Mimpiku Tergadai Kemiskinan Bapak

Melampaui Batas Kemampuan

"Tiga puluh detik lagi, Tegar! Jangan manja! Jantungmu itu mesin utamanya, bukan kaki karbon itu!"

Suara Coach Hendra menggema di dalam ruang gym khusus atlet paratletik. Suasana pengap oleh aroma keringat dan pelumas mesin. Tegar sedang berada di atas treadmill dengan kemiringan maksimal. Kaki bioniknya mengeluarkan suara desis hidrolik yang konstan setiap kali menghantam sabuk karet yang berputar cepat.

"Coach... napas saya... mau habis..." rintih Tegar. Keringat membanjiri kaos singletnya hingga menempel ketat di dada yang naik turun tak beraturan.

"Habiskan saja! Kalau mati di sini, biar saya yang tanggung jawab!" balas Coach Hendra tanpa ampun sambil menekan tombol untuk menambah kecepatan. "Sepuluh detik! Sprint!"

"AAARRGH!" Tegar berteriak, memaksakan sisa tenaganya. Kaki kirinya yang asli gemetar hebat, sementara pangkal paha kanannya yang terhubung dengan protesa mulai terasa panas terbakar.

Pip!

Mesin berhenti. Tegar nyaris terjatuh jika tidak segera memegang handrail. Ia membungkuk, berusaha meraup oksigen sebanyak-banyaknya.

"Minum dulu, Gar. Jangan langsung duduk, nanti jantungmu kaget," ujar Andre sambil menyodorkan botol air mineral dan handuk.

"Terima kasih, Mas Andre," bisik Tegar parau. Ia meneguk air itu hingga tandas setengah botol. "Coach, jujur... sesi ini jauh lebih berat daripada lari di lintasan."

Coach Hendra mendekat, melipat tangan di depan dada. "Tentu saja. Di lintasan, kamu dibantu momentum. Di sini, kamu dipaksa melawan gravitasi dan ego mesinmu sendiri. Kamu tahu kenapa paha kirimu gemetar?"

"Kelelahan?" tebak Tegar.

"Salah. Karena kamu belum percaya 100 persen pada kaki kananmu. Secara bawah sadar, beban tubuhmu masih kamu tumpukan 60 persen ke kaki asli. Akibatnya apa? Kaki kirimu akan cedera sebelum kualifikasi dimulai."

Tegar terdiam, menatap kaki bioniknya yang tampak kusam terkena keringat. "Saya merasa sudah menekannya dengan seimbang, Coach."

"Perasaanmu menipumu, Gar. Data di tablet Pak Bramantyo tidak bohong," Coach Hendra menunjuk ke arah Pak Bramantyo yang baru masuk membawa laptop.

"Coach benar, Tegar," sahut Pak Bramantyo. "Lihat grafik ini. Sensor di socket-mu menunjukkan distribusi tekanan yang tidak rata. Kamu masih 'melindungi' kaki kananmu. Kamu takut lukanya robek lagi, kan?"

Tegar menunduk. "Setiap kali saya menapak keras, rasanya seperti ada memori tentang rasa sakit di rumah sakit itu, Pak. Saraf saya seperti berteriak 'pelan-pelan'."

"Itu namanya mental block, Gar," Andre menimpali. "Secara medis, jaringanmu sudah kuat. Sekarang tinggal otakmu yang harus diyakinkan."

"Lalu saya harus bagaimana?" tanya Tegar frustrasi.

Coach Hendra tersenyum miring. "Pakai beban tambahan. Andre, pasangkan weighted vest sepuluh kilo ke dadanya. Dan ikat beban pergelangan kaki dua kilo di kaki bioniknya."

"Sepuluh kilo?" mata Tegar membelalak. "Coach, itu bisa merusak engsel hidroliknya!"

"Kaki itu didesain untuk menahan beban hingga 200 kilogram, Tegar! Jangan jadikan alasan mesin untuk menutupi mentalmu yang ciut!" bentak Coach Hendra. "Ayo, pasang!"

