Liburan di Dunia Fantasi
Pertemuan 2
Tiada angin yang berhembus kuat di malam itu. Namun, Daisy melihat sesosok bayangan berwarna putih melayang di sebuah pohon. Gadis yang tak mengenal rasa takut terhadap hantu mengendalikan sejumlah air dan mengarahkan ke bayangan itu air lewat begitu saja tanpa mengenai apapun. “Namun kalau berani turun dong,” katanya.
Bayangan putih yang berada di atas pohon tetap tak mau menuruti perintah Daisy. Air dikumpulkan lebih banyak sehingga ia bisa mengendalikannya dan mengangkat diri sendiri hingga setara dengan tinggi bayangan itu. Rupanya itu hanyalah sebuah kabut. Ia pun kembali ke Badon si wiwera.
“Kamu ngapain aja,” tanya lelaki itu.
“Nih pasti Zain, doi teman aku yang usil ama aku.” Daisy Besar terhadap teman sekolahnya. Gadis itu mengendalikan air menyebar ke sejumlah tempat. Sok bayangan putih lebih besar terlihat lagi.
Berlari kencang ke arah sumber bayangan putih. Air pun dikendalikan untuk mengantisipasi segala kemungkinan hal yang mendekat, termasuk para makhluk kecil yang berbentuk seperti angka tiga. Sumber bayangan telah ditemukan, ia tak jadi menggunakan air karena yang menyebabkan itu adalah temannya sendiri yang sedang memanggang sebuah hewan.
“Hai Sy, Kamu ngapain kemari?” Seorang anak laki-laki memandang wajah gadis pengendali air itu.
“Skyda?” Daisy terkejut ketika melihat wajah anak manusia yang berada di depannya. Air yang terikat di dalam aura unsur dibuang begitu saja.
“Amu ingat akyu, ya. Dahal kita baru aja kenalan, hehehe,” tawa kecil Skyda.
“Akyu ingat malah baru ingat namamu kemarin, hehehe,” tawa bailik Daisy.
Tak lama kemudian, Muncul sosok lain makhluk dengan perwujudan mirip Badak. Kulitnya terlihat sangat tebal dan keras dengan warna hitam hampir tersamarkan di kegelapan malam. Di bagian kepala ada sebuah tulang yang terlihat sangat kuat. Ia meletakan sejumlah ranting kering yang dibawanya dengan tangan kiri. “Sayang, siapa dia?” tanyanya.
Skyda berdiri dan mengambil sejumlah ranting, Lalu dimasukkan ke dalam bara api. Cahaya yang dihasilkan pun semakin besar hingga menerangi tempat itu. “Bi, ini sahabatku, Namanya Daisy. Kita nih sama-sama manusia, pi dio cewek,” katanya.
“Kamu dari dunia sama dengan Skyda?” wanita dengan kepala berambut pendek meletakkan satu tusuk buah segar di dekat bara api.
“Iya, Pi Kita beda tempat aja. Doi di kota, kalau aku di dekat pantai. Boleh nggak aku aja orang lain kemari?” tanya gadis kecil itu.
“Boleh saja, Kamu sama siapa?” Aku dari nara einasa itu duduk di dekat Skyda. Buah lain yang mulai mengerang dibalik.
Daisy segera berlari ke tempat Badon. Lelaki yang diselamatkan itu diajak berkumpul dengan sahabat dari dunianya. Ajakan diterima, Mereka langsung menuju ke sana.
Di sekitar api unggun, rinasa membagikan buah yang telah kering terpanggang kepada nara yang berada di sana. Mereka saling bercerita sehingga bisa lebih akrab antara satu sama lain. Rinasa dewasa itu merasakan sebuah keharuan setelah mendengar kisah dari wiwera dan gadis manusia.
“Sebab itulah aku mau membantu anak ini mencari manusia lain. Syukurlah sudah ketemu satu, tinggal cari 10 yang lain,” Badon menggigit buah yang sudah masak. Ia menikmati makanan itu walaupun bukan yang biasa menjadi santapan.
