Mimpiku Tergadai Kemiskinan Bapak

Harga Sebuah Pembuktian

Ruang perawatan itu kembali berbau antiseptik yang tajam, aroma yang sangat dibenci Tegar. Namun kali ini, suasana jauh lebih tegang. Tidak ada lampu kamera, tidak ada tepuk tangan wartawan. Yang ada hanyalah suara detak monitor jantung dan desis uap dari alat sterilisasi luka.

Tegar berbaring dengan wajah sepucat kapas. Kaki bioniknya diletakkan di atas meja logam di sudut ruangan, tampak mati dan dingin tanpa tuannya. Di pangkal paha Tegar, perban putih itu kini berubah warna menjadi merah pekat.

"Bodoh! Kamu benar-benar bodoh, Tegar!"

Suara Coach Hendra menggelegar di dalam ruangan. Pria itu berjalan mondar-mandir, tangannya memijat pelipis dengan keras.

"Saya cuma mau membuktikan, Coach. Saya tidak mau dihina," bisik Tegar lirih. Setiap kali ia bernapas, rasa nyut-nyutan di pangkal pahanya terasa seperti ditusuk ribuan jarum panas.

"Membuktikan apa? Bahwa kamu bisa lari 400 meter lalu membusuk di rumah sakit selama sebulan?" Coach Hendra berhenti di depan ranjang, matanya merah. "Kamu hampir merusak koneksi saraf sensorik yang harganya miliaran itu! Tapi yang lebih parah, kamu hampir kehilangan sisa kakimu karena infeksi jaringan!"

Pintu terbuka pelan. Ibu masuk membawa baskom berisi air hangat, matanya sembab. Di belakangnya, Bapak mengekor dengan wajah yang terlihat jauh lebih tua dari usia sebenarnya.

"Sudah, Coach. Tegar sudah cukup menderita," ujar Ibu pelan sambil duduk di samping Tegar.

"Ibu tidak tahu," sahut Coach Hendra, suaranya kini merendah tapi penuh penekanan. "Dokter bilang, kalau jahitan di dalamnya robek lebih parah, Tegar mungkin tidak akan pernah bisa memakai protesa itu lagi. Dia akan duduk di kursi roda selamanya. Apa itu yang kamu mau, Gar?"

Tegar memalingkan wajah ke arah jendela. "Lebih baik saya tidak bisa jalan selamanya daripada harus melihat Budi dan ayahnya tertawa di atas penderitaan kita, Coach."

"Tapi tidak begini caranya!"

Seorang dokter wanita paruh baya, Dokter Sarah, masuk dengan asisten yang membawa nampan berisi peralatan bedah minor. Suasana mendadak senyap.

"Bisa kita mulai?" tanya Dokter Sarah tegas. Ia menatap Tegar dengan kacamata yang melorot di hidung. "Tegar, saya tidak akan membius total. Saya ingin kamu merasakan ini sebagai pengingat agar tidak lagi keras kepala."

Tegar menelan ludah. "Lakukan saja, Dok."

Dokter Sarah mulai membuka perban itu perlahan. Saat lapisan terakhir terangkat, Ibu langsung memalingkan muka, menutup mulutnya dengan saku jilbab. Luka di pangkal paha itu menganga, jahitannya tertarik paksa hingga kulit di sekitarnya tampak menghitam dan membengkak.

"Pegang tangannya, Pak," perintah Dokter Sarah kepada Bapak.

Bapak menggenggam tangan kanan Tegar erat-erat. Tulus, yang sejak tadi diam di pojok ruangan, mendekat dan memegang tangan kiri kakaknya.

"Mas Tegar sakit ya?" tanya Tulus polos, matanya berkaca-kaca.

"Mas kuat, Lus. Mas kan Iron Man," jawab Tegar sambil mengertakkan gigi saat cairan pembersih luka mulai dituangkan.

"AAAGHH!" Tegar mengerang, tubuhnya melengkung ke atas. Keringat dingin sebesar biji jagung langsung membanjiri dahinya.

"Tahan, Tegar! Jangan bergerak!" Dokter Sarah menekan area di sekitar luka. "Nanahnya harus dikeluarkan semua. Ini akibat gesekan paksa antara socket karbon dan jaringan kulit yang belum matang. Kamu memaksa mesin bekerja saat biologimu menolak."

