RAHASIA DI BALIK PESONA CANTIK USTADZAH VIRAL

7. BERLARI

“Aduh!” teriak Farah mengaduh saat merasakan perih di kedua lututnya. Perlahan dia bangkit berdiri dan terkejut melihat seorang lelaki berperawakan tegap yang berdiri di depannya. Tatapan matanya sangat tajam.  Farah memandang ke belakang lelaki itu.  Ada sekitar lima orang di belakangnya. Semuanya lelaki berbadan tegap yang seakan siap menerkam dirinya.

Farah meneguk salivanya dengan susah payah.  Dengan keberanian yang dipaksakan dia pun menatap lelaki di depannya itu.

“A-ada apa?” tanyanya.

“Ibu kamu mungkin bisa bebas dari kami di tempat itu, tetapi kamu tetap harus membayar semua hutang-hutangnya,” jawab lelaki itu.  Farah menatapnya dengan seksama.

“Dia bukan lelaki yang datang bersama wanita itu,” gumamnya dalam hati.

“Bukankah kita sudah sepakat untuk menunggu barang-barang di rumahku terjual?” tanya Farah yang masih mengira mereka merupakan satu komplotan yang sama dengan tiga tamu tak diundang dulu.

“Kesepakatan apa?” tanyanya gusar. Lelaki itu menatap Farah dengan lekat dari ujung kepala hingga ke ujung kakinya.  Meskipun hijab lebarnya menutupi badan, tetapi Farah tetap saja merasa risih.  Apalagi senyum menyeringai tampak tercetak dengan jelas di bibir lelaki itu.

“Kita bisa mempunyai kesepakatan yang lain,” ujarnya lirih sambil berjalan mendekati Farah.

“Stop. Stop. Jangan mendekat!” seru Farah yang mundur beberapa langkah sambil merentangkan kelima jemari tangannya.

“Kalau yang lain sudah mengincar harta di rumahmu, maka untuk kami kamu cukup membayarnya dengan tubuhmu saja,” ujarnya berbisik tepat di depan wajah Farah. Pandangan menjijikkan pun terlihat di wajahnya.

Entah dorongan dari mana, Farah tiba-tiba saja memutar badannya dengan cepat dan berlari sekencang-kencangnya sebelum orang-orang itu menyadari.

“Hei jangan lari!” teriak lelaki itu yang langsung menyuruh anak buahnya untuk mengejar Farah.

Farah tidak menghiraukan teriakan itu. Dia mempercepat langkah larinya.  Tubuhnya yang langsing membuat gerakannya ringan dan cepat.  Wajahnya menoleh ke arah kanan.  Terlihat bis yang ditunggunya telah tampak berjalan mendekati halte.

“Hap!” Farah melompat masuk ke dalam bis tepat ketika pintunya terbuka. Otomatis tangannya langsung memencet tombol agar pintu bis segera menutup.  Berhasil. Bis sudah mulai beranjak saat lelaki dan rombongannya itu tiba.

“Alhamdulillahi robbil ‘alaamiin,” ucapnya penuh rasa syukur.  Senyum kelegaan terukir di wajahnya saat melihat mereka tampak marah sambil menatapnya kesal.  Farah mengatur nafasnya yang masih terengah-engah itu sambil berusaha mencari kursi yang kosong.

“Ah, itu ada di belakang pojok,” gumamnya senang. Dia pun segera berjalan dan duduk tepat di bangku yang ada di sana, bersebelahan dengan seorang wanita setengah baya yang tengah tertidur lelap.

Terdengar suara notifikasi pesan di ponselnya. Farah pun segera membukanya.  Seulas senyum terukir di bibirnya.

“Sabba,” gumamnya senang. Farah membaca pesan dari lelaki yang hanya dikenalnya lewat obrolan online itu. 

“Teruslah berdakwah meskipun kamu sedang terpuruk.  Karena sesungguhnya ilmu itu memang untuk diamalkan. Aku tetap akan menjadi pemerhati dakwah kamu.”

“Bagaimana mungkin aku bisa berdakwah jika selalu saja dikejar-kejar seperti ini?” tanya Farah dalam hati. Dia segera mematikan ponselnya dan menyimpannya di kantong gamis.

“Lebih baik aku tidak aktifkan dulu ponsel ini sampai keadaan memungkinkanku untuk kembali menggunakannya,” batin Farah.

Turun dari halte, Farah berjalan dengan cepat ke arah rumahnya.  Kewaspadaannya telah meningkat karena serentetan peristiwa yang terjadi terhadapnya. Langkah kakinya menjadi lebih cepat, tak lupa Farah juga memasang pendengaran yang baik untuk sekelilingnya.

Semua tampak wajar saja. Farah menghela nafas lega.  Tetapi tepat saat hendak membelok ke kiri, langkahnya terhenti.  Farah mundur beberapa langkah dengan kepala yang mengintip di balik tiang listrik yang ada di sana.

