Nilam (Rahasia)
Di Ujung Tanduk
Nilam terbangun dengan perasaan aneh. Ada firasat. Ia menyalakan laptopnya, langsung membuka portal berita internasional. Judul berita utama membuat matanya membelalak:
ISTRI PRESIDEN TERPILIH UNGKAP SKANDAL KORUPSI BESAR LIBATKAN AYAH DAN MERTUANYA.
Nilam membaca berita itu dengan cepat, napasnya tertahan. Mia. Mia telah melakukannya. Ia menjatuhkan Sudjono dan Nasrullah Abdullah. Mia juga mengajukan gugatan cerai.
Ada campuran perasaan dalam diri Nilam. Kekaguman atas keberanian Mia, sekaligus kecemasan mendalam. Mia telah bergerak lebih cepat, lebih mematikan, dan lebih publik dari yang ia bayangkan. Misi dendamnya terhadap Sudjono seolah terwujud, tetapi bukan oleh tangannya. Informasi yang ia unggah semalam, tentang investigasi global terkait perusahaan cangkang dan aliran dana gelap, kini terasa tenggelam oleh gelombang "bom" yang dijatuhkan Mia.
Nilam teringat percakapan terakhirnya dengan Mia di restoran. "Bayangan adalah tempat paling aman untuk menikam." Mia telah membuktikan kata-katanya. Ia telah bersembunyi di balik bayangan, mengumpulkan bukti, dan menikam di saat yang paling tidak terduga.
Apa artinya ini bagi Satria? Reputasinya, kemenangan yang baru saja diraihnya, kini hancur lebur. Skandal ini akan menjadi noda hitam yang tak terhapuskan.
Nilam meraih ponsel rahasianya. Mengaktifkannya. Ratusan pesan masuk, dari Satria.
Nilam, di mana kamu?
Aku butuh kamu sekarang.
Mia... dia melakukan sesuatu yang gila.
Ini semua... ini semua karena kamu benar.
Nilam membaca pesan-pesan itu, air matanya menetes. Ia ingin menjawab, ingin berada di sana untuk Satria. Tapi ia tahu, ia tidak bisa. Perannya sudah selesai. Ia sudah menghilang. Ia adalah Clara Schmidt sekarang. Identitasnya di Jakarta telah hangus.
Ia kembali membuka forum jurnalis investigasi. Namun, di balik semua itu, ada pertanyaan yang mengganggunya. Apakah ini adalah bagian dari "malapetaka" yang diramalkan Abah Yusman? Malapetaka yang akan datang jika mereka salah memilih pasangan?
Nilam merasa sesak. Ia telah melakukan ini untuk ibunya. Untuk membalas dendam. Tapi harga yang harus dibayar terasa begitu mahal. Nilam mengorbankan segalanya. Termasuk Satria.
***
Tumpal Dongoran menonton siaran langsung konferensi pers Mia dengan ekspresi campur aduk. Ada kepuasan karena kebenaran terungkap, tetapi juga kemarahan yang mendalam. Mia, putri Sudjono, telah melakukan apa yang ia coba lakukan.
"Anak itu... anak Sudjono itu," Tumpal bergumam, menggebrak meja. "Dia berani sekali. Tapi dia juga menjatuhkan Satria Raja!"
Jurnalis yang ia panggil sebelumnya duduk di hadapannya, mencatat setiap detail. "Ini skandal terbesar dalam sejarah politik kita, Pak Tumpal. Citra Pak Satria hancur. Hasil pemilu bisa dibatalkan. Masalah ini sangat di luar prediksi. Apakah anda sudah mengetahui kalau Sujono terlibat sejauh ini?"
"Ya. Aku tahu. Itu konsekuensinya," Tumpal berkata dingin. "Dan Nilam... dia menghilang. Jadi dia memang tahu ini akan terjadi. Dia adalah dalang di balik semua ini, atau setidaknya, dia bagian dari rencana ini."
Tumpal Dongoran merasakan amarahnya membuncah. Nilam, anak yang ia sayangi, yang ia percaya, yang ia persiapkan untuk memimpin firmanya, telah mengkhianati dirinya dan keluarganya. Ia tidak hanya menyembunyikan perceraiannya, tetapi juga menjadi bagian dari skandal yang menjatuhkan presiden terpilih.
"Aku tidak akan membiarkan ini berakhir di sini," Tumpal berkata, matanya menyala penuh dendam. Ia mengepalkan tangannya di atas meja. "Aku akan menggali lebih dalam. Aku akan mencari tahu siapa yang menarik benang di balik semua ini. Aku akan mencari Nilam. Dia harus bertanggung jawab."
