Pengorbanan Cinta David
Jalan Bersama Dinda
"Pak Bayu, si choco mana?" tanya David, dia berniat untuk membawa kucing kesayangannya itu ke Dokter hewan untuk diperiksa.
Pak Bayu memang mengurung kucing itu di taman belakang rumah tempat di mana kucing itu bisa berkeliaran bebas di taman yang cukup luas ini, "Den David mencari kucing ya?"
David menganggukan kepalanya membenarkan apa yang dikatakan Pak Bayu, "Iya benar Pak, sengaja aku namain dia choco sama kaya peliharaannya aktor tampan Lee Min Ho wkwkw," ungkap David.
Semenjak Lee Min Ho memiliki channel you tube David tidak pernah ketinggalan menontonnya, dari dia duduk di bangku SMP dia sudah menyukai aktor tampan dari negara gingseng itu yang mana seperti yang telah diketahui oleh banyak orang kalau Lee Min Ho aktor action yang selalu berhasil memainkan perannya sudah dua drama yang David tonton yang pertama judulnya The Heirs dan Legend of the Blue Sea.
Selain itu David juga selalu mengikuti gaya Lee Min Ho dalam berpenampilan maupun style rambut dan pakaian selalu David ikutin saking dia fansnya dengan aktor tampan Lee Min Ho.
"Oh Lee Min Ho aktor Korea yang dramanya selalu banyak disukai orang yaya saya tahu Den heheh," pekik Pak Bayu sembari terkekeh.
'Hah seorang Pak Bayu saja tahu loh ternyata namanya memang sudah mendunia yah' gumam David dalam hatinya seraya menggelengkan kepalanya takjub dengan Lee Min Ho bukan dengan Pak Bayu yah wkwkw.
"Ternyata Pak Bayu juga tahu ya aku kira Pak Bayu tidak kenal." David berkomentar dia ingin tahu bagaimana supir pribadi keluarganya bisa tahu drama Korea membuatnya ingin tertawa geli saja.
"Hehehe anak saya Den yang suka nonton dramanya mah, kalau saya cuma kebagian teriak-teriakannya doang," ungkap Pak Bayu berterus terang tentang anaknya yang memang seorang remaja ya wajar jika sudah menyukai drama-drama yang berasal dari negara gingseng.
Barulah David tahu kebenarannya, "Ya sudah Pak kemarikan kucingnya aku mau membawanya ke Dokter hewan malam ini!" ujar David menggantikan objek pembicaraannya.
Pak Bayu pergi mengambil kucing David pergi ke rumah Dinda untuk menjemput cewek itu yang kata Hamdan Dinda ingin ikut mengantarkan kucing yang memang dia temukan di jalan malam itu.
"Permisi Dinda!" teriak David sembari mengetuk-ngetuk pintu rumah Dinda yang masih sepi, "Permisi," teriaknya lagi.
Malam itu Wilda sedang tidak salat dia duduk di ruang televisi mendengar jelas suara pintu rumahnya yang diketuk oleh seseorang dengan segera dia pun menghampiri gagang pintu dan membukanya.
"Eh Nak David, ada apa malam-malam begini datang ke rumah?" Wilda menyambut hangat tamunya itu yang tidak lain anak dari tetangganya.
David terkejut melihat orang yang membuka pintu rumah dengan santai dia bersalaman dan tersenyum ramah, "Saya ingin bertemu dengan Dinda Tante, Dindanya ada kan?"
"Oh Dinda ya dia ada di dalam tapi masih salat Nak, masuk saja nunggu di dalam biar enak!" Akhirnya Wilda membawa David masuk ke dalam rumahnya yang sederhana ini.
"Terima kasih Tante, David menunggu di sini saja ya," ujar David sambil mendudukan bokongnya di bangku ruang depan.
"Tante panggil Dindanya dulu ya." Ketika Wilda ingin beranjak pergi menemui anaknya David menghantikannya.
"Tidak usah Tante nanti saja setelah selesai tidak baik bukan menganggu orang yang sedang melakukan ibadah? tidak apa-apa David nunggu di sini sampai Dinda selesai," seru David dengan tersenyum.
'Subhanullah, Masya Allah luar biasa sekali akhlak Nak David dia tahu akan pentingnya menghormati orang yang sedang beribadah' gumam Wilda dalam hatinya dia tertegun mendengar ucapan David yang luar biasa.
"Ya sudah Nak David tunggu di sini dulu ya Tante mau buatkan air sebentar," ujar Wilda berlalu pergi meninggalkan David di ruang tamunya.
