Liburan di Dunia Fantasi

Pertemuan 3

Lubang di batang kayu dimasuki oleh seorang lelaki yang memiliki bentuk tubuh selayak naga tanpa sayap dan kaki, Badon. Ia melihat ke kanan dan ke kiri, ternyata di luar dugaan. Di Sana hanya ada sebuah lubang kecil yang Bahkan tak muat untuknya berbelok. Dia pun kembali ke tempat para temannya berkumpul. “Kita ada masalah, Lubang di Batang ini sempit banget. Butuh anak kecil buat bisa melaluinya,” katanya.

Skyda merangsang maju ke tempat kembalinya badan. Namun tangan lelaki itu dipegang oleh wiwera dewasa.

“Aku tahu kau membuktikan sebagai seorang lelaki sejati. Tapi kalau tak memiliki kekuatan apapun. Masuk boleh tapi berpikirlah dahulu,” tutur sang lelaki dewasa.

Daisy memang sengaja dipilih untuk masuk ke dalam lubang itu. Habis yang warna matanya merah mulai memasuki sebuah Batang melalui lubang yang dibuat Badon. Kristal pemberian dari orang dewasa dikeluarkan. Cahaya pun menerangi tempat itu sehingga ia bisa melihat keadaan sekitar.

Aura unsur menjadi sebuah andalan bagi anak perempuan itu. Ia menyalurkan ke Batang pohon bukan untuk mengendalikannya. Air yang berada dari dalam dinding pohon itu berkumpul menjadi satu dan Daisy memusatkan ke depan. Sayang, duri yang ingin dihilangkan dan juga bisa sirna.

Air yang dikumpulkan dari isi semakin banyak sehingga tubuhnya tenggelam ke dalam cairan itu. Si anak perempuan berenang di tengah kayu Dengan menyalurkan aura unsur di sekitar tubuh. Kaki sebelah atas terkena duri sehingga kain yang digunakan ikut robek. Namun rasa itu diabaikan. Ia pun bisa keluar walau kaki tergores sebuah luka yang panjang.

Ternyata keadaan di luar hujan sudah mulai berkurang. Namun banjir kecil masih terjadi di tempat itu. Air yang mengalir di permukaan dikumpulkan menjadi satu di bawah batang pohon. Daisy mengarahkan batang pohon sesuai dengan aliran air. Pohon tersingkirkan, terowongan pun kembali terbuka.

Daisy kembali lagi ke terowongan dan berbaring menghadap ke atas. Segala cairan yang melekat di tubuh dikumpulkan menjadi satu di telapak tangan dan dibuatnya menjauh. Kaki yang terluka dipegang, Ia merasakan kesakitan luar biasa dan meneteskan air mata. “Hu!” tangisnya sangat keras sehingga tak terasa mengeluarkan aura unsur.

Karina sang rinasa keluar dari terowongan itu. Dia berlari sangat cepat di bawah guyuran hujan dan sambaran petir. Beberapa daun basah diambil lalu dilumatkan ke dalam mulutnya. Ia pun kembali ke terowongan dan mengeluarkan pertahanan itu.

Ramuan buatan Karina ditempelkan pada bagian kaki Daisy yang terluka. Daun yang lebar dan utuh ditempelkan sebagai penutup. Kain dirobek dan diikatkan untuk melekatkan daun tersebut. “Masih sakit?” tanya Karina.

Ramuan buatan karena itu terlalu perih bagi Daisy. Ia tak tahan akan rasa itu. Aura di dalam tubuh keluar semua membebaskan segala cairan yang ada di sana. Sayangnya, Darahnya juga sebagian ikut terhambat. Ia merasa pusing dan tak sadarkan diri.

***

Entah berapa lama Daisy pingsan, ia sendiri tak tahu. Yang diingatnya hanya ia mengamuk tak terkendali dan pandangan tiba-tiba gelap. Gadis itu membuka matanya lagi. Ternyata dia berada di sebuah gendongan makhluk berwarna hitam. “Bu, akyu di mana?” tanyanya.

“Kita mau ke desa. Pakaianmu sudah koyak dan tak layak dipakai lagi.” Hari Selasa melompat dengan sebuah tangan memegang tumbuhan yang lentur. Pendaratan terjadi begitu sempurna walaupun menggoyangkan sedikit tubuh yang digendongnya.

