Liburan di Dunia Fantasi
Tertundanya Kompetisi
“Ini enak, Mama gak jau?” Zain terus memasukkan makanan pemberian archid.
Tiada apapun yang terjadi pada si buah hati. Utari merasa yakin jika makanan tersebut tidak berbahasa sama seali. Dia mulai memasukkan pemberian archid titu ke dalam mulut satu per satu. Rasanya sangat asing dan bercampur aduk menjadi satu. Utari semakin penasaran tetapi ditahan.
Sisa makanan dibuang ke dalam api. Nyala yang sempat meredup kini kian membesar. Terlebih lagi setelah para archid menyiramkan cairan pembakaran.
“Aku mau tanya, mengapa kalian bermusuhan dengan byaka? Apakah mereka nara jahat?” tanya Utari.
“Mereka hampir memakan anak kami hanya karena kami menemukannya dalam keadaan sekarat,” kata Masura.
“Jika itu keadaannya, bagaimana kau aku saja yang pergi menemui mereka,” Utari berdiri tegak di hadapan para srchid.
“Ma, jangan. Akyu gak mau Mama napa-napa. Akyu akut,” Zain kembali mengeluarkan air mata.
“Sayang, Mama gak kan napa-napa.” Utari berbalik badan dan melangkahkan kaki menuju ke tempat si anak berbaring. Tangan kirinya mengusap air mata di pipi Zain. “Tidurlah, esok bisa main lagi,” imbuhnya sebelum memberikan sebuah kecupan manis.
“Pi, Mama gak kan pergi, kan? Akyu akut.”
“Malam ini Mama gak kan pergi. Mama tidur sini ama amu.” Utari merebahkan tubuh di samping Zain. Tangan kiri mendekam pada tubuh si buah hati, kaki ditekuk untuk mengantisipasi hawa dingin.
Malam semakin larut, hawa kantuk pun semakin sulit untuk dilawan. Zain menoleh ke samping kiri. Sang ibu dilihatnya telah memejamkan mata. Tangan kanan menjangkau tubuh orang yang telah merawatnya sebisa mungkin. Keyakinan akan selalu bersama sang ibu telah tinggi, ia pun menutup mata menuju ke alam mimpi.
Di pagi buta, Zain bangun karena menginginkan untuk mengeluarkan cairan sisa pencernaan. Kedua mata dibuka, ia menleh ke arah kiri. Orang yang memeluknya kini telah tiada. “Ma! Mama mana?” teriaknya bersama dengan air mata yang terus mengalir.
Beberapa archid datang mengerumuni Zain. “Kamu kenapa?” tanya Masura.
“Mama mana?” tanya balik Zain.
“Sabar, mamamu sedang ke tempat byaka. Sebentar lain juga kembali,” jawab Masura.
***
“Jadi, Mama amu ninggalin amu tuk misi gak jelas gitu?” tanya Daisy.
“Gak tau juga. Mama cuma nulis pesan agar akyu trus ama archid. Lain itu gak ada, hehehe,” tawa kecil Zain.
“Kakak, manusia ini kok cantik. Apakah kamu akan seperti dia?” tanya archid setinggi empat puluh centimeter. Makhluk kecil itu melompat ke pundak Zain.
“Kan, doi cewek manusia macam amu. Namanya Daisy,” jawab Zain.
“Hmmm, imut juga amu. Namamu capa?” Daisy menjulurkan tangan kanan.
“Marisa, si calon prajurit archid.” makhluk kecil itu melompat ke tubuh Daisy.
Tak hanya Marisa saja, Daisy juga diperkenalkan ke anak archid yang lain. Mereka pun langsung akrab walaupun tak bisa bermain lama karena kendaraan yang mereka telah tiba di tempat berlangsungnya kompetisi.
Para penumpang turun di tepi sebuah sungai. Namun Daisy harus berjalan ke tempat lain bersama dengan para mentor yang telah melatihkan selama ini. Sebuah terowongan yang terbentuk dari batang poon besar dilewat. Sinar berwarna pelangi menimpa dirinya, sensor pun menunjukkan warna biru laut sebelum akhirnya pecah.
“Paan nih?” Daisy bingung tentang situasi di sana.
“Kau didiskualifikasi. Ini akan membahayakan peserta lain,” bentak seorang nara yang berbulu tebal di sekitar area wajah dengan bulu berwarna emas. Matanya memancarkan cahaya berwarna hijau. Telinganya agak meruncing yang mengingatkan pada sesosok singa. Dialah narasima sang perkasa.
