Jatuh Cinta Dengan Pengawalku

Ayah Sangat Jauh

Suasana rumah itu kembali sunyi, tidak ada suara langkah kaki terburu-buru, tidak ada perintah dari para pengawal, tidak ada pintu yang dibuka atau ditutup dengan tergesa, semuanya kembali seperti biasa tenang, rapi dan kosong.

 

Claudia berdiri di depan jendela kamarnya, masih dengan gaun yang sama sejak pagi tadi, matanya menatap lurus ke arah gerbang besar yang kini telah tertutup rapat, mobil hitam milik ayahnya sudah lama menghilang dari pandangan tapi entah kenapa, Claudia masih berdiri di sana.

 

Seolah berharap mobil itu akan kembali namun waktu terus berjalan dan harapan itu perlahan memudar.

 

“Ayah pasti tidak akan kembali hari ini…” bisiknya pelan.

Ia menghela napas panjang, lalu menjatuhkan tubuhnya ke kursi di dekat jendela, tangannya meraih buku yang tergeletak di meja kecil, namun belum sempat membukanya, ia sudah kembali meletakkannya.

 

Tidak ada yang menarik, semua terasa hambar.

Tok!! Tok!! Ketukan kembali terdengar.

 

“Kamu belum makan siang, Tuan putri,” suara Bibi terdengar dari luar.

“Aku tidak lapar,” jawab Claudia tanpa menoleh.

 

Pintu tetap terbuka, bibi masuk perlahan, membawa nampan makanan seperti biasanya, ia meletakkannya di atas meja, lalu menatap Claudia dengan lembut.

 

“Kamu harus makan, nanti sakit.”

Claudia hanya diam.

Beberapa detik berlalu sebelum akhirnya ia berkata, “Bibi…”

 

“Iya?”

Claudia menoleh, matanya tidak lagi basah seperti tadi pagi tapi ada sesuatu yang lebih dalam di sana keletihan.

 

“Ayah itu… sebenarnya kerja apa?”

Pertanyaan itu membuat Bibi terdiam seperti biasa.

 

Selalu begitu setiap kali Claudia menanyakan sesuatu tentang ayahnya.

“Kenapa kamu tanya itu?” jawab Bibi, mencoba mengalihkan.

 

“Karena aku tidak pernah tahu,” kata Claudia cepat. “Setiap hari dia pergi dengan pengawal. Setiap hari aku tidak boleh keluar. Setiap hari… aku hanya disuruh diam.”

 

Suaranya tidak tinggi, tapi penuh tekanan.

“Aku ini anaknya, Bi,” lanjutnya pelan. “Kenapa aku tidak boleh tahu apa-apa?”

Bibi menarik napas dalam. Tangannya saling menggenggam, seperti sedang menahan sesuatu.

 

“Tuan hanya ingin melindungi Tuan putri.”

 

“Dari apa?” tanya Claudia lagi, kali ini lebih tajam.

Tidak ada jawaban.

 

Claudia tertawa kecil, lagi-lagi tawa yang tidak benar-benar bahagia.

“Kalau semua ini disebut melindungi…” ia menatap sekeliling kamarnya. “Kenapa rasanya seperti aku dipenjara?”

 

Bibi mendekat, duduk di sampingnya. “Kamu tidak dipenjara.”

 

“Lalu kenapa aku tidak boleh keluar?” balas Claudia cepat. “Kenapa aku tidak punya teman? Kenapa aku tidak pernah sekolah seperti orang lain?”

 

Setiap pertanyaan itu seperti pisau kecil yang perlahan melukai suasana.

Bibi tidak bisa menjawab karena sebenarnya… ia juga tidak tahu semuanya.

 

“Terkadang…” Bibi mulai bicara pelan, “ada hal-hal yang tidak bisa dijelaskan sekarang.”

 

Claudia menghela napas kesal. “Selalu itu jawabannya.”

Ia bangkit dari kursinya, berjalan mondar-mandir di dalam kamar. “Aku sudah empat belas tahun, Bi. Bukan anak kecil lagi.”

 

“Kamu tetap anak Tuan.”

“Dan itu alasan aku harus hidup seperti ini?”

Tidak ada yang menjawab, hening kembali menguasai ruangan. Claudia berhenti melangkah, lalu kembali menatap jendela.

 

“Bibi…” suaranya kali ini jauh lebih pelan.

“Iya?”

“Aku ingin punya kehidupan sendiri.” Kalimat itu sederhana tapi berat.

 

Bibi menatapnya, matanya sedikit berkaca-kaca. “Kamu akan punya, suatu hari nanti.”

 

Claudia menggeleng kecil. “Tidak… kalau aku terus diam di sini.”

 

Sore hari datang perlahan, langit berubah jingga, cahaya matahari mulai redup, bayangan pepohonan di taman luar terlihat semakin panjang.

 

Claudia masih di kamar namun kali ini, ia tidak hanya diam, ia membuka lemari besarnya.

