Liburan di Dunia Fantasi
Para Pengguna Aura Unsur
“Gak caya ya, mari ikut akyu,” kata Daisy.
“Ayo, buktiin kalau amu bisa lakuin itu.” Zain maju beberapa langkah benda menantang teman sekelasnya.
Daisy dan beberapa anak laki-laki menuju ke sungai terdekat di sana. Gadis kecil itu tersenyum kepada para lelaki sambil mengumpulkan segenap tenaga. Aura mulai terbentuk di kedua telapak Daisy. Tangan kanan bergerak menyedot sejumlah air di sana. Daisy menari diikuti oleh pergerakan air. Gadis muda itu pun bergerak dengan penuh lemah gemulai.
Tak hanya berada di darat saja, Daisy masuk ke dalam lain. Tubuhnya yang begitu lintar malah terlihat mirip duyung daripada manusia. Gabungan gaya renang dan pengendalian air menciptakan gerakan indah di dalam sengai bak ikan terbang yang menarik. Ia menggerakkan tangan sehingga membentuk sebuah pusaran air dan ia terangkat di atasnya. Daisy turun di dalam pusaran sebelum pusaran memutar dan hanya menyisakan dirinya saja.
“Ama kerasukan setan apa? Gimana amu bisa?” Zain menggosokkan mata berkali-kali untuk memastikan pandangan matanya benar.
“Iya, nih Daisy kawan amu. Gimana?” gadis yang masih berada di salam sungai menyatukan kedua alis mata.
Beberapa calon pserta berlombaan kumpuldi tepi sungai karena tertarik akan penampilan Daisy. Mereka berdiri bersama dengan anak lain yang mengikuti nya.
“Halah, gitu mau ngarep menang? Jangan harap.” Bajra maju beberapa langkah memperlihatkan sedikit unsur petir. Keempat kuku tangan kiri ditancapkan pada tanah, ia memutarkan tubuh sambil menyeluarkan petir. Sebuah permainan cahaya indah pun diperlihatlah. Listrik dikumpulakn menjadi satu titik, ia pun melompat sambil melepaskan energi ke udara. Kilatan indah pun terjadi. “Gimana?” tanyanya sambil menggandengkan kedua alis.
“Itu saja? Pantas aja kamu dipanggil cewek air dengan sebuah curut.” Seorang anak narasima dengan membawakan sebuah batang pohon yang melebihi tingginya.
“Hei, aku archid.” Bajra hendak mengeluarkan petir tetapi diurungkan karena ada mentor di sana.
Batang kayu diletakkan pada tanah didekat sungai. Si narasima muda hendak mempergunakan batang itu untuk menunjukkan kelabihannya. Namun ia terhalang oleh sebuah cahaya yang dipancarkan dari makhluk bersayap empat, si merikusuma.
“Kamu nanti saja, izinkan aku menunjukkan apa yang kubisa,” kata makhluk yang terbang di dekat Daisy.
“Silahkan.” Narasima berjalan mundur dan bergabung dengan anak yang lain.
Meskipun tanpa menggunakan tongkat sama sekali, makhluk yang memiliki dua antena di kepala itu bisa memancarkan cahaya. Ia merapi dengan indah di udara. Serangkaian cahaya yang dikeluarkan berbalut indah dalam sebuah tarian tiga dimensi di udara. Ia terbang ke sela pepohonan dan melakukan trik cahaya yang luar biasa. Sayap dikepakkan dengan cepat dipadukan cahaya kilau membuatnya bisa menulis di langit walaupun hanya sebentar. Kata mutiara indahlah ditorehkan.
“Ah, main cahaya begitu mana asyik. Lihatlah ini.” Narasima muda mengumpulkan sejumlah energi tetapi kayu yang berada di depannya terbelah menjadi dua. Pandangan mata pun mengarah pada si pembelah kayu, nagasega. “Hei, itu bukan buatmu,” marahnya.
“Kamu lamban,” ejek Rikma.
“Beraninya kau ini!” Kedua mata narasima sudah mulai memerah. Segala cakar dikeluarkannya.
Gundukan tangan bergerak di tengah anak yang sedang bertikai itu. Di atas itu muncullah duyung yang selama ini menjadi pujaan Daisy. Sang mentor pun juga bersama dengan lelaki berdiri di atas kaki seperti ekor ikan.
