Pengorbanan Cinta David
David Cemburu?
"Kalau gue suka sama lo bagaimana Din?" Dengan penuh keberanian David mengungkapkan akan perasaannya yang sudah satu minggu ini dia pendam.
Tidak mudah bagi seorang David yang jauh dari kreteria Dinda seperti yang pernah diucapkan oleh cewek itu sendiri namun David tidak bisa menahan debaran hatinya serta rasa egoisnya yang ingin selalu melihat Dinda.
"Lo gak usah mimpi deh Dav, gue hanya takut lo bakal patah hati nantinya," celetuk Hamdan yang sedari tadi menyaksikan drama yang sedang David peragakan untuk mengungkapkan perasaan cowok itu.
Mendengar kemungkinan itu akhirnya David kembali duduk di sebelah Hamdan lalu mengambil minuman miliknya, "Gue bingung Dan, harus bagaimana lagi, tetapi satu hal yang membuat gue yakin Dan," serunya dengan antusias.
"Apa itu?" Hamdan masih setia mendengarkan cerita David sejak tadi.
David tersenyum, "Jangan menyerah sebelum mencobanya, akan ada hasil yang memuaskan jika disertai usaha yang sungguh-sungguh," katanya seraya mengangkat sebelah alisnya ke atas diiringi dengan rasa penuh percaya diri.
"David, David bisa-bisanya lo bersikap percaya diri dalam hal yang kaya gini nanti kalau cinta lo ditolak sama Dinda bagaimana?" cibir Hamdan dia menggelengkan kepalanya heran sembari menyela rambutnya dengan jemari tangannya.
"Yah lo gimana sih Dan, kan seharusnya lo dukung gue malah jatuhin harapan gue buat jadian sama Dinda," gerutu David dengan kesal dia menyandarkan bokongnya di bangku taman kampus.
"Bukan seperti itu Dav maksud gue, gini ya gue ingetin lagi sama lo Dinda itu cewek baik-baik gak akan mau pacaran apalagi sama orang sembarangan tapi kalau lo masih tetap gigih mau nembak Dinda silahkan gue gak akan maksa," cetus David.
Perkataan Hamdan memang tidak pernah salah selama ini tetapi David mempunyai prinsif lain yaitu tidak akan menyerah sebelum mencoba, "Gue bakal berusaha Dan lo doain gue aja biar diterima," katanya penuh percaya diri.
David memandang jam tangan miliknya, "Gue duluan ya ada jam kuliah sekarang!" serunya sembari menepuk bahu Hamdan pelan.
"Kalau pulang kabarin gue Dav," teriak Hamdan memandang kepergian temannya itu.
Pikiran David kali ini hanya dipenuhi oleh Dinda dan Dinda, sudah lama David tidak pernah mengalami jantungnya berdebar setiap bertemu dengan cewek tetapi ada rasa takut dalam diri David ketika mencintai cewek model Dinda.
"Selamat siang anak-anak!" Dosen telah masuk menyapa anak-anak muridnya.
"Siang Miss," sahut semua para mahasiswa dan mahasiswi dengan penuh rasa semangat.
Mata pelajaran hari ini adalah bahasa Inggris yang mana akan ada satu kelompok yang akan melakukan presentasi ke depan dan teman-teman kelas wajib melemparkan pertanyaan kepada teman yang sedang berpresentasi.
Miss Anggi memanggil kelompok Reta untuk maju ke depan memulai presentasinya, "Ayo silahkan maju ke depan untuk kelompok ke tiga!" ujarnya.
Dengan sigap Reta maju ke depan David memandang Gio yang kini masuk ke dalam kelompok Reta dalam presentasi bahasa inggris entahlah apakah cowok itu bisa melakukannya dengan baik sama seperti ketika dia berada dalam satu kelompok dengannya.
Selama presentasi yang membahas tentang verb David terlihat pokus untuk mengetahui sejauh mana kemampuan teman-temannya dalam mengusai panggung utama atau dalam public speaking di depan teman-teman kelasnya.
"Verb atau kata kerja dalam sebuah kalimat di gunakan untuk mengidentifikasikan ataupun menjelaskan perilaku dari si pelaku (subjek dalam kalimat) ataupun menjelaskan peristiwa dan keadaan. Contoh : 'Aldo drives his fathers car (Aldo mengendarai mobil ayahnya)'
*Penjelasan : Drives disini merupakan kata kerja yang menjelaskan subjek (Aldo) yang sedang mengendarai mobil milik ayahnya." Selagi Reta menulis di papan tulis David membuka ponselnya dia meminta Hamdan untuk memberikan nomor Dinda kepadanya.
