RAHASIA DI BALIK PESONA CANTIK USTADZAH VIRAL

6. SELAMAT TINGGAL BUNDA

“Bapak kamu itu menggelapkan dana milyaran rupiah. Sebagian dari dana itu adalah milik kami. Usaha kami telah dipertaruhkan dan ternyata semua gagal gara-gara ulah Bapak kamu,” ujarnya tepat di telinga Farah.

“Jadi tolong serahkan uang kami. Cepat!” bentak lelaki yang dari tadi hanya diam saja sambil menatap marah ke arah Farah.  Gadis itu hanya menggelengkan kepalanya. Berkali-kali mereka memaksa, berkali-kali pula Farah kembali menggeleng.

Tiba-tiba saja wanita berbaju merah itu berdiri dan dengan cepat menerjang ke arah Farah.  Tentu saja hal ini mengagetkan semua orang. Bahkan Farah tak sempat menghindar.  Kedua tangan wanita itu mencengkeram pundaknya.

“Aku tidak mau tahu. Kamu anaknya. Kamu harus bertanggung jawab! Bayar kembali semua uang kami!” teriaknya histeris.

Farah berusaha menghindar dari wanita itu, tetapi dirinya telah terpojok. Sialnya, kedua lelaki di sana hanya menjadi penonton saja. Mereka tidak ada niat sedikit pun untuk menenangkan si wanita yang kalap itu. Jadilah Farah sasaran empuk kekesalannya.

“Sudah, Nyonya. Tolong hentikan,” teriak Simbok sambil berusaha menghalau jemari berkuku panjang milik wanita itu dari tubuh Farah.

“Hei diam kamu! Kalau kamu mau membayarnya, aku akan menghentikan semua ini,” tukas wanita itu sambil menatap marah ke arah Simbok.  Tentu saja wanita tua itu mengkerut mendengarnya.  Tetapi dia juga tidak bisa melihat anak majikannya yang tidak tahu apa-apa menjadi pelampiasan kemarahan salah sasaran seperti itu.

Simbok pun berlari keluar dan kembali beberapa saat kemudian bersama suaminya yang baru saja selesai membersihkan halaman belakang.

“Ya Allah, Non Farah kenapa jadi seperti ini?” sesal Simbok saat melihat wajah dan kedua tangan Farah yang terluka dan berdarah. 

“Kalau Ibu masih ingin memukul, pukul saja saya sebagai gantinya, Bu,” ujar Pak Mo, suami Simbok sambil melangkah mendekati wanita itu.

“Cuih! Buat apa kamu menawarkan diri seperti itu,” dengus wanita itu kesal.

“Tidak perlu,” lanjutnya sambil beranjak menuju pintu.  Langkahnya terhenti. Dia memandang sekeliling ruangan itu kemudian tersenyum menyeringai.  Farah tidak terlalu memperhatikannya lagi. Dirinya terlalu pusing untuk berpikir tentang wanita itu.  Badannya terasa remuk dan perih masih menggigit wajah dan pundak.

“Kali ini aku memberikan kelonggaran.  Minggu depan aku akan datang lagi. Pastikan kamu telah menjual barang-barang ini dan berikan uangnya kepadaku. Berapa pun itu,” katanya dengan nada mengancam.  Kemudian dia pun melangkah keluar diikuti dua lelaki bodyguardnya.

“Non, mari saya bersihkan dulu luka-lukanya,” ujar Simbok yang telah kembali sambil membawa baskom berisi air hangat. Dengan hati-hati dia menyeka wajah dan tangan Farah.  Sambil menahan perih, Farah berusaha untuk tersenyum.  Sebuah senyum getir yang sangat hambar. 

“Mbok,” panggilnya lirih. Simbok menoleh dan tersenyum dengan tulus ke arahnya.

“Sepertinya wanita itu akan terus meneror kita,” ujarnya kemudian.  Farah menghela nafas berat sambil memandang keliling ruangan itu.

“Rumah ini pun sepertinya juga sudah pasti akan disita oleh bank,” gumamnya lirih.  Simbok dan Pak Mo menatapnya dengan rasa kasihan.

“Simbok dan Pak Mo lebih baik pulang ke kampung dulu. Atau kalau ada pekerjaan di tempat lain, sebaiknya diambil saja,” katanya pasrah. Farah tersenyum tipis sambil memandang pasangan itu. Simbok tampak tidak bisa menyembunyikan kesedihannya. Dia pun mulai menyeka airmata yang menetes dengan ujung bajunya.

“Oalah, Non. Kalau kami pergi, Non Farah nanti bagaimana?” tanya Pak Mo dengan nelangsa. Farah tersenyum lebar. Sebuah senyuman yang kentara sekali kalau dipaksakan.

“Farah ‘kan sudah besar, Pak Mo. Farah bisa cari kerja dan hidup mandiri,” jawabnya meyakinkan.