“Anak-anak, jangan berkelahi dengan menggunakan kekuatan. Gunakanlah secara bijaksana seperti dia,” tunjuk sang mentor pada anak tanggang wasesa yang berakrobat di atas air.
Makhluk yang tak setingga barang bawaan berupa batu itu menari indah di atas sungai. Pergerakan yang lincah ditambah kekuatan yang luar biasa membuat membuat batu tersebut tanpa beban. Batu masuk ke dalam air dan menciptakan sebuah gelombang. Saat itulah ia mengikuti gelombang dan mengakhiri pertunjukan dengan sebuah lompatan indah.
Beberapa anak mulai menunjukkan bakat mereka masing-masing walaupun hanya sebagian besar tak memiliki aura unsur. Tak sedikitt mengeluarkan kemampuan yang konyol dan ala kadarnya. Mereka saling berebut waktu tanpa bisa diatur.
Daisy yang semula ingin menunjukkan kemampuannya pada mereka malah menjauh dari tempat itu. Batang pohon yang dibelah Rikma memberikan sebuah ide tersendiri. Anak archid pun ditariknya.
“Apa ini, Mbake?” tanya archid berbulu hitam.
“Kita buat aja kapal buat balapan di air. Bisa gak?” tanya balik Daisy.
“Beres.” makhluk kecil tersebut memanggil beberapa temannya. Mereka segera datang dan mengerjakan sesuatu yang diminta Daisy. Tangan ditancapkan beberapa kali, bagian pohon pun terlepas dari batangnya. Mereka melakukan itu berkali-kali dengan cepat. Terbentuklahn sebuah kapal kecil.
“Hei, itu buat apa?” tanya narasima muda.
“Gimana kita balapan aja?” Daisy dan para archid menyatukan kedua alis.
“Aku setuju denganmu asal kau tidak berbuat curang. Kau tidak boleh ngendaliin air.” Narasega muda mengeluarkan secara cakar dan menebaskan pada batang pohon.
“Gak jamin deh.” Daisy mendorong perahu bersama dengan beberapa archid.
Beberapa kapal telah berada di tepi sungai. Anak-anak pun mulai menaiki kendaraan apung sedehana tersebut. Mereka bersiap dengan dayung masing-masing. Begitu juga dengan Daisy yang telah bersiap untuk menunjukkan kemahirannya dalam mendayung kapal kecil. Namun, ia mengurungkan niat itu mengingat air yang berada di depannya tak mungkin bisa untuk dilewati.
“Bu, pa salah akyu?” tanya Daisy.
“Gak ada, cuma ini gak adil bagi yang lain. Kamu balapan dengan pengguna aura unsur yang lain aja,” kata Sarita.
“Capa aja?” tanya Daisy lagi.
“Tuh,” tunjuk Sarita pada beberapa nara yang berada di belakang Daisy.
Gadis yang tidak diperbolehkan ikut pertandingan itu turun dari kapal. Ia melangkahkan kaki menuju ke para nara lain yang lebih dewasa darinya. “Kakak-kakak semua, bukannya di sana ribut?” tanyanya.
“Tuh urusan orang dewasa. Apakah kamu takut kalah?” tantang wiwera bermotif seperti batik mega mendung berwarna hijau dan kuning. Kain yang digunakan berwarna selaras dengan kulitnya.
“Gak lah, Kakak bukan naga kan. Akyu akan kalahkan amu semua.” Daisy menggenggam tangan dengan percaya diri. Raut wajahnya penuh dengan keyakinan.
“Eh, namamu siapa dan kamu ini apa? Gak ada miripnya dengan nara di sini?” tanya duyung berkulit perak. Sisiknya berkilau memantulkan cahaya dari mentari.
“Akyu Daisy si manusia cantik.” Daisy bergaya dengan tangan kanan sejajar mata. Kedua jari tengah mengapit mata berwarna kuning keemasan. Terpaan angin sepoi yang menerbnagkan rambut hitam menambah kesan manis anak manusia itu.
“Manusia? Bukankah tak ada manusia di sini? Mana mungkin manusia bisa mengendalikan aura unsur, hahaha,” tawa si wanita bersayap keuning kecoklatan.
Sang makhluk berkulit gelap mirip buaya mendekat pada gadis yang mengaku sebagai manusia. Ia mengitari Daisy beberapa kali sambil mengamati makhluk muda yang baru dilihatnya tersebut. Mata berlensa bundar penuh berwarna hitam menatap tajam akan gadis itu.