Jatuh Cinta Dengan Pengawalku

Flashback, POV Adrian

Langit pagi itu masih berwarna abu-abu, seolah matahari pun enggan menampakkan dirinya sepenuhnya. Udara dingin menyusup hingga ke sela jas hitam yang dikenakan Adrian. Hari itu adalah hari pertamanya bekerja. Ia berdiri di samping mobil hitam mewah, berusaha terlihat tenang meski telapak tangannya sedikit berkeringat. Ini bukan pekerjaan biasa. Sejak awal ia sudah tahu, bekerja untuk seorang pria bernama Jackson berarti masuk ke dunia yang tidak semua orang berani dekati.

 

Rumah besar itu berdiri megah di hadapannya namun suasananya terasa ganjil, terlalu sepi, terlalu rapi seolah bukan tempat tinggal melainkan sesuatu yang dijaga ketat dari dunia luar. Adrian menghela napas pelan, mencoba mengusir kegugupan yang masih tersisa. Ia harus fokus.

 

Pintu utama terbuka, beberapa pengawal keluar lebih dulu memastikan keadaan aman, tak lama kemudian, sosok yang ditunggunya muncul. Jackson melangkah dengan tenang, wajahnya dingin, auranya kuat dan sulit diabaikan tanpa banyak bicara, Adrian segera membuka pintu mobil.

 

“Pagi, Tuan,” ucapnya singkat.

Jackson hanya mengangguk kecil. Namun tepat saat pria itu hendak masuk ke dalam mobil, gerakan kecil di sudut pandangan Adrian membuatnya menoleh. Di balik pilar besar dekat pintu masuk, ada seseorang yang mengintip. Sosok kecil, setengah bersembunyi, dengan mata yang tampak ragu namun penuh keinginan.

 

Seorang anak perempuan. Adrian sedikit mengernyit, ia tidak pernah diberitahu bahwa Jackson memiliki anak. 

 

Anak itu memegang ujung gaunnya sendiri, seolah sedang mengumpulkan keberanian. Lalu, dengan suara kecil yang hampir tak terdengar, ia memanggil, “Ayah…”

 

Langkah Jackson terhenti, ia menoleh perlahan. Anak itu akhirnya keluar dari persembunyiannya, berjalan pelan dengan ragu namun penuh harap.

 

“Ayah… mau pergi lagi?” tanyanya.

Adrian memperhatikan dengan saksama, wajah anak itu cantik bahkan di usia yang masih sangat muda. Ada kemiripan yang jelas antara dirinya dan Jackson. Namun yang paling mencuri perhatian bukanlah wajahnya, melainkan sorot matanya dalam, sunyi dan seperti menyimpan banyak hal yang tidak terucap.

 

“Iya,” jawab Jackson singkat.

Anak itu menunduk sebentar, lalu kembali menatap. “Aku boleh ikut?”

 

Suasana berubah seketika. Para pengawal di sekitar mereka tampak lebih waspada. Jackson tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap putrinya cukup lama sebelum akhirnya berkata, “Tidak.”

Jawaban itu terdengar tegas, tanpa celah. Anak itu terdiam namun hanya sesaat.

 

“Aku tidak akan merepotkan, aku hanya ingin ikut saja,” ujarnya dengan nada lembut yang penuh harapan.

 

Adrian merasakan sesuatu yang aneh di dalam dirinya. Ia tidak tahu kenapa, tapi pemandangan itu terasa… menyentuh.

Jackson menghela napas pelan.

 

“Kembali ke dalam.”

“Ayah…”

“Kembali.”

Kali ini lebih dingin.

 

Anak itu menggigit bibirnya, berusaha menahan sesuatu namun tiba-tiba ia melangkah maju, satu langkah, lalu dua langkah.

 

“Ayah, aku mohon…”

Belum sempat ia mendekat lebih jauh, dua pengawal langsung bergerak menahannya.

 

“Lepaskan!” teriaknya sambil meronta.

Adrian hanya bisa berdiri diam. Tangannya masih memegang pintu mobil, tetapi matanya terpaku pada kejadian di depannya. Anak itu terus berusaha melepaskan diri.

 

“Aku mau ikut! Kumohon!”

Suaranya mulai pecah, tangisnya tak lagi bisa ditahan.

