Liburan di Dunia Fantasi
Berlibur di Tengah Lautan
Hari itu merupakan awal libur sekolah setelah sekian lama belajar. Daisy tak menyia-nyiakan kesempatan dengan bangun di pagi hari. Bahkan mentari saja belum menampakkan diri di ufuk sebelah timur. Dia merapikan sendiri tempatnya bermalam.
Gadis itu keluar dari kamar tidur menuju ke kamar mandi. Dikarenakan sedang dipakai, dia berdiri di dekat pintu masuk. Tangan kanan dan kiri bermain kain untuk menggerakkan tubuh. Sesekali juga mata digosok dan hawa di dalam tubuh keluar melalui mulut.
Pintu kamar mandi terbuka. Seorang lelaki dewasa keluar dari dalam sana. Dia melangkahkan kaki mendekat pada anak setinggi empat kaki. “Daisy, amu dah bangun. Mau ngapain?” tanyanya.
“Ikut Om, kalau boleh,” jawab gadis beranting mutiara.
“Hahaha, sana main boneka saja,” Sang paman mengacak rambut Daisy.
“Om, aku gak suka main boneka, boleh ya,” Daisy memandang ke wajah sang paman.
“Bahaya Sy.” Sang paman berpaling mengabaikan Daisy.
Gadis itu terus merengek mengekor pada paman yang bertubuh setengah basah. Ke mana pun lelaki itu pergi, Daisy selalu saja mengikutinya. Hanya saja dia tak bisa masuk ke dalam kamar paman yang ditutup dari dalam.
“Sayang, ngapain amu diri di situ?” Perempuan dewasa berambut menutupi tonjolan di dada keluar dari kamar lain dengan membawa setumpuk baju kotor.
“Gini Tan, akyu mau ikutan Om,” pandangan si gadis bermata indah beralih pada wanita yang mengenaikan celana pendek.
“Mas, bolehin aja. Lagian, Daisy perenang cepat,” wanita yang dipanggil Tante oleh Daisy berjalan ke kamar mandi.
“Serah amu aja.” Sang paman keluar dari kamar dengan penggunakan baju lengan pendek bercelana panjang.
“Ye!” Daisy melompat kegirangan hingga handuk yang dibawanya terjatuh.
Daisy lupa jika ingin membersihkan diri karena terlalu gembira dan semangat mengikuti sang paman. Dia langsung berlari ke kamar tidur. Gaun panjang yang digunakan untuk tidur diganti dengan kaos bertanpa lengan dan celana sepanjang betis sedikit ketat. Sebuah kain diikatkan pada leher.
Tata rias tubuh telah selesai dilakukan. Daisy menaruh pakaian kotor ke sebuah bak karet. Kaki mungilnya melangkah menuju ke teras rumah. Di sana ia berjumpa dengan beberapa lelaki rekan kerja sang paman.
“Sy, amu mau ikutan ya?” tanya seorang lelaki bertato sebuah simbol.
“Iya Om, aku kan sedang libur,” gadis satu-satunya di sana mendekat pada pria itu tanpa ada rasa takut walaupun yang berada di hadapannya berwajah sangar. Bahkan ia berani bersalaman dan menatap wajahnya.
“Anak yang pemberani. Nanti kalau kapal tenggelam, ajarin Om berenang, ya,” Lelaki bernama Baret membelai rambut atas Daisy.
Anggota tim sejumlah sembilan orang dewasa dan tiga anak-anak telah berkumpul di depan rumah Centarian. Mereka membawa sejumlah alat yang selesai diperbaiki dan menjejakkan kaki di tanah berpasir.
“Tunggu!” Sang bibi berlari keluar dengan membawa sebuah kotak makanan dan alat panah sederhana. Barang tersebut diserahkan kepada anggota termuda. “Sayang, amu perlu jaga-jaga dan bawa makanan. Om-om semua berpengalaman, amu tak.”
“Siap Tante,” Daisy memberi hormat dan mengambil pemberian sang bibi.
Rombongan yang dipimpin Darno berjalan secara bersama melewati setiap rumah yang dikelilingi pasir. Mereka tiba di tepi sebuah dermaga. Di sanalah sebuah kapal dengan panjang dua puluh meter lebih sedang berlabuh. Satu per satu anggota tim naik ke dalam kapl itu, termasuk juga Daisy.
