Jatuh Cinta Dengan Pengawalku
Hubungan yang Tak Seharusnya
“Aku nggak mau balik lagi ke rumah itu.”
Suara Claudia terdengar pelan di dalam mobil yang melaju membelah jalan kota malam itu. Lampu-lampu jalan memantul samar di kaca jendela, sementara hujan tipis mulai turun sejak mereka meninggalkan safe house.
Adrian yang duduk di depan kemudi tidak langsung menjawab.
Sejak tadi Claudia terus diam memandangi jalan tanpa benar-benar melihat apa pun.
Wajahnya masih terlihat pucat dan matanya sembab karena menangis.
Apartemen baru yang dimaksud Jackson berada di pusat kota, di lantai atas gedung mewah dengan keamanan super ketat. Tempat itu lebih modern dibanding mansion ataupun villa sebelumnya, tetapi tetap terasa seperti sangkar lain bagi Claudia.
Bedanya, kali ini rasa sakitnya berbeda.
Bukan lagi karena dikurung.
Melainkan karena merasa ditinggalkan.
“Aku tinggal sendirian selama ini.”
Suara Claudia kembali terdengar lirih. “Ayah bahkan punya keluarga baru.”
Tangannya mengepal kecil di atas pangkuannya.
“Dan aku nggak tahu apa-apa.”
Mobil perlahan berhenti di lampu merah. Adrian akhirnya menoleh sebentar ke arah Claudia.
“Tuan Jackson mungkin punya alasan.”
Claudia tertawa kecil hambar. “Semua orang selalu bilang begitu.”
Lampu hijau menyala kembali.
Mobil kembali bergerak.
“Alasan.” Claudia menggeleng pelan. “Ayah selalu punya alasan buat semuanya.”
Hening beberapa detik memenuhi mobil.
Lalu Claudia kembali bicara dengan suara jauh lebih pelan.
“Aku capek jadi orang terakhir yang tahu segalanya.”
Kalimat itu membuat Adrian diam cukup lama.
Karena jauh di dalam hatinya, ia tahu Claudia benar.
Seumur hidup gadis itu hidup dalam kebohongan yang dibangun untuk melindunginya.
Namun perlindungan itu perlahan berubah menjadi luka.
“Aku iri sama anak kecil itu.”
Tatapan Adrian langsung sedikit berubah.
“Sofia?”
Claudia mengangguk kecil sambil menunduk.
“Dia punya keluarga yang lengkap.” Senyumnya tipis namun pahit. “Dia bisa manggil Ayah kapan aja, sementara aku bahkan takut buat bicara sama ayahku sendiri.”
Mobil kembali hening.
Hujan di luar mulai turun semakin deras.
Adrian menggenggam setir sedikit lebih erat sebelum akhirnya berkata pelan, “Tuan Jackson tetap sayang sama kamu.”
“Kalau iya, kenapa rasanya aku selalu sendirian?”
Pertanyaan itu membuat Adrian kehilangan jawaban.
Karena selama ini ia melihat sendiri bagaimana Claudia tumbuh di tengah kemewahan tanpa benar-benar memiliki siapapun.
Beberapa saat kemudian mobil akhirnya memasuki basement apartemen mewah milik Jackson. Area parkirnya sunyi dengan penjagaan ketat di setiap sudut.
Adrian turun lebih dulu lalu membukakan pintu untuk Claudia.
Begitu keluar dari mobil, gadis itu langsung memeluk kedua lengannya sendiri karena dingin.
“Apartemen ini bakal dijaga penuh,” ujar Adrian sambil berjalan di sampingnya. “Kamu nggak perlu takut.”
Claudia tersenyum kecil tanpa semangat. “Aku justru takut kalau harus hidup kayak gini terus.”
Mereka masuk ke lift privat yang langsung menuju lantai atas.
Begitu pintu lift terbuka, Claudia langsung melihat apartemen luas dengan interior modern bernuansa gelap dan hangat. Jendela-jendela besar memperlihatkan gemerlap kota malam dari ketinggian.
Cantik.
Namun tetap terasa asing.
Claudia berjalan pelan memasuki ruangan sambil memperhatikan sekitar.
“Ayah beli tempat ini buat ngurung aku lagi?”
“Kamu terlalu banyak mikir.”
“Aku serius.”
Adrian menaruh kunci di atas meja. “Tempat ini lebih aman.”
“Aman.” Claudia tersenyum hambar. “Aku mulai benci kata itu.”
Ia berjalan mendekati jendela besar lalu memandang kota di bawah sana.
Ribuan lampu terlihat hidup, orang-orang berjalan bebas. Mobil berlalu-lalang tanpa rasa takut.
Dan Claudia merasa dunia itu masih sangat jauh darinya.
“Aku pengen hidup normal,” gumamnya pelan.
Adrian memperhatikannya dari belakang tanpa bicara.
Lalu perlahan Claudia menoleh, tatapan matanya terlihat lelah malam itu.
“Kalau suatu hari aku kabur beneran.” katanya pelan. “Kamu bakal nyari aku?”
Pertanyaan itu membuat suasana mendadak hening.
Adrian menatap Claudia cukup lama sebelum akhirnya menjawab rendah, “Itu tugas saya.”
Claudia langsung menghela napas kesal kecil. “Kamu selalu jawab begitu.”
“Saya memang pengawal kamu.”
“Tapi kamu peduli sama aku kan?”
Kalimat itu keluar begitu saja dan beberapa detik Adrian benar-benar kehilangan jawaban.
Tatapan mereka bertemu cukup lama di tengah sunyi apartemen. Jantung Claudia berdetak sedikit lebih cepat.
Sementara Adrian justru mulai merasa situasi itu semakin berbahaya.
Karena Sophia benar. Claudia mulai terlalu bergantung padanya dan ia sendiri mulai terlalu sulit menjaga jarak.
“Saya cuma memastikan kamu tetap hidup.”
Jawaban itu terdengar tenang namun justru membuat Claudia tersenyum kecil tipis.
“Kamu bohong lagi.”
Belum sempat Adrian membalas, suara ponselnya tiba-tiba berbunyi.
Nama Sophia muncul di layar.
Tatapan Adrian langsung berubah datar sebelum akhirnya mengangkat panggilan itu.
“Ada apa?”
Suara Sophia terdengar dingin dari seberang sana.
“Jackson mulai curiga.”
Rahang Adrian langsung mengeras sedikit.
“Curiga apa?”
“Kedekatan kamu sama Claudia.”
Hening beberapa detik. Tatapan Adrian perlahan beralih pada Claudia yang masih berdiri dekat jendela sambil memandang kota.
“Dia terlalu percaya sama kamu,” lanjut Sophia pelan. “Dan Jackson nggak suka itu.”
“Aku tahu batas saya.”
“Kamu yakin?”
Kalimat itu membuat suasana terasa lebih berat.
Karena untuk pertama kalinya Adrian tidak benar-benar yakin.
“Mulai sekarang hati-hati,” ujar Sophia lagi. “Kalau Jackson melihat kamu sebagai ancaman, dia nggak akan ragu nyingkirin kamu.”
Panggilan terputus. Adrian menurunkan ponselnya perlahan.
Sementara di sisi lain ruangan, Claudia masih berdiri memandang lampu-lampu kota tanpa menyadari bahwa tanpa sengaja dirinya perlahan mulai menjadi masalah baru di dunia Jackson Laurent.