Nilam (Rahasia)
Kejutan Dari Mia
Satria Raja, di tengah pesta kemenangan yang masih berlangsung di markasnya, merasakan hatinya kosong. Suara bising dan sorakan pendukungnya terasa seperti gaung kosong. Ia mencari Nilam di antara kerumunan, tetapi sosok perempuan itu tak juga ditemukan. Ia mencoba menelepon ponsel utamanya lagi, hasilnya sama: mati. Ia mengirim pesan lagi ke ponsel rahasia Nilam:
Nilam, tolong balas. Aku mencemaskanmu.
Tak ada balasan.
Satria berjalan menjauh dari kerumunan, menuju balkon yang lebih sepi. Ia menarik napas dalam, membiarkan udara malam yang dingin menampar wajahnya. Kemenangan ini terasa hambar tanpa kehadiran Nilam. Ia teringat kata-kata Tommy: Nilam adalah putri kandung Sudjono. Dan Mia, istrinya, yang mungkin tahu lebih banyak dari yang ia duga. Satria merasa dikhianati dari berbagai sisi. Ia adalah presiden terpilih, tetapi ia juga adalah pria yang baru saja menyadari bahwa ia telah menjadi bidak dalam permainan yang lebih besar, jauh lebih rumit, dari yang ia kira.
Tiba-tiba, ponsel Satria berdering. Tertera nama Mia. Ia mengangkatnya.
"Sat," suara Mia terdengar tenang, tetapi dingin. "Besok pagi, pukul sembilan, di Gedung DPR. Akan ada konferensi pers penting. Aku ingin kau datang".
Satria mengerutkan kening. "Konferensi pers apa? Aku tidak ada agenda itu".
"Agenda yang akan mengubah segalanya," jawab Mia. "Ini tentang kebenaran. Kebenaran yang selama ini kita sembunyikan".
Mia tidak menunggu jawaban Satria. Ia menutup telepon.
Satria berdiri terpaku. Ada sesuatu dalam suara Mia, nada yang penuh tekad, yang membuat bulu kuduknya meremang. Ia tahu, ini bukan tentang kemenangan politik lagi. Ini tentang perang pribadi yang baru saja dimulai. Perang yang melibatkan rahasia gelap keluarganya, keluarga Mia, dan juga Nilam.
Ia melihat kembali ke dalam ruangan, tempat pesta kemenangan masih berlangsung. Ia adalah presiden terpilih. Tetapi kini, ia merasa lebih rentan dari sebelumnya.
***
Di suatu tempat di Eropa, Nilam mematikan laptopnya. Informasi sudah terkirim. Bola sudah mulai bergerak.
Di Jakarta, Mia mempersiapkan flash drive-nya. Ia siap menjatuhkan bom.
Dan Tumpal Dongoran, dengan jaringannya yang luas, sudah bersiap menangkap mangsanya.
Badai belum berlalu. Ia baru saja dimulai.
***
Pagi itu, Jakarta diselimuti kabut tipis, seolah menyembunyikan rahasia yang akan segera terkuak. Udara terasa dingin menusuk, namun ketegangan yang merayap di bawah permukaan jauh lebih menusuk daripada cuaca. Ini adalah hari di mana kebenaran akan menemukan jalannya, di panggung yang tidak pernah terpikirkan.
Di Gedung DPR, aula konferensi pers dipenuhi jurnalis dari berbagai media. Kamera-kamera telah terpasang, mikrofon-mikrofon berdiri tegak di podium, menanti pembicara yang tak terduga. Biasanya, aula ini ramai dengan politisi yang haus sorotan, tetapi pagi ini, fokus tertuju pada satu nama yang telah memicu rasa penasaran seluruh negeri sejak panggilan telepon misterius Mia kepada Satria tadi malam.
Satria Raja tiba di Gedung DPR dengan raut wajah keras, matanya menatap tajam ke sekeliling. Ia mengenakan setelan jas gelap, namun di balik citra presiden terpilih yang baru, ia merasakan ketidakpastian yang menggerogoti. Tommy mendampinginya, wajahnya juga tegang, sesekali melirik Satria dengan cemas. Mereka berdua tidak tahu persis apa yang akan diungkap Mia, tetapi firasat buruk menghantui mereka sejak telepon semalam.
