Pembalasan Mawar yang Layu
Jejak Darah
Kegelapan koridor lantai bawah seolah menelan sosok Bram, namun cahaya bulan yang pucat sempat menangkap kilatan botol kaca kecil di tangannya.
Cairan di dalamnya berwarna merah kental, berpendar dalam kegelapan dengan cara yang tidak alami. Jantungku mencelos. Aku tahu warna itu. Itu bukan sekadar darah hewan atau pewarna murah; itu adalah darah manusia yang telah dimantrai.
Aku segera menarik diri dari balkon, menyandar pada dinding kamar yang dingin sambil mengatur napas. Sheila yang menggila di bawah sana hanyalah pengalihan—sebuah umpan yang sengaja dilepaskan untuk memancingku keluar.
Bram yang asli, predator yang sebenarnya, sedang menyiapkan sesuatu yang jauh lebih mematikan daripada jimat kain hitam.
Aku meraih ponselku dengan tangan gemetar. Belum sempat aku mengetik pesan pada Adrian, sebuah notifikasi email masuk. Subjeknya membuat darahku seolah berhenti mengalir.
"Rahasia di balik kematian ibumu dan keterlibatan ayah Bram."
Jari-jariku ragu di atas layar. Di kehidupan sebelumnya, aku diberitahu bahwa Ibu meninggal karena komplikasi jantung yang mendadak. Ayah Bram, yang saat itu adalah mitra bisnis Ayah, adalah orang pertama yang datang memberikan bantuan finansial. Itulah alasan mengapa Ayah sangat mempercayai keluarga Dirgantara—sebuah utang budi yang akhirnya dibayar dengan menjodohkanku dengan Bram.
Aku menekan tombol open.
Baru saja paragraf pertama termuat, seluruh aliran listrik di kamarku mati total. Klik. Kesunyian yang mencekam menyergap. Tidak ada lampu tidur, tidak ada dengung pendingin ruangan. Hanya ada suara angin yang berdesir masuk melalui pintu balkon yang sengaja tidak kukunci sesuai instruksi Adrian.
Lalu, suara itu muncul.
Srak... srak... srak...
Suara logam tajam yang digoreskan di lantai kayu koridor. Suara itu pelan namun ritmis, bergerak dari arah kamar Sheila menuju kamarku. Setiap gesekan terasa seperti kuku iblis yang mencakar gendang telingaku.
Aku tidak punya waktu untuk takut. Aku segera meraih koin perak yang kini sudah menghitam dari dalam brankas. Adrian bilang buang ke air mengalir sebelum tengah malam, tapi jam di dinding menunjukkan pukul 23:45. Aku harus keluar dari rumah ini sekarang.
Aku bergerak menuju balkon, bermaksud memanggil pria dengan busur panah yang dikirim Adrian. Namun, saat aku melongok ke bawah, pria itu sudah tidak ada di sana.
Pohon mahoni itu kosong. Yang tersisa hanyalah Sheila yang masih merangkak di tanah, kepalanya mendongak menatapku dengan leher yang berputar hampir 180 derajat.
"Dia... tidak bisa menolongmu, Kak..." Sheila menyeringai di bawah sana, giginya penuh dengan tanah hitam.
Pintu kamarku berderit terbuka.
Aku berbalik secepat kilat. Bram berdiri di ambang pintu, namun dia tidak tampak seperti manusia. Matanya hitam sepenuhnya, dan botol berisi darah itu sudah pecah di tangannya, membasahi jasnya hingga tampak seperti luka terbuka yang menganga. Di tangan kanannya, dia memegang sebilah pisau bedah yang berkilau perak—logam yang tadi menghasilkan suara goresan di koridor.
"Aruna... kenapa kamu harus bangun begitu cepat?" suara Bram terdengar berlapis, seolah ada suara lain yang berbicara bersamanya. "Jika kamu tetap menjadi calon istri yang penurut, aku akan membunuhmu dengan lembut setelah pernikahan kita. Tapi sekarang... kamu merusak segalanya."
"Kamu yang merusak segalanya, Bram!" teriakku, menggenggam koin hitam itu erat-erat. "Korupsi, penggelapan dana, perselingkuhan dengan Sheila... Aku tahu semuanya!"
