Pengorbanan Cinta David
Lampu Hijau Dari Nathan
Setelah pulang membeli buku David langsung menghampaskan tubuhnya di atas sofa ruang televisi seraya menonton channel yang bisa menghibur dirinya dan kegalauan hatinya.
"Den David sudah pulang?" Bi Ayu terkejut melihat kaki seseorang yang ternyata itu adalah kaki David. "Den pindah gih ke kamar kalau capek," serunya.
Mata David memang terpejam tetapi bukan artinya dia tertidur David hanya sedang mendengarkan lagu religi yang sedang diputarnya, mencoba memahami arti pada setiap syair-syairnya, "Hemm nanti saja Bi David, biarkan aku tidur di sini sebentar," racaunya yang masih didengar jelas oleh Bi Ayu.
"Enggih Bi Ayu pergi gak akan ganggu." Bi Ayu pun berlalu meninggalkan David.
Lagu yang indah menghantarkan David hingga terlelap dalam mimpinya dia tertidur di atas sofa kaki panjangnya di naikan ke atas sehingga jika seseorang yang datang dari arah depan hanya akan melihat kakinya saja.
Anggelia pulang dari arisannya bersama Wilda dia masuk ke dalam rumahnya dan langsung melihat sesuatu, "Pasti David?" tebaknya, siapa lagi jika bukan anak bungsunya itu yang berani tidur di sofa dengan kaki yang diletakan di atas.
Tebakan Anggelia benar membuatnya langsung memandang wajah anaknya yang terlelap dengan televisi yang masih menyala menampilkan deretan lagu dengan gengre religi.
"Bi Ayuu!!" teriak Anggelia memanggil pembantunya itu yang ditugaskan untuk memata-matai gerak-gerik David selama ini.
Dengan berlari Bi Ayu menghampiri majikannya, "Iya Bu ada apa ya?" ujarnya sembari menundukan pandangannya ke bawah.
"Bi Ayu dari kapan David pulang?" Anggelia menatap pembantunya dan sesekali melihat David untuk memastikan bahwa anaknya itu tidak akan dengar ataupun bangun dari tidurnya.
Bi Ayu pun menatap jam dinding rumah ini, "Sekitar jam 2 Bu, tadi sih saya sudah tegur untuk pindah ke kamar tetapi tidak mau dengan alasan De David sedang ingin tidur di sofa," jelasnya.
Anggelia menatap David kembali terlihat headset bluetooth yang terpasang di ke dua telinganya, "Kebiasaan sekali anak ini!" omelnya lalu mencabut headset bluetooth dari telinga David.
Seketika mata Anggelia melotot mendengarkan lagu yang sedang anaknya dengar sampai membuatnya tertidur pulas, Bi Ayu pun penasaran apa yang terjadi kepada Anggelia.
"Ada apa Bu?" tanyanya sembari mendekatkan wajahnya.
"Kamu dengarkan ini!" pinta Anggelia memberikan headset bluetooth kepada pembantunya itu.
Terdengar lagu 'Ya Maulana' yang dinyayikan oleh Sabyan Gambus, "Lagunya Sabyan Bu hehehe pantas saja sampai tertidur suaranya Neng Sabyan memang merdu dan enak didengar," ungkap Bi Ayu yang termasuk salah satu fansnya Sabyan.
"Sejak kapan David suka lagu religi?" pekik Anggelia dengan bingung, dia mendudukan bokongnya di atas sofa dia masih belum percaya jika kehidupan anaknya sudah berubah padahal belum genap satu bulan dia pindah ke Jakarta.
"Mohon maaf Bu, saya kurang tahu akan hal itu." Bi Ayu menundukan pandangannya gamang jika majikannya akan memarahinya atas pekerjaannya yang kurang benar.
Anggelia mengambil ponselnya yang dia letakan di meja, "Ya sudah kamu urus saja deh nih anak, nanti sore kami akan pergi pastikan David sudah bangun ya!"
"Baik Bu, sekarang Ibu istirahat saja dulu di kamar biar saya yang akan membangunkan Den David jika Tuan Nathan sudah sampai," ujar Bi Ayu dengan antusias dia senang karena memiliki majikan yang tidak pernah marah-marah.
Akhirnya Anggelia bangkit dari duduknya dan berlalu pergi menuju kamarnya untuk beristirahat rasa lelah serta rasa kantuk sudah menyerangnya sejak tadi ditambah masalah perubahan dalam diri David.