Saat Gio kembali membaca teksnya David menyempatkan diri untuk menulis apa yang telah ditulis oleh Reta di papan tulis, David tidak pernah lupa akan pepatah ' Ilmu itu adalah buruan dan tulisan adalah ikatannya. Ikatlah buruanmu dengan tali yang kuat. Termasuk kebodohan kalau engkau memburu kijang, Setelah itu kamu tinggalkan terlepas begitu saja. (Diwan SyafiI hal. 103).
Mencatat ilmu agar tidak mudah lupa. Daya ingat manusia lemah dan terbatas karenanya kita dianjurkan agar mencatat ilmu. Dengan mencatat ilmu ketika di dalam forum maka kita berusaha merangkum apa yang didengar dan mencatatnya itulah mengapa menulis itu menjadi suatu bagian yang terpenting dalam hidup David dan mungkin itulah mengapa David menjadi anak yang cerdas dan menjadi juara kelas terus.
"Baiklah apa ada pertanyaan dari teman-teman semuanya?" Gio mulai membuka sesi tanya-jawab untuk teman-temannya yang ingin mengajukan pertanyaan mengenai apa yang sedang dibahasnya.
Terlihat tangan kanan Cinta yang terangkat bertanda ingin bertanya yang langsung dipersilahkan oleh Reta untuk berbicara, "Assalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh saya Cinta Permata Sari ingin mengajukan pertanyaan kepada kelompok tiga mengenai penjelesan verb, bisa tolong jelaskan lebih rinci lagi mengenai transitive dan intransitive verb beserta contohnya, sekian pertanyaan saya terima kasih."
Miss Anggi menganggukan kepalanya serta tersenyum senang ketika melihat anak muridnya aktif dalam berdiskusi apalagi jika memang apa yang telah dijelaskan temannya belum dimengertinya.
David kembali tersenyum saat melihat Gio yang menyenggol lengan Reta sepertinya Gio tidak berani untuk menjawab atau lebih tepatnya Gio tidak bisa memberikan jawaban atas pertanyaan Cinta karena selama berpresentasi Gio dan Reta harus menggunakan bahasa inggris.
"Transitive Verbs membutuhkan objek agar kalimat menjadi utuh dan memiliki makna. Dengan kata lain, objek yang mengikuti verbs mendapatkan aksi dari verbs tersebut. Contoh:
- I clean my own room every morning. [Saya membersihkan kamar saya setiap pagi.] Kata 'clean' tidak dapat berdiri sendiri tanpa diikuti objek.
Sedangkan intransitive verbs merupakan kata kerja jenis ini tidak membutuhkan objek langsung agar kalimatnya menjadi utuh dan memiliki makna. Contoh:
- Joshua screamed when his mother surprises him. [Joshua berteriak ketika ibunya mengejutkannya.]
Kata 'scream' tidak perlu memiliki objek yang mengikutinya untuk menjadi kalimat sempurna. Jika kita menghilangkan frasa keterangan dan hanya menyisakan 'Joshua screamed' [Joshua berteriak], kalimat ini masih memiliki makna, semoga jawaban anda puas dengan jawaban yang saya berikan,"
seru Reta sembari tersenyum.
Perlu David akui Reta mahir dalam bicara bahasa inggris dengan santai cewek itu menjelaskan mengenai transitive dan intransitive verbs, Cinta pun tersenyum puas akan jawaban yang diberikan Reta selama presentasi berjalan hanya beberapa orang yang pertanyaannya masuk akal yang lainnya hanya mengulang apa yang sebenarnya sudah dijelaskan oleh Gio dan Reta.
"Baiklah mungkin sampai sini saja diskusi atau presentasi pada hari ini, Miss happy to see your progress, yes, even though there are still some who ask in Indonesian at least you have started to actively ask questions, see you at another time!" Kalimat terakhir sebelum miss Anggi pergi meninggalkan kelas pada hari ini.
Akhirnya David selesai mengikuti semua jam kuliah pada hari ini dengan ilmu yang luar biasa dia dapatkan mulai dari penjelasan bahasa inggris maupun budaya Indonesia, dengan hati-hati David melentangkan tangannya ke samping serta memetik jemarinya yang berfungsi untuk merenggangkan otot-otot tangannya yang sedari dia gunakan untuk menulis.
"Hey Dav bagaimana bahasa inggris gue tadi?" seru Gio sembari merangkul bahu David, saat presntasi dia sempat melihat David tertawa kepadanya.
"Your language is good, fighting!" David menyahut dengan menggunakan bahasa inggris sambil memberikan senyuman kepada Gio.