Bram melangkah maju, pisau bedahnya terangkat. "Tahu saja tidak cukup untuk menyelamatkan nyawamu. Darah ibumu adalah fondasi kekayaan keluargaku, dan darahmu akan menjadi penguncinya."
Darah ibuku? Kata-katanya menyambar kesadaranku. Jadi benar, Ibu tidak mati secara alami.
Saat Bram menerjang, sebuah anak panah melesat dari arah kegelapan balkon, menembus bahu kanan Bram dengan akurasi yang mematikan. Bram terjerembap ke lantai, mengerang dengan suara yang lebih mirip raungan binatang buas daripada manusia.
"Lari, Aruna! Ke arah gerbang belakang!" sebuah suara berat memerintah dari arah taman. Itu pria bertaktis hitam tadi. Dia tidak pergi; dia hanya berpindah posisi untuk mendapatkan sudut tembak yang lebih baik.
Aku tidak membuang waktu. Aku berlari keluar kamar, melewati Bram yang sedang berusaha mencabut anak panah dari bahunya dengan tangan kirinya. Darah hitam yang kental menyembur dari lukanya, menyentuh ubin dan mengeluarkan asap berbau belerang.
Aku berlari menyusuri koridor yang gelap gulita, menuruni tangga dengan kecepatan yang membahayakan nyawaku sendiri. Aku bisa mendengar suara geraman Bram di belakangku, disusul suara Sheila yang mulai memanjat dinding luar rumah seperti serangga.
Aku berhasil mencapai pintu belakang dan berlari menuju area kolam renang yang airnya terus mengalir ke arah drainase. Sesuai instruksi Adrian, aku melemparkan koin hitam itu ke dalam aliran air yang menderu.
Boom!
Sebuah ledakan energi yang tidak terdengar namun terasa seperti gelombang kejut menghantam udara. Air kolam mendadak bergolak hebat, dan di belakangku, suara jeritan Sheila dan Bram pecah bersamaan.
Pembersihan sedang terjadi.
Koin yang telah menyerap kutukan itu kini dinetralkan oleh elemen air, dan semua energi negatif yang terhubung dengannya ditarik kembali ke sumbernya.
Aku jatuh terduduk di tepi kolam, terengah-engah. Di gerbang belakang, sebuah mobil SUV hitam berhenti dengan ban yang mencit. Pintunya terbuka, dan Adrian keluar dengan wajah yang lebih pucat dari biasanya. Dia berlari ke arahku, menarikku berdiri, dan tanpa kata-kata langsung memelukku erat.
Tubuhnya gemetar. Seorang Adrian yang dingin dan tak tersentuh sedang gemetar.
"Aku hampir terlambat," bisiknya, suaranya parau. "Maafkan aku, Aruna. Aku meremehkan seberapa jauh Bram berani menggunakan ilmu hitam keluarganya."
Aku mendongak, menatap matanya yang kini dipenuhi rasa khawatir yang murni. "Adrian... dia bilang darah ibuku... dia bilang ibuku dibunuh untuk kekayaan keluarganya."
Adrian menghela napas panjang, menatap rumah Wijaya yang kini tampak seperti bangunan berhantu dalam kegelapan.
"Itulah alasan mengapa aku menghancurkan mereka di masa lalu. Aku menemukan bukti bahwa ayah Bram menyabotase obat-obatan ibumu. Ayahmu tidak tahu, tapi aku tahu. Aku ingin memberitahumu sejak lama, tapi aku tahu kamu terlalu mencintai Bram saat itu."
Aku tertegun. Jadi motif Adrian menghancurkan Wijaya Group di kehidupan pertamaku bukan karena ingin merampas harta, melainkan untuk menghentikan keluarga Dirgantara sebelum mereka menghancurkanku sepenuhnya. Dia mencintaiku dalam diam, melindungi dari balik bayang-bayang, sementara aku memuja pembunuh ibuku.
"Bawa aku pergi dari sini, Adrian," mintaku dengan suara lirih. "Aku tidak ingin melihat mereka lagi."
Adrian membantuku masuk ke dalam mobil. Saat mobil mulai melaju, aku menoleh ke belakang. Aku melihat Bram berdiri di balkon kamarku dengan bahu yang bersimbah darah, menatap mobil kami dengan tatapan dendam yang belum padam.
Di sampingnya, Sheila tampak meringkuk seperti hewan sakit, kulitnya mulai mengelupas lebih parah dari sebelumnya.