"Bagaimana kalau Nathan tahu kelakuan David sudah pasti cowok itu akan memarahi anaknya," gumam Anggelia yang memikirkan masa depan David nantinya, anaknya itu memang sudah dewasa dari kecil dididik dengan penuh kasih sayang dan perhatian penuh dibanding kakak-kakaknya karena dulu David hampir tidak akan lahir waktu dia kecelakaan.
Menjelang asar David sudah terbangun dari tidurnya, "Akhhh pusing banget my head," teriaknya sembari mengacak-acak rambutnya.
Mendengar suara David, Bi Ayu pun langsung menghampirinya, "Den David air panas untuk mandinya sudah disiapkan sebentar lagi Tuan Nathan akan pulang dan Ibu menguruh saya agar Den David segera bersiap-siap jam empat nanti akan berangkat," terangnya.
David menoleh memandang Bi Ayu dengan saksama dia sudah merasa pusing ditambah lagi dia harus pergi ibadah, "Ya sudah terima kasih banyak Bi," sahutnya seraya bangkit dari sofa.
Merasa seluruh tubuhnya sakit David merentangkan tangannya ke samping agar merenggangkan otot-ototnya, "Bi, kayanya David gak ikut deh ke Gereja tubuh David terasa lemas dan sakit gara-gara tidur di sofa tolong katakan sama Mamah ya Bi."
"Baik Den nanti Bibi akan mengatakannya kepada Ibu." Bi Ayu tersenyum, harus dia katakan bahwa bukan karena tubuh David terasa sakit yang menjadi alasannya tidak ikut ke Gereja melainkan David sedang malas pergi ke sana.
David berjalan ke kamarnya dengan langkah kaki yang lunglai, perutnya sudah mulai terasa sakit sama seperti kemarin dia rasakan sesampainya di kamar David langsung pergi ke kamar mandi untuk menyegarkan kembali tubuhnya yang terasa lemas.
Terdengar suara mobil Nathan yang sudah datang, hari ini sengaja Nathan memilih pulang cepat dengan dua alasan yang pertama dia akan melakukan sembahyang di Gereja dan yang ke dua dia akan melakukan buka puasa bersama di rumah.
"Bu, tuan Nathan sudah pulang!" Bi Minah memberikan laporan kepada Anggelia yang sedang berdandan di kamarnya.
Tanpa menoleh Anggelia menyahut, "Oh sudah datang ya! ya sudah kamu tolong katakan sama David untuk segera bersiap takut terlambat," ujarnya.
"Baik Bu." Setelah laporannya diterima Bi Minah berlalu pergi untuk menghampiri David yang berada di kamarnya namun saat di tangga langkahnya terhenti ketika seseorang memanggil namanya.
"Minah!" panggil seseorang membuat si pemilik nama langsung menoleh, "Kamu mau ke mana?" tanyanya.
"Lah saya mau ke kamar Den David," kata Bi Minah sedikit sewot lantaran tidak ada yang tidur di kamar atas lantai dua selain David, semua ruangan di atas ditempati oleh David semua baik ruang latihan nyayi, ruang belajar serta bioskop mini.
Bi Ayu menghampiri Bi Minah dan naik ke tangga satu, "Sudah tidak usah ke atas katakan saja sama Bu Angel kalau David tidak bisa ikut tubuhnya terasa sakit sebab tertidur di sofa," jelasnya sembari tersenyum.
Bi Minah pun mengangguk dan kembali menghampiri Anggelia dan Nathan yang sudah menunggu di depan rumah, "Maaf Bu, Den David tidak mau ikut tubuhnya terasa sakit sebab tertidur di sofa tadi katanya Den David menunggu di rumah saja."
"Apa, kok David bisa tidur di sofa, gimana ceritanya Mah?" gerutu Nathan menatap istrinya dengan raut wajah kesal.
Anggelia menoleh memandang ke arah pembantunya, sungguh ini adalah keadaan yang membuatnya bingung diraihnya lengan suaminya itu, "Iya tadi David habis pulang kuliah langsung tidur Pah di sofa sudah dibangunin tetapi dia tetap ngeyel," terangnya sembari tersenyum simpul.
"Ya sudah kalau begitu langsung berangkat saja!" ujar Nathan masih dengan nada kesal di dalam pembicaraannya.
Pak Bayu pun langsung membukaan pintu mobil bagian belakang untuk ke dua majikannya, "Silahkan masuk Tuan."
Selama ke dua orangtuanya pergi David kini memilih bersantai di bangku depan kamarnya sembari menikmati alam semesta dan udara yang begitu menyegarkan tubuhnya yang memang setelah dibasahi oleh air.