“Jangan khawatir, dia baru belajar dan sejauh ini tidak membahayakan,” Gusti mendekat pada makhluk berotot besar itu.
“Tapi manusia itu berbahaya. Mereka licik dan kejam. Anda juga mengambil resiko dengan mengajari manusia,” kata narasima.
Pertingkaian terhadap Daisy menyedot perhatian beberapa kalangan di sana. Namun, gadis yang menjadi sumber permasalahan malah tidak peduli sama sekali. Ia pun berjalan keluar sambil bergerutu, “Gak boleh ikut gapapa. Akyu juga gak ngarep pingin menang.” Sebuah kerikil pun ditendang.
“Adinda, ke sini?” teriak seorang gadis.
“Kak Rikma, dah daftar pa lum?” Daisy berlari ke tempat berdirinya narasega muda yang sedang bersama dengan narasega lain.
“Belum, mereka dibut sendiri. Kamu?” tanya balik Rikma.
“Akyu yang diributin, hehehe,” tawa kecil Daisy yang diikuti oleh nara lain yang ada di sana.
Langit telah berhenti meneteskan tangisan kehidupan. Suasana pun semakin bertambah kacau. Perdebatan demi perdebatan sampai ke luar ruangan yang membuat suasana menjadi ricuh.
Seorang narashima berbulu gelap naik ke atas sebuah panggung yang berada di tengah sungai. Tangan menekan sebuah tombol dentuman besar pun terjadi. Dia berjalan ke tengah panggung sambil memegang sebuah pengesar suara yang berbentuk seperti rumah siput. Sebuah anak tangga pun diraih dan dia berdiri di dekat sebuah lensa pembesar. “Mohon perhatian! Perlombaan mengalami sedikit penundaan. Lomba akan dimulai besok pagi. Harap bersabar,” katanya.
Suasana yang sempat hening kini kembali ricuh. Tak sedikit dari pononton yang meneriakkan kata-kata makian kepada para segenap panitia pelaksana serta tetua masing-masing nara sebagai luapan ketidaksukaan.
Daisy dan anak-anak dari berbagai nara tak ikut pada orang tua dalam suasana yang semakin ramai. Mereka sebuah digiring para penjaga sehingga menjauh dari tempat tersebut.
“Om, kita mau dikemanain?” tanya Daisy.
“Anak-anak dibawa ke tempat yang aman. Biar para orang dewasa yang menyelesaikan masalah ini,” kata seorang baskara.
“Pi akyu bisa ngendaliin air. Ikut ya?” Ekspresi wajah Daisy menunjukkan keinginan yang kuat.
“Justru itu kau harus menjauh dari sini. Kaulah harapan untuk kedamaian di masa mendatang.” Sang prajurit keamanan semakin mendesak anak-anak dengan sedikit pemaksaan.
Gadis kecil itu ingin sekali membantu para prajurit mengamankan keadaan yang semakin kacau. Namun berhatiannya teralihkan ke para nak-anak yang memanggil namanya. Daisy pun berlari menyambut kehangatan persahabatan mereka.
“Perkenalkan, namanya Daisy si manusia. Dia pengguna aura unsur air yang ceroboh, hehehe,” tawa Rikma si gadis narasega.
“Kakak nih, ngenalin orang dengan cara baik dong. Kalau gini akyu gak enak,” Daisy menginjak kaki Rikma tetapi tidak memberi kesan sama sekali.
“Lho, tahunya aku kan kamu pengguna aura unsur air ceroboh yang telah membuat kamarku basah. Udah ditolong malah ngerusak.” Rikma melotot serta menunjukkan gigi tariknya yang tajam.
“Pi, akyu gak sengaja. Akyu kan sedang tidur,” alasan Daisy.
“Itulah yang dikatakan ceroboh. Saat itu aja sembarangan gunain kekuatan.” Bulu di sekujur Rikma berdiri tegak sehingga tubuhnya bertambah besar secara instan.
“Gak sengaja ya gak sengaja. Emangnya amu bisa ngendaliin tubuh saat tidur?” sangkal Daisy.
Kedua gadis itu saling melotot serta menunjukkan ekspresi amarah yang berapi-api. Keduanya saling berdekatkan dan mendorong tanpa menggunakan kekuatan sedikit pun.