Istri Pengganti Ustadz
Romansa Suami Isteri
Malam ini Hanum sudah diizinkan untuk pulang, keadaan Hanum dan Ustadz Riza sesampainya di rumah seperti malam-malam kemarin nampak biasa saja, hangat, perhatian dan manja penuh romansa ... seolah melupakan apa yang baru saja mereka alami.
Umi dan Kyai memandang lega melihat putri kesayangan mereka bisa tenang seperti kemarin, kemudian keduanya berpamitan untuk pulang meski berat. Umi ingin terus bersama putrinya ... namun Kyai melarang dengan alasan membiarkan mereka dulu beromansa tanpa adanya gangguan.
"Umi dan Abi pulang dulu ya, Sayang ... besok umi kesini lagi untuk melihat keadaanmu."
"Nggak perlu, Umi. Kan ada Mas Riza ... umi jangan khawatir! Inget kata umi ... anak istri itu tanggung jawab suaminya, jadi Mas Riza pasti bertanggung jawab atas diriku," jawab Hanum sembari menggenggam jemari Umi.
Bibir umi merekah sempurna, "Umi bangga denganmu, Ndok. Ya sudah ... Umi pamit pulang ya ...," ucap Umi sembari menepuk bahu Hanum.
Kemudian disusul Kyai dengan memeluk Hanum tanpa mengucapkan apa-apa.
Kyai dan Umi melangkah keluar sembari melambai, meninggalkan Hanum yang sedang merangkul Ustadz Riza penuh senyuman.
Merasa pegal dan nyeri untuk berdiri lama, akhirnya Hanum meminta tolong Ustadz Riza untuk memapah tubuhnya ke kamar. Langkah demi langkah hati-hati mereka naik, sangat pelan. Hingga tubuh Hanum sampai di letakkan Ustadz Riza di atas ranjang mereka.
Ranjang yang menjadi saksi, bagaimana puasnya pasangan suami istri ini berusaha untuk mempunyai momongan. Sedangkan sekarang ... rasanya sudah beda, ntah karena kecewa atau apa yang jelas perasaan Hanum tiba-tiba merasa kecil kembali.
Di saat perasaan Hanum tidak menentu, tiba-tiba Ustadz Riza menyambar hangat bibir Hanum. Mengulumnya sangat lembut penuh kerinduan. "Aku rindu dirimu, Hanum ...," bisikan panas di tengkuk leher Hanum.
Seketika suasana menjadi canggung sekaligus membara, Ustadz Riza memainkan bibirnya menjelajahi setiap inci tubuh Hanum tanpa tersisa.
Ustadz Riza semakin panas dan semakin menggila menginginkan Hanum, melepas setiap helai kain yang terpakai di tubuh istrinya.
Sekarang Hanum sudah tidak lagi memakai apa pun, tetapi tiba-tiba Hanum berubah menjadi syok menangis, meringkuk berusaha mengambil selimut untuk menutupi tubuhnya.
Ustadz Riza yang terkejut, sontak berdiri di tepi ranjang. Ia bingung apa yang terjadi pada Hanum. Mengapa istrinya menolak? Bukannya ia paham, melayani suami salah satu dari sunnahnya?
"Num ...." Ustadz Riza baru saja hendak ingin menanyakan apa yang terjadi pada Hanum.
"TUBUHKU SUDAH CACAT!!! Aku malu terlihat olehmu." Hanum segera memotong pembicaraan suaminya, ada ketakutan di dalam diri Hanum jika Ustadz Riza terus memaksa melayaninya.
Ustadz Riza menggeleng sembari tersenyum, lalu duduk di samping tubuh Hanum. "Sayang ... apa pun yang ada padamu ... Aku menyukainya dengan ikhlas."
Hanum menggeleng cepat, "Nggak! Nggak, Mas! Tolong jangan paksa aku untuk sekarang, selain aku malu tubuhku cacat ... aku pun tidak mungkin melayanimu sekarang, tubuhku masih terasa sangat nyeri dan sakit sekali untuk disentuh!" balas Hanum dengan nada tinggi sembari menepis tangan Ustadz Riza.
Ustadz Riza berdiri menghusap wajahnya, ia kembali diam memakai kembali celana yang sempat dilepas. Setelahnya ia keluar dari kamar dan turun ke ruang tamu dengan kecewa.
Di ruang tamu pun Ustadz Riza hanya diam menatap kosong mengarah ke depan, polemik, logika dan hatinya seperti memerangi isi di kepalanya. Termasuk ia mulai memikirkan tentang poligaminya lagi.