Tiba-tiba ponselnya berdering terdapat panggilan masuk dari temannya yaitu Hamdan dengan segera David mengangkatnya. "Hallo Dan, ada apa?" tanyanya.
"Dav gue lagi di kampus nih, anak rohis lagi pada kumpul," ungkap Hamdan memberitahu.
Mendengar kabar itu munculah ide baru dalam otak David, "Dinda juga ikut Dan?" tanyanya sembari tersenyum senang.
"Pastilah nih dia ada di samping gue lagi ngobrol sama Mira dan Najma." Hamdan berseru dengan kecang sehingga membuat pemilik nama yang disebutnya menoleh ke arahnya melemparkan tatapan bingung.
David terkekeh, "Lo ngomong jangan gede-gede nanti dia dengar!"
"Dia sudah dengar Dav," ujar Hamdan sembari terkekeh memandang Dinda yang kini tersipu malu karena sedang dibicarakan oleh David.
Najma menyenggol lengan Dinda, "Kamu lagi digosipin tuh sama Hamdan di telepon." Sedangkan Dinda tidak merespon sama sekali, merasa bahwa itu tidak perlu ditanggapi.
"Hah seriusan lo? terus bagaimana respon dia?"
Terdengar suara David yang begitu antusias dalam bicaranya, Hamdan semakin gemas dengan temannya itu dan penasaran apakah David benar-benar suka dengan Dinda atau tidak.
"Iya gue serius, dia diam saja Dav kenapa lo mau nitip salam sama dia?" ujar Hamdan seraya terkekeh dia tidak bisa menahan tawanya saat mengoda David.
"Katakan sama dia Dan, nanti malam gue akan bawa kucingnya ke Dokter," sahut David mencari alasan agar dia bisa selalu dekat dengan Dinda.
Saat itu Dinda dan sahabat-sahabat beranjak pergi dari tempat semula, Bu Rena datang untuk memulai rapat pada sore hari ini yang akan membahas tentang agenda menyambut bulan puasa.
David menatap ponselnya sambil senyum-senyum sendiri saat sambungan telah terputus, "Rohis? apa perlu gue masuk rohis," gumamnya, saking ingin bisa berdekatan dengan Dinda.
Tidak lama kemudian David berinisiatif untuk mencaritahu akan kegiatan-kegiatan anggota rohis di internetnya, sudah sejak kemarin David ingin menjadi anggota rohis karena dari sana dia bisa mendapatkan pengetahuan dan ilmu baru serta pemikiran yang lebih luas terkait dengan kerohanian, sosial, dan yang pasti dia bisa terus melihat Dinda di sana.
Sudah menjadi kebiasaan David jika mempunyai waktu santai dia akan menyempatkan dirinya untuk membaca alkitab yang menjadi ajarannya selama ini, dari sana dia belajar banyak hal alkitab yang David pegang adalah salah satu pemberian dari Ommahnya pada acara ulang tahunnya.
“Berpuasa menandakan adanya kesungguhan pada orang yang menaikkan permohonan doanya, dan memperkuat seruannya di hadapan takhta Allah. Orang yang berdoa sambil berpuasa menyatakan bahwa dirinya sungguh-sungguh memohon.”
Doa puasa harus dilakukan dengan sungguh-sungguh agar layak dan berkenan di hati Tuhan. Berpuasa juga harus dipraktikkan dengan cara yang benar, seperti yang diajarkan dalam Alkitab.
Tok, tok, tok
Terdengar bunyi pintu yang diketuk oleh seseorang, "Masuk!" teriak David tanpa menoleh.
Akhirnya Bi Ayu masuk setelah mendapat perintah dari David, "Maaf Den David Ibu sama Tuan sudah pulang, Den David disuruh turun ke bawah untuk berbuka bersama."
"Tidak biasanya mereka pulang cepat?" gumam David sembari menatap jam tangannya.
"Mereka baru saja pulang Den dan langsung menyuruh Bibi untuk menemui Aden," sahut Bi Ayu. "Mending Den David temui saja deh biar lebih jelasnya lagi, saya permisi Den!" Bi Ayu berlalu pergi menjalankan tugasnya yang belum selesai.
Mendengar bahwa ke dua orangtuanya baru sampai, David memilih untuk menyelesaikan bacaannya terlebih dahulu yang tinggal sedikit lagi berganti ke judul baru yang akan membahas tentang cinta.
