Perilaku Aneh Suami dan Ibu Mertuaku

Jangan Di sini ... 54

“Ini … rumah persembunyian ibuk,” ucap Mas Raka pelan. Jemarinya menggenggam tanganku erat.

Aku menatap bangunan sepetak di hadapan kami. Cat temboknya mengelupas, pintu kayunya kusam penuh guratan, jendela kecilnya tertutup kain lusuh yang sudah berubah warna menjadi cokelat kusam. Angin sore membawa aroma anyir bercampur debu yang menggelitik hidungku.

“Mas … ndak salah? Ini … rumahnya?” tanyaku ragu, mataku berkeliling menyapu sudut halaman kecil yang dipenuhi daun kering.

Mas Raka tidak menjawab. Dia hanya menarikku masuk ke halaman. “Assalamualaikum …,” suaranya terdengar datar, tapi di ujungnya antara ragu dan khawatir.

Tok … tok … tok .…

Ketukan tangannya terdengar pelan di pintu. Tak ada jawaban. Hening. Hanya suara dedaunan yang bergesekan di luar.

Mas Raka mencoba lagi, kali ini lebih keras. “Buk! Ini Raka … buk, buka pintunya ….”

Tetap tak ada jawaban.

Aku meliriknya, jantungku mulai berdebar. “Mas …?” gumamku.

Mas Raka memutar knop pintu, namun terkunci dari dalam. Ketegangan mulai merayap di tubuhku. Aku hendak berkata lagi ketika tiba-tiba terdengar suara dari dalam.

Bukan jawaban .…

Tapi rintihan.

Pelan, serak, seperti seseorang yang sedang menahan sakit.

“Mas!” seruku, panik. “Itu … itu suara ibuk! Mas, dobrak saja! Ayo cepat!” suaraku meninggi, nyaris histeris.

Mas Raka tak menunggu dua kali. Dia mundur setapak, lalu dengan satu hentakan keras.

Brakkkk!

Pintu reyot itu terlepas dari engselnya, terbanting ke dalam. Dan di baliknya .…

Nauzubillah … Allahhu Akbar .…

Tubuhku seketika lunglai.

Di lantai yang dingin dan lembab, ibuk tergeletak. Wajahnya pucat, matanya cekung, kulit tangannya seperti terpanggang, merah mengelupas. Pakaiannya robek dan kotor dan dari tubuhnya tercium bau hangus bercampur darah kering. Tapi yang paling membuat bulu kudukku meremang … dia tersenyum. Sebuah senyum tipis yang entah bagaimana terasa lebih menyeramkan dari pada semua luka di tubuhnya.

“Kalian puas?” suaranya parau, penuh cemoohan. “Kalian menang?” matanya bergeser dari Mas Raka ke aku, seolah menatap dua musuh bebuyutan.

“Ibuk … ini kenapa?” suaraku bergetar. Aku melangkah maju, tapi langkahku terasa berat.

Ibuk terkekeh pelan, lalu batuk keras. “Sudahlah … pulang saja. Aku mengaku kalah. Waktuku … tidak banyak. Sebentar lagi … Sang Maha Kuasa akan menjemputku. Tinggalkan aku sendiri. Kalian sudah menang. Apa lagi yang kalian inginkan dariku?”

Aku tak peduli lagi dengan bau anyir atau rasa takut yang merayap di dada. Lututku tertekuk, aku terduduk di lantai yang dingin di sampingnya. “Ayna … anak ibuk, kan? Jujur buk jujur! Ayna anak ibuk kan?” tanyaku, air mata mulai memburamkan penglihatan. Dengan hati-hati, tanpa mempedulikan luka-lukanya, aku memeluk tubuhnya. “Kenapa, buk … kenapa bisa seperti ini?”

Tapi pelukanku hanya bertahan sekejap. Dengan kekuatan yang tiba-tiba, ibuk menepis tubuhku menjauh. Matanya kini menyala, bukan karena kasih sayang tapi kemarahan. “Kau … bukan anakku! Cih! Bisa-bisanya berpikir kau anakku!” bentaknya tajam. “Pergi dari sini!”

Bentakan itu menamparku lebih keras dari pukulan mana pun. Aku terdiam, membeku, sementara air mataku jatuh semakin deras. Di belakangku, Mas Raka berdiri kaku, rahangnya mengeras, tapi matanya tak lepas dari tubuh ibuk yang terbaring, seakan sedang menahan badai di dalam dirinya.

Dan di ruangan pengap itu,

hening kembali merayap, tapi kali ini bersama aroma kematian yang seakan menunggu di sudut.

