Bab 5. Saat Berpisah dengan Ayah dan Ibu Ayah dan ibu rela menangis karena berpisah sementara di pesantren, karena mencari ilmu. Menjemput detik-detik wisuda kelas enam, ayah dan ibu bersama Ica ikut menyaksikan. Mereka bersiap dengan hati ceria dari pagi hari. “Ayo, berangkat, Yah.” ajak Ica sudah pingin sampai ke sekolah. “Iya, iya. sabar, Nak.” Ayah memberi pengetian kepada Ica. Ahsan sudah siap dengan mengenakan baju wisuda lengkap rapi. “Kakak, Ica foto dulu, ya.” Ica memberi kode kepada Ahsan. Ica mengambil HP ibu yang berada di meja tamu. “Satu, dua, tiga…. Action !” seru Ica. Ahsan mengambil posisi yang bagus, biar hasilnya menarik. “Kakak, action beda lagi dong!” Ica memfoto Ahsan dengan posisi berbeda-beda sesuka dirinya. Ihsan menurut kemauan adiknya, Ica. “Kak, kurang agak ke kanan kepala. La…, seperti ini,” Ica masih asyik mengambil gambar kakaknya. Selang beberapa menit, ayah dan ibu sudah siap. Ica menghentikan aktivitasnya. “Ayo, berangkat.” Ibu mengingatkan Ahsan dan Ica. Sesampainya di sekolah, Ahsan menuju barisan depan. Pak Anang, wali kelas Ahsan berjalam mendekati Ahsan. “Ahsan, nanti kalau petugas MC memanggil namamu, kamu harus siap ke depan.” terang pak Anang dengan berbisik. “Mau untuk apa, Pak?” tanya Ahsan penasaran. “Kamu ranking satu se-SDIT ini.” “Alhamdulillah. Siap, Pak.” Bergembira sekali hati Ahsan, bisa mencapai nilai tertingi.  “Untuk acara inti, penyematan hadiah dan kenang-kenangan kepada siswa terbaik pada tahun ini. Siswa terbaik adalah Ahsan dari kelas VIA. Dimohon Bapak wali murid Ahsan agar mendampingi di depan.” Petugas MC menyampaikan dengan semangat, menjadikan riuh tepak tangan tidak berhenti-henti. Ayah Ahsan melangkah ke panggung depan dengan rasa bangga dan syukur tak terhingga. “Ini hadiah dari sekolah, semoga menjadikan Ahsan lebih berprestasi.” Bapak Kepala Sekolah menyerahkan hadiah kepada Ahsan. “Terimakasih banyak, karena ini semua hasil didikan guru-guru di SDIT sini.” Ucapan terimakasih ayah Ahsan.  Sehabis wisuda, Ahsan menyiapkan semua barang yang akan dibawa ke pesantren. Ayah dan ibu sama-sama sibuknya, takut juga apabila ada yang masih kurang. Berpisah dengan anak seusai Ahsan memang hal yang masih sulit bagi kedua orang tuanya. Tapi, melihat wajah Ahsan yang begitu semangatnya masuk pesantren, hal ini meringankan beban hati ayah dan ibu. Pilihan Ahsan sudah mantap di Pesantren Kafilah. Di pesantren itu meliputi kurikulum Pesantren dan kurikulum Diniyyah, dipadukan dengan hafalan Al-Quran. “Dah mantap pilihanmu dengan Peantren Kafila?” Ayah terakhir memberi waktu pilihan. “Iya, Yah. Sudah dengan berbagai pertimbangan.” Jawab Ahsan dengan alasan yang tepat. Ayah memandang wajah Ahsan tanpa bosan. Wajah yang selalu memberikan banyak sekali kejutan-kejutan yang tak ternilai bagi kedua orang tuanya. “Aku akan rindu sekali denganmu, Nak.” Ayah berkata dalam hati. Suasa menjadi hening seketika. Keheningan dipecahkan oleh suara Ica. “Kak, tolong ke sini!” seru Ica. “Iya.” Ahsan bergegas menolong Ica. “Ada apa?” tanya Ahsan. “Ini Kak. Tadi Ica sudah mencoba menghembuskan nafas ke balon, tapi balon Ica tidak bisa mengembung dengan besar.” jelas Ica. Ahsan mengambil balon dari tangan Ica, lalu Ahsan menghembukan udara ke dalam balon itu. Alhamdulillah, balon mulai membesar. “Makasih, Kak. Dua minggu lagi Kakak berangkat pesantren, nanti siapa yang menolongku kalau bermain?” Ica