"Kapan ya ada waktu buat gue bisa ngobrol dengan Mamah tentang semuanya." David bangkit dari duduknya untuk pergi menemui ke dua orangtuanya di bawah.
Butuh waktu untuk David menetapkan hati dan pikirannya yang masih suka bimbang ke mana dia harus berjalan bagaimana dia harus pergi semua itu membuat David bingung, takut dan gamang akan respon ke dua orangtuanya nanti apalagi Papahnya yang selalu bersikap tegas selama ini.
"Ya Tuhan, David, bagaimana keadaanmu sayang?" Anggelia berseru melihat kedatangan anaknya itu dia menuntut David untuk duduk di meja makan.
"Apaan sih Mah? Gak usah terlalu berlebihan gitu deh, David sudah baik-baik saja kok," gerutu David dia melirik Mamahnya dengan raut cemberut.
David sadar bagaimana Mamahnya memprilakukannya dengan manja sejak dulu berbeda dengan Papahnya yang malah mendidiknya dengan keras sikap tegas Papahnya yang selalu membuat David tertantang yang meskipun dia selalu melawan apa yang dikatakan Papahnya dan pasti Mamahnya akan membela dirinya saat itu juga.
"Begitulah Mamahmu memanjakan David, jangan jadi anak cowok yang lemah Papah tidak pernah mengajarkanmu seperti itu!" sahut Nathan memberikan perintah pada nada bicara agar anaknya bisa menjadi sosok orang yang kuat memiliki jiwa kepemimpinan seperti apa yang diinginkannya.
Perkataan Nathan memang selalu menyentuh hati David entah berupa omelan atau berupa motivasi, "Tuh dengar apa kata Papah, lihat David sudah dewasa Mah, jangan prilakukan David dengan manja!"
"Iya Mamah tahu kok tapi kamu kan tahu sendiri kalau kamu itu anak kesayangan Mamah?" sahut Anggelia dengan tersenyum simpul, lagi-lagi sikapnya dipermasalah oleh suaminya padahal dia tahu bagaimana perasaannya.
Waktu untuk berbuka pun tiba keluarga Nathan langsung berbuka puasa dengan menu hidangan yang sungguh bermacam-macam jenis makanan tersedia di atas meja makannya, memont terindah saat David bisa berbuka puasa bersama dengan keluarganya. David berjanji pada dirinya sendiri akan menemukan jati dirinya yang sejati.
Mereka mengempalkan kedua tangannya untuk berdoa sebelum menyantap makanan berbuka puasa ini.
"Nih sayang, makan yang ini Dav Mamah loh yang buatnya tadi." Anggelia menyodorkan sebuah puding jelly buatannya sendiri dengan resep yang diberikan oleh kakaknya dulu sebelum dia menikah yang kini menjadi makanan favoritnya apalagi untuk menu buka puasa.
David mengambil puding jelly yang diberikan oleh sang Mamahnya, "Mah, apa David boleh memberikan puding ini pada Dinda?"
"Boleh dong sayang, tapi kok tumben sih kamu mau ngasih makanan ke Dinda," ujar Anggelia dengan alisnya yang mengkerut, tidak biasanya anaknya bersikap kaya gini.
"Ya ... kan David sama Dinda teman satu kampus Mah gak apa-apa dong sesekali berbuat baik sama dia," sahut David sembari terus melahap gorengan yang untuk pertama kalinya dia memakannya.
"Siapa Dinda Mah?" Nathan berseru, dia benar-benar tidak tahu akan nama yang disebutan oleh David yang ternyata istrinya mengetahuinya.
Dengan gemas Anggelia pun memukul lengan suaminya itu, "Kamu gimana sih Pah, itu anak gadisnya si Wilda kan namanya Dinda masa kamu lupa sih Pah."
Seketika Nathan tertawa, "Oh yaya Papah ingat, gadis cantik yang berhijab itu ya?" katanya, memorinya akan waktu kunjungan kembali berputar dan yang membuat dirinya ingat adalah penampilan Dinda yang tertutup.
Mendengar kata 'Cantik' yang keluar dari mulut Papahnya, David jadi ikut tertawa dia menyetujui pujian yang memang pantas untuk Dinda.
"Iya benar yang itu kan dia namanya Dinda," sahut Anggelia dengan tersenyum hangat.
Berbuka puasa pertama yang begitu mengesankan bagi David serasa mendapat sinyal dari ke dua orangtuanya untuk dia bisa dekat dengan Dinda membuatnya senang.