Liburan di Dunia Fantasi

Mencari Manusia

“Kita alan sama-sama aja biar akyu ada kawannya. Lagian, Bu Karina baik banget ama akyu,” jawab Skyda.

“Pi, nggu dulu. Akyu mau nangkap ikan.” Daisy melapaskan tangannya dari Skyda dan berjalan menuju ke tepi sungai.Tangan kanan dicelupkan lalu disalurkan sejumlah energi. Aura unsur membentuk sebuah lingkaran menuju ke bawah air. Terjebak belah seekor ikan dengan ukuran besar. Ia mengendalikan air di sekitar cuplikan itu menuju ke daratan.

Walaupun sudah keluar dari air, ikan bersisik tajam itu masih melakukan perlawanan. Pergerakannya yang cepat disertai sirip mirip duri membuat kedua anak manusia itu tak berani mendekat. Ia berusaha kembali ke sungai tetapi mendapat pukulan sangat jelas. Durinya menancap pada sebuah kayu dan ia tak bisa bergerak lagi.

“Gimana caranya kalian dapatkan ini?” tanya Seorang laki-laki dewasa Bertubuh seperti ular dengan sisi mirip naga, Badon.

“Akyu kan bisa ngendaliin air. Jadi hewan ini aku jebak, trus akyu gerakin ke daratan. Air akyu balikin ke sungai bisa ketangkap. Nyatanya aku salah, hehehe,” tawa kecil si gadis manusia.

“Ngomong anak pantai, kayak gini aja nggak tahu.” Skyda Menempelkan jari telunjuk di bawah mata, lalu ditarik ke bawah.

“Tiap ikan gak sama lah. Aku kan nggak tahu soal hewan di mari,” elak Daisy.

Di tengah sebuah hutan, Para Nara membakar ikan hasil tangkapan Daisy. Aroma yang begitu menggoda membuat mereka tak tahan lagi ingin memakannya. Namun hal itu tak berlaku bagi Karina si rinasa. Ia memilih untuk membakar buah yang memiliki tiga warna. Baunya tak sedap daging ikan bakar Tetapi dia menyukainya.

“Bu, ngapain nggak mau makan ini? Enak loh, Bu,” gadis kecil itu menawarkan potongan ikan kepada rinasa.

“Setiap nara ada makanannya sendiri. Untuk rinasa, Hanya makan tumbuhan saja. Kau harus tahu itu.” Karina Memakan buah-buahan yang telah dipanggangnya. Ia juga menawarkan kepada yang lain.

Sarapan di pagi itu telah usai. Mereka kembali melanjutkan perjalanan. Di saat itulah ketiga nara menghadap pada Badon yang dianggap sebagai pemimpin.

“Mas, Kami tak bisa ikut mencari manusia. Ada misi khusus yang harus aku selesaikan bersama dengan sahabatmu,” kata Saciwa.

“Kita baru saja bertemu, Apa kau tidak rindu padaku?” tanya Badon.

“Aku memang rindu kepadamu tetapi masalah antar nara ini harus segera selesai. Jagalah anak-anak dan jangan main mata dengan rinasa,” Saciwa memeluk tubuh suaminya sebelum berpisah. Archid hitam pun diajaknya.

Tak hanya Saciwa dan archid saja, Sarita sang tanggang wasesa juga memutuskan untuk kembali ke kaumnya guna melaksanakan tugas sebagai mentor. Ini tinggallah dua orang dewasa dan dua anak manusia.

Langit tiba-tiba gelap. Tetesan air mulai membasahi bumi. Daisy dan teman-temannya berlari ke sebuah pohon untuk berteduh. Intensitas air angin semakin deras, Pohon pun tak sanggup menahan kandungan hujan. Mereka pun berlari ke tempat lain.

Hujan deras terjadi di tengah hutan itu. Tempat yang ideal masih juga belum ditemukan. Beruntung, Daisy sempat membuat sebuah payung dari air sehingga mereka bisa terbebas dari tetes air yang sangat dingin.

Sebuah terowongan kecil ditemukan. Sayang, Saat itu kurang tepat bagi anak-anak. Mereka sudah merasakan kelelahan berjalan lama. Terlebih lagi bagian yang hampir kehabisan aura unsur. Badon dan Karina melarikan mereka ke sana dengan kecepatan tinggi.