 

Berderet gaun indah tergantung rapi, sebagian bahkan belum pernah ia pakai. Warna-warna lembut, kain mahal, semuanya tampak seperti koleksi seorang putri.

 

Tapi tidak ada yang benar-benar diinginkan, tangannya berhenti pada sebuah gaun sederhana tidak semewah yang lain, ia mengeluarkannya.

 

Menatapnya cukup lama lalu tersenyum tipis. “Mungkin ini…”

 

Malam mulai turun, lampu-lampu di rumah menyala satu per satu, para pengawal tetap berjaga di posisi mereka, seperti patung yang tidak pernah lelah.

 

Claudia mengintip dari balik pintu kamarnya, lorong terlihat sepi, ia melangkah keluar dengan hati-hati.

 

Jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya, ini pertama kalinya ia keluar kamar tanpa izin dengan tujuan yang jelas, bukan sekadar berjalan tapi.mencoba sesuatu.

 

Langkahnya ringan, hampir tanpa suara, ia menuruni tangga perlahan, sesekali berhenti saat mendengar suara namun malam itu cukup tenang. Sampai akhirnya…

 

Ia tiba di dekat pintu belakang rumah, pintu itu jarang digunakan, tidak dijaga seketat pintu utama. Claudia berdiri di depannya, tangannya sedikit gemetar, ini kesempatan mungkin jadi satu-satunya, ia mengulurkan tangan, menyentuh gagang pintu. 

 

Dingin, sama seperti kaca jendela di kamarnya namun kali ini ada sesuatu yang berbeda. Harapan, perlahan ia memutar gagang itu.

 

Klik!! Pintu terbuka sedikit.

 

Udara malam langsung masuk, membawa aroma tanah dan angin luar. Claudia menahan napas, ia tersenyum.

“Akhirnya…” Namun sebelum ia sempat melangkah keluar— 

 

“Sebaiknya jangan, Tuan putri.” Suara itu membuat tubuhnya membeku.

 

Perlahan, Claudia menoleh, seorang pria berdiri beberapa meter di belakangnya.

 

Berjas hitam, tegap, wajahnya serius dia adalah salah satu pengawal tapi bukan yang tadi pagi yang ini… berbeda.

 

Tatapannya tidak dingin namun tetap tegas. Claudia menelan ludah.

“Kenapa?” tanyanya pelan, meski ia sudah tahu jawabannya.

 

“Itu berbahaya.”

“Berbahaya untuk siapa?” balas Claudia.

 

Pria itu tidak langsung menjawab, matanya menatap Claudia dalam. “Untuk Anda.”

 

Claudia menggeleng. “Aku hanya ingin keluar sebentar.”

 

“Saya hanya mengikuti perintah Tuan,” kata pengawal itu pelan.

 

“Untuk menjagaku atau mengurungku?” suara Claudia mulai bergetar lagi.

 

Hening sejenak, pria itu melangkah mendekat. “Jika Anda tetap keluar, saya terpaksa harus menghentikan Anda.”

 

Nada suaranya tidak mengancam tapi cukup untuk membuat Claudia sadar ia tidak punya pilihan. Perlahan, tangannya melepaskan gagang pintu.

 

Pintu itu kembali tertutup dan kesempatan itu hilang. Claudia menunduk, untuk beberapa detik, tidak ada suara lalu ia berkata pelan, hampir seperti bisikan “Namamu siapa?” 

 

Pria itu sedikit terkejut. “Adrian.”

Claudia mengangguk pelan, ia akan mengingat nama itu.

 

Lalu tanpa berkata apa-apa lagi, ia berbalik dan berjalan kembali ke dalam rumah. Namun kali ini, ada sesuatu yang berubah untuk pertama kalinya 

Ada seseorang yang tidak hanya mengatakan “tidak”. Tapi juga menjelaskan.

 

Claudia kembali ke kamarnya dengan langkah pelan, ia menutup pintu, lalu bersandar di baliknya sejenak, memejamkan mata, dadanya masih berdebar, bukan hanya karena ketakutan tapi juga karena perasaan asing yang belum pernah ia rasakan sebelumnya, ia berjalan menuju jendela, membuka sedikit tirainya dan kembali melihat ke luar.

 

Claudia menarik napas panjang, lalu menatap langit malam yang gelap.

 

“Aku pasti akan keluar dari sini…” Kali ini, suaranya tidak lagi ragu.

 

Di luar kamar, tanpa Claudia sadari, Adrian masih berdiri di lorong, menatap pintu yang baru saja tertutup itu, dia tidak percaya jika akan kembali bertemu dengan tuan putri.

 

Dan tanpa Claudia sadari, pertemuan singkat itu akan menjadi awal dari sesuatu yang jauh lebih besar, sesuatu yang tidak hanya akan membuka pintu rumah itu tapi juga hatinya. Ni

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!