Gadis bermata seperti emas itu menuju ke sebuah ruang kecil untuk menaruh barang sekaligus tempat peristirahatan awal kapal. Namun Daisy tak mau diam di sana menikmati gerakan kapal yang digoyang ombak. Ia mengikuti sang paman ke dek kapal dan menyaksikan pemandangan air sejauh pandangan.
“Anak manis, tidur aja di dalam,” goda sang nahkoda.
“Makasih Om, tapi akyu bukan anak manis yang dirubung semut.” Daisy memberikan senyum pada sang nahkoda.
“Hahaha,” tawa anggota tim yang lain.
“Goyu, ketrigger ya oleh gadisnya Centarian. Rasanya gimana gitu,” goda Baret.
“Diam kamu atau kapal ini kubalikin,” sang nahkoda sedikit emosi.
“Udahlah Om, kita kan gak bercanda. Akyu main aja,” Daisy melangkahkan kaki menuju ke tepi kapal.
Udara semakin hangat, tetapi gadis itu tak beralih ke dalam kapal. Dia menikmati setiap ombak besar yang mendatangi kapal. Begitu juga dengan suara deburan ombak. Kedua tangan dibentangkan menghadapi angin laut yang menjdai sebuah kesejukan.
“Ba!” teriak seorang lelaki bercelana sebatas lutut dengan kaos yang sama di belakang Daisy.
Terkejut, jantung Daisy berdetak lebih kencang. Tangan kanan dikepalkan sekuat tenaga dengan penuh amarah. Gadis tersebut menoleh ke belakang dan bersiap memukul. “Si, jangan lakuin itu,” ucapnya.
“Sy, jangan gitu. Akyu cuma bercanda,” Lelaki sebaya dengan Daisy mengangkat tangan.
“Oh, sorry layo. Nyata amu, Zain.” Daisy menurunkan tangannya.
“Hahaha, makanya jangan ngagetin anak sepet macam dia,” tawa lelaki lain yang menggunakan alat pelampung.
“Capa amu? Gak kenal akyu,” gadis kecil memandang ke lelaki yang baru ditemui untuk pertama kali.
“Kenalin nih, namanya Skyda. Dio keponakannya om Baret,” kata Zain.
“Hai Sisi, yuk kita kenalan,” Skyda menjulurkan tangan kanan.
“Kan Sisi, pi Daisy,” gadis yang tak mengenakan penutup lengan menjabat Skyda.
“Eh, jangan lama-lama.” Zain meleraikan kedua orang itu.
“Yuk kita main....” Skyda belum selesai berkata tetapi ombak besar sudah datang. Dia tak sempat berpegangan sehingga terperosok ke dalam air asin.
“Skyda!” Zain ikut melompat ke laut.
“Aku gak papa.” Lelaki berambut pirang merentang tangan untuk menyeimbangkan tubuh yang terbawa arus laut.
“Gak papa gimana? Amu gak bisa renang.” Zain menggerak tangan dan kaki. Tubuh sang teman dipegang untuk menjaga agar tak masuk ke dalam laut.
Ban besar dilemparkan tak jauh dari tempat Zain dan Skyda berada. Dua kaki dan satu tangan Zain si anak pantai membawa mereka mendekat pada pelampung. Mereka naik ke alat bantu sebelum ditarik para pelayan.
Zain dan Skyda ditarik ke atas oleh para kru kapal. Mereka di tempatkan di tengah dek dan diberi handuk. Pelampung Skyda dilepaskan.
“Ngapain aja kalian? Kok Skyda bisa masuk ke air. Bahaya tau,” geram seorang ibu satu-satunya di sana.
“Kami tadi sedang kenalan dan kena ombak. Mungkin Ada mabuk laut dan jatuh deh,” kata Daisy.
“Namaku Skyda. Kalau mabuk laut benar, ombaknya yang salah,” imbuh Skyda.
“Udahan ya, ada badai besar yang datang ke mari. Ungsikan anak-anak, cepetan,” Centarian langsung memboyong si keponakan dan membawa masuk ke dalam ruangan.
Utari sang ibunda Zain membawa kedua anak yang tersisa di dalam kapal.
Di ruangan yang diterangi lampu itu ketiga anak di turunkan. Kain kering diberikan kepada anak yang masih belum mengganti pakaian basah.
“Sy, nyingkir sana,” Zain menatap mata gadis kecil.
“Ngapain?” Ombak besar kembali menggoyangkan kapal itu sehingga Daisy terjatuh.