Liburan di Dunia Fantasi

Ada Naga?

Petir menyambar di tempat Daisy dan Rikma bertikai. Kedua gadis itu mundur menghindari kilatan cahaya mematikan. Pandangan mereka mengarah pada asal energi itu. Di sanalah makhluk setinggi setengah meter berkuku besar menyerang mereka.

“Hei, itu bahaya, curut,” kata Daisy.

“Kau jangan seenaknya nyebutin aku Curut. Namaku Bajra si archid petir.” Makhluk berbulu biru maju beberapa langkah sambil mengeluarkan energi listrik.

Daisy masih belum sempat untuk mengeluarkan mengumpulkan energi untuk mengeluarkan aura unsur. Namun air naik secara mendadak memisahkan ketiga anak yang sedang pertingkai. Di sanalah muncul sesosok tanggang wasesa yang sedang berdiri di atas air yang membeku.

“Anak-anak, kekuatan itu untuk melindungi diri. Bukannya kalian membunuh satu sama lain. Paham!” kata Sarita dengan nada sedikit tinggi.

“Yeyeye, archid kena marah. Akyu lum ngeluarin apa-apa.” Daisy menari kegirangan.

“Diam kau!” bentak Sarida dengan nada tinggi.

Anak-anak yang berada di tempat itu terdiam seketika walaupun yang berada di hadapan mereka hanya makhluk setinggi setengah meter. Tiada satu pun dari mereka yang berani membentak walaupun beberapa dari mereka memiliki kekuatan aura unsur alam. Sebagian dari anak-anak hanya duduk manis beralaskan tumbuhan lantai.

“Bu, aku tadi cuma misahin anak yang sedang berkenali.” Bajra melompat ke sebuah bongkahan es sambil memancarkan energi listrik dari sela kuku besar.

“Namamu Bajra bukan? Niatmu bagus tapi caramu salah. Itu bisa saja membahayakan teman-teman. Belum lagi yang kau lawan Daisy.” Sarita mengendalikan es yang mencair dan membawa tubuh itu hingga sampai ke tempat Daisy berdiri. Pandangan fokus pada anak manusia itu. “Apa yang kau ributkan?” tanyanya sedikit emosi.

“Lupa, hehehe,” tawa kecil Daisy.

“Aku mau ngenalin Daisy ke temanku tapi gak tahu dengan cara apa. Kejadian saat Daisy merusak rumahku kuceritakan saja.” cakar Rikma ditusukkan pada bongkahan es. Gadis narasega itu dengan mudah melompat pembatas antara dirinya dengan Daisy.

“Caramu juga salah. Memperkenalkan orang jangan disebut kekurangannya, pasti dia marah. Lain kali sebut kelebihannya. Paham?” tutur Sarita.

“Paham,” jawab anak-anak secara serentak.

Daisy, Rikma dan Bajra dipertemukan oleh Sarita. Ketiga anak itu saling bersalaman dan meminta maaf atas kesalahan masing-masing. Mereka langsung akrab dan mau mengikuti setiap arahan dari wanita dewasa menuju ke sebuah tempat yang aman.

Di tempat yang jauh dari keramaian orang dewasa, anak-anak dari berbagai nara saling berkenalan satu sama lain di bawah pengawasan Sarita dan beberapa wanita dewasa lainnya. Namun tak semuanya didatangi Daisy. Anak perempuan manusia satu-satunya itu ketakutan setelah melihat makhluk bersisik hijau kekuningan yang berdiri menggunakan ekor besar. Wajah dan daun telinga yang berbentuk seperti sirip kuda laut membuat gadis itu tak bisa menahan diri. “Tolong! Jangan makan aku!” teriaknya sambil berlari kencang.

“Sy, tunggu!” Rikma hendak mengejar tetapi sang mentor pengendali air terlebih melarangnya. Si narasega muda pun berbalik ke kerumunan anak-anak.

Di balik sebuah pohon di tepi sungai, Daisy bersembunyi dari kerumunan anak-anak. Denyut jantung begitu cepat hingga aura unsur keluar tanpa kehendaknya. Wajahnya yang manis memucat bagaikan terkena benda satu kilogram. Pernapasan pun terasa begitu tergesa-gesa. Ia menggerakkan tubuh untuk melihat keadaan di balik pohon besar itu. Sang mentor pun muncul dihadapannya, “Wa!”

