Pembalasan Mawar yang Layu
Perang di Balik Tirai
Udara di dalam kamar mendadak dingin, seolah-olah pendingin ruangan telah disetel ke titik beku dalam sekejap.
Bau busuk yang kukenal—campuran daging busuk dan belerang—menyesakkan paru-paru.
Wanita tua berbaju hitam itu berdiri mematung, jemarinya yang keriput masih menekan jarum panjang tepat ke mata foto ibuku dalam bingkai perak di meja rias.
"Siapa kamu?!" suaraku keluar lebih tajam dari yang kukira. Aku tidak mundur. Rasa takut yang seharusnya melumpuhkanku telah habis terbakar oleh api dendam dari kehidupan masa laluku.
Wanita itu tidak menjawab dengan kata-kata. Dia memutar lehernya dengan bunyi berkerut yang mengerikan, menatapku dengan mata putih pucat tanpa pupil. Seringainya melebar, memperlihatkan gusi hitam yang mengeluarkan cairan kental.
Tiba-tiba, tempat tidur di belakangku bergetar hebat. Kaki-kaki ranjang jati yang berat itu terangkat beberapa sentimeter dari lantai, menghantam ubin dengan bunyi dentum yang menggema.
Jimat hitam yang kusembunyikan di bawah sana—yang telah kulilitkan dengan rambut Sheila—mulai mengeluarkan asap hitam yang tipis namun pekat.
"Darah... bayar darah..." suara wanita itu terdengar seperti gesekan amplas di atas kayu kering.
Dia adalah 'orang pintar' kiriman Bram.
Aku segera menyadarinya. Bram tidak hanya bermain di dunia korporat; dia sedang mencoba mempercepat proses pembusukan jiwaku agar ritual malam bulan purnama lusa berjalan sempurna.
"Kamu salah alamat, Nenek Tua," desisku. Aku merogoh tas tanganku, mencari koin perak kuno pemberian Adrian di kafe tadi.
Saat jemariku menyentuh permukaan dingin logam itu, aku merasakan aliran energi hangat yang menjalar ke seluruh lenganku, kontras dengan hawa sedingin es yang memenuhi kamar.
Aku mengangkat koin itu di depan wajahku. Seketika, wanita tua itu terkesiap. Langkahnya yang semula hendak menerjangku mendadak terhenti seolah kakinya dipaku ke lantai. Matanya yang putih pucat melebar, menatap ngeri pada ukiran mawar layu yang kini bersinar redup di telapak tanganku.
"Logam itu..." gumamnya dengan nada benci sekaligus ketakutan yang murni. "Dari mana kamu mendapatkan benda terkutuk itu?! Kekuatan ini... dia tidak seharusnya ikut campur dalam urusan takdir!"
Tubuhnya gemetar hebat. Ia tampak seperti melihat sosok raksasa di belakangku, padahal aku hanya berdiri sendirian.
Seringainya hilang, digantikan oleh ekspresi waspada yang dalam. Dia mencabut jarum dari foto ibuku dan mengarahkannya padaku dengan tangan yang kini bergetar, seolah-olah jarum itu adalah satu-satunya pelindung yang ia miliki dari pengaruh koin tersebut.
"Benda itu milik penguasa kegelapan yang lebih tua dariku," bisiknya dengan suara serak, mundur perlahan menuju balkon. "Kamu tidak tahu apa yang kamu undang masuk ke dalam hidupmu, Gadis Sialan!"
"Takdirku bukan milikmu untuk diatur," balasku. Aku melangkah maju, membiarkan koin perak itu berkilau di bawah lampu kamar yang berkedip-kedip.
Aku teringat instruksi tersirat Adrian tentang 'energi'. Jika jimat di bawah ranjang adalah antena untuk kutukan ini, maka aku harus memutus frekuensinya.
Aku tidak berlari ke arah wanita itu, melainkan melompat ke arah tempat tidurku. Dengan kekuatan yang tidak pernah kusangka kumiliki, aku menarik sprei dan merangkak ke bawah ranjang.
"Jangan sentuh itu, Gadis Sialan!" teriak si wanita tua. Dia mencoba menerjangku, namun gerakannya lambat, seolah-olah udara di sekitarnya menjadi seberat lumpur sejak koin Adrian dikeluarkan.
Aku berhasil meraih jimat hitam itu.
Rasanya panas, seolah-olah aku memegang bara api yang menyala. Rambut Sheila yang melilitnya tampak menggeliat seperti cacing tanah. Tanpa ragu, aku menempelkan koin perak Adrian tepat di tengah simpul jimat tersebut.
Cesssss!
Bunyi desisan seperti air yang disiram ke besi panas memenuhi ruangan. Asap hitam pekat meledak dari jimat itu, menyelimuti seluruh kolong ranjang. Aku terbatuk, mataku perih, namun aku tidak melepaskannya.
Di atas sana, wanita tua itu memekik nyaring. Suaranya pecah menjadi rintihan kesakitan yang memilukan. Aku merangkak keluar dari bawah ranjang dan melihat pemandangan yang memuaskan: wanita itu terjatuh di lantai, memegangi matanya sendiri. Jarum yang tadi dia pegang telah patah menjadi dua.
"Pembalikan... ahhh! Kutukan itu kembali ke pengirimnya!" teriaknya sambil merayap menuju jendela balkon.
"Katakan pada Bram," aku berdiri tegak, napasku terengah namun mataku berkilat kemenangan. "Waktunya sudah habis."
