Nilam (Rahasia)
Nilam Hilang
Jakarta mendidih. Bukan hanya karena terik matahari yang menyengat, tetapi karena euforia kemenangan Satria Raja yang masih terasa di setiap sudut kota. Media massa tak henti-hentinya memberitakan sosok presiden terpilih, menyoroti setiap detail kehidupannya, dari pidato kemenangannya yang berapi-api hingga senyum sempurna sang istri, Mia. Namun, di balik panggung gemerlap itu, bayangan kegelisahan mulai merayap di kalangan terdekat Satria.
Di kantor pusat tim sukses yang kini menjadi markas transisi, Riko mondar-mandir. Keringat dingin membasahi pelipisnya. Sudah seminggu sejak Nilam menghilang. Ponsel utamanya mati total, media sosialnya tidak pernah aktif. Semua jejak Nilam seolah lenyap ditelan bumi. Riko mencoba menghubungi teman-teman dekat Nilam, bahkan keluarga Barton Dongoran, tetapi hasilnya nihil. Tidak ada yang tahu di mana Nilam berada.
"Apa yang terjadi dengan Ibu Nilam?" tanya salah seorang staf dengan nada khawatir. "Dia tidak pernah seperti ini. Pemilu sudah selesai, seharusnya dia ada di sini untuk perayaan".
Riko hanya bisa menggeleng. "Aku tidak tahu. Tapi ini bukan pertanda baik". Ia tahu Nilam terlalu sistematis untuk menghilang begitu saja tanpa jejak atau penjelasan. Firasat buruk mulai menghantuinya.
Satria Raja, meskipun sibuk dengan rapat koordinasi dan persiapan transisi kekuasaan, juga merasakan kegelisahan yang sama. Pesan-pesan yang ia kirim ke ponsel rahasia Nilam tak pernah terbalas. Ketiadaan Nilam di momen kemenangan ini terasa seperti lubang menganga di hatinya. Ia tahu Nilam punya rencana untuk pergi, tapi ia tidak menyangka akan secepat ini, dan sehilang ini. Janji yang ia buat di Singapura untuk menghadap Mia terasa begitu hampa jika Nilam sudah tidak ada di sisinya.
Ia mencoba menghubungi Tommy, berharap sahabatnya itu punya informasi. "Nilam menghilang, Tom," kata Satria di telepon, suaranya sarat kecemasan. "Aku tidak bisa menghubunginya".
Tommy, yang sedang berada di kantornya, menopang dagu. "Aku sudah menduga. Dia terlalu rapi untuk meninggalkan jejak," ujarnya perlahan. "Aku pernah bilang padamu, dia punya motif lain".
"Motif apa? Dia mencintaiku, Tom. Aku bisa merasakannya." Nada suara Satria meninggi, sedikit frustrasi.
"Cinta dan ambisi bisa berjalan beriringan, Sat," jawab Tommy, suaranya tenang tapi tajam. "Aku sudah memberitahumu, Nilam adalah putri kandung Sudjono. Anak yang tidak diakui. Dan sekarang, dia menghilang setelah membantumu mencapai puncak".
Satria terdiam. Informasi itu menghantamnya seperti palu godam. Putri kandung Sudjono? Selama ini, ia hanya tahu Nilam sebagai ahli strategi brilian yang datang entah dari mana. Selama ini, ia mengira ketertarikan Nilam padanya murni karena perasaan. Konfirmasi dari Tommy itu membuat puzzle besar dalam benaknya mulai tersusun, tetapi dengan gambar yang jauh lebih mengerikan.
"Bagaimana kau tahu?" Satria bertanya, suaranya bergetar.
"Pak Tumpal Dongoran yang memberitahuku," jawab Tommy. "Dia sedang menggalinya. Dia tidak senang dengan perceraian Nilam dan Barton. Dan dia curiga ada hubungannya denganmu, atau lebih tepatnya, dengan Sudjono".
Satria merasakan dingin merayapi punggungnya. Jaringan rahasia yang ia dan Nilam bangun ternyata sudah terbaca. Tumpal Dongoran, mantan mertua Nilam, adalah singa tua yang kini terbangun dari tidurnya. Dan ia sudah memiliki informasi yang bisa menghancurkan citra bersih Satria.
"Tommy, kau harus membantuku," desak Satria. "Temukan Nilam. Aku harus tahu apa yang dia rencanakan".
"Dia sudah merencanakan semuanya dengan matang, Sat. Aku jamin dia tidak ingin ditemukan. Tapi ada satu hal lagi yang perlu kau tahu, yang mungkin lebih penting dari Nilam saat ini".
"Apa?"
"Mia. Istrimu. Dia juga tahu banyak hal. Lebih dari yang kau bayangkan". Tommy sengaja tidak merinci, membiarkan Satria mencerna sendiri.
Satria menutup telepon. Otaknya berputar cepat. Mia, istri yang selama ini ia anggap polos, ternyata juga menyimpan rahasia. Dan Nilam, belahan jiwa yang baru saja ia temukan, ternyata adalah anak musuh potensialnya, dengan dendam yang tersembunyi. Satria merasa seperti bidak catur yang baru saja menyadari bahwa ia dimainkan oleh dua pemain catur ulung.
