Pesantren, Jalan Petualangan

Bersyukur dengan Tempat Tinggal

Bab 6. Bersyukur dengan Tempat Tinggal

“Jagalah Allah selalu di hatimu dalam segala kondisi dengan ucapan syukur. Syukur bukti orang beriman”

 

 

 

Senamg sekali Ahsan di pesantren Kafila. Riang hati Ahsan menempati sebuah kamar baru. Kamar dengan banyak penghuni di dalamnya, tapi tetap mengasyikkan dan menjadikan betah penghuninya. Sehabis bayang-bayang ayah, ibu, dan Ica tidak kelihatan dari pandangan mata, Ahsan melangkah masuk kembali ke dalam kamar. Ahsan mendekati Arda, teman baru satu kamar.

Mereka mulai saling mengenal, bertanya tentang asal diri masing-masing. “Hari apa sampai ke sini, Arda?” tanya Ahsan.

“Tadi malam bersama kedua orang tua.” balas Arda.

Ahsan sangat bersyukur sekali, lebih dekat dengan lokasi pesantren, dibanding Arda dari propinsi luar Jawa. Jadwal orang tua Ahsan juga bisa menengok Ahsan tiga bulan sekali dan dekat dijangkau, hanya beberapa menit nyampai.

“Orang tuaku menginap di kamar ini. Propinsiku Sumatra Selatan.” tambah Arda.

Ahsan membayangkan rumah Arda begitu jauhnya. Transportasi menggunakan pesawat atau kapal laut. Butuh biaya besar bila menggunakan pesawat terbang. Rasa syukur Ahsan semakin bertambah. “Aku harus bersyukur, karena rumahku dekat,” hati kecil Ahsan berbicara sendiri. Ahsan mendekat ke tas yang berisi makanan. Ibu Ahsan memasukkan banyak jajan ke dalam tas Ahsan, jajan yang beli dan ada juga jajan hasil buatan ibu semalam. Ahsan mengambil semua jajan dan menaruhnya di depan Arda.

“Oh iya, ini ada makanan dari Bekasi.” Ahsan menawarkan semua jajanan sembari mengenalkan daerahnya, Bekasi.

Walaupun ada beberapa makanan yang bukan khas daerahnya. Arda dengan tanpa malu, mengambil jajanan milik Ahsan. Ahsan belajar banyak dari Arda. Baru hari pertama di pesantren, pengalaman mengesankan mulai terasa.

“Kamu tidak takut sekolah di Jawa?” Ahsan masih penasaran dengan keberanian Arda.

“Nggak, aku langsung mengiyakan diberi pilihan sekolah di pesantren ini. Orang tuaku pasti sudah tahu kebaikan pesanten Kafila untuk anaknya,” jawab Arda dengan jelas.

Arda adalah anak sulung dari seorang ayah yang memiliki sebuah perusahaan besar di Sumatera. Orang tua Arda mengutamakan sekali pendidikan agama. Mereka memilih menyekolahkan anak-anak mereka di pesantren.

“Ayahmu kerjanya apa, Arda?” Ahsan pingin mengenal lebih jauh tentang keluarga Arda. “Ayahku mempunyai satu perusahaan, Ahsan. Nanti kalau aku pulang insya Allah akan aku ambil gambar produknya,” jelas Arda sambil sejenak tangannya diam.

Ahsan menilai diri Arda luar biasa, tidak seperti anak orang kaya. Arda selalu tampil biasa, tidak pernah bergaya. Allah mempertemukan di pesanten anak-anak yang baik, bisa sebagai teman di dalam pesantren untuk bisa berbagi segala.



Pesantren adalah sebuah kampung ilmu, idaman bagi anak-anak saleh. Ahsan mengambil tas berisi pakaian. Ahsan mulai merapikan satu persatu pakaiannya, dimasukkan ke dalam lemari yang sudah tersedia. Arda masih tiduran di atas dipannya, merasa ingin menyantai diri.

“Nanti kalau liburan, main ke rumahku aja, dekat.” rayu Ahsan.

Keinginan Ahsan bisa mengajak Arda ke rumahnya sebagai impian dirinya. “Rumahmu mana, Ahsan?” Arda mulai pingin tahu tentang Ahsan.

“Di Bekasi. Paling setengah jam insya Allah nyampai.” terang Ahsan.

“Wah…kalau dekat asyik lo! Enjoy dong, bisa minta apa-apa dekat dengan orang tua. Aku butuh waktu agar barang pesanan bisa nyampai…,” Arda menasihati ke Ahsan.

“Iya iya, asyik…, hehe….Insya Allah, kalau aku dapat paketan jajan kamu pasti dapat jatahnya,” Ahsan menjawab sembari bercanda. Arda juga ikut mentertawakan Ahsan, riuh kedengaran dari luar kamar.

Arda kelihatan periang sekali. Dia selalu bisa menikmati segala suasana. Maka, orang tuanya tidak takut memasukkannya ke pesantren di pulau Jawa.

“Kamu gak takut sekolah di pulau Jawa, jauh dari orang tua?” Ahsan masih pingin tahu tentang Arda.

