Jatuh Cinta Dengan Pengawalku
Kita Pindah Rumah
“Kita pindah.”
Suara itu datang tiba-tiba, tegas dan tanpa penjelasan. Claudia yang sedang duduk di ruang tengah langsung menoleh. Ia tidak sering melihat ayahnya berbicara langsung seperti ini, dan setiap kali itu terjadi, suasana selalu berubah.
Jackson berdiri beberapa langkah darinya, wajahnya dingin seperti biasa, namun kali ini ada sesuatu yang lebih berat di sana ketegangan yang tidak ia sembunyikan sepenuhnya.
“Pindah… ke mana?” tanya Claudia pelan.
Jackson tidak langsung menjawab. Ia menatap putrinya sejenak, seolah memastikan sesuatu, lalu berkata singkat, “Ke tempat yang lebih aman.”
Claudia mengernyit kecil. “Kenapa?”
Hening.
Beberapa detik berlalu sebelum Jackson akhirnya berkata, “Karena ini perlu.”
Bukan jawaban yang memuaskan.
Namun cukup untuk menunjukkan bahwa situasinya tidak sederhana.
Claudia menunduk pelan. Ia tidak membantah, tidak juga bertanya lebih jauh. Sifatnya yang penurut membuatnya mengangguk meski hatinya penuh pertanyaan.
“Iya,” jawabnya.
Persiapan dilakukan dengan cepat. Tidak seperti perpindahan biasa, tidak ada banyak barang yang dibawa. Semuanya sudah disiapkan seolah tempat tujuan mereka sudah lama menunggu.
Para pengawal bergerak lebih sigap dari biasanya. Komunikasi di antara mereka lebih intens, langkah mereka lebih cepat, dan tatapan mereka lebih waspada.
Claudia berdiri di depan tangga, memperhatikan semua itu dalam diam.
“Bi…” panggilnya pelan.
Bibi yang sedang menyiapkan tas kecil menoleh. “Iya, sayang?”
“Ini karena Ayah, ya?”
Bibi terdiam sejenak, lalu menjawab hati-hati, “Tuan hanya ingin kamu aman.”
Jawaban itu terasa familiar.
Namun kali ini, Claudia tidak langsung menerimanya begitu saja.
“Aman… dari siapa?” tanyanya lagi.
Bibi tidak menjawab. Dan dari situ, Claudia mulai mengerti Bahwa bahaya itu nyata.
Mobil berangkat saat sore mulai turun. Langit berubah jingga, jalanan mulai dipenuhi lampu-lampu kendaraan. Claudia duduk di kursi belakang bersama Bibi, sementara Adrian berada di depan, memantau jalan dengan lebih fokus dari biasanya.
Perjalanan kali ini lebih panjang. Lebih sunyi. Claudia menatap ke luar jendela, namun pikirannya tidak lagi hanya tentang dunia luar.
Ia memikirkan Kenapa ia harus pergi. Kenapa ayahnya terlihat berbeda.
Dan kenapa semua orang tampak lebih tegang. “Adrian…” panggilnya pelan.
Adrian menoleh sedikit. “Iya?”
“Kita jauh?” tanya Claudia.
“Cukup jauh,” jawab Adrian singkat.
Claudia mengangguk kecil, lalu kembali menatap ke luar.
Ia tidak tahu harus merasa apa.
Senang karena keluar dari rumah itu…
Atau gelisah karena tidak tahu apa yang menunggu di depan.
Beberapa jam kemudian, mobil akhirnya berhenti di depan sebuah villa besar yang berdiri di area yang jauh lebih sepi. Dikelilingi pepohonan tinggi dan pagar yang tidak kalah kokoh dari rumah sebelumnya, tempat itu terasa… berbeda.
Lebih tenang. Namun juga lebih tertutup.
Claudia turun perlahan, matanya menyapu sekeliling. Udara terasa lebih dingin, angin berhembus lebih bebas, namun suasananya tidak ramai seperti kota.
“Ini…” ia berhenti sejenak, “rumah kita sekarang?”
“Untuk sementara,” jawab Adrian. Claudia mengangguk.
Ia melangkah masuk, diikuti oleh Bibi.
Di dalam, villa itu tidak kalah mewah. Ruangan luas, perabotan rapi, dan suasana yang tetap terasa dingin meski lebih terbuka dari sebelumnya.
Claudia berjalan pelan, memperhatikan setiap sudut. Ia berhenti di depan jendela besar yang menghadap ke hutan kecil di belakang.
Sunyi. Sangat sunyi. Berbeda dari kota. Berbeda dari pusat perbelanjaan. Berbeda dari dunia yang baru saja ia kenal.
“Aku… kembali lagi ya,” gumamnya pelan.
Bibi mendekat, meletakkan tangan di bahunya. “Ini hanya sementara.”
Claudia tersenyum kecil. “Iya… sementara.” Namun dalam hatinya Ia tidak yakin.
Malam itu, suasana villa terasa lebih hening dari rumah sebelumnya. Tidak ada suara kendaraan, tidak ada hiruk pikuk kota, hanya suara angin dan dedaunan.
Claudia duduk di tempat tidurnya, memeluk lututnya sendiri.
Ia tidak takut. Namun ia merasa Jauh. Dari dunia yang baru saja ia kenal.
Di luar kamar, Adrian berdiri di lorong, mengawasi seperti biasa. Namun kali ini, pikirannya tidak sepenuhnya fokus. Ia tahu Perpindahan ini bukan sekadar keamanan.
Ini tanda bahwa situasi semakin serius.
Dan itu berarti Claudia semakin dekat dengan bahaya yang selama ini dijauhkan darinya.
Di sisi lain, Jackson berdiri di balkon villa itu, menatap kegelapan malam. Ponselnya masih berada di tangannya, laporan demi laporan terus masuk.
Serangan belum berhenti. Justru semakin berani. “Eric…” gumamnya pelan.
Tatapannya mengeras. “Kalau kau pikir aku akan menyerah… kau salah.”
Namun di balik semua itu, pikirannya kembali pada satu hal. Claudia.
Ia memejamkan mata sejenak. Untuk pertama kalinya Ia mulai merasa… Takut kehilangan. Kembali di dalam kamar, Claudia berdiri di depan jendela, menatap kegelapan di luar.
Tidak ada lampu kota. Tidak ada suara orang. Hanya dirinya… dan pikirannya.
“Ayah…” bisiknya pelan. Kali ini bukan hanya rindu.
Tapi juga Ingin tahu. Dan di tempat yang jauh dari keramaian itu. Claudia tidak sadar bahwa perpindahan ini bukan menjauh kannya dari masalah. Melainkan… Mendekatkannya pada kebenaran.