Jantung berdetak semakin kencang, Daisy pun berbalik di sebuah pohon besar. Rasa takut dan terkejut membuat hatinya semakin tak menentu.

“Sy, ada apa denganmu? Lihatlah air di sungai itu?” Sarita sang mentor menunjuk ke air sungai yang bergejolak tak karuan.

“Akyu akut, ada naga,” jawab Daisy perlahan.

“Naga?”

Daisy menganggukkan kepala.

“Tenang dulu, ambil pernapasan yang dalam.”

Perintah dari sang mentor dilakukan gadis kecil itu. Pernapasan bisa seperti semula, jantung pun berdetak normal. Wajah Daisy kembali bersemi bagaikan bidadari. Ia pun bisa mengontrol aura unsur sehingga air yang berada di dekat sana kembali seperti semula.

“Sayang, tunjukkan di mana naganya,” kata Sarita.

“Akyu akut.” Wajah Daisy kembali memucat.

“Jangan takut, ada Ibu di sini. Untuk apa memiliki kekuatan kalau bukan untuk membela diri sendiri dan orang yang disayangi.” Sarita berbalik badan melangkahkan kaki menjauh pohon besar.

“Tunggu, jangan tinggalin akyu.” Tangan kanan Daisy mencoba untuk maraih sang mentor.

“Baiklah, tunjukkan naga kepada Ibu.”

Daisy berjalan merunduk di belakang makhluk yang lebih kecil darinya. Kedua tangan berada di wajah bersiap menutupi wajah jika ada naga yang mendekat. Ia dan sang mentor telah sampai di tempat anak-anak berkumpul. Jari telunjuk menuding pada makhluk yang pailing ditakuti itu.

“Oh, dia bukan naga, tapi wiwera,” Sarita berbalik arah dan membuka wajah Daisy.

“Boong, tuh naga yang mau makan akyu.” Daisy masih tetap mempertahankan pendapatnya.

Salah satu dari wiwera menggerakkan ekor sehingga bisa mendorong sepertiga panjang tubuhnya dalam keadaan tegak. “Bu, dia kenapa?” tanyanya.

“Takut pada kamu, katanya naga. Tolong jelaskan kepadanya,” jawab Sarita.

“Kawan, kami ini wiwera bukan naga. Hanya satu dari kami yang bisa menyemburkan api. Dialah Agnisa, peserta dalam perlombaan ini. Mari ikut bermain bersama kami.” Anak dari nara wiwera mengulurkan tangan kanan berkuku kecil tapi tajam. Bola mata yang berwarna kuning berusaha untuk menatap mata manusia yang baru dikenali.

“Amu gak makan manusia?” wajah Daisy bertambah pucat bagaikan terkena air es.

“Kami tidak makan nara, termasuk manusia. Namaku Sanaka,” jawab wiwera kecil.

Awal mula Daisy takut jika makhluk yang dianggap naga itu memakan dirinya. Namun dia mencoba untuk memberanikan diri pada nara yang dianggap bersahabat itu. Tangan kirinya menyentuh tangan wiwera, rasanya lembut dan nyaman. Dia tak lagi takut pada hewan itu. Daisy mendekat pada Sanaka sambil meminta maaf, “Sorry, akyu kira amu naga.”

“Gak apa-apa. Lagipula kamu bukan menghuni di sini.

Daisy kembali di kerumunan anak-anak. Mereka pun melakukan aktifitas bermain sambil menunggu keputusan panitia.

Bermaian di darat saja membuat Daisy merasa bosan. Terlebih lagi kebanyakan di sana sedang bermain boneka yang dibuat orang dewasa. Gadis yang tak suka boneka itu hanya berpangku diri menyaksikan teman sebayanya sedang larut di dalam kesenangan pribadi. Ia pun berjalan ke tempat ank laki-laki berkumpul.

“Sy, ngapain amu di mari?” Ini bukan mainan yang cocok untuk amui,” tanya Zain.

“Iya, di sini tidak ada anak perempuan yang main bola. Sana main boneka saja,” imbuh lelaki muda dari spesies narasima.

“Kan, akyu mau ajak Zain tuk buktiin kalau akyu bisa ngendaliin air. Akyu mau ke sungai.” Daisy menghentikan bola yang tertuju padanya.

“Amu bisa ngendaliin air? Hahaha,” tawa Zain yang diikuti anak laki-laki lain.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!