"Kau yakin ini ide yang bagus, Sat?" bisik Tommy, mencoba menahan Satria sebelum masuk ke aula. "Kita tidak tahu apa yang akan Mia katakan. Bisa menghancurkan segalanya."
"Aku harus datang, Tom," jawab Satria datar. "Aku harus tahu apa yang akan terjadi. Ini panggungnya, tapi aku tidak akan membiarkannya bermain sendiri."
Saat Satria dan Tommy masuk, kilatan lampu kamera langsung menyambut mereka. Para jurnalis berbisik-bisik, spekulasi bertebaran di udara. Satria hanya mengangguk tipis, menuju kursi di barisan depan yang telah disiapkan untuknya. Ia menatap podium, tempat Mia akan berdiri sebentar lagi. Hatinya bergemuruh, antara amarah, kebingungan, dan rasa takut kebenaran macam apa yang akan terkuak.
Tepat pukul sembilan, Mia muncul. Dia tidak didampingi siapa pun. Mengenakan kebaya berwarna gelap yang sederhana namun elegan, rambut disanggul tinggi, dan tanpa riasan berlebihan. Penampilannya kontras dengan kemewahan yang biasa ia pamerkan di acara kampanye. Wajahnya tenang, bahkan hampir tanpa ekspresi, seperti patung marmer. Namun, di matanya ada sorot tajam yang menunjukkan tekad baja. Keheningan merayap di aula saat Mia melangkah ke podium. Semua mata tertuju padanya. Ia mengambil napas dalam, memegang mikrofon, dan pandangannya menyapu kerumunan jurnalis, lalu berhenti sejenak di wajah Satria. Ada secercah emosi yang sulit diartikan di sana, mungkin kesedihan, mungkin kelelahan, atau mungkin kepuasan yang dingin.
"Selamat pagi," suara Mia terdengar jelas dan tenang, menggema di seluruh aula. "Saya tahu kehadiran saya di sini pagi ini mungkin mengejutkan banyak pihak. Terutama di tengah euforia kemenangan suami saya, Satria Raja, sebagai presiden terpilih."
Para jurnalis mulai mencatat dengan cepat. Satria mencondongkan tubuhnya ke depan, mendengarkan setiap kata.
"Saya berdiri di sini bukan sebagai istri dari seorang presiden terpilih," lanjut Mia, suaranya sedikit meninggi. "Saya berdiri di sini sebagai Mia Sudjono, putri dari Sudjono, dan sebagai warga negara yang merasa memiliki tanggung jawab moral untuk mengungkap sebuah kebenaran."
Nama Sudjono Utama yang disebut Mia langsung memicu keributan kecil di antara jurnalis. Satria merasakan darahnya berdesir dingin. Ia tahu ayahnya, Nasrullah Abdullah, memiliki hubungan bisnis yang panjang dan rumit dengan Sudjono. Ini adalah awal dari badai yang sesungguhnya.
"Selama bertahun-tahun," Mia melanjutkan, tatapannya kini lurus ke depan, seolah berbicara kepada seluruh bangsa. "Ada banyak hal yang tersembunyi di balik tirai kekuasaan dan kemewahan. Ada banyak kepentingan yang bermain, banyak kesepakatan di bawah meja, dan banyak hal yang dikorbankan demi kekayaan dan posisi."
Ia berhenti sejenak, mengambil napas, lalu melanjutkan dengan nada yang lebih berat. "Saya memiliki bukti kuat tentang praktik korupsi dan kolusi berskala besar yang melibatkan dua nama besar dalam dunia bisnis dan politik di negara ini."
Jantung Satria berdebar kencang. Ia tahu ke mana arah pembicaraan ini. Tommy di sampingnya sudah terlihat sangat pucat.
Mia mengangkat sebuah flash drive kecil di tangannya. "Bukti ini, yang telah saya kumpulkan secara pribadi selama bertahun-tahun, mencakup detail tentang konsesi tambang ilegal di Kalimantan, pengalihan dana gelap melalui perusahaan cangkang di luar negeri, dan keterlibatan beberapa pejabat tinggi dalam praktik-praktik tersebut." Ia menatap lurus ke arah kamera, ekspresinya tak tergoyahkan. "Bukti ini juga mencakup penyelidikan yang dibungkam, dan bahkan... kecelakaan misterius yang menewaskan seorang aktivis lingkungan yang berani mencoba membongkar semua ini bertahun-tahun lalu."