Ini merupakan kunjungan ke dua David ke rumah Dinda, terdengar kembali suara Dinda yang sedang membaca alquran entah di mana kamar Dinda namun suara itu terdengar sangat nyaring, akhirnya David berjalan mengikuti sumber suara tersebut tanpa rasa ragu dan takut.
Terlihat Dinda yang sedang duduk di atas sejadahnya. "Oh my god," pekiknya David pelan dia terkejut melihat pemandangan di depan matanya kini.
Diam-diam David mengintai Dinda di kamarnya pantas saja suaranya selalu terdengar kamar Dinda sangat dekat dengan rumahnya, ayat demi ayat Dinda lantunkan dengan suaranya yang sangat merdu dan menyejukan David menyimaknya dengan dalam, lumayan lama David memperhatikan Dinda mengaji sehingga suara Wilda mengagetkan dirinya.
"Nak David, sedang apa di sini?" tegur Wilda, pandangannya beralih pada dalam kamar Dinda yang mana terlihat jelas anaknya itu yang sedang duduk membaca alquran.
David menggaruk-garukan kepalanya yang tidak gatal, "Hemm maaf Tante suara Dinda membawa David ke sini," ungkapnya dengan gugup.
"Oh gitu ya." Bingung bagaimana Wilda harus merespon mendengar alasan David.
"Ya sudah mari Tante kita ke sana lagi," ajak David mempersilahkan Wilda untuk jalan lebih dulu.
Ketika Wilda sudah jalan duluan, David pun ikut dari belakangnya tapi sebelum pergi David sempat melirik Dinda dulu yang masih mengaji. Selama Dinda mengaji dengan setia Wilda menemani David di ruang tamu sehingga Dinda muncul dengan memakai pakaian santainya dilengkapi hijab yang selalu melekat di kepalanya.
"Ummi makasih sudah ngajak David ngobrol dulu, " ujar Dinda sebelum Wilda memutuskan untuk pindah ke ruang televisi yang berada di sebelah ruang tamu. "Dav sorry sudah buat lo nunggu lama."
"Santai saja kali ya sudah yuk langsung pergi takut ke buru malam yang ada gue gak enak bawa lo pergi larut malam," ujar David dia sudah mengerti sedikit aturan yang menjadi ajaran Dinda selama ini.
"Oh baiklah, aku izin sama Ummi dulu ya!" kata Dinda sambil tersenyum tangannya menunjuk ke tempat di mana Mamahnya duduk.
Dengan segera David bangun dari duduknya, "Gue ikut Din biar nanti gue saja yang bilang sama Ummi lo," sergah David.
Dinda hanya mengikuti apa yang David katakan dia senang melihat sikap David selain sopan cowok itu juga cukup berani dalam berkata, selama ini dia tidak pernah menerima tamu cowok selain Paman, Abi dan Kakaknya.
"Tante, David izin mau ajak Dinda pergi sebentar ke luar kita tidak berdua kok Tante ada Pak Bayu yang akan menemani perjalanan kita," seru David dengan tersenyum hangat, sesekali dia merapihkan pakaiannya.
Wilda menoleh menatap dua anak muda di depannya, "Memangnya kalian mau ke mana?" tanyanya ingin tahu dulu ke mana mereka akan pergi.
"Mau ke Dokter hewan kita mau membawa kucing yang kemarin aku temui di jalan priksa Mi," sahut Dinda mencoba menjelaskan.
Setelah mempertimbangkan akhirnya Wilda memberikan izin, "Ya sudah Ummi izinkan tapi jangan lama-lama ya sudah malam tidak baik anak gadis seperti Dinda keluar malam-malam jadi Tante nitip Dinda sama kamu ya David!"
"Iya Tante siap, David akan menjaga Dinda dengan sebaik mungkin suatu kehormatan bagi David sendiri bisa diizinkan untuk membawa Dinda keluar," ungap David, jauh dari dalam lubuk hatinya dia merasa senang bisa mengajak Dinda keluar meski dia harus mengajak Pak Bayu untuk menemaninya.
Dinda tersenyum senang mendengar Umminya membarikan izin, "Terima kasih Ummi," katanya seraya mencium tangan kanan Wilda dengan sopan.
Mereka pun keluar dari rumah Dinda untuk langsung pergi ke rumah David karena Pak Bayu sudah menunggu di halaman depan rumah sembari membawa kucing yang berada di kandangnya.
"Kamu serius nih mau bawa Choco ke Dokter Dav?" ujar Dinda kembali menyakinkan.
