Mimpiku Tergadai Kemiskinan Bapak

Saraf-saraf yang Memberontak

Tiga minggu telah berlalu sejak insiden di rumah sakit, namun bau antiseptik seolah masih menempel di pori-pori kulit Tegar. Pagi ini, udara di lintasan atletik Stadion Manahan terasa lebih dingin dari biasanya. Kabut tipis masih menyelimuti tribun yang kosong, menciptakan suasana sunyi yang mencekam.

Tegar duduk di bangku tepi lintasan, menatap kaki bioniknya yang tergeletak di sampingnya. Benda itu—yang dulu ia anggap sebagai sayap—kini terlihat seperti monster logam yang siap mengkhianatinya kapan saja.

"Jangan hanya ditatap, Gar. Dia tidak akan terpasang sendiri dengan kekuatan pikiran," suara Coach Hendra memecah keheningan. Pria itu berdiri dengan jaket parasutnya, memegang stopwatch yang tergantung di lehernya seperti kalung kutukan.

Tegar menarik napas panjang. Dengan tangan yang sedikit gemetar, ia mulai memasang socket karbon ke pangkal pahanya. Rasa ngilu yang tumpul langsung menjalar. Meski luka luarnya sudah menutup dan jahitan telah dilepas, jaringan otot di dalamnya masih terasa seperti gumpalan daging yang trauma.

"Pelan-pelan, Gar," bisik Andre, sang terapis, yang setia mendampingi di sisi kiri. "Ingat prinsip kita: sinkronisasi, bukan paksaan."

Begitu kunci socket berbunyi klik, Tegar berdiri. Tubuhnya limbung sejenak. Ia merasa seperti bayi yang baru belajar berdiri di atas es yang licin.

"Hari ini, kita tidak bicara soal kecepatan," Coach Hendra melangkah ke lintasan lari. "Kita bicara soal rasa. Saya mau kamu berjalan sepuluh meter. Tapi, saya ingin kamu merasakan setiap milimeter pergerakan sendi hidrolik itu seolah itu adalah tulangmu sendiri."

Tegar mengangguk. Ia melangkah.

Langkah pertama. Kaki bioniknya mendarat dengan bunyi dentang yang ganjil. Tegar memejamkan mata, mencoba mengirimkan sinyal dari otaknya menuju ujung saraf yang kini bersentuhan dengan sensor elektroda.

"Kosong, Coach... Saya tidak merasakan ujungnya," rintih Tegar. Keringat mulai menetes di pelipisnya.

"Fokus! Bayangkan darahmu mengalir masuk ke dalam kabel-kabel itu!" seru Coach Hendra.

Tegar mencoba lagi. Namun, trauma itu lebih kuat dari kemauannya. Setiap kali ia memindahkan beban tubuh ke kaki buatan, otaknya seolah berteriak: Sakit! Berhenti! Kamu akan terluka lagi!

Tiba-tiba, kaki Tegar tersentak. Sinyal sarafnya mengalami glitch akibat kecemasan yang berlebihan. Kaki bionik itu menendang udara dengan liar, membuat Tegar kehilangan keseimbangan dan jatuh tersungkur di atas lintasan tartan yang kasar.

BRAK!

"Tegar!" Andre berlari hendak menolong, namun Coach Hendra mengangkat tangan, menghentikan langkah sang terapis.

"Biarkan dia," kata Coach Hendra dingin. "Kalau dia tidak bisa bangun sendiri di sini, dia tidak akan pernah bisa bangun di hadapan sepuluh ribu penonton Asian Para Games."

Tegar terjerembap dengan wajah nyaris menyentuh permukaan lintasan yang dingin. Rasa malu menghantamnya lebih keras daripada rasa sakit di lututnya. Ia bisa mendengar napasnya sendiri yang memburu, tidak teratur, penuh dengan kemarahan pada diri sendiri.

"Kenapa... kenapa susah sekali?" Tegar memukul lintasan dengan tinjunya. "Kemarin saya bisa lari secepat angin! Kenapa sekarang untuk berdiri saja saya seperti orang lumpuh?"

