Jatuh Cinta Dengan Pengawalku
Sangkar Emas
Cahaya matahari pagi menembus tirai putih yang menjuntai panjang dari langit-langit kamar. Hiasnya lembut, menyentuh lantai marmer yang mengkilap seperti kaca. Semuanya tampak begitu sempurna rapi, bersih dan mahal namun bagi Claudia, semua itu tidak lebih dari sekadar dinding yang membungkam.
Gadis itu duduk di tepi tempat tidurnya, memeluk kedua lututnya, rambut panjangnya jatuh menutupi sebagian wajahnya yang pucat, di usianya yang keempat belas, kecantikan Claudia sudah terlihat jelas mata bening seperti kaca, hidung kecil yang proporsional, dan bibir merah muda yang jarang sekali tersenyum.
Ia menatap lurus ke arah jendela besar di depannya di balik kaca itu, dunia tampak begitu hidup.
Anak-anak berlari di taman yang jauh di luar pagar rumah, suara tawa mereka samar, nyaris tak terdengar namun cukup untuk membuat dada Claudia terasa sesak. Mereka bebas, mereka bisa berlari, jatuh, tertawa, menangis tanpa ada yang melarang.
Berbeda dengan dirinya.
Tok.
Tok.
Ketukan lembut di pintu memecah lamunannya.
“Tuan putri, sudah waktunya sarapan,” suara seorang wanita terdengar dari luar. Lembut, tapi tetap formal.
Claudia tidak langsung menjawab. Ia tetap menatap keluar, seolah berharap sesuatu akan berubah di sana.
“Masuk saja, Bi,” ucapnya pelan akhirnya.
Pintu terbuka perlahan, seorang wanita paruh baya masuk sambil mendorong troli kecil berisi makanan. Wajahnya ramah, dengan garis-garis usia yang menunjukkan betapa lama ia telah mengabdi di rumah itu.
Ia adalah satu-satunya orang yang sedikit membuat Claudia merasa tidak sendirian.
“Bibi sudah buatkan makanan kesukaanmu,” ujarnya sambil tersenyum.
Claudia hanya melirik sekilas. Roti panggang, telur setengah matang, dan segelas susu hangat tersusun rapi. Semuanya sempurna. Selalu sempurna.
Namun entah kenapa, ia tidak merasa lapar.
“Ayah sudah bangun?” tanya Claudia tanpa mengalihkan pandangannya dari jendela.
“Sepertinya sudah, Tuan putri.”
“Dia akan pergi lagi hari ini?”
Wanita itu terdiam sejenak. Senyumnya memudar sedikit, digantikan ekspresi yang sulit diartikan.
“Mungkin, Tuan punya banyak pekerjaan.”
Claudia tertawa kecil. Tawa yang terdengar hampa.
“Selalu begitu.”
Ia berdiri perlahan, melangkah mendekati meja kecil tempat sarapan itu diletakkan. Tangannya mengambil segelas susu, tapi tidak langsung diminum.
“Aku ingin bertemu Ayah hari ini,” katanya tiba-tiba.
Wanita itu terkejut. “Tuan putri—”
“Aku tidak akan minta apa-apa,” potong Claudia. “Aku hanya ingin bicara.”
Ada jeda hening yang panjang.
“Bibi akan coba sampaikan,” jawab wanita itu akhirnya, meski suaranya terdengar ragu.
Claudia mengangguk pelan, walau dalam hatinya ia sudah tahu jawabannya.
Seperti biasa, tidak. Langkah kaki terdengar di lorong besar rumah itu.
Claudia berjalan cepat, gaun putihnya bergoyang mengikuti gerakannya. Ia jarang keluar kamar tanpa izin, tapi pagi ini ada sesuatu yang berbeda. Ia tidak ingin menunggu lagi.
Rumah itu terlalu besar untuk satu orang, lorong-lorongnya panjang, dihiasi lukisan mahal dan lampu gantung kristal yang berkilauan. Namun semua keindahan itu terasa dingin, tidak bernyawa seperti museum atau penjara.
Ketika Claudia sampai di tangga utama, ia melihat beberapa pria berjas hitam berdiri di dekat pintu masuk, wajah mereka serius, mata mereka tajam, seperti selalu waspada terhadap sesuatu yang tidak terlihat.
Pengawal? Claudia sudah terbiasa melihat mereka. Mereka selalu ada. Diam, kaku dan menakutkan.
Dan di antara mereka “Claudia.”
Suara berat itu membuat langkahnya terhenti ia menoleh.
Seorang pria berdiri beberapa meter darinya. Tubuhnya tinggi, tegap dengan aura yang sulit dijelaskan, wajahnya tampan tapi dingin, mata gelapnya menatap lurus ke arah Claudia.
Jackson? Ayahnya.
“Ayah…” suara Claudia melembut seketika.
Ia berlari kecil menghampiri, seolah takut pria itu akan menghilang jika ia terlalu lama berdiri.
“Ayah mau pergi?” tanyanya, sedikit terengah.
Jackson tidak langsung menjawab, tangannya terangkat, merapikan rambut Claudia yang sedikit berantakan.
