Jatuh Cinta Dengan Pengawalku
Cerita Masa Lalu
“Aku bosan dikurung terus.”
Suara Claudia terdengar pelan saat duduk di dekat jendela ruang tengah safe house sore itu. Hujan turun tipis di luar, membuat suasana rumah terasa semakin dingin dan sunyi, sudah tiga hari sejak serangan di villa terjadi dan selama tiga hari itu pula Claudia tidak diizinkan keluar sedikit pun.
Penjagaan di rumah persembunyian itu jauh lebih ketat dibanding sebelumnya. Pengawal berjaga hampir di setiap sudut rumah, kamera pengawas dipasang di lorong-lorong, bahkan jendela lantai bawah sebagian dikunci otomatis saat malam tiba, rumah itu lebih terasa seperti benteng dibanding tempat tinggal.
Claudia memeluk kedua lututnya sambil menatap hujan di luar kaca.
“Aku bahkan tidak bisa melihat jalan depan dengan bebas.”
Bibi yang sedang merapikan bunga di meja hanya tersenyum kecil.
“Tuan Jackson cuma ingin melindungimu.”
“Semua orang selalu bilang begitu,” jawab Claudia pelan. “Dilindungi terus sampai rasanya aku bahkan nggak punya hidup sendiri.”
Bibi terdiam karena jauh di dalam hati, ia juga tahu Claudia benar.
Suara langkah kaki terdengar dari arah belakang. Adrian muncul dengan pakaian hitam seperti biasa, membawa tablet kecil di tangannya, tatapannya langsung tertuju pada Claudia.
“Kenapa duduk dekat jendela?”
Claudia menghela napas kecil. “Aku cuma ingin lihat hujan.”
“Kaca depan masih bisa terlihat dari luar.”
“Aku tahu.”
Adrian berjalan mendekat lalu menutup sedikit tirai jendela. Gerakannya tenang namun tegas. Claudia memperhatikannya diam-diam.
“Apa kamu tidak capek terus waspada seperti itu?” tanyanya pelan.
“Saya terbiasa.”
“Kamu selalu bilang terbiasa,” Claudia tersenyum kecil. “Padahal semua orang pasti capek.”
Adrian tidak langsung menjawab karena sebenarnya ia memang lelah namun dunia tempatnya hidup tidak memberi banyak pilihan selain terus bertahan.
Bibi tersenyum samar melihat keduanya sebelum akhirnya pamit menuju dapur, meninggalkan suasana hening di ruang tengah.
Claudia kembali menatap hujan. “Kamu lahir di dunia seperti ini sejak kecil?”
Adrian berdiri diam beberapa detik sebelum akhirnya duduk di kursi seberang Claudia.
“Tidak.”
“Lalu?”
Hujan di luar terdengar semakin deras. Entah kenapa suasana sore itu terasa jauh lebih tenang dibanding biasanya, mungkin karena untuk pertama kalinya sejak beberapa hari terakhir tidak ada suara tembakan, ancaman ataupun teriakan panik.
Adrian memandang ke arah jendela sebelum akhirnya berbicara pelan.
“Dulu hidup saya biasa saja.”
Claudia langsung menoleh. Jarang sekali Adrian mau bercerita tentang dirinya sendiri.
“Saya tinggal di kota kecil bersama ibu.”
“Kamu tidak punya ayah?”
“Tidak.” Jawabannya singkat, namun cukup membuat Claudia diam.
“Saat saya umur lima belas tahun, ibu sakit,” lanjut Adrian tenang. “Biaya rumah sakit terlalu mahal, saya kerja apa saja waktu itu. Angkat barang, jadi pelayan restoran bahkan pernah tidur di jalan.”
Claudia perlahan menunduk, ia tidak pernah membayangkan Adrian hidup seperti itu.
“Mama meninggal beberapa bulan kemudian.”
Suara Adrian tetap tenang, terlalu tenang justru terdengar menyakitkan.
Claudia menggenggam jemarinya sendiri pelan. “Aku minta maaf.”
“Tidak perlu.”
Adrian tersenyum tipis kecil, namun senyum itu tidak benar-benar sampai ke matanya.
“Setelah itu saya hidup sendiri.”
“Lalu, bagaimana kamu bisa bekerja dengan Ayah?”
Tatapan Adrian sedikit berubah. “Suatu malam saya hampir mati dipukuli orang saat mencoba mencuri makanan.”
Claudia membelalak kecil. “Kamu pernah mencuri?”
“Saya lapar.”
Jawaban sederhana itu membuat hati Claudia terasa aneh.
“Ayahku menolongmu?” pAdrian mengangguk kecil.
“Tuan Jackson lewat di tempat itu, beliau memberi saya pekerjaan.”
Claudia terdiam cukup lama, selama ini ia selalu melihat Jackson sebagai ayah yang dingin dan menakutkan, namun untuk pertama kalinya ia mendengar sisi lain dari pria itu.
“Jadi kamu setia sama Ayah karena itu?”
“Beliau menyelamatkan hidup saya.”
Suasana kembali hening.
Claudia perlahan memandang hujan di luar lagi.
“Aku iri sama kamu.”
Adrian sedikit mengernyit. “Iri?”
“Kamu pernah hidup bebas,” jawab Claudia pelan. “Kamu pernah memilih jalan hidupmu sendiri. Sedangkan aku bahkan keluar rumah saja harus dijaga.”
Adrian memperhatikan Claudia beberapa detik, gadis itu masih menatap hujan diluar jendela dengan mata sendu, cahaya sore yang redup membuat wajahnya terlihat semakin pucat dan rapuh.