Kini Dinda sudah berada di dalam mobil David, dia duduk di belakang sendirian sedangkan David duduk di depan bersampingan dengan Pak Bayu yang sedang pokus membawa mobil.
"Iya gue khawatir nih kucing punya penyakit setiap hari mengeong mulu seperti menahan sakit pada tubuhnya, lo kira ini kucing sudah ditambak orang apa belum sih kok gue ngerasa dia sudah ditambah oleh kendaraan lain sebelum motor gue," ungkap David dia heran mengapa kucing peliharaannya ini terus bersuara dan ada luka pada kakinya.
Dinda pun sebetulnya memiliki sepemikiran yang sama dengan David tapi siapa yang sudah menabrak kucing itu? "Mungkin Dav, tapi siapa coba yang sudah melakukan itu kepada Choco mana dia tidak bertanggung jawab lagi," gerutunya ada nada kesal pada bicaranya.
"Nah makannya itu kita harus membawa Choco ke Dokter hewan biar diperiksa," ujar David matanya melirik ke arah Dinda dari kaca depan mobilnya yang dengan sengaja diarahkan menghadap Dinda oleh David sendiri.
Mobil terus melaju dengan kecepatan standar membelah kota Jakarta saat malam suasana jalanan memang terlihat berbeda lampu jalanan, hotel-hotel beserta gedung-gedung semua lampunya menyala sehingga menghiasi kota Jakarta yang begitu indah.
"Den David ini klinik yang mana ya Den?" tanya Pak Bayu lupa di mana tempat klinik tempat Dokter hewan itu bekerja.
David melihat ke arah sampingnya, "Sepertinya belok kiri deh Pak David juga lupa nih."
"Oh ya sudah berarti belok kiri ya Den?" ujar Pak Bayu memastikan takut nanti dia salah belok lagi yang ada nyasar nantinya.
Setelah mobil memasuki gang Hj Madani klinik Dokter hewan pun sudah terlihat di sana, David dan Dinda turun membawa kucingnya namun ada sedikit pertengkaran terjadi di sana.
"Sini biar gue aja yang bawa," kata David sambil merebut kucing sudah di gendong oleh Dinda.
Dinda mundur satu langkah saat David mendekati dirinya membuat David kembali tersadar menjaga jarak dengan Dinda, Pak Bayu pun yang melihatnya tersenyum.
"Up sorry Din, ya sudah mending taro aja deh di sini biar gampang nanti gue yang bawa yah!" David terlihat kikuk dia menjadi bingung takut salah bertingkah lagi.
Akhirnya Dinda pun menaruh Choco ke dalam kandangnya yang diberikan oleh Pak Bayu tadi sebelum supir pribadi David memilih menunggu di mobil sambil beristirahat.
"Ya sudah yuk langsung masuk saja, kamu duluan yang masuk Dav!" ujar Dinda mempersilahkan David untuk berjalan lebih dulu karena malam ini dia berpakaian santai dengan hijab instan yang biasa dia gunakan di waktu dadakn apalagi malam hari.
David berjalan duluan ini bukan untuk yang pertama kalinya dia ke Dokter hewan di Eropa pun dia pernah membawa Toben si Anjing kesayangannya itu ke Dokter hewan yang ternyata Toben terkena virus dari makanannya.
Mereka disambut hangat oleh penjaga klinik, "Selama malam," sapa perempuan cantik sembil berdiri.
"Malam Mba, maaf Dokternya ada?" ujar David dengan sesopan mungkin sudah genap sebulan dia tinggal di Indonesia menjadinya terbiasa dalam bersikap apalagi dia memiliki dua teman yang mempunyai akhlak yang bagus.
Diam-diam Dinda tersenyum tanpa sepengetahuan David, cowok itu terlihat lucu bahasa Indonesianya memang sudah bagus tapi nada bicaranya masih terdengar asing ditelinga si pendengar.
"Ada mari silahkan mengisi data dulu di sini setelah itu akan saya panggilkan Dokternya." Perempuan itu mengarahkan David dan Dinda menuju tempat antrian untuk mereka duduk dan mengisi data.
David menyodorkan lembar kertas itu kepada Dinda sambil tersenyum, "Nih lo aja yang ngisi tulisan cewek kan biasanya cakep apalagi lo anak akuntasi," katanya.
Dinda mengerutkan keningnya mendengar David memuji dirinya dengan membawa jurusan yang dia pilih, "Lah kok jadi disangkutkan dengan jurusan Dav memang ngaruh?" protesnya.