“Kamu bangun pagi sekali.”
“Aku ingin bertemu Ayah,” kata Claudia cepat. “Aku ingin bicara.”
“Ayah ada pekerjaan penting.”
“Selalu begitu…” gumam Claudia, hampir tak terdengar.
Jackson menatapnya beberapa detik lebih lama, ada sesuatu di matanya sesuatu yang jarang terlihat, ragu atau mungkin… bersalah.
“Apa yang ingin kamu bicarakan?” Claudia menatapnya, seolah mencoba mengumpulkan keberanian.
“Aku ingin keluar rumah.” Suasana langsung berubah.
Para pengawal di sekitar mereka saling berpandangan sekilas, udara terasa lebih berat.
Jackson menarik napas dalam. “Tidak.”
Jawabannya singkat, tegas tanpa ruang untuk diskusi.
“Kenapa?” suara Claudia mulai bergetar. “Aku tidak pernah keluar, Ayah. Aku tidak tahu dunia luar seperti apa. Aku bahkan tidak punya teman.”
“Kamu punya semua yang kamu butuhkan di sini.”
“Aku tidak butuh semua ini!” Claudia meninggikan suara untuk pertama kalinya. “Aku hanya ingin hidup seperti orang lain!”
Hening, tidak ada yang berani bergerak.
Jackson menatapnya tajam. “Hidupmu tidak seperti orang lain.”
“Kenapa?” tanya Claudia, air matanya mulai menggenang. “Kenapa aku berbeda?”
Tidak ada jawaban.
Jackson hanya mengalihkan pandangannya.
“Masuk kembali ke kamar,” perintahnya dingin.
Claudia menggeleng cepat. “Aku tidak mau! Aku mau ikut Ayah hari ini!”
Ia melangkah maju, mencoba mendekati pintu namun sebelum ia bisa bergerak lebih jauh, dua pengawal langsung berdiri di depannya, menghalangi jalan.
“Tuan putri tidak boleh keluar,” salah satu dari mereka berkata datar.
Claudia menatap mereka, lalu kembali pada ayahnya.
“Ayah, tolong…” suaranya melemah. “Aku mohon.”
Jackson tidak menjawab, ia hanya memberi isyarat kecil dengan tangannya dan itu cukup untuk membuat perintah.
Para pengawal langsung memegang kedua tangan Claudia.
“Tidak! Lepaskan aku!” Claudia meronta. “Ayah! Aku mau ikut!”
Air matanya jatuh tanpa bisa ditahan namun mobil hitam di luar sudah menunggu.
Jackson berjalan melewati Claudia tanpa menoleh lagi.
“Ayah!!” Teriakan itu menggema di seluruh ruangan namun tidak ada jawaban.
Pintu terbuka, lalu tertutup kembali dan suara mesin mobil perlahan menjauh.
Claudia masih berdiri di tempatnya, tubuhnya lemas tapi kedua pengawal itu masih menahannya sampai akhirnya ia berhenti meronta.
“Lepaskan…” bisiknya pelan.
Mereka menurut, begitu tangannya bebas, Claudia langsung jatuh terduduk di lantai marmer yang dingin. Nafasnya tersengal, tangisnya pecah tanpa bisa dibendung lagi.
Kenapa? Kenapa hidupnya seperti ini? Ia tidak mengerti, tidak ada yang pernah menjelaskan, tidak ada yang pernah benar-benar peduli.
Beberapa saat kemudian, pembantu yang tadi datang menghampiri dengan wajah panik.
“Tuan putri…” ia berlutut di samping Claudia. “Jangan seperti ini…”
Claudia menatapnya dengan mata merah.
“Bibi…” suaranya parau. “Apa aku ini… tahanan?”
Wanita itu terdiam, pertanyaan itu terlalu jujur, terlalu menyakitkan.
“Tidak, Tuan putri hanya sedang dijaga.”
“Dijaga dari apa?” tanya Claudia cepat. “Dari dunia? Atau dari kebenaran?”
Tidak ada jawaban, lagi-lagi tidak ada. Claudia tertawa kecil di sela tangisnya. “Lucu sekali…”
Ia berdiri perlahan, lalu berjalan kembali ke kamarnya tanpa menoleh lagi, langkahnya pelan tapi pasti.
Kamar itu masih sama, indah, mewah dan sunyi. Claudia menutup pintu dengan pelan, lalu berjalan menuju jendela.
Ia membuka sedikit tirainya, langit mulai cerah, burung-burung terbang bebas diudara, bebas, kata itu terasa begitu jauh darinya.
Ia menyentuh kaca jendela dengan ujung jarinya, dingin seperti hatinya saat ini namun kali ini, ada sesuatu yang berbeda di matanya bukan hanya kesedihan tapi juga tekad.
“Aku akan keluar dari sini,” bisiknya pelan. “Apapun caranya.”
Angin pagi berhembus lembut, seolah mendengar janjinya dan untuk pertama kalinya Claudia tidak hanya bermimpi, ia mulai merencanakan, diluar sana, dunia menunggu dan tanpa Claudia sadari Sangkar emasnya mulai retak, sedikit demi sedikit.