Ia tahu, ini bukan hanya tentang politik atau korupsi lagi. Ini adalah masalah personal. Pengkhianatan yang harus dibayar mahal.
***
Satria Raja, dengan wajah pucat dan mata kosong, diantar keluar dari aula konferensi pers oleh Tommy dan beberapa pengawal. Jurnalis terus mengerumuni mereka, meneriakkan pertanyaan yang memojokkan.
"Pak Satria, bagaimana tanggapan Anda atas pengakuan Ibu Mia?"
"Apakah Anda tahu tentang korupsi ayah Anda?"
"Apakah Anda terlibat dalam skandal ini?"
“Pak Satria, tolong berikan tanggapan anda terkait keterangan yang diberikan oleh Ibu Mia.”
“Pak Satria, apakah ini bagian dari trik politik anda?”
Satria tidak menjawab. Ia hanya berjalan lurus, seolah tidak mendengar apa pun. Tommy berusaha keras melindunginya dari serbuan media, sesekali membisikkan instruksi kepada pengawal untuk membuka jalan.
Di dalam mobil, Satria duduk diam. Tangannya gemetar. Kemenangannya, impiannya untuk "Perubahan Baru," semua hancur dalam hitungan menit. Oleh Mia. Istrinya sendiri.
"Aku... aku tidak percaya ini," bisik Satria, suaranya nyaris tidak terdengar.
Tommy menatap sahabatnya dengan iba. "Aku sudah memperingatkanmu, Sat. Mia bukan perempuan biasa. Dan Nilam... dia juga tahu. Dia mungkin sudah merencanakan ini semua. Mereka perempuan-perempuan hebat dengan kecerdasan yang sulit sekali kita bayangkan." Tommy berhenti sejenak, wajahnya menunjukkan keprihatinan yang mendalam. "Kita harus bersiap menghadapi badai media dan juga penyelidikan hukum, Sat. Ini akan sangat berat. Kamu harus kuat. Lawanmu adalah orang-orang yang tahu kelemahanmu."
Satria teringat pesan-pesan Nilam di Singapura. "Aku punya misi lain, Satria. Misi yang sudah lama kumulai. Dan itu membutuhkan aku untuk menghilang dari peta. Aku tidak mau kamu masuk dalam pusaran itu. Sebaiknya kamu pergi menuju jalanmu sendiri." Apakah Nilam tahu ini akan terjadi? Apakah Nilam sengaja menggunakannya untuk mencapai tujuannya?
Amarah dan kekecewaan melandanya. Ia mencintai Nilam. Ia percaya pada kejujuran yang mereka temukan. Tapi kini, semua terasa seperti kebohongan besar.
"Aku harus menemukan Nilam," Satria berkata, matanya kini memancarkan tekad yang berbeda. Bukan lagi tekad seorang politikus, melainkan tekad seorang pria yang merasa dikhianati dan mencari jawaban. "Aku harus tahu kebenarannya. Aku harus tahu apa perannya dalam semua ini."
Tommy mengangguk. "Aku akan membantumu. Tapi ini tidak akan mudah, Sat. Dunia akan berbalik melawanmu. Dan penegak hukum akan mengejar. Ayahmu, Sudjono... semuanya akan terbongkar."
Satria menghela napas. Ia adalah presiden terpilih yang baru saja jatuh dari tahtanya sebelum sempat duduk di sana. Ia adalah pria yang baru saja menyadari bahwa "malapetaka" yang diramalkan Abah Yusman telah tiba. Dan malapetaka itu datang, bukan dari satu arah, melainkan dari segala penjuru.
***
Di aula konferensi pers, Mia masih berdiri di podium, menjawab pertanyaan para jurnalis dengan tenang dan lugas. Wajahnya adalah perwujudan kekuatan dan kontrol. Ia telah mengendalikan panggungnya. Ia telah melancarkan pukulan mematikan.
Dan di suatu tempat di Eropa, Nilam, dengan identitas barunya, mengaktifkan ponsel rahasianya lagi. Ada pesan baru dari forum investigasi:
Laporan awal Anda mengarah pada sebuah kasus besar. Terus berikan informasi.
Permainan baru saja dimulai. Pertarungan yang sebenarnya. Antara kebenaran, dendam, dan kekuasaan. Dan nasib Satria Raja, yang kini tergantung di ujung tanduk, akan menjadi pusat dari badai ini.
***