menunduk sedih. “Ica, ada Ibu yang selalu berada di rumah. Jangan khawatir!” Ahsan memberi pengertian ke Ica dengan lembut. “Tapi, suasana tetap beda, Kak.” “Iya, Ica. Kakak enam bulan juga boleh pulang. Gak usah bersedih, yang kita saling mendoakan.” Ahsan menenangkan Ica. “Iya, Kak. Ica jadi sedih.” Ica merangkul kakaknya. Air mata di sudut mata Ica sudah berkumpul. Ica menahan untuk tumpah, Ica masih terus merangkul kakaknya untuk beberapa menit.. “Pesantren Kafila dekat, gak usah sedih.” tambah Ahsan. Ica menjadi tenang, tidak sedih lagi. Ibu menghampiri Ahsan dan Ica. “Berpisah hanya sementara. Kak Ahsan pergi untuk mencari ilmu, biar selamat di dunia dan akhirat.” Ibu menambah penjelasan. “Ica, balonnya jadi besar.” Ahsan menghibur Ica. Ica sudah bisa tersenyum lagi, alhamdulillah.  Ibu merapikan semua yang akan dibawa oleh Ahsan. Waktu berpisah dengan anak sudah tiba. Ibu memang merasa sedih, namun bisa menyimpannya. “Dah siap semua, Yah.” Ibu memberi informasi kepada ayah. “Iya, Bu. Nanti kita berangkat jam dua siang. Kita salat Asar di pesantren aja.” perintah ayah. Ayah juga sama seperti ibu, masih merasa berat berpisah dengan Ahsan. Tapi melihat pendidikan moral anak-anak sekarang, amburadul tidak sesuai aturan agama Islam, akhirnya harus ikhlas melepas Ahsan ke pesantren. Ibu sedang memasakkan lauk kegemaran Ahsan, hati ayam. “Sedap sekali, bikin perut keroncongan.” goda Ahsan. “Ini sudah matang, Kak.” ucap ibu. Ahsan langsung dengan sigap mengambil nasi dan lauk. Ibu tersenyum melihat Ahsan. “Kalau di pesantren pingin makanan spesialis Ibu, tinggal bilang aja ke ustadz. Nanti pasti Ibu masakan.” Rasa sayang seorang ibu kepada anaknya. Ahsan tersenyum mengangguk sambil masih mengunyah makanan. Ica juga tidak mau kalah, mengambil nasi dan lauk.  Waktu Asar sudah datang, saatnya berangkat ke Pesantren Kafila. Ahsan dengan wajah tegar masuk mobil, tidak ada kesan sedih di wajahnya. Ayah dan ibu harus juga memperlihatkan aura wajah gembira. “Alhamdulillah, sudah sampai di Pesantren Kafilla.” Ayah membuka keheningan suasana di mobil. Ibu, Ahsan, dan Ica bergegas turun dari mobil. “Barang-barang biarkan dulu di mobil. Kita menemui petugas, tanya tentang kamar santri.” perintah ayah. Semuanya mengikuti perintah ayah. Ayah menanyakan tentang kamar santri kepada petugas. Petugas memberi penjelasan dan arahan kepada ayah Ahsan. “Terimakasih, Tadz.” ucap ayah. “Sama-sama. Silakan.” Ayah dan ibu mengeluarkan semua barang bawaan Ahsan. Ahsan dan Ica membawakan yang ringan-ringan. Mereka bekerjasama, untuk meringankan yang lain. “Kak, cari kamar sepuluh, ya.” Ayah memberi kode kepada Ahsan. Ahsan membaca dengan keras setiap kamar yang mereka lewati. Ternyata kamar sepuluh berada di lantai dua. “Ini kamar sepuluh.” seru Ahsan. Kamar sepuluh, jatah untuk empat anak. “Assalamu’alaikum.” seru ayah Ahsan. “Wa’alaikum salam, Pak.” jawab seseorang yang sudah berada di dalam kamar. “Dari kota mana, Mas?” tanya ayah Ahsan. “Dari Sumatera, Pak.” jawab Arda. Ibu segera menempatkan semua pakaian ke almari yang tersedia dan barang lain pada tempatnya masing-masing. Setelah selesai, ayah memanggil Ahsan. “Kak, tolong ke sini.” ajak ayah. Ahsan mendekat ke ayah. “Nak, Ayah dan Ibu mau pamit. Untuk uang ada di tas, misal masih kurang WA saja minta tolong Ustadz.” “Iya, Ayah. Terimakasih.” “Ada apa-apa bilang aja ke Ustadz.” “Ya, Bu.” “Yang betah, ya.”