Wanita itu melompat dari balkon lantai dua dengan kelincahan yang tidak manusiawi, menghilang ke dalam kegelapan taman belakang. Begitu dia pergi, suhu kamar perlahan kembali normal. Lampu berhenti berkedip, dan bau busuk itu memudar, digantikan kembali oleh aroma mawar dari vas bungaku.
Aku terduduk di lantai, lemas. Tanganku yang memegang koin Adrian gemetar hebat. Saat aku membuka telapak tanganku, koin perak itu tidak lagi berkilau; warnanya menjadi kusam dan menghitam, seolah-olah baru saja menyerap racun yang mematikan.
Pintu kamarku tiba-tiba digedor dengan kasar.
"Aruna! Kamu di dalam? Kenapa berisik sekali?" Itu suara Bram.
Aku segera menyembunyikan jimat yang sudah hancur dan koin itu ke dalam brankas kecil di balik lukisan dinding. Aku merapikan rambutku yang berantakan, menghapus keringat di dahi, dan membuka pintu dengan wajah yang diatur sedemikian rupa agar tampak bingung sekaligus takut.
Bram berdiri di sana, matanya liar memindai isi kamarku. Di belakangnya, Sheila berdiri dengan wajah yang masih terbungkus perban, namun matanya yang terbuka tampak penuh harap—harap agar aku sudah ditemukan dalam kondisi gila atau mati.
"Ada apa, Bram? Tadi ada seekor kucing besar masuk lewat balkon dan menjatuhkan beberapa barang. Aku baru saja hendak membersihkannya," ujarku dengan nada bergetar yang dibuat-buat.
Bram melangkah masuk, hidungnya kembang kempis seolah mencari bau sesuatu. Dia menuju ke arah meja rias, melihat bingkai foto ibuku yang sedikit miring. Dia tidak menemukan jarum itu karena aku sudah menyembunyikannya, tapi dia melihat lubang kecil di mata foto tersebut.
"Hanya kucing?" tanya Bram, suaranya dingin dan penuh curiga. Dia menoleh ke arah Sheila, yang tampak kecewa karena aku masih berdiri tegak dengan kulit yang tetap bercahaya.
"Iya, kucing liar yang sangat besar. Dia merusak foto ibuku," aku mulai terisak palsu, menutup wajahku. "Aku sangat takut, Bram. Bisakah kamu menemaniku di sini sebentar?"
Aku sengaja mengulurkan tanganku, hendak menyentuh lengan Bram. Bram secara insting mundur satu langkah. Mungkin teringat peringatan 'orang pintarnya'—bahwa jika kutukan itu berbalik, sentuhan fisik dengan target akan menjadi racun bagi pengirimnya.
"Aku... aku harus membantu Sheila, Aruna. Dia butuh obatnya sekarang," jawab Bram terbata-bata. "Istirahatlah. Aku akan menyuruh pelayan membersihkan kamarmu."
Mereka berdua praktis melarikan diri dari kamarku. Aku menutup pintu dan menguncinya. Senyum sinis merekah di bibirku. Ketakutan Bram adalah konfirmasi bahwa dia tahu apa yang baru saja terjadi.
Aku kembali ke meja rias, mengambil foto ibuku yang rusak.
"Maafkan aku, Ibu. Aku harus meminjam fotomu untuk sandiwara ini. Tapi aku janji, mereka akan membayar setiap tetes air mata yang kita keluarkan."
Malam itu, aku tidak bisa tidur. Aku terus memikirkan dokumen yang ditandatangani di kafe Adrian dan rencana besar di bursa saham minggu depan. Namun, ada sesuatu yang mengganjal di hatiku.
Kenapa Adrian memberikan koin itu? Seolah-olah dia sudah tahu bahwa Bram akan mengirimkan serangan spiritual malam ini.
Aku mengambil ponselku dan mengetik pesan singkat ke nomor Adrian.
“Koinnya berubah warna menjadi hitam. Wanita yang hampir memcelaiku sudah pergi. Terima kasih.”
Hanya butuh sepuluh detik bagi Adrian untuk membalas.
“Buang koin itu ke air mengalir sebelum tengah malam. Jangan biarkan di dalam rumahmu. Dan Aruna... jangan pernah mengunci pintu balkonmu. Aku mengirimkan seseorang untuk menjagamu dari jauh.”
Aku tertegun. Mengirim seseorang?
Aku berjalan menuju balkon dan melihat ke arah taman yang gelap. Di balik bayang-bayang pohon mahoni besar, aku melihat siluet seorang pria yang berdiri diam seperti patung. Dia mengenakan pakaian taktis hitam, dan saat cahaya bulan menyinari wajahnya sesaat, aku menyadari dia memegang busur panah modern yang canggih.
Dia bukan dukun atau orang pintar. Dia adalah tentara bayaran profesional.
Aku menyadari bahwa Adrian benar-benar tidak main-main. Dia tidak melawan sihir dengan sihir; dia melawan pengkhianatan dengan kekuatan militer dan finansial yang mutlak.
Namun, saat aku hendak kembali masuk ke kamar, aku mendengar suara rintihan pelan dari arah bawah balkonku. Aku melongok ke bawah dan melihat Sheila sedang berlutut di tanah, menggali tanah dengan kuku-kukunya yang sudah pecah dan berdarah. Dia tampak gila, memakan sedikit tanah dari area di mana wanita tua tadi jatuh.
"Wajahku... kembalikan wajahku..." gumam Sheila di tengah kegelapan malam.
Aku merinding melihat pemandangan itu. Kutukan itu benar-benar telah menghancurkan kewarasannya.
Tapi yang baru aku sadari adalah, di balik kegilaan Sheila, Bram sedang berdiri di kegelapan koridor lantai bawah, memegang sebuah botol kecil berisi cairan merah kental.