"Sakit... Dok... berhenti sebentar..." rintih Tegar. Napasnya memburu, matanya membelalak menahan perih yang tak terperikan.

"Sakit mana dengan kehilangan mimpimu?" tanya Coach Hendra tiba-tiba, ia berdiri di ujung kaki Tegar, menatapnya tajam.

Tegar tidak menjawab, ia hanya bisa melenguh panjang sambil mencengkeram sprei rumah sakit hingga robek.

"Ingat rasa sakit ini, Gar," lanjut Coach Hendra. "Ini adalah harga dari sebuah kesombongan. Seorang atlet bukan hanya tentang otot dan keberanian, tapi tentang kesabaran. Kamu menang melawan Budi, tapi kamu hampir kalah melawan dirimu sendiri."

Dua jam proses pembersihan luka itu terasa seperti dua tahun bagi Tegar. Setelah luka dijahit ulang dan dibalut dengan teknik khusus, Dokter Sarah melepas sarung tangan karetnya yang berlumuran darah.

"Dua minggu," kata Dokter Sarah singkat.

"Maksudnya, Dok?" tanya Bapak.

"Dua minggu dia tidak boleh menyentuh kaki bionik itu. Tidak boleh turun dari tempat tidur kecuali ke kamar mandi. Dan satu lagi, dia harus menjalani terapi stimulasi saraf manual setiap pagi. Itu rasanya akan sangat tidak nyaman."

Keesokan paginya, terapi itu dimulai. Pak Bramantyo datang membawa seorang terapis ahli saraf bernama Andre.

"Siap untuk 'setruman' pagi, Tegar?" sapa Andre sambil menyiapkan alat-alat elektroda kecil.

Tegar hanya mengangguk lemas. Tubuhnya terasa remuk.

"Kenapa harus pakai alat ini lagi, Pak Andre? Kan saraf saya sudah tersambung ke mesin?" tanya Tegar saat Andre mulai menempelkan gel dingin ke pangkal pahanya.

"Kemarin kamu memaksa sinyal sarafmu bekerja terlalu keras," jelas Andre sambil memutar kenop pada alat di sampingnya. "Saraf itu seperti kabel. Kalau dialiri listrik terlalu besar sebelum isolasinya kuat, dia akan terbakar. Sekarang kita harus melatihnya lagi dari nol secara perlahan."

Begitu alat dinyalakan, kaki Tegar yang sudah tidak ada itu tiba-tiba tersentak.

"Aduh! Rasanya seperti kesemutan hebat, Pak!"

"Bagus. Itu artinya sarafnya masih hidup. Sekarang, coba bayangkan kamu sedang menggerakkan jempol kakimu. Fokus."

Tegar memejamkan mata. Ia berkonsentrasi penuh. "Susah, Pak. Rasanya kosong. Saya tahu kaki saya tidak ada, jadi otak saya bingung harus mengirim perintah ke mana."

"Itulah gunanya terapi ini. Menghilangkan efek 'kaki hantu' atau phantom limb. Kamu harus yakin bahwa di ujung pangkal pahamu itu, ada 'penerima' yang menunggu," sahut Pak Bramantyo yang duduk di kursi pengunjung.

"Pak Bram..." Tegar membuka matanya. "Bapak tidak marah karena saya hampir merusak kaki bionik mahal itu?"

Pak Bramantyo tersenyum tipis. "Saya lebih khawatir kalau saya kehilangan pilotnya daripada pesawatnya, Gar. Kaki itu bisa dibuat lagi. Tapi semangatmu yang murni? Itu tidak ada di laboratorium mana pun."

"Tapi gara-gara saya, jadwal latihan jadi berantakan. Coach Hendra sangat marah."

"Dia tidak marah karena jadwalnya, Gar," sela Bapak yang sedang mengupas buah untuk Tegar. "Dia marah karena dia takut kamu hancur. Coach itu sudah menganggap kamu anaknya sendiri."

Tiba-tiba pintu terbuka, Coach Hendra masuk membawa sebuah tablet. Wajahnya masih kaku, tapi tidak sekeras kemarin.

"Sudah selesai terapinya?" tanya Coach.