“Siapa lagi mereka?” tanyanya bingung. Dia melihat beberapa orang berpakaian serba hitam yang bergerombol di depan gerbang rumahnya.  Salah satu dari mereka tampak menyingsingkan lengan bajunya. Seketika Farah melihat sebuah tatto di lengannya. Tatto bergambar simbol perkumpulan salah satu organisasi keras yang sangat terkenal di ibukota.  Anggotanya tidak pernah segan menyiksa dan menindas orang-orang yang menjadi incarannya.

“Jangan-jangan mereka mencariku,” gumam Farah dalam hati. Dia pun segera membalikkan badannya dan kembali berlari sekencang-kencangnya menjauhi rumah.  Namun sial, salah seorang dari mereka melihat sekelebat hijab di balik tiang listrik itu. Seketika dia berteriak dan mereka pun langsung berlari mengejar Farah.

Belum usai lelahnya, Farah kembali harus berlarian mencari tempat perlindungan.  Dilihatnya sebuah mobil bak terbuka yang baru saja menurunkan barang di depan sana. Sambil berlari menghampiri, Farah melihat ke sekelilingnya. Terlihat dua orang pria sedang berbincang serius dengan orang yang memiliki barang itu. 

Farah pun segera menaiki mobil bak terbuka itu dari sisi sebelah lain yang tidak terlihat dan menutupi dirinya dengan terpal yang ada di sana.  Dia harus menahan nafas saat merasa mobil bergoyang karena dua pria tadi memasuki mobil.

“Bismilah. Ya Allah lindungi aku dari kejaran orang-orang itu tadi,” gumamnya lirih. Farah merasakan mobil perlahan-lahan berjalan.  Farah tetap meringkuk di balik terpal. Tubuhnya yang lelah karena terus saja berlarian pun membuatnya mengantuk dan tertidur.

Mobil bak terbuka itu melaju lebih kencang saat keluar dari jalur lalu lintas ibukota.  Farah terbangun dengan perut yang terasa sangat lapar. Dengan hati-hati dia pun menyingkapkan terpal yang menutupi tubuhnya.  Farah menatap jarum jam di pergelangan tangan kirinya.

“Ashar sudah lewat,” gumamnya lirih.  Merasa sudah cukup aman, Farah pun menegakkan duduknya. Hawa sejuk seketika menerpanya. Farah menatap sekelilingnya sambil terus mengucapkan syukur.  Netranya menyapu permukaan bak yang dia tumpangi itu. 

“Bak sudah kosong. Berarti saat ini mereka dalam perjalanan balik ke asal,” tebak Farah.

Perjalanan mereka sudah cukup lama hingga kemudian mobil itu menepi dan berhenti di pinggir jalan yang cukup ramai.  Farah mendengar pintu mobil di buka.

“Kita makan dulu, Rek,” kata salah seorang penmpang sambil membuka pintu mobil.

“Ya,” jawab temannya sambil keluar dan berjalan menyusul masuk ke sebuah warung makan.

Farah perlahan membuka terpal dan bergegas turun dari mobil itu setelah memastikan kondisi aman. Dia juga merasa lapar.  Farah segera menghampiri penjual nasi bungkus yang ada di sekitar sana. Meskipun tidak pas jam makan, tetapi penjual itu tampak dikerubuti oleh para pembelinya. Farah pun terpaksa juga ikut antre.  Hingga akhirnya gadis itupun membeli sebungkus nasi dan langsung memakannya dengan lahap.

“Alhamdulillah atas nikmat yang Kau berikan ini, ya Allah,” ucapnya penuh syukur.  

Farah segera bangkit dan berjalan kembali ke arah mobil bak terbuka tadi. Kepalanya celingak celinguk mencari keberadaan mobil yang tadi ditumpanginya.  Tetapi hampir lima kali Farah bolak-balik di sana tetap saja mobil bak terbuka itu tidak ditemukan. Keberadaannya tak diketahui lagi.

“Jangan-jangan mereka telah melanjutkan perjalanan?” tanyanya dalam hati dengan kegundahan yang tak lagi bisa ditutupi. Farah mempercepat langkahnya dan memang mobil tadi sudah tidak ada di sana.

Farah melangkah gontai sambil berusaha mencari sebuah masjid.  Dia pun menemukannya. Bukan sebuah masjid besar, hanya sebuah musholla kecil yang terlihat diantara kios-kios yang kebanyakan sudah hendak tutup di area pasar malam itu. Benar, gadis itu berhenti di sebuah pasar malam. Pasar yang semakin malam justru menjadi semakin ramai. 

Farah hanya mampu berdiam diri sambil memperhatikan sekitarnya. Suasana baru dan asing yang mau tak mau harus dia hadapi.

Belum hilang rasa lelahnya, Farah melihat segerombolan remaja tanggung terlihat berjalan ke arahnya.  Tatapan tak bersahabat mereka membuat Farah kembali susah menelan salivanya.  Tenaganya seakan menghilang entah kemana saat salah satu di antara mereka berjalan mendekat dan mengatakan sebuah kalimat yang membuat nyali Farah menciut seketika.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!