"Karena kemarin kamu lari dengan kemarahan, Tegar!" Coach Hendra berjongkok di hadapannya, suaranya kini bergetar karena emosi yang tertahan. "Kemarahan adalah bahan bakar yang murah. Dia cepat terbakar dan meninggalkan kerak yang merusak mesin. Sekarang, kamu tidak punya kemarahan itu lagi. Kamu hanya punya dirimu yang hancur. Dan kamu harus belajar mencintai kehancuran itu sebelum bisa membangunnya kembali!"

Tegar mendongak. Matanya memerah, berkaca-kaca. "Saya takut, Coach. Saya takut kalau saya melangkah lagi, semuanya akan robek lagi. Saya takut kursi roda itu benar-benar menjadi takdir saya."

Suasana mendadak emosional saat Ibu dan Tulus muncul di pinggir tribun. Mereka tidak berteriak, hanya berdiri di sana dengan wajah cemas yang disembunyikan di balik senyum paksa. Tulus memegang sebuah botol minum plastik, matanya yang bulat menatap sang kakak dengan penuh kekaguman yang tak luntur, meski kakaknya sedang tersungkur di tanah.

"Mas Tegar! Ayo bangun! Mas kan Iron Man!" teriak Tulus kecil, suaranya menggema di stadion yang sepi.

Suara adiknya adalah tamparan paling keras bagi ego Tegar. Ia melihat tangannya yang gemetar, lalu melihat kaki logamnya yang tak bernyawa. Ia teringat ucapan Pak Bramantyo: Kaki itu bisa dibuat lagi, tapi semangatmu tidak ada di laboratorium mana pun.

Dengan sisa tenaga dan harga diri yang tersisa, Tegar menumpukan tangannya ke lantai. Ia mendorong tubuhnya ke atas. Otot-otot lengannya menegang hingga urat-uratnya menonjol. Ia merangkak sedikit, memposisikan kaki bioniknya dengan benar, lalu dengan satu hentakan napas yang panjang, ia berdiri tegak kembali.

"Lagi," kata Tegar pendek. Suaranya tidak lagi lirih.

"Gar, kamu baru saja jatuh, kita bisa istirahat—" Andre mencoba menengahi.

"Saya bilang lagi, Pak Andre. Nyalakan alat stimulasinya. Lebih tinggi sedikit."

Andre menatap Coach Hendra, yang hanya memberikan anggukan kecil. Alat stimulator di pinggang Tegar berdengung halus. Kejutan listrik kecil mulai menari-nari di ujung saraf pangkal pahanya. Rasanya seperti digigit ribuan semut api, namun kali ini Tegar tidak mengernyit. Ia menerima rasa sakit itu. Ia menjadikannya navigasi.

Ia melangkah lagi. Satu... dua... tiga...

Pada langkah kelima, keajaiban kecil itu terjadi. Tegar tidak lagi merasa kakinya berat. Ia mulai membayangkan bahwa kabel-kabel tembaga di dalam kaki bionik itu adalah perpanjangan dari pembuluh darahnya. Ia tidak lagi memerintah mesin, ia sedang berbicara dengan bagian dari dirinya yang baru.

"Bagus... pertahankan ritmenya," gumam Coach Hendra, matanya mulai berbinar melihat koordinasi tubuh Tegar yang membaik.

Namun, ujian sebenarnya baru dimulai. Di ujung lintasan, sosok yang sangat dikenal Tegar muncul. Budi. Mantan rivalnya itu berdiri di sana dengan pakaian sipil, wajahnya tidak lagi menunjukkan kesombongan. Ia tampak kuyu, dengan lingkaran hitam di bawah mata.

Langkah Tegar terhenti. Trauma akan pengkhianatan Budi dan ayahnya kembali berputar seperti film rusak di kepalanya.

Budi melangkah mendekat, melewati garis batas lintasan. Coach Hendra bersiaga, namun ia membiarkannya.

"Mau apa kamu ke sini?" tanya Tegar ketus, napasnya masih tersengal.

Budi terdiam lama. Ia menunduk, menatap kaki bionik Tegar yang berkilat tertimpa cahaya matahari pagi. "Aku... aku cuma mau mengembalikan ini."

