Pagi ini menjadi bukti atas titik tertinggi Hanum mencintai suaminya ... merelakan surganya mencari ruang kebahagiaan yang menurutnya pantas untuk diletakkan pada ruangan yang lain.
Hanum terdiam, menyimpan segala kepahitan di dalam hati. Tidak ada yang bisa ia lakukan selain bersabar dan terus menerus beristighfar.
Setelah lamanya mereka di jalan, kini sampailah Ustadz Riza dan Hanum di halaman pondok pesantren milik Ustadz Riza.
Ustadz Riza memarkirkan mobil dengan baik, lalu turun sembari merangkul Hanum membantunya jalan tertatih.
Belum sampai Hanum dan Ustadz Riza di depan kelas, Nadin sudah berlari sambil menenteng koper. "Abi!!! Umi!!!"pekik Nadin diiringi tangan yang melambai.
Hanum tercekat mendengar teriakan Nadin, satu sisi ia malu dilihat oleh santri dan guru yang lain. Namun di sisi lain Hanum lega melihat Nadin seantusias ini, itu tandanya Nadin masih memiliki perasaan pada Ustadz Riza setidaknya Hanum tidak perlu khawatir lagi jika suaminya akan mencintai sebelah tangan.
"Umi ... apa kabar? Maafkan Nadin ndak bisa ngejenguk," celetuk Nadin sembari menyalami Ustadz Riza dan Hanum.
Hanum melebarkan bibirnya, "Ndak apa ... gimana, Nadin ... udah siap?" tanya Hanum.
Nadin menggigit bibir bawahnya, sesekali mencuri pandang pada Ustadz Riza. Ia tahu ini terlalu mendadak bahkan Nadin pun belum sempat memberi tahu pada keluarganya, tapi ... ia tidak ada pilihan lain. Selain menerimanya sekarang atau tidak sama sekali.
Ia pun menghembuskan napas panjang sebelum menjawab, 'Urgh!!'
"Siap, Umi. T-tapi bolehkah umi melamarku pada nenek? Nadin ndak mau aku dan Abi menikah secara diam-diam, aku mau Abi melamarku dan datang ke rumah nenek," jawab Nadin sembari menunduk.
Hanum mengrenyitkan dahinya, "Kenapa harus nenek? Bukannya ibumu masih ada?" tanya Hanum.
Sontak Nadin menggelengkan kepala sambil tetap menunduk, "Ibu mengantarku ke pondok ini, karena itu janjinya sebelum dia pergi meninggalkanku untuk menikah lagi dengan pria pilihannya," jawab Nadin sambil menahan napas.
Hanum lagi-lagi melebarkan senyumnya. Ia menatap Nadin dengan tatapan penuh arti dan sangat hangat. 'Semoga saja kamu bisa menjadi madu yang baik untukku, Nadin ...," batin Hanum.
Hanum tak menyangka, gadis periang, polos dan hampir tidak pernah terlihat bersedih seperti Nadin. Ternyata menyimpan cerita duka di dalam hatinya.
"Baiklah, bisa kita pergi sekarang?" tanya Ustadz Riza yang sedari tadi memang sengaja untuk hanya diam saja.
Masih dengan kepala Nadin yang menunduk ia menjawab. "Iya, Bi ...," lirihnya sangat pelan.
"Yuk, Nak ...," ucap Hanum memanggil Nadin dengan sebutan yang masih sama seperti saat ia mengajar.
Mereka masuk di dalam mobil secara berbarengan, Nadin di depan berdampingan dengan Ustadz Riza. Sedangkan Hanum duduk di kursi belakang menahan hati yang pedih karena sebentar lagi ia akan berbagi suami.
Seketika berita tentang Ustadz Riza berpoligami dan Nadin yang akan menjadi istri keduanya pun menyebar ke seluruh pondok dengan cepat. Semuanya bergunjing tidak ada yang mendukung perbuatan Ustadz kesayangan mereka.
Begitu banyak perkataan dan cacian yang diarahkan pada Nadin, bahkan hinaan yang tidak pantas untuk didengar pun sudah terucap oleh santriwati baru yang belum paham betul tentang hukum menggunjing sesama teman.
Setelah perjalanan jauh yang dituntun oleh Nadin berbekalkan Doodle Naps, akhirnya mereka tiba di kampung kediaman nenek Nadin.
"Assalamu'alaikum, Nek."
