Liburan di Dunia Fantasi
Pisah
Tubuh Daisy melayang tanpa bisa dikendalikan. Rupanya dia sedang diangkat oleh seorang kru kapal menuju ke tempat para penebang.
“Gimana hasilnya?” tanya sang pembawa Daisy, Paron.
“Pohon ini terlalu ulet dan kuat. Parang kita tak bisa memotongnya. Eh, ngapain amu bawa keponakan akyu?” tanya balik Centarian.
“Nih gadis jatuh di sana. Kakinya ada luka cukup parah,” Paron menyerahkan gadis kecil ke Centarian.
Parang yang sempat dipegang sang paman dijatuhkan. Lelaki itu memeriksa sang keponakan yang sudah dianggap bagaikan anak sendiri. Luka dikaki kiri diperiksa. Beruntung luka tak terlalu dalam.
Kain di sekitar luka dirobek. Sang pelaut mengoleskan obat luka luar dan membalutnya dengan sebuah kain kasa. Dia menggerakkan kaki Daisy beberapa kali. “Sayang, apa yang terjadi padamu?”
“Tante Utari... jatuh,” katanya sedikit perlahan.
“Dimana?” tanya sang paman.
Daisy menunjuk ke arah hutan tempatnya terjatuh.
“Jaga keponakanmu, biar kami yang mencari.” Paron bersama dengan kedua temannya berlari ke arah yang ditunjuk Daisy.
Mentari telah hilang di dalam air laut. Hawa dingin mulai berhembus mengisi kekosongan di sana. Para pelaut mengumpulkan ranting yang tercecer dan disusun selayak gunung. Bahan bakar disiramkan, api mulai disulut. Mereka berkumpul di sana untuk mencari sebuah kehangatan. Beruntung mereka masih bisa menemukan hewan yang bisa dimakan.
“Tiga teman kita sudah lama masuk ke dalam dan belum kembali. Aku dan Ranu akan menyusulnya. Kalian bertiga tinggal di sini dahulu.” Darno berdiri sambil mengambil satu tusuk ikan laut. Orang yang diajaknya pun sama.
Malam semakin larut, udara pun semakin dingin. Sang pemimpin yang ditunggu tak juga kujung datang. Mereka terus berada di luar tenda sambil menghangatkan tubuh di dekat api yang membara. Beberapa batang kayu dimasukkan agar api tak padam.
“Sy, gimana kakimu?” tanya Centarian.
“Masih sakit, Om,” jawab Daisy.
“Ya udah, amu masuk dan tidur dulu,” Centarian membawa si gadis kecil ke dalam tenda. Tubuh Daisy dibaringkan di atas sebuah tikar.
“Om juga tidur,” Daisy memandang ke lelaki itu.
“Gak, Om jaga dulu dan Om tidur di tempat lain,” Sang paman membungkus tubuh Daisy dengan sebuah selimut.
“Pi akyu takut tidur ndiri,” berlinang air mata gadis kecil itu.
“Nanti Om nyusul, masih ada rapat dengan teman.” Sang paman berbalik badan dan berjalan dengan merunduk, menyesuaikan tinggi tenda.
***
Permukaan air laut tiba-tiba surut. Daisy dan paman berlari menuju ke batas air. Di sana terdapat banyak ikan yang terdampar di satu tempat. Satu per satu hewan tersebut diambil dan dimasukkan ke sebuah wadah.
Tiba-tiba datang sebuah ombak setinggi bukit. Centarian membuang wadah berisi ikan dan mengambil Daisy. Mereka berlari menjauhi pantai. Sayang, ombak yang bisa dijauhi dan mereka masuk ke dalam arus tersebut.
“Om, gimana nih?” Ikan yang berada di tangan Diasy lepas dan berenang di sekitar sana.
“Jangan khawatir, Om ada di sini,” Centarian memasang peluru pada penembak sederhana.
Terdapat sebuah pergerakan tak biasa di permukaan air yang bergelombang. Dia menggerakkan tubuh dan bersembunyi di belakang tubuh sang paman. Hiu yang dikira Daisy tetapi naga air yang muncul. Hewan itu berdiri setinggi lebih dari tiga meter di hadapan mereka.
“Om, aku takut,” kata Daisy.
“Gapapa, Sayang,” Centarian melepaskan anak panah.
Makhluk air itu tak berefek pada serangan sang paman. Malah hewan tersebut mendekat dan menyerang kedua orang itu. Terpaksa mereka berpisah untuk menghindari serangan yang dahsyat tersebut.