***
Di kediaman pribadi keluarga Sudjono, Mia duduk di ruang kerjanya yang elegan, memandangi laporan keuangan yang bertebaran di mejanya. Sesekali, ia menyentuh layar laptop dengan ujung jarinya, menimbang setiap angka. Tangannya memegang sebuah berkas tebal dengan sampul merah bertuliskan "RAHASIA". Itu adalah laporan investigasi internal yang ia kumpulkan selama bertahun-tahun , bukti-bukti korupsi dan kolusi antara perusahaan ayahnya, dan perusahaan ayah Satria. Termasuk detail tentang konsesi tambang ilegal dan dana gelap yang mengalir ke kantong-kantong pribadi.
Ia tersenyum tipis, senyum yang sama dinginnya dengan ibunya. Kemenangan Satria adalah panggung yang sempurna. Semakin tinggi ia terbang, semakin keras ia akan jatuh. Dan Mia akan memastikan ia jatuh tepat pada saat yang paling mematikan.
Ponsel Mia bergetar. Sebuah pesan dari nomor tak dikenal.
Konferensi pers besok pagi. Jam 9. Gedung DPR.
Mia tahu ini adalah pesan dari Arif. Dia sudah menyiapkan segalanya. Ini adalah saatnya dia mengambil kembali panggungnya. Ia membalas singkat: Siap.
Mia berdiri, berjalan menuju lukisan besar di dinding yang menggambarkan pemandangan tambang luas di Kalimantan. Di balik lukisan itu, ada brankas kecil. Ia membuka brankas itu, mengambil sebuah flash drive kecil, dan menyelipkannya ke dalam dompetnya. Bukti yang akan mengguncang Indonesia.
"Kau tidak bisa menghentikanku, Papa," bisik Mia, menatap lukisan itu seolah melihat ayahnya sendiri. "Dan kau tidak bisa menghentikan kebenaran. Sekarang, aku akan menunjukkan siapa yang benar-benar memegang kendali".
***
Nilam menatap salju yang turun tipis dari jendela apartemennya. Suasana tenang, jauh dari hiruk pikuk Jakarta dan intrik politik. Nama yang ia gunakan sekarang adalah Clara Schmidt, sebuah identitas baru yang ia persiapkan dengan sangat matang. Ia sudah menghapus semua jejak digitalnya, memutuskan kontak dengan masa lalu, kecuali satu hal: ponsel rahasianya. Ponsel itu ia biarkan mati, namun tidak ia hancurkan. Terlalu banyak kenangan, terlalu banyak perasaan yang terikat pada benda kecil itu.
Setiap pagi, Nilam melakukan rutinitas yang sama. Bangun, berolahraga, lalu duduk di depan laptopnya. Ia tidak lagi bekerja untuk Satria Raja. Kini, ia bekerja untuk dirinya sendiri. Misi dendamnya belum usai. Justru, ia baru akan memulainya dari sini.
Ia membuka sebuah dark web forum yang khusus membahas jurnalisme investigasi global. Dengan identitas baru, ia mulai mengunggah sebagian kecil dari data yang ia kumpulkan selama bertahun-tahun tentang Sudjono dan Nasrullah Abdullah. Data tentang konsesi tambang ilegal, tentang dana gelap yang dialihkan melalui perusahaan cangkang di luar negeri, dan tentang kecelakaan misterius yang menewaskan seorang aktivis lingkungan. Ia melakukannya dengan sangat hati-hati, menggunakan VPN dan server berlapis agar tidak bisa dilacak.
Ini adalah permainannya. Permainan yang ia pelajari dari Tumpal Dongoran, pria yang pernah menjadi mertuanya. Bagaimana menjatuhkan lawan dengan informasi yang tepat, tanpa perlu mengotori tangan sendiri. Ia akan membiarkan jurnalis investigasi global melakukan pekerjaannya, dan membiarkan dunia melihat kebenaran.
Tiba-tiba, ponsel rahasia yang baru dia nyalakan, bergetar. Panggilan masuk. Dari nomor yang tidak ia kenal, tetapi ia tahu siapa pemiliknya. Satria.
Nilam menatap layar ponsel itu lama. Jantungnya berdebar kencang. Ia ingin mengangkatnya, ingin mendengar suara pria itu, ingin menjelaskan segalanya. Tetapi ia tahu, ia tidak bisa. Belum. Misinya belum selesai.
Ia membiarkan panggilan itu terputus. Lalu, ia membuka folder rahasia di laptopnya. Sebuah foto. Foto seorang wanita muda, ibunya, tersenyum dengan seorang pria tampan yang sangat mirip dengan Sudjono. Dan di baliknya, tulisan tangan ibunya:
Ini adalah ayahmu, sayang. Dia tidak pernah tahu kamu ada.
Air mata menetes di pipi Nilam, air mata yang jarang sekali ia tunjukkan. Dendam ini adalah alasan utamanya. "Ini belum berakhir, Papa," bisik Nilam, menatap foto itu. "Ini baru permulaan".
***