"Sedikit lagi, Coach," jawab Andre.

Coach Hendra duduk di pinggir kasur. Ia menyodorkan tablet itu ke depan wajah Tegar. "Lihat ini."

Di layar tablet, terlihat video rekaman saat Tegar memenangi lomba melawan Budi kemarin. Video itu sudah ditonton jutaan orang di media sosial. Komentarnya membanjiri layar: #LangkahTegar, #HeroTanpaKaki, #KeadilanUntukTegar.

"Dunia sudah tahu siapa pahlawannya," kata Coach Hendra. "Kepala desa itu sedang diperiksa polisi karena dugaan sabotase dan penggunaan dana desa untuk kepentingan pribadi Budi. Budi sendiri... dia mengundurkan diri dari seluruh kegiatan atletik."

Tegar melihat video itu dengan tatapan kosong. "Saya tidak merasa seperti pahlawan, Coach. Saya merasa seperti pecundang yang sekarang hanya bisa terbaring di sini."

"Itu karena kamu melihat ke bawah, ke arah lukamu," potong Coach Hendra. "Coba lihat ke depan. Pak Bramantyo sudah mendaftarkanmu ke ajang Asian Para Games tahun depan. Tapi syaratnya satu: kamu harus sembuh total secara medis dan mental."

"Tahun depan? Tapi kualifikasinya tiga bulan lagi, Coach!" Tegar mencoba duduk, namun langsung meringis kesakitan.

"Nah, lihat? Baru mau duduk saja sudah mau pingsan," sindir Coach Hendra. "Makanya, ikuti kata dokter. Jangan jadi jagoan kesiangan."

Ibu mendekat, menyuapkan sepotong pepaya ke mulut Tegar. "Makan yang banyak, Nak. Biar daging di kakimu cepat tumbuh lagi. Ibu tidak mau lihat kamu lari-lari lagi kalau belum bisa jalan tegak tanpa pegangan."

Tegar mengunyah buah itu pelan. "Bu... Bapak... Maafin Tegar ya. Gara-gara ego Tegar, Bapak dan Ibu jadi repot lagi di rumah sakit."

Bapak mengelus kepala Tegar. "Repot itu kalau kami harus kehilangan kamu, Gar. Kalau cuma nungguin kamu di sini, itu bukan repot. Itu namanya kasih sayang."

Tulus tiba-tiba naik ke atas kasur, menyelip di antara lengan Tegar. "Mas Tegar, nanti kalau sudah sembuh, ajari Tulus lari yang benar ya? Tulus mau jadi seperti Mas, tapi Tulus janji nggak bakal nakal dan nggak bakal maksain diri."

Tegar tersenyum, kali ini senyumnya sampai ke mata. "Iya, Lus. Mas janji. Kita bakal lari bareng, tanpa ada yang perlu dibuktikan pada orang jahat lagi."

Sore itu, di dalam ruang perawatan yang tenang, Tegar menyadari satu hal. Kemenangan sesungguhnya bukanlah saat ia melewati garis finis mendahului Budi. Kemenangan sesungguhnya adalah saat ia mampu menekan egonya demi orang-orang yang mencintainya.

"Pak Andre," panggil Tegar pada terapisnya.

"Ya, Gar?"

"Tambah lagi kekuatannya. Saya ingin saraf saya bangun lebih cepat. Tapi kali ini... saya akan mendengarkan tubuh saya. Saya tidak akan memaksanya lagi."

Andre tersenyum dan memutar kenop alat stimulasi itu sedikit lebih tinggi. Tegar kembali meringis, tapi kali ini ia tidak berteriak. Ia menerima rasa sakit itu sebagai bagian dari prosesnya menjadi manusia baru.

Di sudut ruangan, Coach Hendra memperhatikan dengan bangga. Ia tahu, atlet yang paling berbahaya bukanlah dia yang tak pernah kalah, melainkan dia yang tahu kapan harus berhenti sejenak untuk melompat lebih jauh.

Bagaimana kelanjutan terapi Tegar? Apakah ia akan berhasil lolos kualifikasi Asian Para Games dalam waktu tiga bulan yang sangat singkat itu? Apakah lukanya akan benar-benar menutup sempurna?

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!