Napas ibuk terdengar berat, tersendat-sendat seperti seseorang yang sedang memaksa paru-parunya tetap bekerja melawan kehendak maut. Dadanya naik-turun tak teratur, keringat bercampur darah di pelipisnya dan matanya, astaghfirullah … matanya seperti menyimpan ratusan rahasia yang siap terkubur bersama tubuhnya.

Mas Raka, yang selama ini selalu tegar, kini berlutut di lantai. Lututnya menimbulkan suara gesekan pelan di atas ubin tua yang retak. Tangannya gemetar saat menyentuh ujung kain yang menutupi kaki ibuk.

“Buk …,” suaranya serak, hampir pecah. “Raka mohon … jawab sekarang! Siapa Ayna? Siapa Raka? Tolong … biarkan kami tahu, Buk .…”

Ia menunduk, menatap lantai, tapi bahunya bergetar hebat. Entah karena marah, sedih, atau takut akan kebenaran yang sebentar lagi akan keluar.

Aku sendiri berdiri kaku di dekat pintu, tubuhku seperti membeku. Nafasku memburu, mataku panas. Semua suara di dunia hilang kecuali suara napas ibuk yang semakin berat. Detak jam dinding tua di sudut ruangan terdengar seperti palu godam yang memukul kepalaku tik … tok… tik … tok … seakan menghitung sisa waktu hidup ibuk.

Ibuk tersenyum miring, senyum yang bukan senyum. Lebih mirip seperti senyum seseorang yang sudah pasrah dipukul ombak terakhir.

“Kalian ini …,” suaranya parau, diselingi batuk yang membuat darah merembes dari sudut bibirnya. “Kalian benar-benar mau tahu? Kalau aku bilang … kalian sanggup menerimanya?”

“Buk …,” suaraku pecah. “Aku sanggup … apapun itu, aku sanggup! Asal aku tahu siapa aku sebenarnya .…” Air mataku jatuh begitu saja, membasahi pipi tanpa sempat kuusap.

Ibuk memandangku lama. Mata tuanya menembus jauh ke dalam mataku, seperti sedang menimbang apakah rahasia ini layak dibuka atau lebih baik dikubur selamanya.

“Ayna …,” katanya akhirnya, napasnya tersengal. “Kau … bukan anakku. Dan Raka … bukan ….”

Ia terhenti, menutup matanya rapat-rapat, seperti menahan sakit yang luar biasa. Tangannya mengepal, lalu tiba-tiba ia mendorongku menjauh dengan kekuatan yang tak kusangka masih ia miliki.

“PERGI!!” bentaknya, suaranya pecah, tapi cukup untuk membuatku mundur dua langkah. “Pergi sebelum aku benar-benar menyesal pernah membiarkan kalian masuk ke sini!”

“Buk, jangan begini! Kita bisa bicara.” Mas Raka mencoba meraih tangannya, tapi ibuk menarik tangannya dengan cepat, menatap kami berdua seperti kami adalah orang asing yang pantas diusir.

“Waktuku sudah habis,” katanya lirih, tapi penuh penekanan. “Kalau kalian tetap di sini … kalian akan ikut terbakar.”

Aku tak mengerti maksudnya, tapi sebelum aku sempat bertanya, ibuk terbatuk keras, tubuhnya terhuyung dan darah mengalir dari sudut bibirnya. 

Ibuk berusaha berdiri, tangannya meraih ujung ranjang untuk menopang tubuh yang sudah mulai melemah. Bahunya naik-turun, napasnya terengah, seolah setiap tarikan udara adalah pertempuran melawan maut yang sudah menunggu di ambang pintu. Wajahnya pucat, tapi matanya meski berair menatap kami dengan tekad yang aneh, perpaduan antara cinta dan ketakutan yang membakar.

Dengan gerakan yang terlihat sangat berat, ia mengangkat satu tangannya, mencoba menggapai bahuku, lalu tangan satunya mendorong dada Mas Raka perlahan. “Jangan di sini …,” gumamnya, suaranya serak seperti tersayat. Ia lalu memaksa kedua telapak tangannya menekan kami berdua, mendorong kami mundur, walau tubuhnya sendiri gemetar hebat seperti bisa roboh kapan saja.

“Tolong … kumohon … keluar dari sini!” ucapnya lagi, kali ini lebih tegas, hampir seperti jeritan yang ditahan di tenggorokan. “Hiduplah … bahagia …,” suaranya merendah di akhir kalimat, patah-patah.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!