Nilam (Rahasia)

Pasca Ledakan

Seminggu setelah bom atom dijatuhkan Mia di Gedung DPR, Jakarta adalah kota yang terguncang. Aroma ketidakpastian dan kemarahan publik menggantung di setiap sudut jalan, dari pusat kota yang macet hingga gang-gang sempit pemukiman padat. Berita tentang skandal korupsi antara Sudjono dan Nasrullah Abdullah mendominasi setiap lini masa dan setiap siaran televisi, seolah tak ada lagi hal lain yang layak diberitakan. Citra Satria Raja, yang baru saja dinobatkan sebagai harapan perubahan, kini hancur lebur, terlibas roda-roda pengkhianatan yang tak terduga.

Tuntutan pembatalan hasil pemilu, investigasi mendalam oleh KPK dan Kejaksaan Agung, serta seruan untuk penarikan diri Satria dari jabatan presiden terpilih, menggemuruh di mana-mana. Satria Raja, yang seharusnya sibuk menyiapkan transisi kekuasaan, kini terkunci di kediaman pribadinya, sebuah benteng yang tiba-tiba terasa seperti sangkar emas. Ponselnya berdering tanpa henti, dari media yang haus konfirmasi hingga politisi yang ingin menjaga jarak, seolah mereka tak ingin tertular noda yang kini melekat pada namanya.

Tommy, dengan wajah lelah dan mata cekung, adalah satu-satunya yang setia berada di sisinya. Ia tak beranjak, seolah menjadi jangkar di tengah badai yang menerjang sahabatnya. "Situasinya semakin memburuk, Sat," kata Tommy, meletakkan tablet di meja kopi, suaranya berat. Layar tablet menampilkan tajuk utama berita: Presiden Terpilih Terjebak Skandal Dinasti Korupsi.

Satria menatap layar itu dengan pandangan kosong, hatinya dipenuhi kekosongan dan amarah yang samar. "Aku tidak bisa percaya ini. Mia, bagaimana dia bisa melakukan ini?"

Tommy duduk di sofa, menghela napas panjang, sorot matanya menunjukkan kelelahan yang mendalam. "Aku sudah bilang padamu, Sat. Dia punya agendanya sendiri. Dia bukan istri yang pasif yang hanya menerima takdirnya". Tommy teringat kembali percakapannya dengan Tumpal Dongoran, di mana identitas Nilam terkuak. Ia tahu Mia tidak hanya mengungkap korupsi, tetapi juga mungkin secara tidak langsung membalaskan dendamnya pada Sudjono melalui cara ini.

"Dan Nilam," lanjut Tommy, melirik Satria, nadanya penuh pertanyaan. "Dia menghilang tepat setelah kau dinyatakan menang. Kau yakin dia tidak ada hubungannya dengan ini? Aku curiga dia punya peran lebih dari yang kita bayangkan".

Satria merasakan amarah membakar dalam dirinya, sebuah nyala api yang kini bercampur dengan kepedihan. "Aku tidak tahu, Tom. Aku tidak tahu lagi siapa yang bisa kupercaya. Aku mencintainya. Dia bilang dia juga mencintaiku. Tapi apakah semua itu hanya bagian dari rencananya? Apakah aku hanya pion dalam permainan mereka?"

Tommy melihat kerapuhan di mata sahabatnya. Ini bukan lagi Satria Raja yang ambisius dan penuh perhitungan yang dikenalinya. Ini adalah Satria yang terluka, yang dikhianati oleh orang-orang terdekatnya. "Kita harus menghadapinya, Sat. Kau harus bicara kepada publik. Jelaskan posisimu. Sebelum mereka memutuskan segalanya untukmu, sebelum kau kehilangan kendali atas narasi ini".

"Menjelaskan apa?" Satria tertawa sinis, suara pahit. "Menjelaskan bahwa ayahku seorang koruptor? Menjelaskan bahwa istriku sendiri yang mengungkapnya? Menjelaskan bahwa belahan jiwaku menghilang dan mungkin punya motif tersembunyi untuk menjatuhkanku?" Ia meremas rambutnya frustrasi, pikirannya kalut. "Aku tidak punya apa-apa lagi, Tom. Panggungku sudah hancur. Segalanya yang kubangun kini runtuh".

"Tidak," Tommy berdiri, menatap Satria lurus di mata, suaranya tegas dan penuh keyakinan. "Kau masih punya dirimu, Sat. Kau masih punya kebenaranmu. Ramalan itu... kau percaya pada takdir, kan? Mungkin ini adalah bagian dari takdirmu. Bagian dari malapetaka yang harus kau hadapi sebelum kau bisa bangkit lebih kuat".

