Jatuh Cinta Dengan Pengawalku
Rahasia Yang Disembunyikan
“Ayah bohong sama aku.”
Kalimat itu masih terus terngiang di kepala Claudia bahkan sampai keesokan harinya.
Sejak percakapan malam kemarin, suasana safe house terasa semakin dingin. Jackson kembali sibuk dengan rapat politik dan panggilan telepon tanpa akhir, sementara Claudia lebih banyak mengurung diri di ruang tengah ditemani televisi yang bahkan tidak benar-benar ia tonton.
Pikirannya terlalu penuh, tentang ibunya, tentang dunia ayahnya.
Dan tentang kenyataan bahwa hidupnya selama ini dibangun di atas begitu banyak rahasia.
Bibi duduk di samping Claudia sambil merajut seperti biasa, berusaha membuat suasana terasa normal meski keduanya tahu semuanya sudah berubah.
“Aku masih nggak percaya.” gumam Claudia pelan tanpa mengalihkan pandangan dari televisi.
Bibi menoleh kecil. “Tentang apa, Nona?”
“Mama dibunuh.”
Suara Claudia terdengar pelan, namun cukup membuat tangan Bibi berhenti bergerak sesaat.
Ruangan kembali sunyi.
“Ayah tahu semuanya selama ini,” lanjut Claudia lirih. “Tapi dia nggak pernah cerita apa pun.”
Bibi menunduk kecil.
Karena ia sendiri tidak tahu harus menjawab apa.
Suara langkah kaki tiba-tiba terdengar dari arah lorong depan rumah.
Claudia tidak terlalu memperdulikannya sampai suara seorang anak kecil terdengar pelan.
“Papa di rumah?”
Claudia langsung mengangkat wajah.
Seorang anak perempuan kecil berdiri di dekat pintu masuk sambil memeluk boneka kelinci putih di tangannya. Usianya mungkin sekitar lima atau enam tahun. Rambut cokelat mudanya jatuh rapi sampai bahu, sementara mata hazelnya terlihat sangat indah dan jernih.
Anak itu cantik.
Terlalu cantik sampai Claudia sempat terpaku beberapa detik.
Di belakang anak kecil itu berdiri seorang wanita dengan dress putih selutut dan heels berwarna senada. Rambut hitam panjangnya tersusun rapi, wajahnya elegan dengan aura tenang yang langsung membuat ruangan terasa berbeda saat ia masuk.
Cantik, elegan dan terlalu cocok berada di sisi seseorang seperti Jackson Laurent. Claudia mengernyit bingung.
Ia belum pernah melihat wanita itu sebelumnya.
Wanita itu tersenyum tipis sopan saat melihat Claudia. “Kamu pasti Claudia.”
Nada suaranya lembut.
Namun justru itu yang membuat Claudia semakin tidak nyaman.
Sementara itu anak kecil tadi tiba-tiba berjalan menghampiri Claudia dengan senyum polos.
“Kakak…”
Claudia membeku.
Anak kecil itu berhenti tepat di depannya lalu mengulurkan satu permen warna-warni dari genggamannya.
“Kakak mau?”
Namun sebelum anak itu sempat mendekat lagi. Plak!
Claudia langsung menepis tangan kecil itu secara refleks.
Permennya jatuh ke lantai.
Ruangan mendadak hening.
Mata anak kecil itu langsung membesar kaget.
“Kalian siapa?” tanya Claudia dingin.
Nada suaranya membuat Bibi langsung panik kecil.
“Nona…” bisik Bibi pelan sambil menarik lengan Claudia sedikit. “Itu nyonya besar.”
Claudia langsung menoleh cepat. “Nyonya besar?”
Jantungnya mendadak berdegup aneh, tatapannya perlahan kembali pada wanita di depannya dan untuk pertama kalinya, Claudia mulai mengerti sesuatu.
Tidak mungkin, wanita itu tetap tersenyum tipis meski suasana terasa canggung.
“Namaku Elena,” ujarnya lembut. “Aku istri ayahmu.”
Dunia Claudia terasa berhenti beberapa detik.
“Apa?”
Anak kecil tadi menunduk sedih sambil memungut kembali permennya yang jatuh.
“Aku Sofia,” gumamnya kecil. “Aku adik kamu.”
Claudia langsung berdiri dari sofa.
Wajahnya berubah pucat.
Ia menatap Elena lalu anak kecil itu bergantian seolah tidak percaya pada apa yang sedang dilihatnya.
Ayahnya menikah lagi dan memiliki anak lain.
Sementara selama ini dirinya hidup sendirian bersama Bibi dan para pengawal seperti tahanan.