“Berarti misi kita sama. Aku menemukan anak ini terjatuh dari sebuah bukit. Aku melakukan ini karena teringat anakku yang sudah tiada.” Karina si rinasa menghapus air mata yang menetes. Sejumlah ranting kembali dimasukkan ke dalam bara api sehingga nyala lebih besar.
Tiga Nara lain yang mencari makan buat badan ikut merapat ke api unggun itu. Mereka pun saling bercerita satu sama lain.
Malam semakin larut, hawa mengantuk semakin kuat mendera tubuh. Kedua anak manusia itu terlihat semakin tidak kuat menahannya. Para Nara dewasa pun membangun sebuah tenda kecil untuk keduanya.
“Anak-anak, Tidurlah di sini untuk sementara waktu,” kata Sarita.
“Yang lain gimana?” tanya Daisy dengan penuh kecemasan.
“Kami telah dewasa, kami lebih kuat bertahan daripada kamu berdua.Sedangkan kalian masih anak-anak. Cepat pejamkan mata terus tidur.” Sarita menjauh dan menutup Tenda dengan sebuah dinding es.
Di dalam tenda, Suasana gelap dan pacarnya sama sekali. Hal inilah yang memaksa kedua anak manusia itu menutup mata dan segera berpindah ke alam mimpi.
***
Mentari telah terbit dari ufuk timur. Di saat itulah denda dibongkar oleh rinasa. Kedua anak manusia itu telah tiada. Karina diri ke kanan dan kiri untuk mencari keduanya tetapi tetap tidak bertemu. Ia berlari sampai memanggil nama keduanya, “Sky! Sy!”
di tepi sebuah sungai, Karina melihat dua anak itu sedang bermain air. Si gadis muda itu mengendalikan air sambil mengajari anak laki-laki berenang. Ketika anak laki-laki tenggelam, Air mulai naik dan membawa anak itu nggak bisa bernafas. “Bukankah kamu yang kemarin mengamuk itu?” tanyanya.
“Iya, sebab akyu dibilang curang. Dahal kan aku nggak tau papa. Aku sebel aja sih,” jawab Daisy.
“Hahaha, yang alami sama sepertiku. Tapi aku nggak ikut kompetisi itu, dianggap curang karena memiliki nilai paling bagus. Sebab itulah aku tak mau belajar lagi dan bertualang di hutan ini. Suamiku juga telah berpisah denganku di saat kami kehilangan anak.” Rinasa melepaskan pakaian luar dan ikut masuk ke dalam sungai itu.
Tak hanya mandi saja, Daisy pamer kekuatan yang dimiliki. Air dikendalikan membentuk sebuah bola walaupun tak sempurna. Selain itu, Ia juga memperlihatkan cara berenang kepada Skyda. Sebuah lompatan Indah bagaikan lumba-lumba ditunjukkan.
Semangat di dalam hati sebaiknya langsung membara. Lelaki itu nekat karena sendiri namun kembali tenggelam ke dasar sungai. Beruntung, Karina tahu itu dan langsung mengangkatnya. Ia pun diajari oleh sang rinasa.
Dua jam lebih dilalui mereka di dalam sungai itu. Namun Skyda belum juga bisa berenang seperti yang diinginkan. Ia masih saja tenggelam. Daisy pun mengangkatnya ke daratan.
Daisy kembali mengambil pakaian yang semat dilepaskan saat berada di dalam air. Sebuah pohon besar menjadi tempat persembunyian , ia pun mengeringkan pakaian dalam sebelum mengenakan pakaian luar.
“Amiu ngapaian di mari?” Skyda datang tiba-tiba mengejutkan gadis kecil itu.
“Hai, jangan gitu dong ama cewek macam akyu nih. Malu dong akyu jadinya,” Daisy hendak menendang temannya itu tetapi diurungkan. Jantungnya yang berdebar pun dipegang.
“Ngapain malu segala, amu kan udah pakai baju. Yuk kita ke tempat Bu Karina.” Skyda menggandeng tangan Daisy.
“Amu sendiri nggak mau aku lihat, kok amu mau ngintip aku. Itu sih curang namanya tapi ngapain kita ke Bu Karina?” Daisy mengikuti langkah temannya. Tangan yang digandeng itu tak dilepaskan. Perbedaan antara anak pantai dan kota pun dirasakan.