Nadin ... gadis yang terus hinggap di fikiran Ustadz Riza dan sekarang dia sama sekali tidak bisa berpaling dari bayang-bayang gadis polos itu.
Ustadz Riza teringat senyuman manis itu sangat menggoda, periang dan selalu menebar pesona. Ustadz Riza tersipu meningatnya meski dia tahu betul itu dosa ....
"Assalamu'alaikum," ucap Hanum membuyarkan bayangan gadis yang hinggap di kepala suaminy"Walaikum'salam." Ustadz Riza menoleh terkejut.
"Mas ... ada yang mau Hanum bicarakan, bisa?" tanya Hanum pelan sembari memegang perutnya menahan pedih tak terhingga.
"Sini ... sini ... duduk," ucap Ustadz Riza menepuk sofa di sebelahnya. "Kenapa, Sayang?" tanya Ustadz Riza menyondongkan tubuhnya.
Hanum menunduk, bibirnya berat untuk mengucapkan. Jarinya sibuk mengutil tak bisa diam dipangkuannya.
Melihat istrinya yang sedang tidak lagi baik-baik saja, Ustadz Riza menggenggam jemari Hanum sembari menghusap pelan. "Num ... apa itu perlu? Jika tidak besok-besok aja enggak apa ...," tanya Ustadz Riza.
Namun, alih-alih menjawab Hanum masih saja menunduk.
"Oke ... baik, kita tidur saja ... sekarang sudah malam."
Ustadz Riza hendak menarik tangan Hanum, untuk memapah tubuhnya ke atas. Tetapi tangan Ustadz Riza balik ditarik lagi oleh Hanum, "Ini penting bagiku ... duduklah, Mas."
Ustadz Riza kembali duduk, kali ini Hanum menatap wajah suaminya sendu dengan linangan air mata. "Mas ... aku tahu, Hanum nggak boleh egois. Aku tau apa yang Mas mau sudah kupastikan itu yang terbaik untuk kita kan, Mas?"
Ustadz Riza mengangguk pelan, mencoba menyimak apa yang Hanum ucapkan.
"Hanum memang seharusnya tidak meninggikan ego pada suami Hanum sendiri, mungkin ini juga hukuman untuk Hanum. Karena Hanum tidak patuh pada suami Hanum sendiri." Hanum tertunduk kembali.
Ustadz Riza tersipu lalu memeluk tubuh Hanum. "Sayang ... nggak ada yang menghukummu, sudah ... Mas nggak mau kamu terus saja mengatakan hal yang tidak-tidak lagi."
Hanum menggeleng pelan, "Cukup, Mas. Sekarang Hanum sudah memikirkan dengan sangat matang, Hanum Ikhlas .... jika pilihan Mas adalah Nadin." Mata Hanum terpejam sungguh saat ini hatinya menangis, tapi dengan sekuat tenaga ia menahannya.
Ustadz Riza hanya diam membelai anak rambut istrinya pelan. "Sudah ... Mas nggak mau bahas itu lagi." Ia beranjak dari kursi menarik jemari istrinya.
Namun, lagi-lagi Hanum menarik kembali tangan Ustadz Riza. "Mas, aku istri yang mencari surganya ... tugasku menerima, menjalankan, mencari makna setiap kejadian dan memperbaiki diri agar lebih baik dari sebelumnya."
Hanum terdengar pasrah, memasrahkan dirinya membiarkan semuanya mengalir seperti air.
Ustadz Riza menyingkirkan tangannya dari jemari Hanum, menatap wajah istrinya. Ia tidak menyangka Hanum akan berkata sedalam itu ....
Ustadz Riza mengangguk ragu, dia mengerti apa yang diucapkan oleh Hanum. Namun dia berpura-pura bodoh dan menanyakan kembali pada Hanum untuk memastikan.
"Maksutmu, Sayang?" tanya Ustadz Riza yang sebenarnya hanya berbasa-basi dan berpura-pura mengrenyitkan dahi agar menyakinkan jika ia sungguh tidak mengerti.
Segera Hanum mengambil ponsel dari dalam sakunya, lalu menunjukkan layar ponsel pada Ustadz Riza. "Aku sudah mengirim pesan pada Nadin, untuk menyuruhnya bersiap-siap mengemasi barangnya. Karena besok ia akan dijemput olehmu."
Ustadz Riza terkejut hingga terdiam, otaknya seolah beku tak menyangka jika Hanum bergerak secepat ini.