“Gak takutlah! Kenapa harus takut?” Arda balik tanya ke Ahsan.

Ahsan hanya tersenyum, dalam hati Ahsan memuji apa yang Arda pilih. Sekolah jauh dan tidak manja. Pokoknya Arda si Jago hebat. Orang tua Arda memiliki prinsip bahwa anak harus berpendidikan agama, salah satu cara adalah dapat pendidikan Islam di pesantren. “Hebat, Arda! Sungguh kamu anak yang penurut dengan orang tua.” Ahsan mengacungkan jempol kepada Arda.

Ahsan melihat sosok Arda, menjadikannya jadi tambah betah di pesantren. Tak ada rengekan tangis terdengar, walau mereka jauh dari orang tua. Panas sore menemani suasana pesantren Kafila di kota Jakarta Selatan. Arda dan Ahsan menempati kasur berukuran kecil, hanya memuat satu orang saja. Mereka masih asyik dengan obrolan. Arda menengkurapkan badannya sambil asyik mencoreti buku tulis kosong dengan pupen hitamnya, sambil menggambar sebuah pemandangan laut lengkap dengan perahu-perahu lautnya. Ahsan terlentang, sambil memandang ruangan kamar inapnya.

“Kamu sedang gambar apa, Arda? Kelihatan mahir sekali tanganmu melukis. Coba gambar lagi, dong….” Ahsan memberi kertas lembaran dari buku tulisnya.

Kertas diambil dari buku tulis pilihan Ahsan, yang bergambar bermacam-macam lukisan seni. Ada gambar beberapa hewan dan tumbuhan hijau. Tanpa suara, Arda menuruti ucapan temannya, Ahsan.



Semakin sore anak-anak pesantren mulai tambah banyak. Mereka memilih dating di pesantren habis asar, baik santri baru maupun santri lama. Malahan ada sebagian santri juga sampai pesantren malam hari. Masih enggan berpisah dengan keluarga, “Aku masih betah suasana di rumah.” Suara dari beberapa anak yang baru sampai di pesanten. Pembagian jumlah anak menempati satu kamar adalah delapan santri. Di kamar Ahsan baru berdua dengan Ardi, teman satu kamar lainnya belum sampai.

“Masih kurang enam anak. Kita tunggu malam ini, semoga mereka sampai dengan selamat.” Doa Ardi.

Suara tapak kaki mendekat ke kamar Ahsan, “Assalamu’alaikum, saya Amir dari Bandung,” Amir mengenalkan diri sambil bersalaman dengan Arda dan Ahsan. Mereka senang teman satu kamar sudah datang. Dua teman baru juga sudah sampe.

“Wa’alaikum salam, alhamdulillah, kita kurang tiga anak.” Tutur Arda. Adzan maghrib berkumandang dari masjid pesantren. Otomatis segala aktivitas di pesantren dihentikan. Semua warga pesantren menuju ke masjid.

“Yuk, Arda, kita segera ke masjid,” ajak Ahsan sambil mengambil sarung di dalam lemari pakaian. Sarung kesayangan Ahsan berwarna coklat, dibelikan oleh ayah saat lulusan kelas enam kemarin.

“Iya.” Arda sudah siap untuk berangkat ke masjid.

“Teman-teman, aku dan Arda ke masjid dulu, ya.” Ijin Ahsan ke semua teman.

Ahsan bersama Arda mengeluarkan sandal jepit dari tas.

“Assalamu’alaikum, kita berangkat.” Ahsan dan Arda langsung melangkah keluar kamar. “Wa’alaikum salam, iya, Ahsan.” Jawab Amir sembari masih duduk enak di lantai.

Berjamaah, sebagai salah satu aktivitas wajib di pesantren. Salah didikan di dalam pesantren adalah berjamaah. Kelebihan pahala berjamaah 27 kali lipat daripada salat sendirian. Untuk santri laki-laki dan perempuan wajib untuk berjamaah.



Habis salat Maghrib, Ahsan menyilakan semua teman satu kamar untuk menikmati makan malam. Karena masih ada nasi dan beberapa lauk dari rumah mereka masing-masing, maka mereka berlima makan di dalam kamar dengan jatah dari ibu mereka. Inilah salah satu suasana makan bersama yang Ahsan mimpikan.

“Alhamdulillah, ini bukan mimpi,” Ahsan berandai dalam benaknya.

Arda memperhatikan mimik Ahsan lumayan lama, “He, kamu kenapa, Ahsan?” tanya Arda menghentikan lamunan Ahsan. Ahsan melanjutkan makan malam lagi. Pintu kamar terbuka, setiap ada orang yang lewat di depan kamar Ahsan, akan kelihatan wajahnya.

“Assalamu’alaikum,” tiga anak memberikan salam.

“Wa’alaikum salam, silahkan masuk.” “Perkenalkan, saya Hengky, ini Abdul dan Kamil.”

Bertiga bersalaman semua, mereka dari daerah yang jauh. Hengky dari Kalimantan, Abdul dari Wonosobo Jawa Tengah, dan Kamil dari Jawa Timur.

“Alhamdulillah, kita bedelapan sudah lengkap.” Ujar Ahsan.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!