“Tuan putri…”
“Aku serius,” potong Claudia pelan. “Kadang aku bahkan nggak tahu bagaimana rasanya hidup normal.”
Ia tertawa kecil hambar.
“Aku nggak pernah naik kendaraan umum, nggak pernah punya teman, nggak pernah jalan sendiri tanpa pengawal. Bahkan waktu kecil aku pikir semua rumah punya penjaga bersenjata.”
Adrian menunduk kecil mendengar itu. Selama ini ia memang tahu Claudia dikurung terlalu lama. Namun baru sekarang ia sadar seberapa sepinya hidup gadis itu.
“Waktu kecil,” lanjut Claudia lirih, “aku sering duduk dekat jendela sampai malam cuma buat lihat orang lewat depan rumah. Aku selalu penasaran mereka mau pergi ke mana.”
Suara hujan memenuhi ruangan beberapa detik.
“Aneh ya?” Claudia tersenyum kecil. “Orang lain mungkin berharap hidup mewah seperti aku tapi aku malah iri sama orang biasa.”
Adrian memandang Claudia cukup lama sebelum akhirnya berkata pelan, “Kebebasan memang mahal.”
Claudia langsung menoleh. “Kamu juga merasa begitu?”
Adrian mengangguk kecil. “Di dunia saya, orang bebas biasanya tidak hidup lama.”
Kalimat itu membuat Claudia diam, ia mulai sadar bahwa Adrian pun sebenarnya terjebak. Bedanya, Adrian memilih masuk ke dunia itu. Sedangkan dirinya lahir di dalamnya.
“Apa kamu pernah menyesal?” tanya Claudia pelan. “Masuk ke dunia Ayah?”
Adrian terdiam beberapa detik sebelum akhirnya menjawab, “Tidak.”
“Kenapa?”
“Karena kalau bukan Tuan Jackson, mungkin saya sudah mati sejak lama.”
Claudia menunduk lagi. Entah kenapa dadanya terasa sesak mendengar itu. Ia membayangkan Adrian muda yang hidup sendirian, kelaparan dan tidak punya siapa-siapa. Lalu pria itu tumbuh menjadi seseorang yang selalu terlihat kuat.
“Kamu hebat,” gumam Claudia pelan.
Tatapan Adrian sedikit berubah. “Tidak.”
“Iya,” Claudia tersenyum kecil. “Kalau jadi kamu mungkin aku sudah menyerah.”
“Saya juga pernah hampir menyerah.”
Jawaban itu membuat Claudia kembali menatapnya, untuk pertama kalinya Adrian terlihat membuka dirinya sedikit demi sedikit dan anehnya, Claudia merasa nyaman mendengarnya.
“Tapi hidup nggak selalu kasih pilihan,” lanjut Adrian tenang. “Kadang kita cuma bisa terus jalan.”
Suasana kembali hening namun kali ini bukan hening yang canggung, melainkan tenang, hangat. Seolah untuk beberapa saat mereka melupakan ancaman di luar sana.
Claudia lalu berdiri perlahan dari sofa dan berjalan mendekati jendela, hujan mulai mereda, kabut tipis turun di area hutan sekitar rumah persembunyian.
“Aku takut suatu hari nanti semua ini nggak akan pernah selesai,” katanya pelan.
Adrian ikut berdiri. “Itu tugas saya memastikan semuanya selesai.”
Claudia tersenyum kecil sambil menoleh.
“Kamu selalu bicara seperti pengawal profesional.”
“Karena memang itu pekerjaan saya.”
“Tapi kadang…” Claudia ragu sesaat sebelum melanjutkan, “aku merasa kamu bukan cuma menjaga aku karena pekerjaan.”
Kalimat itu membuat Adrian terdiam, tatapan mereka bertemu beberapa detik. Jantung Claudia berdetak sedikit lebih cepat tanpa alasan jelas, sedangkan Adrian langsung memalingkan pandangan lebih dulu.
“Anda terlalu banyak berpikir.”
Claudia terkekeh kecil pelan. “Nah, itu jawaban andalan kamu kalau gugup.”
“Saya tidak gugup.”
“Bohong.”
Untuk pertama kalinya sejak beberapa hari terakhir, Adrian mengembuskan napas kecil seperti menahan tawa dan melihat itu membuat Claudia ikut tersenyum lebih lepas.
Namun suasana hangat itu tidak bertahan lama, suara langkah cepat tiba-tiba terdengar dari lorong, salah satu pengawal masuk dengan wajah tegang.
“Tuan Adrian.”
Adrian langsung kembali serius. “Ada apa?”
“Kami menemukan sesuatu.”
Tatapan Adrian langsung berubah tajam. “Apa?”
Pengawal itu menyerahkan sebuah ponsel kecil.
“Ini ditemukan di kamar salah satu pengawal yang hilang semalam.”
Adrian mengambil benda itu cepat, layar ponsel menampilkan beberapa pesan singkat, lokasi villa, jadwal penjagaan dan foto area dalam rumah.
Wajah Adrian langsung mengeras. “Pengkhianatnya siapa?”
“Pengawal baru dari tim luar.”
Claudia yang sejak tadi diam mulai merasa tidak nyaman. “Apa, dia bekerja untuk Eric?”
Pengawal itu mengangguk kecil.
“Orang itu kabur sebelum kami menemukannya.”
Ruangan mendadak terasa dingin, Claudia perlahan menggenggam ujung bajunya sendiri.
Bahkan di antara orang-orang ayahnya pun ada yang bisa menjual mereka kapan saja, ia mulai sadar
Di dunia Jackson Laurent, tidak ada tempat untuk benar-benar percaya pada siapapun kecuali Adrian.