Jatuh Cinta Dengan Pengawalku

Claudia Merasa Lepas

“Aku boleh tertawa seperti mereka?”

Pertanyaan itu keluar begitu saja dari bibir Claudia saat ia berdiri di depan cermin, merapikan rambutnya dengan gerakan pelan. Suaranya terdengar ringan, tapi ada makna yang lebih dalam di baliknya. Bibi yang sedang melipat pakaian di dekat tempat tidur berhenti sejenak, lalu menatap Claudia dengan lembut.

“Tentu saja boleh,” jawab Bibi. “Kenapa kamu tanya seperti itu?”

Claudia tersenyum kecil, tapi matanya terlihat berpikir. “Kemarin… aku lihat banyak orang tertawa di luar. Rasanya ringan sekali. Aku… belum pernah seperti itu.”

Bibi terdiam sejenak. Ada rasa hangat sekaligus perih di dalam hatinya mendengar itu. Gadis yang ia rawat sejak bayi itu memang tumbuh dengan segala kemewahan, tapi tidak pernah benar-benar merasakan hal-hal sederhana seperti kebebasan, pertemanan, atau tawa tanpa beban.

“Kamu bisa,” kata Bibi pelan. “Tidak ada yang melarang kamu untuk merasa bahagia.”

Claudia mengangguk, tapi dalam hatinya ia tahu… selama ini, ia tidak tahu caranya.

Siang hari, Claudia kembali berjalan ke taman belakang. Udara terasa lebih hangat, sinar matahari menyentuh kulitnya dengan lembut. Ia duduk di bangku seperti biasa, namun kali ini tidak membawa buku. Tangannya kosong, matanya memandang ke arah pepohonan, seolah mencari sesuatu.

Adrian berdiri tidak jauh dari sana, mengawasi seperti biasa. Namun kali ini, ia melihat sesuatu yang berbeda.

Claudia tidak hanya diam.

Ia tampak… mencoba.

Claudia menarik napas dalam, lalu tiba-tiba menggerakkan tubuhnya sedikit, seperti mengingat sesuatu. Ia menoleh ke kiri dan kanan, memastikan tidak ada yang terlalu dekat, lalu pelan-pelan mulai bergoyang kecil, mengikuti irama lagu yang hanya ia dengar di kepalanya.

Suaranya pelan, hampir seperti bisikan.

“Lalala…” ia bersenandung ringan.

Gerakannya canggung, tidak terlatih, tapi justru itu yang membuatnya terlihat tulus.

Adrian yang melihat dari kejauhan sedikit mengernyit, lalu tanpa sadar memfokuskan pandangannya lebih lama. Ia tidak mengerti kenapa… tapi pemandangan itu terasa berbeda dari biasanya.

Claudia yang selama ini selalu terlihat tenang dan tertahan… kini tampak seperti gadis seusianya. Sederhana. Ringan. Dan… hidup.

Claudia berhenti sejenak, lalu tertawa kecil sendiri. Tawa yang tidak dibuat-buat, meski masih terdengar pelan dan sedikit canggung.

“Begini rasanya…” gumamnya.

Ia duduk kembali di bangku, namun kali ini wajahnya terlihat lebih cerah.

Adrian tetap diam di tempatnya. Ia tidak mendekat, tidak mengganggu, namun matanya masih tertuju pada Claudia. Untuk pertama kalinya, ia tidak hanya melihat tugas yang harus dijaga… tapi seseorang yang sedang belajar hidup.

Sore itu, Claudia kembali ke dalam rumah. Ia berjalan melewati lorong dengan langkah lebih ringan. Saat melewati ruang tengah, ia melihat televisi menyala, menampilkan siaran berita. Ia berhenti.

Wajah yang muncul di layar itu langsung membuatnya diam. Ayahnya.

Jackson berdiri di podium, mengenakan setelan rapi, dikelilingi oleh kamera dan banyak orang. Wajahnya terlihat tegas, penuh kendali.

Claudia mendekat perlahan. Ia tidak pernah melihat ayahnya seperti ini secara langsung.

“Sebagai calon pemimpin, saya tidak akan mundur dari tekanan apa pun,” suara Jackson terdengar jelas dari televisi.

Claudia menatap layar itu tanpa berkedip.

Namun di saat yang sama, seorang pria di belakang Jackson terlihat mendekat dan membisikkan sesuatu. Ekspresi Jackson berubah sedikit hanya sekilas, tapi cukup untuk disadari. Tegang. Serius. Berbeda.

Claudia mengernyit pelan. “Ada apa…” bisiknya.

Ia tidak tahu apa yang sedang terjadi, tapi ia bisa merasakan bahwa ada sesuatu yang tidak beres.

Malam hari, Claudia duduk di kamarnya, memikirkan banyak hal. Tentang dunia luar, tentang ayahnya, dan tentang perasaan baru yang ia rasakan hari ini.

Ia berdiri, lalu berjalan ke jendela.

Kota terlihat dari kejauhan, lampu-lampu menyala indah seperti bintang di bumi.

Claudia tersenyum kecil. Hari ini… ia tertawa. Mungkin sederhana. Mungkin kecil. Tapi berarti.

“Aku bisa,” bisiknya pelan.

Di luar kamar, Adrian berdiri di lorong, seperti biasa. Namun kali ini, pikirannya tidak sepenuhnya fokus pada tugas. Ia mengingat apa yang ia lihat di taman tadi.

Claudia yang tertawa sendiri. Claudia yang bernyanyi pelan. Claudia yang… hidup. Ia menghela napas pelan.

Tanpa sadar, sudut bibirnya sedikit terangkat. Sangat tipis. Hampir tidak terlihat. Namun cukup untuk menunjukkan satu hal 

Hari ini, bukan hanya Claudia yang berubah sedikit.

Di sisi lain kota, Jackson berdiri di ruang kerjanya, menatap laporan yang terus berdatangan. Wajahnya kembali dingin, fokus pada konflik yang semakin memanas.

“Eric tidak akan berhenti,” kata salah satu asistennya.

Jackson mengangguk pelan. “Aku juga tidak akan.”

Namun di dalam pikirannya, ada satu bayangan yang terus muncul. Seorang gadis di rumah besar itu. Putrinya.

Dan tanpa ia sadari Di saat ia sedang bertarung di luar sana, Claudia… sedang belajar tertawa. Dan itu mungkin akan menjadi awal dari sesuatu yang jauh lebih besar.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!