Gio tertawa senang mendengar pujian David untuknya, mereka pun berjalan beriringan sambil sesekali tertawa karena membicarakan hal yang lucu dan konyol menurut David sehingga dia tidak bisa menahan tawanya namun saat tiba-tiba matanya melihat Dinda yang sedang berjalan dengan seorang laki-laki dan Najma membuat langkah kaki David berhenti seketika.
"Stop Gi!" pinta David pada Gio untuk berhenti melangkah.
"Stop Gi!" pinta David pada Gio untuk berhenti melangkah.
Gio kaget dengan tiba-tiba David menyuruhnya untuk berhenti, "Ada apa sih Dav, hah?" tanyanya penasaran, saat dia mengikuti ke mana arah mata David memandang dia baru sadar ternyata yang membuat David berhenti adalah Dinda.
"Lo tahu Gi, itu siapa?" ujar David seraya menunjukan cowok yang sedang bersama dengan Dinda di sebrang sana.
Gio menatap laki-laki yang terlihat samar-samar itu oleh matanya, sebab terhalang oleh pohon-pohon besar, "Yang mana Dav?"
"Itu loh yang cowok di sebelah Najma itu siapa Gi, lo kenal tidak?" David kembali mengulang pertanyaannya sambil terus menunjukan keberadaan cowok itu dengan jari telunjuknya.
"Oh yang itu, dia namanya Hakim Dav anak sastra dia juga anggota rohis mungkin mereka sedang bahas sesuatu yang penting," sahut Gio santai, bagaimana pun dia tidak tahu tentang perasaan David.
"Hakim?" gumam David pelan, sungguh hatinya merasa panas saat melihat ada laki-laki yang dekat dengan Dinda padahal dia bukan siapa-siapanya tetapi dia merasa ada ruang kosong di hati Dinda untuknya.
Ditepuknya bahu David pelan, "Sudahlah yuk pulang, gue mau ketemuan nih sama Guru gue," ujar Gio tidak sabaran.
"Ya sudah lo pulang duluan aja Dav, gue juga ada urusan dengan seseorang dulu jadi mungkin bakal pulang sore." Entah siapa yang akan ditemuinya yang pasti David ingin mengetahui apa yang sedang mereka bicarakan serta ada hubungan apa sebenarnya Hakim dan Dinda, untuk saat ini dia akan memastikan bahwa Hakim akan segera pergi dari sana.
Gio menghela napasnya yang terasa berat, "Okey gue pulang duluan ya, lo hati-hati dalam bertindak gue takut lo salah ambil keputusan dalam apapun itu." Gio pergi seraya menepuk bahu David pelan.
"Hati-hati Gio!" teriak David melihat kepergian teman barunya itu yang mana semuanya berawal sejak mereka disatukan dalam kelompok presentasi.
Masih mendengar suara David, Gio memberikan ibu jarinya yang dijulurkan kepada David berarti 'Siap'
Dengan menindak-nindak David mulai mendekat ke arah di mana Dinda, Najma dan Hakim berbicara. Karena mereka tepat berada di depan taman David berpura-pura sedang membawa alkitab yang dibawanya tempat duduk David ada di belakang Dinda tidak jauh mungkin 10 langkah sampai sehingga suara mereka nyaris terdengar meskipun samar-samar.
"Bagaimana Din, kamu setuju gak? Nanti kalau memang mau aku akan ajak Mira juga buat menemani kamu," ujar Hakim yang suaranya terdengar oleh daun telinga David.
Mira adalah anggota Rohis juga lebih tepatnya dia mempunyai ikatan saudara dengan Hakim sendiri sehingga apapun yang ingin Hakim lakukan dengan perempuan dia akan selalu mengajak Dinda agar tidak terlihat sedang pergi berduaan saja.
Terlihat Najma yang tersenyum kepada Dinda, "Aku boleh ikut Kim kan aku juga mau dapat ilmu baru dari kamu."
"Ya boleh tidak masalah kok nanti aku kabarin lagi deh kalau memang acaranya jadi," ujar Hakim cowok itu tersenyum manis.
"Kalau begitu kita pulang dulu ya Kim." Dinda berpamitan dengan Hakim, tangannya menarik tangan Najma untuk ikut pergi dengannya.
Ketika Dinda sudah menjauh dari Hakim kini saatnya David menghampiri Dinda, dengan segera dia pun bangkit dari duduknya dan meloncati aliran air untuk bisa menghampiri Dinda.
"Eh tunggu tunggu Din," sergah David langsung menghentikan langkah kaki ke dua cewek itu.
"David biasakan untuk mengucapkan salam kalau bertemu!" Dinda memberikan peringatan kepada David, mengetahui sedikit cerita dari cowok itu Dinda berniat menuntun David ke jalan yang benar.