"Waalaikumsalam," balas suara khas perempuan yang berat dari dalam rumah. "Nadin?!" ucap wanita sepuh itu sedikit menjerit berhambur memeluk Nadin. "Akhirnya kamu pulang juga ... nenek kangen," ucapnya lagi sambil memeluk Nadin.
"Ini pasti guru-gurunya Nadin, Ya? Masuk ... masuk ... silahkan, duduk."
Akhirnya mereka pun masuk lalu duduk dengan canggung.
"Tunggung sebentar yaa ... saya buatkan teh hangat dulu, maaf rumah nenek sedikit berdebu. Karena kebetulan nenek hanya tinggal sendiri."
"Oh ... nggak usah, Nek. Nggak usah merepotkan, saya dan suami saya ke rumah nenek karena ada yang ingin kami bicarakan," ujar Hanum yang membuka pembicaraan.
Nenek menautkan alisnya khawatir lalu mengambil kursi plastik untuk duduk menatap Hanum serius, "Bicara penting? Apa ada yang dilakukan oleh cucu saya? Saya mohon maaf ibu guru dan bapak guru, cucu saya memang nakal, pemalas, suka melawan dan sulit untuk diatur. Saya mohon sebesar-besarnya untuk tidak mengeluarkan cucu saya ..., ujar wanita sepuh itu tanpa jeda.
Ustadz Riza terkekeh kecil mendengar ucapan nenek di hadapannya, "Tidak, Nek ... cucu nenek anak yang baik. Malah saya kesini ingin melamar Nadin untuk jadi istri saya."
Nadin tersipu malu. Sejak tadi ia hanya menundukkan kepala karena terlalu takut untuk mengadahkan kepalanya di hadapan mereka.
Sontak wajah sang nenek seketika berubah menjadi riang, bibirnya membentuk simpul mempesona. "ALHAMDULILLAH! Ya Allah ... akhirnya Nadin tidak lagi salah memilih jalannya, nenek senang ... yang melamar bukan sembarang orang. Nenek langsung setujui karena nenek yakin pasti pilihan Nadin kali ini sangat tepat!" ujar Nenek sumringah sambil menatap Ustadz Riza dari atas hingga ke bawah lalu menggelengkan kepalanya mengucap Alhamdulillah.
"Tepatnya ... saya juga yang melamar Nadin, menjadi istri ke dua untuk suami saya, Nek," ucap Hanum menimpali.
Bola mata nenek membulat, bibirnya tercekat seakan terkejut apa yang baru saja ia dengar. Wajahnya berubah lagi 360 derajat muram tanpa cahaya.
"Astaghfirullah ... Nadin memang anak yang tidak hidup dengan orang tua, Ayahnya sudah lama meninggal dunia, ibunya pergi meninggalkan kami begitu saja ... tapi bukan berarti kalian boleh menginjak-nginjak harga dirinya dan memaksanya untuk menikah dengan suamimu!!!" jawab nenek menaikkan nada bicaranya satu oktaf.
Nadin terkejut mendengar ucapan sang nenek langsung menimpali ucapannya. "Nek, Nadin nggak dipaksa! Kami berdua saling mencintai, Nek," jawab Nadin datar.
"Astaghfirullah." Nenek membungkam mulutnya, "Ojo ... Ndok, iku salah! Ngucap, nyebut nama gusti Allah. Perasaanmu itu godaan saiton! Cinta sama suami wong iku duso ... hargai perasaan istrinya, jangan asal ngomong wae!"
Hanum melangkah menemui wanita sepuh yang duduk di hadapan mereka. "Nek, ndak ... ndak ada yang salah disini. Nadin memang pantas menjadi istri ke dua suamiku, dia cantik ... anak yang baik dan masih muda. Aku ingin sekali mempunyai anak dari rahim Nadin." Hanum berdiri sambil menggenggam jemari wanita sepuh itu. "Nenek mengerti kan sekarang?" tanya Hanum.
"Ooo ... nenek mengerti sekarang, syukurlah jika Nadin bisa bermanfaat di tengah pernikahan kalian. Kalau begitu nenek setuju." Nenek pun bangkit dan langsung memeluk Hanum. "Tolong jaga cucuku yaa, Buk ...."
Ustadz Riza dan Nadin yang mendengar ucapan Hanum pun saling bertatapan, saling menyimpulkan senyum, saling salah tingkah bak anak remaja yang baru merasa kasmaran.