Daisy yang kelelahan luar biasa kembali meneteskan air mata. Permainan cahaya dari langit terlihat, Ia ketakutan luar biasa. Tubuhnya meringkuk sambil meneteskan air mata kehangatan. Ingin Rasanya menangis agar kesedihan dan ketakutan bisa hilang. Namun tenaga sudah terkuras habis untuk membuat payung dari air.

“Sayang, Kamu jangan takut. Kami akan selalu ada untukmu dan melindungimu Selama atau belum ketemu dengan manusia.” Karena mempelai rambut gadis berwarna hitam itu. Air matanya juga menetes mengingat dirinya di waktu kecil saat ditinggalkan kedua orang tua.

“Rin, kau?” Badon Tak jadi menghapus air mata pada wanita Berkulit tebal dengan warna hitam gelap.

“Nggak papa, aku cuma ingat waktu kecil saja.” Karena menghapus sendiri air matanya.

Si gadis kecil itu diangkat oleh seorang ibu dari nara yang mirip dengan badak. Kehangatan tubuhnya membuat Daisy teringat badan sang pipi yang tak ikut dalam rombongan. Air mata kembali menetes membasahi tubuh.

“Akyu akut petir, huhuhu,” tanyanya.

“Amu kan hebat, ngapain pakai nangis segala,” ejek Skyda.

“Nak, Bagaimanapun juga dari sih tetaplah gadis kecil seperti yang lain. Sudah sewajarnya bila dia menangis, Apalagi saat terjadi tengah hutan. Kamu juga nangis kan?” kata Badon.

“Kalau akyu sih bukan orang hebat. Cuma anak kota aja, hehehe,” tawa kecil Skyda.

“Justru kaulah yang harus menjaga Daisy. Kau kan laki-laki,” Badon mengacak rambut anak laki-laki itu.

Sebuah sambaran petir mengenai pohon yang sudah tua. Api membakar pohon itu sampai ke bagian terdalam. Pohon itu sudah tak kuat lagi menopng batangnya sehingga ambruk menutupi terowongan tempat Daisy berteduh.

“Bruk!” bunyi yang sangat keras itu membuat orang yang berada di dalam gua terkejut.

Rasa tanggung jawab di dalam tubuh wiwera dewasa langsung bangkit. Lelaki itu mengeluarkan zakat alami menebas kulit kayu. Sedikit demi sedikit batang pohon itu berlubang. Namun ia menyentuh bagian batang yang panas, tangannya dikibaskan beberapa kali.

“Om!”

Kekuatan Daisy tiba-tiba bangkit lagi tanpa terkendali. Air hujan yang tak jauh dari tempat itu menuju ke batang pohon. Api bisa padam tetapi terowongan itu tenggelam. Mereka pun kesulitan untuk bernafas.

Daisy kembali tersadar. Aura yang tak terkontrol kembali dikendalikan. Ia mengeluarkan darah air hingga tempat itu menjadi kering. Tubuhnya pun bisa kering tetapi tidak dengan yang lain. “Maafin akyu,” ia meruntuhkan kepala sambil menghapus air mata yang tersisa.

Skyda yang sempat tenggelam kembali bisa bernafas . Ia hanya bisa memandangi gadis itu tampak berbuat sesuatu.

Daisy mendekat pada anak laki-laki yang basah kuyub itu. Tangan kanannya Memegang tangan kanan Skyda. Aura unsur dialirkan, air yang berada pada tubuh lelaki itu tersedot ke tangan daisi sebelum ia membuangnya ke tempat lain. Hal yang sama pun dilakukan terhadap orang dewasa.

“Kamu nih, Ngapain nggak lakuin dari tadi. Aku kan nggak perlu susah payah salin baju,” protes Skyda.

“Loh, katanya nggak mau akyu lihatin. Ya udah, akyu tinggalin aja hehehe,” tawa kecil anak perempuan itu.

“Kan gitu konsepnya, Sy. Maksud aku tuh aku...,” Skyda beralih pandangan pada apa yang dikerjakan wiwera dewasa. Ia tertarik untuk membuat lubang di sebuah batang kayu. “Om, aku bantu.” tawarnya.

“Terima kasih, tapi ini pekerjaan khusus lelaki dewasa. Kau tunggu saja di sana.” Badon telah berhasil emmbuat sebuah lubang yang bisa dilaluinya.

 

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!