Dengan berat hati, Tegar membiarkan Andre memakaikan rompi beban yang sangat berat. Tubuhnya seketika merosot.

"Nah, sekarang lakukan box jump. Naik ke kotak kayu itu. Dua puluh kali," perintah Coach Hendra.

"Coach, ini gila! Kaki bionik tidak punya pegas alami seperti otot betis!" protes Tegar.

"Maka ciptakan pegas itu dari pinggulmu! Gunakan otot perutmu! Ayo, loncat!"

Tegar berdiri di depan kotak setinggi 50 centimeter. Ia mengambil napas dalam.

Hup!

Duar!

Tegar mendarat dengan tidak sempurna. Kaki bioniknya menghantam kotak kayu dengan bunyi keras hingga kotak itu bergeser. Ia terjatuh terduduk.

"Lagi!" teriak Coach Hendra.

"Sakit, Coach! Pangkal paha saya seperti dijepit tang!"

"Sakit itu cuma informasi! Abaikan informasinya, fokus pada tujuannya! Mau ke Asian Para Games atau mau jadi pajangan di rumah?"

Tegar menggeram. Ia berdiri lagi. "Lagi!"

Hup! Kali ini ia berhasil mendarat, meski tubuhnya goyah.

"Dua! Terus! Jangan berhenti!"

"Tiga!" Tegar berteriak.

"Empat!"

"Lima!"

Pada loncatan kesepuluh, keringat sudah mengucur ke mata, membuat perih. Namun Tegar terus melompat. Ia mulai merasakan sesuatu yang berbeda. Karena beban yang sangat berat, ia terpaksa menggunakan seluruh kekuatan otot inti tubuhnya. Secara tidak sadar, ia mulai mempercayai kaki bioniknya untuk menopang beban rompi itu.

"Tujuh belas!" teriak Andre memberi semangat.

"Delapan belas!"

"Sembilan belas!"

"Dua puluh!"

Tegar mendarat dengan kedua kaki sejajar. Stabil. Ia terengah-engah, namun matanya menyala.

"Lihat grafiknya, Pak Bram?" tanya Coach Hendra tanpa menoleh.

Pak Bramantyo mengangguk kagum. "Luar biasa. Distribusi tekanan 50-50. Dia melakukannya, Coach."

Tegar melepas rompi bebannya dengan tangan lemas. "Saya... saya tadi tidak sempat berpikir tentang rasa sakit. Saya cuma berpikir bagaimana caranya supaya tidak jatuh."

"Itu kuncinya, Gar," Coach Hendra menepuk bahu Tegar. "Atlet profesional itu bekerja dengan insting, bukan dengan ketakutan. Saat kamu berhenti berpikir 'ini kaki palsu', saat itulah kamu baru benar-benar lari."

Tiba-tiba, pintu gym terbuka. Ibu dan Bapak datang membawa rantang makanan. Tulus berlari masuk mendahului mereka.

"Mas Tegar! Mas Tegar tadi tinggi banget loncatnya!" seru Tulus antusias sambil memeluk kaki kiri Tegar.

"Hey, jagoan. Mas cuma latihan sedikit," ucap Tegar sambil mengacak rambut adiknya.

"Sedikit apanya?" Ibu mendekat dengan wajah khawatir namun bangga. "Ibu lihat dari kaca jendela tadi, kamu sampai teriak-teriak. Ini, Ibu bawakan ayam ungkep dan sayur urap. Coach, tolong Tegar jangan disiksa terus ya."

Coach Hendra tertawa, suasana yang tadinya tegang mendadak cair. "Bukan disiksa, Bu. Ini namanya ditempa. Besi kalau tidak dibakar dan dipukul, tidak akan jadi pedang yang tajam."

Bapak duduk di samping Tegar, memperhatikan kaki bionik anaknya yang penuh goresan baru. "Gar, Bapak tadi ketemu Kepala Desa di jalan. Dia... dia titip salam."

Tegar menghentikan kunyahannya. "Salam? Untuk apa?"

