Perilaku Aneh Suami dan Ibu Mertuaku
Bagaimana Anda Bisa Yakin? 53
Aku berdiri di depan cermin ruang tunggu rumah sakit dengan tangan gemetar. Napasku berat, tenggorokanku kering.
Di dalam jaketku yang rapat, kutitipkan satu kertas kecil yang barangkali akan menjadi palu godam untuk seluruh hidupku, formulir tes DNA. Bukan hanya dengan Mas Raka, tapi juga dengan orang-orang yang selama ini kupanggil Mamah dan Papah.
“Aku bukan anak mereka,” bisikku sendiri. “Dan kalau aku benar anak Ibuk, berarti aku dan Mas Raka .…”
Kata-kata itu bahkan tidak sanggup keluar dari mulutku. Jantungku berdetak keras seperti ada kereta api melintas di dalam dada.
Aku mencoba mengingat-ingat lagi kenangan masa kecilku semua terasa blur. Wajah Mamah dan Papah memang selalu ada dalam tiap ulang tahunku, tiap demamku, tapi … tidak pernah ada satu pun kemiripan di antara kami. Tidak cara bicara kami, tidak bentuk mata kami, bahkan kebiasaan kami pun sangat berbeda. Kupikir anak dan orang tua tak ada kemiripan pun tak masalah.
Beberapa hari sebelumnya, aku sempat memberanikan diri berbicara dengan mereka. Kala itu, kami sedang makan malam. Suasana rumah hangat, bahkan terlalu tenang. Dan mungkin itu yang membuatku akhirnya bicara.
“Mamah … Papah …,” suaraku pelan.
Mamah meletakkan sendoknya, Papah mengangkat alis. “Ya, Ayna?”
“Aku … ingin tes DNA.”
Sendok Mamah jatuh. Papah menatapku seperti aku baru saja memaki mereka.
“Apa maksudmu bicara seperti itu?” Papah bersuara dingin.
Aku mengatupkan bibir, lalu melanjutkan, “Aku merasa … aku bukan anak kandung kalian.”
Mamah bangkit dari duduknya, matanya memerah seketika. “Jangan bicara ngawur, Ayna! Kamu anak kami! Darah daging kami! Kami membesarkanmu sejak kamu bayi!”
“Itu dia,” bisikku. “Kalian membesarkan aku … tapi kalian tidak pernah bilang melahirkanku.”
“Ayna!” bentak Papah. “Apa kamu gila?!”
Aku menangis di meja makan malam itu, tersedu. “Kalau kalian sayang sama aku … biarkan aku mencari tahu siapa aku sebenarnya. Kalian gak usah temani ke rumah sakit, aku cuma minta restu. Kalau benar aku anak kalian, hasil tes akan membuktikan. Tapi kalau tidak … aku mohon, aku cuma ingin tahu.”
Mamah menutup wajahnya. Papah menggelengkan kepala keras-keras. Tapi tak satu pun dari mereka bilang, “Ya, ayo kita tes bersama.” Mereka hanya terus mengelak.
“Ayna, kamu anak kami!” kata Mamah berulang kali. “Kamu bukan anak siapa-siapa! Kamu milik kami!”
Dan itu justru membuatku makin curiga.
Sekarang aku di sini. Menunggu hasil. Menanti sesuatu yang mungkin akan membongkar seluruh hidupku. Aku belum memberi tahu siapa pun. Bahkan Mas Raka. Terlalu berisiko. Kalau aku benar anak Ibuk, maka semua akan hancur.
Suster keluar dari ruang laboratorium. Matanya mencari-cari. “Ayna?”
Aku berdiri. Langkahku seperti robot.
“Silakan ikut saya ke ruangan dokter,” katanya lembut.
Aku duduk di kursi berhadapan dengan dokter perempuan berkerudung abu-abu. Ia membuka map, membaca sejenak, lalu mengangkat wajahnya padaku.
“Kami sudah melakukan dua kali uji pembanding,” katanya.
Aku mengangguk.
“Hasilnya … Ayna, kamu tidak memiliki kecocokan DNA dengan kedua orang tua yang kamu daftarkan sebagai orang tua kandungmu.”
Deg.
“Artinya, secara medis, mereka bukan orang tua biologismu.”
Dadaku terasa kosong.
Dan sebelum aku sempat merespons, dokter itu menambahkan, “Kami juga melakukan pembandingan dengan subjek atas nama Raka. Dan hasilnya .…”
Aku menelan ludah.
