Jatuh Cinta Dengan Pengawalku

Dunia Politik

“Aku bosan.”

Suara Claudia memecah keheningan ruang tengah safe house pagi itu. Gadis itu duduk bersandar di sofa sambil memeluk bantal kecil di dadanya. Rambutnya masih sedikit berantakan karena baru bangun tidur, sementara matanya terlihat lelah akibat hampir tidak tidur semalaman.

 

Adrian yang sedang berdiri dekat jendela menoleh sekilas. “Baru juga pagi.”

“Aku tetap bosan.”

“Kamu harus istirahat.”

“Aku udah istirahat.”

“Kamu tidur cuma dua jam.”

 

Claudia mendelik kecil. “Kamu ngawasin aku tidur juga?”

“Saya cuma lihat lampu kamar kamu masih nyala.”

Jawaban datar itu membuat Claudia menghela napas panjang lalu menjatuhkan tubuhnya kembali ke sofa.

Safe house itu terlalu sunyi.

 

Tidak ada suara ombak seperti di villa. Tidak ada taman besar yang bisa dilihat dari balkon kamar. Bahkan jendelanya pun dijaga teralis besi tipis dan kamera kecil di sudut ruangan.

 

Semua tempat yang dipilih Jackson selalu terasa seperti benteng.

“Aku nggak suka tempat ini,” gumam Claudia pelan.

Adrian kembali memperhatikan area luar rumah. “Tempat ini aman.”

 

“Kamu juga bilang villa aman.”

Kalimat itu membuat Adrian terdiam sesaat.

Tatapannya berubah sedikit lebih serius.

“Semalam itu kesalahan kami.”

“Bukan salah kamu.”

“Saya tetap gagal menjaga tempat itu.”

Nada suaranya terdengar jauh lebih dingin dari biasanya, Claudia langsung menyadari sesuatu.

Sejak tadi malam, Adrian terlihat lebih diam.

 

Mungkin karena Vino belum ditemukan atau mungkin karena ia menyalahkan dirinya sendiri atas penyerangan itu.

 

Claudia perlahan duduk tegak lalu menatap Adrian hati-hati.

“Kamu kepikiran Vino ya?”

Adrian tidak langsung menjawab, namun rahangnya yang sedikit mengeras sudah cukup memberi jawaban.

 

“Kami kerja bareng cukup lama,” ucapnya pelan akhirnya.

Claudia menunduk kecil. “Dia pasti selamat.”

“Kamu terlalu baik buat percaya semua orang bisa selamat di dunia seperti ini.”

“Aku cuma nggak mau mikir yang buruk.”

Hening beberapa detik memenuhi ruangan.

 

Tiba-tiba televisi besar di depan mereka menyala otomatis. Siaran berita pagi langsung memenuhi ruang tengah.

“Calon presiden Jackson Laurent pagi ini menghadiri pertemuan tertutup bersama petinggi partai.”

 

Wajah Jackson muncul di layar dengan jas hitam rapi dan ekspresi tenang seperti biasa.

Claudia langsung memperhatikan layar itu tanpa berkedip.

Aneh rasanya melihat ayahnya tampil normal di depan publik setelah semua yang terjadi semalam.

 

Pria itu bahkan masih sempat tersenyum pada wartawan.

Padahal beberapa jam lalu villa mereka dipenuhi darah dan suara tembakan.

“Mereka bahkan nggak tahu apa yang terjadi semalam,” gumam Claudia pelan.

“Dan memang nggak boleh tahu,” suara wanita terdengar dari arah belakang.

Claudia menoleh cepat.

Sophia berjalan masuk dengan langkah tenang sambil membawa tablet hitam di tangannya. Penampilannya tetap rapi seperti biasa, seolah dunia tidak sedang kacau.

 

Ia berhenti dekat televisi lalu melirik layar berita itu sebentar.

“Kalau media tahu ada penyerangan tadi malam, pasar saham langsung jatuh. Lawan politik akan menyerang. Investor mulai panik. Semua bisa hancur dalam satu hari.”

Nada bicaranya terdengar dingin dan teratur.

Seperti seseorang yang terlalu terbiasa menghadapi kekacauan.

 

Claudia mengernyit kecil. “Tapi ada orang yang hampir mati.”

Sophia menatap Claudia beberapa detik sebelum menjawab pelan, “Di dunia politik, itu bukan hal baru.”

 

Jawaban itu membuat suasana mendadak terasa lebih dingin.

Claudia tidak suka cara Sophia bicara tentang semuanya seolah nyawa manusia hanyalah angka.

Sophia berjalan mendekati meja lalu meletakkan tabletnya.