Budi menyodorkan sebuah medali plastik usang. Itu adalah medali lomba lari tingkat SD yang dulu mereka menangkan bersama saat masih menjadi sahabat karib, sebelum ambisi ayah Budi merusak segalanya.

"Ayahku akan diproses hukum, Gar. Aku juga sudah dicoret dari pelatnas," suara Budi parau. "Kamu benar. Aku menang dengan cara yang salah, dan rasa sakitnya ternyata lebih buruk daripada kalah. Aku tidak datang untuk minta maaf, karena aku tahu itu tidak cukup. Aku datang untuk bilang... tolong jangan berhenti. Kalau kamu berhenti, maka tidak ada lagi orang hebat yang bisa membuatku merasa malu karena sudah berbuat curang."

Tegar menatap medali di tangan Budi. Ingatan masa kecil saat mereka berlari tanpa beban di pematang sawah tiba-tiba menyeruak. Rasa benci yang selama ini menyumbat dadanya perlahan mencair, digantikan oleh rasa perih yang lebih manusiawi.

Tegar tidak mengambil medali itu. Ia justru menepuk bahu Budi dengan tangan yang masih berkeringat.

"Simpan itu, Bud. Simpan sebagai pengingat kenapa kita mulai berlari dulu. Aku tidak akan berhenti. Bukan karena ingin mengalahkanmu lagi, tapi karena aku punya janji pada diriku sendiri."

Budi terpaku. Air mata jatuh di pipinya. Ia mengangguk pelan, lalu berbalik dan berjalan pergi tanpa kata lagi.

Coach Hendra mendekat, menepuk punggung Tegar. "Beban mentalmu baru saja berkurang satu ton, Gar. Sekarang, kamu siap untuk latihan yang sesungguhnya?"

Tegar tersenyum tipis. Ia menatap ke ujung lintasan 400 meter. Jarak yang dulu terasa seperti neraka, kini tampak seperti gerbang menuju impian baru.

"Berapa target waktu saya, Coach?"

Coach Hendra tersenyum lebar, senyum yang jarang sekali diperlihatkannya. Ia menekan tombol reset pada stopwatch-nya. "Lupakan waktu. Saya mau kamu lari sampai kamu merasa bahwa kamu tidak lagi punya kaki bionik. Lari sampai kamu merasa kamu adalah angin itu sendiri."

Tegar mengambil posisi start. Meski ia tidak bisa melakukan crouch start dengan sempurna, ia memasang kuda-kuda yang kokoh. Di tribun, Ibu memeluk Tulus dengan erat, air mata haru mengalir di pipinya. Bapak berdiri tegak, memberikan hormat kecil kepada anaknya.

"Tiga... dua... satu... JALAN!"

Tegar melesat.

Setiap hentakan kakinya ke lintasan menciptakan bunyi ritmis yang sinkron dengan detak jantungnya. Deg-tap, deg-tap, deg-tap. Rasa sakit itu masih ada, namun ia tidak lagi melawannya. Ia berdansa dengannya.

Di putaran pertama, Tegar merasakan sensasi yang luar biasa. Saraf-sarafnya yang sempat memberontak kini mulai tunduk. Sinyal listrik dari otaknya mengalir lancar melalui kabel-kabel karbon, menggerakkan motor hidrolik dengan presisi yang menakjubkan. Ia tidak lagi merasa seperti manusia dengan mesin tambahan. Ia merasa seperti manusia yang telah berevolusi.

Tiga bulan menuju kualifikasi Asian Para Games mungkin singkat bagi orang biasa. Namun bagi Tegar, setiap detik latihan adalah sebuah pembuktian bahwa harga sebuah perjuangan tidak diukur dari seberapa cepat ia sampai di garis finis, melainkan dari seberapa banyak ia mampu bangkit setiap kali ia terjatuh.

Di bawah sinar matahari yang mulai meninggi, Tegar terus berlari. Bayangannya di atas lintasan tampak utuh, panjang, dan kuat. Ia bukan lagi Tegar yang hancur karena dihina. Ia adalah Tegar yang lahir kembali dari sisa-sisa logam dan tekad baja.

Akankah kondisi fisik Tegar bertahan di bawah tekanan latihan yang semakin berat? Dan tantangan baru apa yang menantinya di pemusatan latihan nasional nanti?

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!