“Tidak ada kecocokan genetik. Tidak ada hubungan saudara kandung, tidak ada hubungan sedarah dalam bentuk apa pun.”
Dunia terasa diam.
Aku bukan anak siapa pun.
Aku bukan anak Mamah dan Papah.
Aku juga bukan saudara Mas Raka.
Lalu … aku siapa?
Tangisku pecah saat itu juga. Kupeluk map hasil tes itu erat-erat, seolah aku menggenggam tubuhku sendiri yang kini sudah hancur.
Malam itu, aku pulang ke rumah. Mamah dan Papah menungguku di ruang tamu. Aku melempar map hasil tes ke atas meja.
“Kalian bohong.”
Mamah terkejut. Papah berdiri, memandangi map itu tapi tak menyentuhnya.
“Aku sudah tahu semuanya!” teriakku. “Aku bukan anak kalian. Bukan siapa-siapa kalian!”
“Sudah, Ayna!” bentak Papah. “Apa pun hasilnya, kamu tetap anak kami!”
“Aku bukan anak siapa pun!” suaraku pecah. “Bahkan Mas Raka … bukan saudaraku.”
Mamah akhirnya menangis. “Maafkan kami … maafkan kami … kami hanya ingin memberimu hidup yang baik .…”
“Tapi kalian menyembunyikan hidupku sendiri!” jeritku.
Aku berlari keluar rumah malam itu. Angin dingin menusuk wajahku, tapi aku tak peduli. Aku hanya ingin tahu siapa aku. Di mana rumahku yang sesungguhnya. Siapa yang melahirkanku. Kenapa aku dipisahkan. Kenapa hidupku selama ini adalah kebohongan.
Dan satu hal lagi, jika aku bukan anak mereka .…
Maka, kemungkinan satu-satunya yang tersisa ….
Adalah Ibuk. Seperti penglihatanku kemarin. Aku yakin itu petunjuk!
Dan aku tidak tahu, apakah aku harus bersyukur … atau justru ketakutan setengah mati.
Langkahku terasa berat ketika aku berjalan pulang menuju kontrakan kecil kami, rumah mungil sepetak yang nyaris tak layak disebut rumah.
Di sanalah aku dan Mas Raka memilih untuk mulai kembali dari nol. Kami memutuskan untuk mengontrak rumah itu begitu pulang dari kantor polisi kemarin.
Mamah dan papah jelas menolak mentah-mentah. Mereka marah, bahkan sempat mencoba menahanku. Tapi aku tetap bersikeras.
“Assalamualaikum,” sapaku pelan, sambil menekan kenop pintu. Ternyata tak terkunci. Tanpa menunggu jawaban, aku melangkah masuk. Sunyi. Hanya suara detak jam tua di dinding yang menemani.
Mas Raka tertidur pulas di lantai, berselimut tipis, dengan napas yang naik turun pelan. Wajahnya terlihat damai, seolah semua luka dan trauma itu lenyap sementara dalam tidurnya.
Aku tak tahan. Lututku lemas. Aku terjatuh di sampingnya dan memeluknya erat-erat.
“Mas …,” bisikku, nyaris tercekat.
Mas Raka terbangun dengan kaget. Tubuhnya menegang, tapi begitu melihat wajahku yang basah oleh air mata, ia langsung mendekapku erat. “Dek? Ada apa? Cerita ke Mas … cerita, ya?” Mas Raka panik minta ampun.
Aku menangis dalam pelukannya, lalu perlahan kuungkap semuanya, tentang kunjunganku ke rumah sakit, tentang hasil tes DNA, tentang penglihatan aneh yang muncul di Goa waktu aku selesai menolongnya dari jerat rantai dan kebusukan ibuk kemarin.
Mas Raka hanya diam. Lama. Lalu menarik napas panjang dan menatapku dengan mata sembab tapi jernih.
“Kenapa kamu segitu yakinnya, Dek … kalau Mas anaknya Ibuk?” tanyanya lirih.
Mas Raka menunduk.
“Mas aja nggak tahu, Dek … Mas ini anak siapa. Mas nggak punya siapa-siapa, selain kamu.” Suaranya bergetar. “Tapi kalau kamu yakin kamu anak Ibuk … dan hasil tes membuktikan kamu bukan anak kandung mamah-papahmu … ya artinya .…”
Kami saling berpandangan, seolah sama-sama takut menyebut kemungkinan itu.