David menepuk jidatnya pelan, "Assalamualaikum," katanya sambil tersenyum.
Meski tidak secara paksa Dinda akan berusaha untuk itu, lagipula tanpa dia ajari pun David sudah menerapkan prilaku baik kepada orang tetapi bukan berarti Dinda ingin berdekatan dengan David dia hanya akan mengubah pola pikir David selama ini agar bisa terbuka lebih luas lagi.
Ketika itu David ingin memberikan Dinda buku novel yang dia beli waktu itu, "Nih gue harap lo mau membacanya gue dengar lo suka membaca buku," kata David seraya mengulurkan buku yang dipegangnya.
Dengan ragu Dinda menatap Najma butuh bantuan akan apa yang harus dia lakukan saat ini ketika sahabatnya itu menganggukan kepalanya diraihnya buku tersebut dari tangan David, "Kamu mau aku baca semuanya?" ujar Dinda dengan mengerutkan keningnya.
Seketika David langsung menganggukan kepalanya, "Iya harus sampai selesai gue akan nanya sesuatu setelah lo membacanya, gue pulang dulu yah kalian hati-hati di jalan!" David berlalu pergi begitu dia berhasil mengobrol dengan Dinda.
Najma memandang kepergian David dia memincingkan matanya, "Kayanya David suka deh sama lo Din," serunya sambil menatap Dinda.
Dinda hanya mengangkat ke dua bahunya, "Entahlah aku tidak pernah berpikir seperti itu kau tahu kemarin aku pergi sama dia untuk membawa kucing yang kemarin aku ceritakan itu loh ke Dokter."
"Seriusan Din, demi apa kamu pergi sama David?" seru Dinda terkejut ke dua bola matanya yang bulat langsung melotot, "Sumpah sih waktu pertama kali aku lihat kamu tersenyum sama David saja itu sudah membuat aku merasa ada yang aneh sama diri kamu Din, sahabat aku tuh dulunya tidak pernah mau mengobrol dengan cowok saking malunya apalagi jalan coba." Najma terus mencerocos bagaikan roket yang siap meluncur ke angkasa.
Dari pada sahabatnya ini terus mencerocos tanpa henti sebab dia telat bercerita Dinda memilih mengajaknya untuk pergi ke taman Raya yang berada tidak jauh dari kampusnya, bagaimana pun Najma harus tahu agar tidak ada kesalahpahaman lagi yang terjadi.
Sore harinya Dinda dan Najma pergi ke saung Atuna yang berada di dekat masjid al-hijrah Hakim mengadakan acara rapat sekaligus tausiyah mengenai acara rohis dalam agenda menyambut bulan suci ramadhan, David ikut pada acara itu dia mengantar Hamdan untuk hadir dengan senang hati dong pastinya David ikut dia ingin mengetahui bagaimana Hakim dan ada hubungan apa cowok itu dengan Dinda.
"Umat Islam selayaknya memahami keutamaan atau fadhilah dari setiap ibadah yang Allah SWT perintahkan. Menurut para ulama pemahaman terhadap keutamaan dalam melaksanakan setiap amal shaleh akan menjadi penyemengat sekaligus akan mendorong kepada peningkatan ketaqwaan seseorang.
"Bulan suci Ramadhan merupakan kesempatan bagi setiap hamba Allah untuk lebih meningkatkan ketakwaan, dikarenakan bulan ini memiliki beberapa keutamaan atau manfaat seperti berikut ini: Ramadhan bulan diturunkannya al-quran diturunkannya al-quran pada bulan ramadhan menjadi bukti nyata atas kemuliaan dan keutamaan bulan ramadhan. Allah SWT berfirman yang artinya : "Bulan Ramadhan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan al-quran, sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan petunjuk tersebut dan pembeda (QS. Al-Baqarah: 185)." Hakim memberikan materi ceramahnya pada malam ini di depan semua anak Rohis berserta Bu Maya yang telah hadir juga bersama mereka.
Dari depan masjid setelah rapat selesai adzan magrib berkumandang jadi mereka harus melaksanakan salat di masjid berserta melanjutkan acaranya yaitu tausiyah yang disampaikan oleh Hakim.
"Oh ternyata Hakim seorang penceramah agama, untung saja Dinda tidak memiliki hubungan apapun selain rekan kerja di Rohis saja tapi gue jadi merasa takut ya? harus gue katakan kalau gue iri dengan Hakim, dia mempunyai pengetahuan agama yang luas serta terdapat kreteria Dinda pada sosok Hakim," desis David dengan sumarah, hatinya tiba-tiba hancur mengetahui kebenaran tentang sosok Hakim yang baru diketahuinya.