulan di tas ini ada sedikit uang yang diberi perawat saat aku di rumah sakit.”
“Trus kemana mobil itu?” tanya Aci sambil memandang Farah dengan bingung.
“Entahlah. Sepertinya mereka sudah pergi sebelum aku kembali. Terus kita bertemu tadi,” jawab Farah.
“Jadi lo amnesia?” tanya Jupe dengan tatapan curiga. Farah buru-buru menganggukkan kepalanya.
“Aku amnesia sebagian. Jadi ada hal-hal tertentu yang aku ingat dan banyak hal lain yang aku lupa,” jawab Farah lirih. Jauh di lubuk hatinya yang terdalam, Farah merasa sangat bersalah karena harus berbohong seperti ini. Namun Jupe dan keempat temannya terlihat percaya saja dengan apa yang dikatakan Farah.
“O ya, nama kamu siapa?” tanya Dedi.
“Farah.”
“Bukannya tadi udah denger lo, Ded?” tanya Jupe dengan raut wajah kesal ke lelaki muda yang sepertinya over acting di depan Farah itu. Dedi hanya nyengir kuda mendengarnya.
Jupe pun memberikan ijin kepada Farah untuk bermalam di sana. Farah sangat bersyukur meskipun tidur di tempat yang jauh dari kata layak untuknya. Semburat rasa terima kasih terlihat di wajahnya. Sujud syukur pun dia lakukan sesaat setelah menunaikan sholat malam.
“Ya Allah, terima kasih atas nikmat yang kau berikan hari ini. Semoga besok aku bisa menjalani hari-hari yang penuh kejutan ini dengan baik. Aamiin.”
Akhirnya Farah tertidur dengan lelap setelah seharian mengalami berbagai kejadian yang cukup menguras energinya. Hingga keesokan harinya, Farah dikejutkan dengan kejadian diluar perkiraannya.