“Pi, akyu gak punya duit ama gak tau tempat apa tuh.” Daisy meletakkan kepalanya di bahu rinasa.

“Kamu jangan khawatir. Desa ini tempat para penambang berkumpul. Kami terbiasa saling membantu, terkadang juga jual beli.” Badon turun dari sebuah pohon. Bentuk tubuhnya yang elastis membuatnya bisa bergerak cepat dan lincah.

Keempat orang itu memasuki sebuah desa yang bahkan lebih mirip kota. Di sana rata-rata dihuni oleh para lelaki dewasa bertubuh kekar. Ada juga wanita dan anak-anak tetapi jumlahnya hanya sedikit dan berada di dekat hunian.

“Badon, Apa benar ini kau?” tanya Seorang lelaki dengan tubuh berwarna biru memiliki bentuk mirip dengan Karina. Namun yang membedakan yang mempunyai beberapa jumpai di wajah sebelah kiri dan kanan serta tak memiliki cula.

“Iya, Ini aku temanmu,” jawab lelaki bertubuh seperti ular itu.

Kedua sahabat yang sempat terpisah kini bertemu lagi. Mereka saling bersalaman dan bertatap mata seperti dahulu.

Kedatangan badan disambut baik oleh beberapa nara yang ada di sana. Mereka menanyakan perihal bagaimana bisa keluar dari tempat tersebut. Badan pun menceritakan awal mula permasalahan hingga bisa keluar dari gua. Tak lupa juga dia memperkenalkan seorang yang telah menyelamatkannya, Daisy.

“Apa kau tidak salah? Anak perempuan macam ini yang nyelamatin kamu? Kok ada yang janggal,” seorang narasega tak percaya atas apa yang diceritakan sahabatnya.

“Iya tuh. Nggak mungkin sih anak yang nggak bisa jalan bisa nyelamatin orang kuat macam kamu.” Marah yang duduk berdekatan dengan Badon Juga tak bercaya atas cerita itu.

“Anak ini sedang sakit, wajar kan kalau nggak bisa berjalan,” alasan Karina untuk membantu Badon.

Suasana di dalam sebuah tempat berkumpul untuk makan itu sangatlah ramai. Terlebih lagi di kala itu sedang malam bulan purnama. Beberapa makanan disiapkan di sebuah meja yang berukuran besar.

“Begini saja, Kalian bisa bebas akan dan menginap di tempat ini Dengan syarat besok harus membuktikan kemampuan anak perempuan yang kau bawa. Jika tidak bisa berarti kau hanya membuat dan harus membayarnya dua kali lipat dari harga semula. Satu orang tetap dihitung satu walaupun itu masih bayi,” kata seorang pemilik tempat makan itu. Perempuan itu tertarik kepada kedua anak manusia sehingga dia sendiri yang membawakan makanan.

Hidangan di sana terasa sangat aneh dan kurang sedap dipandang mata. Hal inilah yang membuat kaidah mengaduk makanan itu berkali-kali dan mencari sesuatu yang bisa dimakannya. Piring disingkirkan bersama dengan sendok dan Dia bertanya, “Nggak ada makanan lain?”

“Kalau mau, ikan nunggu aku sembuh dulu, ya,” celoteh Daisy. Kenikmatan yang dirasakan membuatnya sedikit gelap mata. Piring yang disindirkan sahabatnya itu ditarik dan makanannya segera dimasukkan ke dalam mulut.

“Manis, kami tak tahu apa makanan manusia. Akan aku ambilkan yang lain.” Sang perempuan berkulit putih bersayap sepasang itu menyentuh hidung Skyda. Ia kembali ke tempat pengolahan makanan sambil membawa sebuah nampan.

Skyda terlihat segar ketika disebut manis. Wajahnya begitu cemburut dan tidak ada semangat sama sekali.

Tak lama kemudian, sang pemilik tempat kembali menghidangkan makanan dengan menu yang berbeda. Ukurannya sangat besar dan terlihat begitu tidak menarik bagi kedua anak itu. Ia meletakkan di dekat Skyda.

“Nih apa lagi? Kok mirip sam....” Skyda tak bisa protes karena mulutnya tersumpal makanan.

 

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!