Liburan di Dunia Fantasi

Ujung Dunia

“Kita mau salin baju nih. Akyu malu amu liat.” Skyda memuntahkan kandungan di dalam perut. Beruntung kain kering tak terkena sisa pencernaan itu.

“Baiklah, akyu reti.” Daisy berjalan walaupun kapal terus goyang dengan hebat.

Di samping sebuah jendela yang terbuat dari kaca, Daisy memandang ke luar. Ombak yang dahsyat terlihat di depan mata. Air di luar kadang naik kadang turun. Selain itu, ada juga sebuah badai berbentuk seperti tiang langit yang terbuat dari air. Sambaran petir memperparah keadaan di sana.

Sebuah cahaya pelangi sempat dilihat Daisy sebelum guncangan hebat kembali terjadi. Sayang, dinding di dekatnya retak dan air masuk ke dalam. “Om, bocor!” teriaknya berlari menjauhi jendela.

“Mana yang bocor?” tanya Utari.

“Tuh,” gadis kecil menuding jendela.

Utari mengambil beberapa peralatan. Sebuah plaster anti air dilekatkan pada dinding kapal yang bocor. Entah mengapa keretakan semakin besar. Dia melekatkan plester lebih panjang dan lebar, dinding kapal malah hancur. Air masuk ke dalam tempat itu. Beruntung mereka hanya tenggelam sedalam sejengkal orang dewasa.

“Tante rupanya superhero. Atur kekuatan biar kapal gak hancur,” ucap Daisy.

“Bukan Sayang, pi kapal rusak dari luar.” Utari membongkar plester dan menjebol dinding kapal. Anak-anak diajak keluar dari sana.

Daisy melihat sesuatu yang tak biasa. Di hadapannya merupakan sebuah pulau besar dengan panorama yang asing di dalam hidupnya. Vegetasi yang membentuk hutan besar memilik bentuk lain dengan tinggi di luar nalar manusia. Bentuk tumbuhan hanya lurus seperti sebuah jarum kuning dengan ujung kemerahan di setiap ruas. “Tan, bambu itu aneh,” tudingnya.

“Ayo cari yang lain. Bahaya kalau kita di sini.” Utari melangkahkan kaki kiri tetapi tak bisa. Pandangan mengarah ke bawah, makhluk air tak dikenal sedang melilit kedua kakinya beserta anak-anak. “Tolong!” Mereka terseret menuju ke tengah laut.

Datanglah Baret dan Centarian dengan menembakkan sejumlah anak panah. Kedua lelaki itu menebaskan parang di sekitar tubuh Utari dan anak-anak. Air pun berubah kehitaman. “Kalian gak apa-apa kan?” tanya Centarian.

“Om, apa tadi?” Daisy membersihkan sisa makhluk tak dikenal dari tubuhnya.

“Gak tau, ini bukan dunia kita.” Centarian membangunkan Utari dan segera menebas pergerakan yang mengelilingi kakinya.

“Lalu, kita dimana?” Utari memegang Zain dan Skyda.

“Anggap saja ujung dunia.” Baret membelah beberapa tentakel makhluk berwarna tak karuan tersebut.

Tak seberapa kemudian para pria yang lain datang menghampiri mereka. Sebuah formasi dibentuk dengan anak-anak dan wanita berada di tengah.

“Kalian jangan keluar dari formasi. Kita gak tahu apa yang terjadi,” kata Darno.

“Baik, Om,” Utari menggendong si anak, Zain. Sedangkan Skyda dan Daisy digandeng. Dia berjalan secara perlahan menjaga jarak dengan para lelaki dewasa.

Sedikit demi sedikit mereka sampai ke tepi pantai. Zain diturunkan ke tempat dengan pasir berkilau warna kuning keemasan. Sejumlah barang pun diletakkan di sana. Mereka beristirahat sejenak sambil menyaksikan pemandangan yang menakjubkan.

“Semuanya, maafkan aku yang tak bisa mengendalikan kapal dengan benar sehingga kita mendarat di ujung dunia ini. Semua kesalahan ini menjadi bebanku.” Goyu berdiri melemparkan sisa makhluk tak terkenal ke angkasa.

“Kawan, kau sudah lakukan hal yang terbaik. Siapa saja tidak bisa menghindari portal yang tiba-tiba muncul.” Centarian berjalan mendekat dan menepuk bahu Goyu.

“Jika ada yang disalahkan itu adalah aku. Akulah yang mengajak kalian semua sehingga kita terdampar di sini.” Darno sang pemimpin ikut berdiri dan memberikan sebuah parang ke Goyu.