"Dia bilang, dia minta maaf secara pribadi. Kasusnya sudah masuk ke kejaksaan. Dia bilang, dia menyesal sudah meremehkanmu," lanjut Bapak pelan.

Tegar terdiam sejenak, lalu tersenyum tipis. "Sampaikan pada beliau, Pak. Saya sudah memaafkan. Tapi proses hukum harus tetap jalan demi keadilan bagi warga desa yang dananya dia pakai."

"Anak pintar," puji Bapak.

Selesai makan, Coach Hendra kembali berdiri. "Istirahatnya selesai. Tegar, ke lapangan sekarang. Kita tes 100 meter pertama dengan beban mental baru."

"Sekarang, Coach? Saya baru saja makan ayam!" protes Tegar.

"Anggap itu bahan bakar cadangan. Ayo! Andre, siapkan sensor di garis finis!"

Di lintasan lari, matahari mulai tergelincir ke barat, memberikan warna keemasan pada tartan merah. Tegar berdiri di garis start. Kali ini, ia tidak memakai rompi beban, namun ia merasa tubuhnya tetap memiliki 'berat' yang proporsional.

"Siap, Tegar?" tanya Coach Hendra sambil memegang peluit.

"Siap, Coach!"

"Ingat, jangan dipikirkan. Rasakan saja aliran listriknya!"

PRIIIIITT!

Tegar melesat. Langkah pertamanya begitu eksplosif hingga butiran karet tartan terpental ke belakang. Ia berlari dengan ritme yang belum pernah ia capai sebelumnya. Tidak ada keraguan. Tidak ada rasa takut akan robekan. Yang ada hanyalah suara angin yang bersiul di telinganya.

Ia melewati garis 100 meter dalam hitungan detik.

"Gila..." gumam Andre sambil melihat stopwatch. "11,8 detik. Dengan kaki baru yang belum satu bulan? Itu hampir menyentuh rekor kualifikasi utama!"

Coach Hendra tersenyum puas, namun ia segera menyembunyikan ekspresinya saat Tegar berjalan kembali ke arah mereka.

"Bagaimana, Coach? Jelek ya?" tanya Tegar khawatir melihat wajah datar pelatihnya.

"Lumayan. Untuk ukuran siput yang baru sembuh dari flu," canda Coach Hendra. "Tapi jangan senang dulu. Besok, kita mulai latihan daya tahan. 1500 meter, lima putaran tanpa henti. Dan saya mau setiap putaran waktunya stabil."

Tegar terduduk di rumput, memijat pangkal pahanya. "Lima putaran? Coach mau buat saya jadi Iron Man beneran?"

"Dunia tidak akan ingat siapa yang lari paling cepat di latihan, Gar. Dunia hanya ingat siapa yang berdiri paling tegak di podium tertinggi," Coach Hendra menatap langit sore. "Dua minggu lagi kita berangkat ke Jakarta untuk kualifikasi nasional. Pastikan mesinmu tidak mogok."

Tegar mengangguk mantap. "Saya tidak akan mogok, Coach. Mesin saya mungkin buatan manusia, tapi tekad saya ini buatan Tuhan."

Malam itu, Tegar pulang dengan kaki yang terasa rontok, namun hatinya penuh. Di dalam kamar, ia menatap foto dirinya dan Budi saat masih kecil yang baru saja ia pasang kembali di dinding.

"Aku akan lari untuk kita semua, Bud," bisiknya.

Ia kemudian merebahkan diri, membiarkan tubuhnya beristirahat untuk peperangan yang lebih besar esok hari. Kualifikasi Jakarta bukan hanya soal tiket ke Asian Para Games, tapi soal membuktikan pada seluruh negeri bahwa keterbatasan hanyalah sebuah kata bagi mereka yang berhenti mencoba.

Akankah Tegar mampu mempertahankan konsistensi fisiknya saat menghadapi atlet-atlet difabel terbaik dari seluruh Indonesia di Jakarta? Apa yang akan terjadi jika ia bertemu dengan pesaing yang memiliki teknologi kaki bionik yang lebih canggih darinya?

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!