Hening sesaat. Satria memejamkan mata, membiarkan kata-kata Tommy meresap, mencari kekuatan di tengah kehancuran. "Aku harus bicara dengan ayahku," katanya akhirnya, suaranya pelan tapi tegas, seolah keputusan itu baru saja terbentuk di benaknya. "Aku harus tahu kebenaran dari dia sendiri. Aku butuh jawaban".

***

Nasrullah Abdullah, ayah Satria, adalah sosok yang kini menghadapi badai terbesarnya. Setelah konferensi pers Mia, rumahnya dikerumuni media, aset-aset perusahaannya dibekukan, dan panggilan dari aparat penegak hukum tak henti-hentinya, seolah lingkaran setan telah mengurungnya. Ia duduk di ruang kerjanya yang gelap, ditemani pengacara keluarga, wajahnya kusut dan tegang, garis-garis kekhawatiran terpahat jelas.

Pintu terbuka, dan Satria masuk, langkahnya mantap. Sorot mata Satria dingin, penuh pertanyaan dan kekecewaan yang mendalam. "Apa yang terjadi, Yah?" tanya Satria, tanpa basa-basi, langsung pada intinya. "Mia... apa yang dia ungkapkan itu benar?"

Nasrullah mendongak, menatap putranya. Ada rasa malu di matanya, tetapi juga kemarahan yang membela diri. "Mia itu anak kurang ajar! Dia mengkhianati keluarganya sendiri, mengkhianati suaminya! Dia menghancurkan kita semua!"

"Jangan mengelak, Yah!" Satria membentak, suaranya menggelegar, mencerminkan gejolak emosi di dalam dirinya. "Apakah korupsi itu benar? Apakah konsesi tambang itu ilegal? Apakah... apakah ada orang yang tewas karena ini? Katakan padaku yang sebenarnya!"

Nasrullah menghela napas berat, menatap ke arah pengacaranya seolah meminta bantuan atau dukungan. Pengacara itu hanya menggeleng pelan, memberi isyarat agar Nasrullah jujur, bahwa sudah tidak ada jalan untuk mengelak. "Nak... bisnis itu... itu kompleks," Nasrullah memulai, suaranya bergetar, mencoba mencari pembenaran. "Ada banyak hal yang harus dilakukan untuk bertahan di dunia ini. Terkadang, kita harus mengambil jalan pintas".

"Jalan pintas dengan membunuh orang?" Satria menatap ayahnya jijik, matanya berkilat marah. "Jalan pintas yang menghancurkan integritasku, nama baik yang selama ini kubangun dengan susah payah?"

"Aku melakukan ini untukmu, Satria!" Nasrullah membela diri, putus asa. "Aku ingin memberimu warisan yang kuat, pondasi yang tak tergoyahkan untuk karier politikmu! Aku ingin melihatmu duduk di kursi itu, menjadi pemimpin negara ini!"

"Dan ayah menghancurkannya dengan tanganmu sendiri!" Satria berteriak, amarahnya meledak. "Ayah menghancurkannya dengan rahasia-rahasia kotor ini! Ayah merenggut segalanya dariku!" Ia membalik meja kecil di dekatnya, vas bunga pecah berserakan, cerminan dari kehancuran di hatinya. "Sekarang, aku harus menghadapi semua ini, Yah! Aku harus menanggung akibat dari dosamu! Dan Mia... dia tahu segalanya, dia menunggu saat yang tepat untuk menjatuhkanku, bersamamu!"

Nasrullah menunduk, tak mampu menatap mata putranya. Ia tahu, ia telah kehilangan segalanya. Putranya, warisannya, bahkan mungkin kebebasannya sendiri. "Aku akan menghadapi ini, Yah," kata Satria, suaranya kembali datar, dingin, namun dengan ketegasan yang mutlak. "Tapi ini adalah pertarunganmu, dan aku tidak akan melindungimu dari konsekuensinya. Aku akan berdiri di jalur kebenaran, bahkan jika itu berarti aku harus jatuh bersamamu. Aku tidak akan berkompromi dengan kebohongan lagi. Semua cukup sampai di sini. Tak ada lagi yang bisa aku bela.”

Satria berbalik, meninggalkan ayahnya dalam kesunyian yang mencekam. Ini adalah perpisahan yang pahit, namun perlu. Ia harus memutuskan ikatan dengan masa lalu yang busuk ini, membebaskan dirinya dari beban yang bukan miliknya.

***

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!