Daisy terus menggerakkan kaki mengarungi permukaan air yang tak tenang menjauhi kejaran sang naga. Kecepatan yang dimiliki tak mampu menghindari pengejaran itu. Si naga membuka mulut, dia terseret arus menuju ke mulut hewan itu. Daisy ditelan bulat-bulat.
“Argh!” teriak gadis itu sekencang mungkin. Kedua mata dibuka, Daisy berada di dalam tenda. Dia baru sadar jika itu hanyalah mimpi buruk. Tubuhnya kering kecuali bagian pertemuan antara kedua kaki. “Argh!” teriaknya lagi.
Pintu tenda dibuka, sang paman masuk ke dalam ruangan itu. “Sy, ada apa?” tanyanya.
“Akyu ngompol. Jangan bilang Tante, ya,” Daisy menunjuk pada pakaian yang basah.
“Amu nih, ada-ada aja,” Centarian menepuk jidatnya sendiri.
Dikarenakan tak bisa berjalan, Daisy mengganti sendiri pakaian yang basah dalam keadaan duduk. Bagian atas berupa kaos yang memiliki penutup kepala berlengan pendek, sedangkan bagian bawah rok yang hampir menutupi lutut. Untuk pakaian yang berbau tak sedap diambil sang paman untuk dibersihkan.
Matahari sudah agak tinggi, kayu yang tak bisa dipotong akhirnya bisa roboh dengan menggunakan gergaji lentur. Namun orang yang berada di dalam hutan belum juga kembali. Mereka tak sampai merangkai pohon yang super ulet itu.
“Cen, mungkin mereka gak tahu lokasi Utari berada. Kita harus ke sana membawa Daisy,” kata Baret.
“Trus, nih gimana?” tanya Centarian.
“Kita tinggal aja dulu. Temuin tim lebih baik daripada kita balik sendirian.” Baret mengambil parang dan penembak sederhana.
“Aku tuju ama amu. Sayang, tolong beritahu Om,” Centarian menggendong si keponakan. Tali panjang diikat pada tubuh kedua orang itu.
“Ok, Om.” Daisy menaikkan penutup kepala.
Beberapa barang dibawa Baret dan Goyun. Mereka berjalan ke dalam hutan sesuai dengan petunjuk dari Daisy.
Lokasi tempat jatuhnya Uari masih diingat Daisy. Bahkan di sana bekas tempat Utari terjatuh masih tampak. Namun tak ada satu pun orang di sana kecuali keempat orang itu.
“Sy, mana orangnya?” tanya Goyu.
“Seingatku Tante jatuh di situ. Mungkin aja dimakan harimau,” Daisy menunjuk pada lokasi terakhir kali melihat Skyda terjatuh.
“Gak usah bergurau. Gak ada tanda-tanda pertarungan,” Baret mengamati setiap jejak yang ada di sana.
“Itu apa, Om?” Daisy menunjuk ke seekor hewan berwarna putih dengan loreng biru kehijauan. Kepala makhluk tersebut membuka keempat mulut selayak bunga yang mekar.
Tak hanya satu saja, hewan berekor tiga itu mengundang kawan lain sehingga mereka berjumlah tiga ekor.
“Baret, katanya amu mantan preman. Lawan dua macan, sisanya akyu dan Centarian.” Goyu mempersiapkan sebuah parang.
“Masalahnya akyu hanya pernah menang lawan satu macan, kan dua hewan sekaligus,” kata Baret.
“Trus, gimana?” tanya Goyu.
“Cabut!” Centarian berlari saat seekor hewan mirip harimau datang mendekat.
Di dalam pelarian, Centarian memasang anak panah pada penembak. Senjata telah siap, dia berbalik arah mengamati gerak makhluk yang baru dikenal. Anak panah dilepaskan saat pemangsa hutan telah dekat. Sayang, serangannya hanya berhasil mengenai bagian telinga yang lebih mirip dengan bentuk sebuah daun. Dia bergerak ke kanan menghindari terkaman kuku aneh dari sang lawan.
Penembak panah yang dibawa Centarian menghancam sebuah batu di tepi sungai dan tak bisa berfungsi sebagaimana mestinya. Dia membuat senjata tersebut dan mengambil sebuah parang.
“Om, gimana nih?” Daisy ketakutan setengah mati.
“Tenang aja, Oom pernah menang lawan hiu, ndirian. Jangan nangis, Sayangku.” Centarian memasang sebuah formasi dengan parang sejajar dengan hidung.