“Mau kerja di mana, Non? Selama ini bukannya Non Farah sudah berusaha mencari pekerjaan?” tanya Simbok lirih dengan suara serak.  Farah tersenyum dan memeluk wanita tua yang sudah dianggap seperti keluarga itu dengan hangat.

“Benar. Tapi itu ‘kan di sini, Mbok. Farah akan coba cari kerja di kota lain. Kota yang lebih kecil dan tenang,” jawab Farah dengan tenang.

“Benarkah?” tanya Simbok sangsi.  Farah mengangguk dengan cepat.

“Trus Nyonya gimana?” tanya Simbok lagi.

“Besok saya akan menemui Bunda di tempat rehabilitasi.  Masih ada uang untuk membayar biaya perawatan Bunda di sana. Jadi Simbok dan Pak Mo tidak usah khawatir, ya,” jawabnya. Simbok dan suaminya saling memandang. Akhirnya mereka pun menganggukkan kepalanya. Farah menghela nafas lega.

Begitulah yang terjadi keesokan harinya. Farah melepas sepasang suami istri yang selama ini telah bekerja dan dianggap seperti keluarga.  Wanita tua yang juga mempunyai jasa merawat dan membesarkan dirinya hingga bisa tumbuh menjadi seorang gadis yang cantik dan mempunyai empati yang tinggi.

Sepeninggal mereka, Farah pun bersiap untuk mengunjungi ibunya.  Surat pengambilalihan rumah telah dia terima.  Siap tidak siap, Farah harus segera angkat kaki dari rumahnya. 

“Aku akan pergi besok.  Jadi masih ada kesempatan untuk bersiap-siap nanti sepulang dari tempat Bunda,” batinnya sambil melangkah keluar dari rumah.

Di luar dugaannya, ternyata Khairunissa dinyatakan sudah dalam tahap ketergantungan yang parah.  Dia harus benar-benar menjalani perawatan. 

“Kesembuhannya selain dari terapi juga berasal dari diri orang itu sendiri,” kata dokter yang menangani sang bunda. 

“Jadi meskipun kami sudah berusaha semaksimal mungkin, tetapi jika ibunya tidak ingin sembuh ya nggak akan cepat sembuh,” lanjutnya.  Farah mendadak menggaruk rambut di kepalanya yang tidak gatal.  Garukannya semakin keras saat melihat rincian biaya yang harus dikeluarkan untuk itu.

“Waduh, biayanya dua kali lipat anggaran belanja bulanan kami,” katanya dalam hati sambil menimbang-nimbang. Teringat lagi wajah sang bunda yang menatap kosong jendela kamarnya membuat Farah akhirnya mengambil sebuah keputusan yang sangat berat.

“Baiklah, Dok. Saya akan bayar dulu separo. Boleh, ya?” pintanya mengharap. Dokter itu tersenyum dan menganggukkan kepalanya.  Seorang perawat membawanya ke ruangan administrasi. Farah pun membayarnya sambil menatap miris ke sejumlah uang yang diberikan kepada petugas administrasi.

“Sudahlah, uang masih bisa aku usahakan lagi.  Yang penting Bunda segera mendapatkan penanganan yang jauh lebih  baik,” ujarnya dengan penuh percaya diri.

“Bunda sementara tinggal di sini dulu, ya.  Disini juga ada teman-teman seusia Bunda, kok,” hibur Farah sambil berbisik lirih di telinga bundanya.  Wanita setengah baya yang sekarang tampak jauh lebih tua dari usianya itu hanya terbengong menatap kosong ke arah tembok di depannya.  Sesekali seringai tipis terlihat di wajahnya. 

“Bunda, Farah pamit. Doakan Farah bisa cepat mendapatkan pekerjaan yang layak,” ujar Farah sambil mencium punggung tangan sang bunda.  Dengan menahan sedih yang luar biasa, Farah pun melangkah meninggalkan sang bunda yang masih saja bertingkah seakan tak peduli.

“Pergilah, Nak.  Maafkan Bunda,” gumam Khairunissa dalam hati sambil menahan perih yang tak kalah menyiksa batinnya.

“Maaf Bunda terpaksa seperti ini agar kamu tidak usah terlalu mengkhawatirkan Bunda.”

“Bunda doakan agar kamu bertemu dengan orang-orang yang baik di luar sana,” desahnya resah saat kembali teringat ancaman para penagih hutang yang sewaktu-waktu bisa saja melukai Farah.

Tepat seperti dugaan ibunya, Farah ternyata telah dikuntit oleh beberapa orang.  Farah yang mulai terbiasa berjalan kaki itu mempercepat langkahnya. Jalanan di daerah panti rehabilitasi itu masih asing bagi Farah.  Dia pun sedikit berlari saat melihat halte bis yang tampak di depan sana.

Tetapi langkahnya terhenti saat  dirinya tersungkur jatuh karena terantuk sesuatu yang tiba-tiba menghalangi jalannya.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!