Aula konferensi pers langsung riuh. Jurnalis berebut mengajukan pertanyaan, kamera-kamera berkedip tanpa henti. Ini adalah berita yang akan mengguncang pondasi republik.
Satria tidak bisa lagi duduk diam. Ia bangkit dari kursinya, tetapi Tommy menahan lengannya. "Jangan, Sat. Biarkan dia bicara."
Mia tidak terpengaruh oleh keributan itu. Wajahnya tetap tenang. "Dua nama besar yang terlibat dalam jaringan ini adalah ayah saya sendiri, Sudjono, dan Nasrullah Abdullah, ayah dari suami saya, presiden terpilih."
Mia sudah menyalaka bom atom. Aula meledak dalam teriakan jurnalis, kilatan lampu yang memekakkan, dan bisikan-bisikan terkejut. Reputasi Satria Raja, yang baru saja memenangkan kursi kepresidenan dengan janji "Perubahan Baru," kini tergantung di ujung tanduk.
Satria merasakan seluruh dunia di sekitarnya runtuh. Ayahnya. Korupsi. Kecelakaan. Semua rahasia kotor yang selama ini tersembunyi di bawah karpet kekuasaan mendadak tersingkap, menusuknya seperti belati tajam. Ia ingat bagaimana ayahnya selalu menekan pentingnya "warisan" dan "kekuatan", namun tak pernah ia sangka warisan itu berlumur darah dan kebohongan.
"Saya tidak berencana mengungkapkan ini sebelumnya," lanjut Mia, suaranya nyaris berbisik namun terdengar jelas di mikrofon. "Saya berharap bisa mengubah situasi ini dari dalam. Namun, kebenaran tidak bisa lagi dibungkam. Dan saya, sebagai putri dari salah satu pihak yang terlibat, merasa berkewajiban untuk membersihkan nama baik keluarga saya dan negara ini."
Ia mengambil napas, lalu pandangannya kembali tertuju pada Satria. Sorot matanya kini memancarkan campuran kesedihan dan keteguhan hati. "Saya mencintai suami saya. Saya mendukungnya dalam setiap langkahnya. Namun, cinta dan kebenaran adalah dua hal yang berbeda. Dan saya tidak bisa berkompromi dengan kebenaran."
"Dengan ini, saya menyerahkan semua bukti yang saya miliki kepada Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dan Kejaksaan Agung. Saya siap bekerja sama sepenuhnya untuk memastikan keadilan ditegakkan."
Mia mengangkat flash drive itu lebih tinggi. Kilatan cahaya dari kamera memantul di permukaannya. "Dan saya juga menyatakan bahwa saya akan mengajukan gugatan cerai kepada Satria Raja, untuk memastikan tidak ada konflik kepentingan yang akan menghambat proses hukum ini."
Pernyataan terakhir itu adalah paku terakhir di peti mati citra sempurna Satria. Jurnalis tersentak, lalu kembali merangsek maju, meneriakkan pertanyaan.
"Bu Mia, apakah Satria Raja terlibat? Apakah dia tahu tentang ini?"
Mia menggelengkan kepala. "Saya tidak bisa berbicara tentang keterlibatan suami saya. Biarkan penegak hukum yang menentukan. Saya hanya ingin memastikan kebenaran terungkap, tidak peduli siapa yang harus jatuh."
Satria berdiri mematung. Kata-kata Mia, pengkhianatan ini, terasa lebih menyakitkan daripada apapun yang pernah ia alami. Ia tidak pernah menyangka, Mia, istrinya yang pendiam, yang selalu berada di bayangannya, akan menjadi orang yang menjatuhkannya dari puncak. Selama ini ia sibuk dengan Nilam dan ramalan, ia lupa bahwa musuh bisa datang dari tempat yang paling tidak terduga. Ia teringat janji pernikahannya, sumpah setia yang kini hancur berkeping-keping di depan mata seluruh bangsa.
***