 

Namun tidak ada yang bergerak untuk membantunya, tidak ada satupun termasuk Adrian.

 

Ia tahu batasnya, ia hanya seorang supir saat itu, bukan siapa-siapa, tidak ada hak baginya untuk ikut campur.

 

“Hiks… Ayah…” Tangisan itu terdengar begitu tulus, begitu menyayat.

 

Jackson akhirnya masuk ke dalam mobil tanpa menoleh lagi. Adrian menutup pintu perlahan tetapi sebelum benar-benar menutupnya, matanya kembali bertemu dengan mata anak itu, air mata masih mengalir di pipinya namun di balik itu ada sesuatu yang berbeda, bukan hanya kesedihan, tapi juga keberanian seolah ia tidak akan berhenti sampai mendapatkan apa yang ia inginkan.

 

Adrian terdiam sesaat sebelum akhirnya menutup pintu, ia duduk di kursi pengemudi, tangannya memegang setir, tetapi pikirannya masih tertinggal di luar.

 

“Jalan,” perintah Jackson dari kursi belakang.

“Baik, Tuan.”

 

Mobil mulai bergerak meninggalkan rumah itu. Melalui kaca spion, Adrian masih bisa melihat anak itu. Ia masih berdiri di sana, menangis, menatap mobil yang semakin menjauh.

 

Dan untuk pertama kalinya, Adrian merasa ada sesuatu yang tertinggal namun sebelum rumah itu benar-benar hilang dari pandangan, sesuatu yang lain menarik perhatiannya. Di sisi pagar, tidak jauh dari tempat anak itu berdiri, ada seorang wanita paruh baya berdiri dengan wajah cemas, seolah ingin mendekat namun tertahan. Wanita itu akhirnya menghampiri gadis kecil itu, memeluknya dengan lembut meski anak itu masih terisak.

 

“Sudah, Tuan putri… jangan seperti ini,” suara wanita itu terdengar samar.

 

Adrian tidak bisa mendengar jelas, tapi ia bisa melihat bagaimana wanita itu membelai rambut anak itu dengan penuh kasih, bukan sekadar seorang pembantu lebih seperti seseorang yang benar-benar menyayangi.

 

Gadis kecil itu tidak langsung berhenti menangis. Namun perlahan, ia bersandar pada wanita itu, seperti mencari tempat yang aman.

 

Pemandangan itu terpantul di kaca spion… lalu menghilang. Mobil terus melaju dan entah kenapa, sejak saat itu, wajah gadis kecil itu terus teringat di benak Adrian.

 

Empat tahun berlalu…

Kini ia kembali ke rumah itu, bukan lagi sebagai supir melainkan sebagai pengawal pribadi, langkahnya lebih mantap, sikapnya lebih tegas namun saat ia melihat Claudia lagi, ia langsung mengenalinya.

 

Gadis kecil itu telah tumbuh, ia menjadi jauh lebih cantik, lebih dewasa namun sorot matanya tidak berubah, masih sama seperti dulu sunyi dan penuh kesepian.

 

Adrian menatapnya dalam diam. “Jadi… dia putri Tuan,” gumamnya pelan.

 

Ia berdiri di lorong malam itu, tidak jauh dari pintu belakang tempat Claudia hampir keluar, ia melihat semuanya keraguan di langkah gadis itu, harapan di matanya, dan keberanian yang perlahan tumbuh.

 

Ia bisa saja menghentikannya dengan cara yang lebih tegas, lebih dingin seperti pengawal lainnya namun ia tidak melakukannya.

 

Karena dalam benaknya, yang ia lihat bukan hanya seorang gadis yang melanggar aturan, ia melihat gadis kecil yang dulu menangis di depan mobil itu.

 

Dan tanpa ia sadari, sesuatu dalam dirinya mulai berubah, ia mengalihkan pandangannya sejenak, mencoba menenangkan pikirannya sendiri.

 

“Tugas tetap tugas,” gumamnya pelan.

Namun langkahnya tidak langsung pergi. Ia masih berdiri di sana, menatap pintu yang sudah tertutup itu, seolah memastikan bahwa gadis itu benar-benar kembali.

 

Malam semakin sunyi dan di dalam keheningan itu, Adrian akhirnya berbalik, berjalan perlahan kembali ke tempatnya.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!