Pesantren, Jalan Petualangan
Saat Berpisah dengan Ayah dan Ibu
Bab 5. Saat Berpisah dengan Ayah dan Ibu
"Ayah dan ibu rela menangis karena berpisah sementara di pesantren, karena mencari ilmu"
“Ayo, berangkat, Yah.” ajak Ica sudah pingin sampai ke sekolah.
“Satu, dua, tiga…. Action !” seru Ica.
Ahsan mengambil posisi yang bagus, biar hasilnya menarik.
“Kak, kurang agak ke kanan kepala. La…, seperti ini,” Ica masih asyik mengambil gambar kakaknya.
Selang beberapa menit, ayah dan ibu sudah siap. Ica menghentikan aktivitasnya.
“Ayo, berangkat.” Ibu mengingatkan Ahsan dan Ica.
“Mau untuk apa, Pak?” tanya Ahsan penasaran.
“Kamu ranking satu se-SDIT ini.”
“Alhamdulillah. Siap, Pak.” Bergembira sekali hati Ahsan, bisa mencapai nilai tertingi.
Ayah Ahsan melangkah ke panggung depan dengan rasa bangga dan syukur tak terhingga.
“Dah mantap pilihanmu dengan Peantren Kafila?” Ayah terakhir memberi waktu pilihan.
“Iya, Yah. Sudah dengan berbagai pertimbangan.” Jawab Ahsan dengan alasan yang tepat.
“Aku akan rindu sekali denganmu, Nak.” Ayah berkata dalam hati.
Suasa menjadi hening seketika. Keheningan dipecahkan oleh suara Ica.
“Kak, tolong ke sini!” seru Ica.
“Iya.” Ahsan bergegas menolong Ica. “Ada apa?” tanya Ahsan.
“Tapi, suasana tetap beda, Kak.”
“Ica, balonnya jadi besar.” Ahsan menghibur Ica. Ica sudah bisa tersenyum lagi, alhamdulillah.
“Dah siap semua, Yah.” Ibu memberi informasi kepada ayah.
“Sedap sekali, bikin perut keroncongan.” goda Ahsan.
“Ini sudah matang, Kak.” ucap ibu.
Ahsan langsung dengan sigap mengambil nasi dan lauk. Ibu tersenyum melihat Ahsan.
“Alhamdulillah, sudah sampai di Pesantren Kafilla.”
“Terimakasih, Tadz.” ucap ayah. “Sama-sama. Silakan.”
“Ini kamar sepuluh.” seru Ahsan. Kamar sepuluh, jatah untuk empat anak.
“Assalamu’alaikum.” seru ayah Ahsan.
“Wa’alaikum salam, Pak.” jawab seseorang yang sudah berada di dalam kamar.
“Dari kota mana, Mas?” tanya ayah Ahsan.
“Kak, tolong ke sini.” ajak ayah.