 

“Kita punya masalah baru,” katanya sambil menatap Adrian.

“Apa?”

“Media mulai curiga karena villa mendadak kosong pagi ini.”

Tatapan Adrian langsung berubah tajam.

Sophia membuka beberapa foto dan artikel di tabletnya. “Ada wartawan yang melihat ambulans keluar dari area villa tadi malam.”

 

“Berita bocor?”

“Belum.” Sophia menggeleng kecil. “Tapi Eric mulai memainkan media.”

Claudia menatap mereka bergantian, semua pembicaraan itu terasa asing baginya.

 

Dunia ayahnya terasa seperti permainan besar yang penuh kebohongan dan sekarang ia ikut terjebak di dalamnya.

“Ayah selalu hidup kayak gini?” tanya Claudia pelan.

 

Sophia tersenyum tipis tanpa kehangatan. “Jackson hidup lebih berbahaya dari yang kamu bayangkan.”

“Kenapa dia tetap bertahan?”

“Kekuasaan bikin orang sulit mundur.”

Belum sempat Claudia membalas, suara pintu depan terbuka cukup keras.

 

Langkah beberapa pengawal terdengar memasuki rumah dan beberapa detik kemudian, Jackson muncul di ruang tengah.

 

Jas hitamnya masih rapi seperti di televisi tadi, tetapi wajahnya terlihat jauh lebih lelah dari yang ditampilkan kamera.

 

Begitu melihat Claudia, tatapannya sedikit berubah. “Kamu sudah makan?”

Claudia sedikit terkejut mendengar pertanyaan itu.

Biasanya Jackson langsung bicara soal keamanan atau aturan baru.

 

“Belum lapar,” jawab Claudia pelan.

Jackson mengangguk kecil lalu duduk di sofa seberangnya. Salah satu pengawal langsung berdiri di belakang pria itu.

Suasana ruangan mendadak terasa tegang lagi. “Bagaimana situasi luar?” tanya Jackson dingin pada Adrian.

 

“Kami masih menyisir kemungkinan jalur bocor lain.”

“Saya tidak suka kata kemungkinan.” Nada suara Jackson langsung berubah tajam.

 

Adrian tetap tenang. “Kami sedang cari pengkhianatnya.”

Jackson mengembuskan napas kasar lalu memijat pelipisnya pelan.

Untuk pertama kalinya Claudia melihat ayahnya tampak benar-benar lelah.

Bukan lelah karena pekerjaan tetapi lelah karena terus hidup dalam ancaman.

 

“Ayah!”

Jackson mengangkat wajah.

“Kenapa semua orang saling menghancurkan kayak gini?”

Pertanyaan itu membuat ruangan mendadak sunyi.

Bahkan Sophia yang sejak tadi terlihat tenang ikut diam memperhatikan.

Jackson menatap putrinya cukup lama sebelum akhirnya bersandar pelan di sofa.

“Karena kalau saya kalah,” ujarnya rendah, “mereka nggak akan berhenti sampai keluarga saya hancur.”

 

Claudia langsung terdiam, nada suara ayahnya kali ini berbeda, tidak marah, tidak dingin tetapi terdengar jujur.

 

“Ayah bisa berhenti dari politik.”

Kalimat itu keluar pelan dari bibir Claudia namun ekspresi Jackson langsung berubah keras.

“Tidak semudah itu.”

“Kenapa?”

“Karena orang seperti Eric nggak akan membiarkan saya pergi begitu saja.”

 

Tatapan Jackson perlahan mengeras. “Kalau saya mundur sekarang, semua yang saya bangun akan dihancurkan. Perusahaan saya. Orang-orang saya. Bahkan kamu.”

Claudia menggenggam jemarinya sendiri pelan.

 

“Tapi aku nggak suka hidup seperti ini.”

Untuk beberapa detik Jackson tidak bicara.

Tatapannya tertuju pada wajah putrinya yang terlihat lelah dan ketakutan.

 

Dan untuk pertama kalinya sejak Claudia kecil, pria itu tampak seperti seorang ayah yang benar-benar tidak tahu harus melakukan apa.

Namun hanya sesaat.

Karena beberapa detik kemudian wajah dinginnya kembali muncul.

 

“Mulai hari ini keamanan kamu dilipatgandakan,” katanya tegas. “Kamu nggak boleh keluar ke mana pun tanpa izin.”

Claudia langsung menunduk, sesak itu kembali muncul di dadanya bedanya sekarang, ia tidak lagi marah seperti dulu.

 

Karena setelah semua yang terjadi ia mulai sadar bahwa sangkar emas itu mungkin memang dibuat untuk melindunginya.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!