"Ada dong pengaruhnya, ya sudah buruan nulis biar Choco cepat ditangani!" pinta David dengan tegas dia tidak ingin menunjukan perasaannya ke Dinda jika dia terus bersikap lembut yang ada nanti Dinda malah menjadi orang yang kepedean.
Dengan terpaksa Dinda akhirnya mau menulis sebetulnya tanpa disuruh pun pasti dia yang akan mengisi formulir pendataan pasien itu hanya saja sikap nada bicara David membuat hatinya menjadi kesal.
"Nih Mba sudah di sini." Setelah selesai mengisi formulir Dinda langsung memberikannya kepada si perempuan itu dengan ke dua tangannya.
Perempuan itu pun memeriksa sebentar kelengkapan data yang diisi oleh Dinda sebelum pergi memanggil Dokter, "Okey datanya sudah lengkap silahkan tunggu sebentar ya Ka saya akan temui Dokter Harisnya dulu."
Keadaan seketika menjadi canggung Dinda gak tahu apa yang harus dia lakukan akhirnya dia memilih untuk memainkan Choco yang sedang meringsut di kandangnya, David melirik Dinda yang terus-menerus mengajak kucing itu berbicara.
"Choco kamu harus sembuh ya biar kita bisa main bareng, biar kamu bisa nemani aku lagi ke masjid kalau ngaji kan kalau ada kamu aku gak akan kesepian lagi jalan menuju majidnya," ungkap Dinda dengan terus terang dia tidak tahu jika David mendengar apa yang sedang dia katakan kepada kucing itu.
Ingin rasanya David tertawa mendengar semua yang dikatakan Dinda, zaman sekarang hewan peliharaan pun bisa menjadi temannya dan anehnya lagi Dinda mengajak ngobrol hewan yang tentu saja tidak akan paham apa yang dibicarakan oleh manusia.
David menggelengkan kepalanya heran. "Aneh," desisnya pelan sehingga Dinda tidak mendengarnya.
"Silahkan masuk Ka Dokter sudah menunggu di dalam!" ujar perempuan tadi yang baru saja keluar dari ruangan Dokter.
David menoleh kepada Dinda seraya bangkit dari duduknya, "Lo mau ikut masuk atau nunggu di sini saja?" ujarnya kepada Dinda.
Karena bingung dan bete Dinda memutuskan untuk ikut masuk, Dinda bisa terbilang tipe cewek yang tidak suka dengan hal-hal yang membosankan dan tentunya kesepian, "Ikut masuk aja deh ya aku ingin dengar penyakit yang mengenai Choco kan bagaimana pun kalau Choco sudah sembuh aku bisa membawanya ke rumah seperti kesepakatan kita."
'Eh gue gak pernah bilang ya kalau Choco bisa tinggal di rumah lo, gue bilang kalau gue berhasil merawat nih kucing gue izinkan lo buat main ke rumah gue menemui Choco bukan lo bisa seenaknya bawa dia ke rumah,' protes David dalam hatinya mana mungkin dia bisa berkata seperti itu kepada cewek lembut macam Dinda.
"Ya sudah yuk masuk!" David kembali memimpin Dinda menemui Dokter hewan itu, bagaimana pun laki-laki harus bisa membimbing wanitanya jadi Dinda lebih memilih mengekor di belakang David.
Terlihat nama Dokter itu jelas di mejanya yang sepertinya sudah terkenal dengan ahlinya dalam memeriksa hewan, "Sebelumnya saya akan priksa kucingnya dulu ya!" katanya setelah bercakap-cakap.
Deg-degan Dinda memegangi bajunya nampak raut khawatir pada wajah Dinda saat melihat Choco merintih setelah disuntik oleh sang Dokter, jujur saja dia juga takut akan jarum suntiknya selama ini.
Ingin sekali David memegangi tangan Dinda tetapi ditepisnya pikiran itu jauh-jauh dia harus menghormati ajaran islam mengenai pergaulan perempuan dan laki-laki yang sepertinya Dinda juga sangat menjaga dirinya dari sentuhan tangan laki-laki.
"Jangan khawatir itu hanya diberi vitamin saja agar daya tubuh Choco kuat dan tidak gampang terserang penyakit lagi," ujar David dingin.
Dinda menoleh sekilas ke arah David, dia terkejut mengetahui jika cowok itu mampu membaca pikirannya lalu dia mengulas senyum karena rasa khawatirnya hilang mendengar penjelasan David mengenai suntikan itu.
Bagaimana kelanjutannya masih geser layarnya agar bisa menuju ke bab selanjutnya, salam hangat buat kalian semua dari saya yang paling imut cetar membahana :)