“Ayo kita tebang pohon itu dan buat kapal baru.” Baret berjalan terlebih dahulu ke pohon yang berbentuk aneh.

“Utari, jaga anak-anak. Yang lain ambil barang yang mungkin bisa digunakan.” Darno melemparkan alat penembak tradisional tanpa isi.

Tim telah dibagi, Utari yang mendapat bagian sebagai pengasuh merasa tak enak melihat orang dewasa sedang bekerja. Dia melangkahkan kaki mendekat pada sekumpulan hewan. Anak panah ditembakkan ke udara. Sayang, tiada seekor makhluk pun yang bisa menjangkau penerbang di sana. “Nih alat rusak atau apa?” tanyanya sedikit jengkel.

“Tante, alat itu bukan buat nembak burung pi nembak ikan.” Daisy mengekor pada wanita dewasa itu. Anak yang lain pun sama.

“Amu bener, ayo kita masuk ke hutan.” Utari mengisi sebuah anak panah panjang. Ayunan kaki pun berubah haluan.

“Pi, kata om-om kita....” Skyda berlari dan menyalip sang wanita dewasa.

“Kapan? Mereka gak larang kita tuk masuk ke hutan,” bentak Utari.

“Gak ada,” Skyda yang takut menurut saja.

Anak-anak pun mengikuti ibu satu-satunya di sana.

Jalan setapak menanjak mereka lalui. Hutan berpohon jarum tergantikan dengan berbagai jenis tumbuhan berwarna eksotis yang menghiasi sepanjang jalan. Daisy hendak menyentuh salah satu bunga tetapi dicegah oleh Utari.

“Biar yang dewasa dulu mastiin,” Utari memetik bunga berwarna ungu menyala. Seketika bunga itu padam dan dia menghirupnya. Bau yang menyengat membuatnya menyingkirkan benda yang baru saja dipetik. “Apaan nih, mau membunuhku?” Dia melemparkan bunga itu sekuat tenaga.

“Kalau yang ini pasti harum,” Zain mengambil bunga yang serupa dengan sang ibu.

“Itu sama aja.” Skyda langsung menampilnya.

“Hai, amu ngajak gelud ya,” Zain menyingsingkan lengan baju.

“Siapa takut,” Skyda melakukan hal sama dengan Zain.

Kedua lelaki saling dorong dan adu kekuatan. Keseimbangan tenaga antara kedua lelaki itu membuat mereka saling maju dan mundur secara bergantian. Tiada satu pun dari mereka yang menurunkan kekuatan dan mau mengalah.

“Anak-anak, udah. Masalah kecil macam nih jangan sampai kelahi.” Utari melerai kedua anak yang sedang berkelahi.

Tangan kiri Zain berhasil lolos dari pegangan sang ibunda. Lelaki itu mendorong Skyda hingga kehilangan keseimbangan dan terperosok ke sebuah jurang. “Argh!”

“Sky!” Utari terlambat untuk memegang tangan si kecil yang malang. Raut wajah tampak seperti ada sebuah rasa kesal dan menyesal. Dia menoleh ke Daisy dan berkata, “Tolong panggilkan orang dewasa.”

“Baiklah.” Daisy berlari keluar arah mereka datang.

Ingatan Daisy masih kuat jalan ketika datang. Dia berlari tanpa memperhatikan keadaan sekitar. Sebuah ranting diinjak dan dia bergelinding menuruni bukit hingga menabrak ke sebuah pohon dengan keras. “Huhuhu!” tangisnya.

Lutut kiri terdapat sebuah luka yang menganga. Daisy tak tahu lagi apa yang harus diperbuat. Dia mengambil penembak tradisional dan digunakan untuk membantu berjalan meski tak banyak membantu. Kaki kiri diangkat, dia pun terjatuh. Gadis itu bangkit lagi dan mencoba untuk bisa bergerak sejauh mungkin.

Dalam keadaan terluka, Daisy masih nekat berjalan ke tempat sang paman menebang. Tenaga yang tersisa sudah terkuras hingga tak tersisa, dia ambruk sebelum sampai di tempat yang diinginkan.

Tubuh gadis itu tak sanggup lagi mengeluarkan suara terkapar cukup lama dikarenakan setiap orang sedang melakukan kegiatan yang telah terencana. Ia hendak berdiri sudah tak kuat lagi. Hanya air mata yang bisa menetes sebagai ungkapan ketidaksanggupan. “Om!” ucapnya dengan sangat pelan.

 

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!