Jatuh Cinta Dengan Pengawalku

Jarak yang Semakin Dekat

“Apa di sini… tidak ada siapa-siapa?”

Suara Claudia memecah keheningan pagi di villa itu. Ia berdiri di teras belakang, memandang hamparan pepohonan yang seolah tidak ada ujungnya. Udara terasa lebih dingin dibandingkan di kota, dan suasananya jauh lebih sunyi.

Adrian yang berdiri beberapa langkah di belakangnya menjawab singkat, “Ada. Tapi tidak terlihat.”

Claudia menoleh, sedikit mengernyit. “Maksudnya?”

“Pengamanan tetap ada. Hanya saja tidak semuanya berada di depan mata.”

Claudia mengangguk pelan, mencoba memahami. Ia kembali menatap ke depan, lalu menarik napas dalam.

“Tempat ini… sepi sekali.”

“Lebih aman,” jawab Adrian.

Claudia tersenyum kecil. “Atau lebih jauh dari dunia?”

Adrian tidak langsung menjawab. Ia hanya berdiri diam, membiarkan angin pagi berlalu di antara mereka.

Hari-hari di villa berjalan lebih lambat. Tidak ada hiruk pikuk kota, tidak ada pusat perbelanjaan, tidak ada keramaian. Yang ada hanya rutinitas sederhana bangun pagi, belajar, membantu Bibi di dapur, lalu berjalan-jalan di sekitar halaman yang luas.

Namun di balik kesederhanaan itu, ada sesuatu yang perlahan berubah. Claudia tidak lagi selalu bersama Bibi.

Ia mulai sering berada di luar Dan tanpa ia sadari Ia mulai terbiasa ditemani oleh Adrian.

Siang itu, Claudia berjalan menyusuri jalan setapak di belakang villa. Tangannya memetik daun kecil di samping jalan, matanya sesekali menatap ke arah pepohonan tinggi.

Adrian mengikuti beberapa langkah di belakang, menjaga jarak yang cukup, namun tetap memastikan ia dalam pengawasannya.

“Adrian,” panggil Claudia tiba-tiba.

“Iya.”

“Kamu tidak pernah bosan?”

Adrian mengernyit sedikit. “Dengan apa?”

“Dengan pekerjaanmu,” jawab Claudia. “Menjaga seseorang… setiap hari.”

Adrian terdiam sejenak sebelum menjawab, “Sudah terbiasa.”

Claudia berhenti berjalan, lalu menoleh ke arahnya. “Tapi kamu tidak pernah memilihnya, kan?”

Pertanyaan itu membuat Adrian sedikit terdiam lebih lama.

Ia tidak langsung menjawab.

Claudia memperhatikan itu, lalu tersenyum tipis. “Tidak apa-apa kalau kamu tidak mau jawab.”

Adrian akhirnya berkata pelan, “Setiap orang punya alasan.”

Claudia mengangguk kecil. “Aku juga.”

Hening sejenak. Lalu Claudia kembali berjalan. Namun kali ini, langkah Adrian sedikit lebih dekat.

Sore hari, Claudia berada di dapur bersama Bibi. Ia sedang mencoba memasak sesuatu yang sederhana, namun tetap terlihat serius seperti biasa.

“Pelan-pelan,” kata Bibi sambil mengawasi.

“Aku tidak ingin gagal,” jawab Claudia.

“Kamu tidak harus sempurna,” balas Bibi lembut.

Claudia tersenyum kecil.

Saat ia sedang mengaduk sesuatu, tanpa sadar ia mulai bersenandung pelan. Nada yang sama seperti beberapa hari lalu, ringan dan sederhana.

Di ruang pengawas, Adrian yang sedang memantau CCTV berhenti sejenak. Matanya tertuju pada layar yang menampilkan dapur.

Claudia terlihat fokus… namun sesekali bergoyang kecil mengikuti irama yang ia buat sendiri.

Adrian tidak langsung berpaling. Untuk beberapa detik, ia hanya memperhatikan. Tanpa alasan yang jelas. Tanpa perlu. Namun ia tetap melihat.

Malam hari, hujan turun cukup deras. Suara air menghantam atap dan jendela, menciptakan suasana yang lebih dingin dan sunyi dari biasanya.

Claudia berdiri di dekat jendela kamarnya, memandangi hujan yang turun tanpa henti.

Ia tidak takut.

Namun entah kenapa, suasana seperti ini membuatnya merasa lebih sendirian.

Tok.

Ketukan terdengar di pintu.

Claudia menoleh. “Masuk.” 

Pintu terbuka, dan Adrian berdiri di sana.

Claudia sedikit terkejut. “Ada apa?”

“Keamanan dicek ulang,” jawab Adrian. “Semua aman.”

Claudia mengangguk, lalu berkata pelan, “Terima kasih.”

Adrian tidak langsung pergi. Ia berdiri sejenak, lalu berkata, “Jika ada apa-apa, panggil saya.”

Claudia menatapnya. Untuk beberapa detik, tidak ada yang berbicara.

Hanya suara hujan yang terdengar. “Adrian…” panggil Claudia pelan.

“Iya?” Claudia ragu sejenak, lalu berkata, “Kalau aku takut… kamu akan datang?”

Pertanyaan itu sederhana. Namun cukup untuk membuat Adrian terdiam.

Ia tidak langsung menjawab. Namun akhirnya, ia mengangguk pelan. “Iya.” 

Claudia tersenyum kecil dan untuk pertama kalinya Ia merasa tidak sendirian.

Hari-hari berikutnya berjalan dengan pola yang hampir sama, namun dengan perasaan yang berbeda.

Claudia mulai lebih sering berbicara. Tidak banyak. Tapi cukup. Dan Adrian Mulai lebih sering menjawab. Tidak panjang. Namun cukup. Jarak di antara mereka tidak benar-benar hilang. Namun juga tidak lagi sejauh sebelumnya.

Suatu sore, Claudia duduk di tangga belakang, menatap langit yang mulai berubah warna. Adrian berdiri di dekatnya, seperti biasa.

“Aku dulu pikir…” kata Claudia pelan, “hidupku hanya akan seperti itu selamanya.” Adrian tidak menjawab.

Claudia melanjutkan, “Diam. Sendiri. Tidak tahu apa-apa.”

Ia menoleh sedikit ke arah Adrian. “Tapi sekarang… aku mulai tahu sedikit.”

“Apa?” tanya Adrian singkat.

Claudia tersenyum tipis. “Bahwa dunia itu luas… dan tidak semua orang harus sendirian.”

Hening. Angin sore berhembus pelan. Adrian menatap ke depan, lalu berkata pelan, “Kadang… terlalu dekat juga berbahaya.”

Claudia menatapnya. Namun kali ini, ia tidak mundur. “Aku tidak takut,” katanya pelan.

Adrian tidak menjawab. Namun dalam diam Ia tahu yang berubah bukan hanya jarak. Tapi juga perasaan yang perlahan tumbuh.

Dan di tempat yang sunyi itu tanpa mereka sadari. Keduanya mulai melangkah ke sesuatu yang tidak lagi bisa disebut sekadar kebetulan.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!