Dadanya mulai terasa sesak, pantas saja, pantas saja Jackson jarang pulang, pantas saja pria itu selalu sibuk.
Karena ternyata ayahnya sudah memiliki kehidupan baru tanpa dirinya.
“Kamu bohong.” suara Claudia mulai bergetar.
Elena menghela napas pelan. “Jackson memang belum sempat menjelaskan semuanya.”
“Belum sempat?” Claudia tertawa kecil penuh emosi. “Atau memang sengaja nggak mau bilang?”
“Nona…” Bibi mencoba menenangkan.
Namun Claudia mulai mundur perlahan.
Tatapannya kembali jatuh pada anak kecil bermata hazel itu.
Anak itu begitu cantik.
Begitu bersih.
Dan sekarang tanpa sadar Claudia membencinya.
Karena anak itu memiliki sesuatu yang selama ini tidak pernah ia dapatkankeluarga.
“Elena.”
Suara berat Jackson tiba-tiba terdengar dari tangga lantai atas.
Semua orang langsung menoleh.
Pria itu turun dengan langkah cepat, wajahnya langsung berubah tegang saat melihat situasi di ruang tengah.
Tatapannya jatuh pada Sofia yang terlihat murung sambil memegang permennya erat.
Lalu pada Claudia yang berdiri dengan mata memerah menahan emosi.
“Ayah nikah lagi?”
Suara Claudia terdengar lirih namun penuh luka.
Jackson terdiam sesaat.
“Ayah punya anak lain?”
Hening memenuhi ruangan.
Dan diamnya Jackson sudah menjadi jawaban.
Claudia langsung tertawa kecil hambar sambil menggeleng pelan.
“Lucu banget.”
“Claudia, dengarkan saya dulu.”
“Sejak kapan?”
Jackson mengepalkan rahangnya kecil. “Empat tahun lalu.”
Jawaban itu terasa seperti tamparan keras. Empat tahun. Artinya selama ini Claudia benar-benar ditinggalkan sendirian.
“Aku tinggal sendirian di mansion itu.” suara Claudia mulai bergetar. “Sementara Ayah hidup bahagia sama keluarga baru Ayah?”
“Itu bukan seperti yang kamu pikirkan.”
“Lalu seperti apa?!”
Untuk pertama kalinya suaranya benar-benar meninggi.
Mata Claudia mulai dipenuhi air mata.
“Aku nungguin Ayah pulang setiap malam kayak orang bodoh.”
Ruangan terasa semakin sesak. Sofia mulai bersembunyi di belakang Elena karena takut melihat Claudia marah.
Sementara Elena sendiri hanya diam memperhatikan.
Jackson berjalan mendekat pelan. “Saya melakukan semua ini untuk melindungi kamu.”
“Jangan pakai alasan itu lagi!”
Air mata Claudia akhirnya jatuh.
“Ayah bahkan punya keluarga lain dan aku nggak tahu apa-apa!”
Jackson terdiam.
Karena tidak ada jawaban yang cukup untuk memperbaiki semuanya.
Dan Claudia belum tahu satu kenyataan lain yang jauh lebih besar bahwa sebagian besar saham dan aset yang dimiliki Jackson sebenarnya berasal dari warisan ibunya.
Semuanya masih atas nama keluarga Claudia.
Namun karena usianya baru sembilan belas tahun, semua kendali masih dipegang Jackson.
Dan suatu hari nanti…
Claudia akan mengetahui semuanya.
“Adrian.”
Jackson akhirnya memanggil dingin.
Adrian yang sejak tadi berdiri diam di dekat lorong langsung maju sedikit. “Ya, Tuan.”
“Bawa Claudia ke apartemen baru.”
Claudia langsung menoleh cepat.
“Aku nggak mau pergi sama siapa pun.”
“Kamu perlu menenangkan diri.”
“Aku bukan anak kecil!”
“Tapi sekarang kamu sedang emosional.”
Nada suara Jackson kembali berubah tegas seperti biasa.
Dan itu justru membuat Claudia semakin sakit hati.
Karena bahkan setelah semua ini, ayahnya tetap memilih mengatur dirinya dibanding menjelaskan kebenaran.
“Ayo,” ucap Adrian pelan sambil mendekat.
Claudia memalingkan wajah cepat untuk menyembunyikan air matanya.
Namun sebelum pergi, tatapannya sempat kembali jatuh pada Sofia kecil yang masih berdiri diam sambil menggenggam permen tadi.
Anak itu tidak salah apa-apa. Claudia tahu itu tapi tetap saja hatinya terlalu sakit untuk menerima kehadiran mereka sekarang.